Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 42. Bertemu


__ADS_3

Keke sedang duduk di meja makan menemani papa Ramly makan siang di lantai dua. Lisya dan Livia sedang makan juga tak jauh dari Keke. Dua bocah itu makan di sebuah meja plastik kecil ukuran 60cmx60cm, meja serbaguna mereka berdua, kadang buat Via belajar, kadang digunakan Lisya main.


"Masakan Ike enak..."


Si papa Ramly memuji, menutup sendok dan garpu di atas piring pertanda sudah selesai makan.


Keke senyum dikulum, sudah banyak orang yang mengatakan kalimat itu. Mungkin benar masakannya enak karena sejauh ini pelanggan rantangan jarang ada yang langsung berhenti, umumnya pelanggan lama. Demikian juga ada beberapa orang yang langganan katering untuk pesta/acara, biasanya akan merekomendasikan ke teman atau relasi mereka. Makanya Keke tak perlu susah-susah pasang iklan atau promosi, customer datang sendiri. Dan satu lagi, si kak Bens juga suka dengan masakannya.


"Gak nambah lagi pa?"


"Sudah... cukup. Papa gemuk sekarang."


Keke memperhatikan wajah papanya, benar terlihat lebih berisi dibanding saat melihat pertama kali.


"Gak diet, katanya ada diabet..."


"Ada, nasi makan hanya siang hari, itu pun porsi kecil seperti tadi. Kata Inge, karena papa lebih happy sekarang..."


Si papa tersenyum sembari membersihkan sudut bibirnya dengan tissue, menatap Keke...


"Mungkin karena bertemu Ike lagi..."


Emmh... mungkin saja. Keke hanya senyum mendengar perkataan sang papa.


"Kak Inge di mana?"


"Ada, tinggal dengan papa juga."


"Waktu Keke ke sana gak ada..."


"Oh, siang dia bekerja... dia kelola tempat wisata Green Hills milik papa di Kumelembuai, dekat kebun kita. Nanti kalau Keke ke sana lagi papa bawa Keke ke tempat itu. Bagus viewnya, Manado sampai Bitung terlihat dari tempat itu..."


"Oh... papa punya usaha itu juga..."


"Iya... tadinya itu perkebunan juga. Inge sekolahnya pariwisata, dia yang usul, papa coba-coba ternyata berhasil."


"Itu di mana?"


"Mungkin 2 kilo naik ke atas lagi dari rumah papa."


"Kenapa bangun rumah di lokasi perkebunan?"


"Banyak pertimbangan... bisa lebih mudah kontrol pekerja, papa selesai kerja bisa langsung istirahat. Dan... papa tidak muda lagi, sudah merasa cape ke mana-mana dengan mobil apa lagi sejak kena diabetes..."


"Oh... tapi rumah papa besar sekali padahal hanya bertiga dengan kak Lody dan kak Inge..."


"Papa selalu memikirkan Ike, dan berharap Ike kembali bersama papa... ada kamar Ike kan sudah papa kasih lihat waktu itu. Lody dan Inge sudah seperti anak-anak papa juga. Kelak kalian menikah masing-masing punya keluarga... jadi kalau berkumpul di rumah papa... itu angan-angan papa saat bangun rumah itu..."


Oh... Keke merasa hatinya menghangat, papa selalu mengungkapkan itu, tak berhenti memikirkan dirinya. Keke melihat ke dalam mata papanya, saat mengungkapkan itu mata papa seperti menerawang jauh.


"Papa juga memikirkan Bonita... dan setelah bertemu Rommel dan anak-anak cantik ini, papa menginginkan mereka juga jadi keluarga papa..."


Keke memandang tak percaya ke arah papanya. Keke mencari kesungguhan ucapan papanya di wajah itu. Duduk bersandar dengan dua tangan mengunci di atas meja dengan mata yang masih memandang melewati Keke.


Seperti apa hati orang tua di hadapannya ini? Seperti apa papanya melihat anak-anak dari mantan istrinya? Apakah setelah seusia papa orang-orang telah mampu menyingkirkan kemarahan atau kebencian dan memilih menunjukkan cinta... atau memilih melupakan kemudian memilih merangkul dari pada penolakan?


Keke tak mampu menelaah pikiran papanya. Dia sendiri sampai sekarang tak begitu menerima mama, bahkan cenderung mengacuhkan sang mama mungkin karena perasaan terlukanya dulu saat dia dipaksa harus mengganti mama dengan mami. Rasa sayang mami Vosye padanya pun semakin membuat dia menjauh dari mama.


Dan dia melihat sesuatu yang beda di hati papanya dengan apa yang ada di hatinya soal keluarga, soal mama.


"Sering-seringlah ke rumah papa, bawa anak-anak... itu rumah Ike juga, bahkan milik Ike nanti..."


"..."


"Papa ingin juga Ike sesekali nginap di sana, mau ya?"


"Ehh... iya, boleh."


"Mami... ini pilingna... (piringnya)"


Lisya datang mendekat mengangsurkan piring kosong ke arah Keke. Keke mengambil piring itu.


"Lisya makannya banyak ya..."

__ADS_1


Si opa tersenyum sambil mengusap kepala kecil yang tingginya sudah melewati meja makan itu.


"Iya opa... banak-banak itu campe kenyang Yica..."


"Cuci tangan, De..."


"Kakak Pia ayok cuci tangan-na..."


"Dede duluan kakak Via masih makan..."


Via menjawab, masih duduk menghabiskan makannya. Keke berdiri dan membawa Lisya ke wastafel.


"Ayo... Dede sama mami Keke aja..."


"Setelah ini, Ike kalau sibuk tidak apa-apa turun aja..."


Papa Ramly mengawasi Keke yang sedang membantu Lisya cuci tangan."


"Gak, Ike gak sibuk hari ini. Hanya pesanan rutin aja, ada orang kerja juga..."


"Papa lihat karyawan Ike bertambah..."


"Iya... udah semakin banyak pesanan, butuh orang lagi."


"Sayuran sama bumbu dari kebun papa suruh mereka antarkan dua kali seminggu."


"Iya makasih pa. Ike udah ngomong ke pak Ruben si sopir apa-apa yang perlu dan gak perlu. Ike juga udah bilang berapa banyak biar gak mubazir..."


Keke menghemat banyak pengeluaran sejak hasil kebun papa diantarkan rutin, makanya dia berani menambah karyawan. Sekarang dia punya 8 orang yang bekerja setiap hari di luar dirinya dan Rommel.


"Hai..."


Suara yang tak asing dari arah tangga. Dan seseorang tak jadi meneruskan langkahnya saat melihat ada papa Ramly. Berdiri canggung di bibir tangga. Ini hari sabtu ya.. si Benaya pasti muncul saat makan siang.


"Eh... kak..."


Dua lelaki saling bertatapan. Benaya menganggukan kepala sedikit membungkuk menyapa papa Ramly. Benaya baru pertama melihat tapi tentu segera menduga siapa lelaki yang telah memiliki dua warna di rambut kepalanya.


"Papi Bipi..."


"Liyat... pelut Yica becal, Yica makan banak-banak. Yica pintal kan?"


Lisya tanpa malu mengangkat baju kaosnya menunjukkan perutnya. Ben tertawa pelan.


"Hahaha... Iya, Yica pintar..."


Papa Ramly tadi mengangguk sekilas, dan berpikir itu mungkin papanya anak-anak.


"Kak... makan dulu..."


Keke merapikan meja, memindahkan piring kotor dari meja dan mengambilkan piring bersih untuk Benaya. Sementara Benaya hanya berpindah beberapa langkah dan masih menggendong Lisya.


"Kak..."


Keke melihat ke arah Ben yang tidak biasanya bersikap kaku, kemudian menyadari sesuatu.


"Kak... sini... Dede turun dulu main sendiri, papi Bipi mau makan."


Ben menurunkan Lisya dan mendekati meja makan. Saat Ben berdiri di sisi Keke...


"Pa... ini... ini kak Benaya..."


Ben mengulurkan tangan dengan sopan.


"Saya Benaya Manoppo, om..."


Papa Ramly menyambut dan mengulas senyum untuk Ben.


"Saya Ramly, papanya Ike..."


Benaya melirik Keke... menunggu sejenak, tak ada suara.


"Saya temannya Renske, om..."

__ADS_1


"Mari, duduk... silahkan makan ya... om sudah selesai..."


"Opa... papi Bipi itu pacarnya mami Keke..."


Via datang mendekati meja makan. Anak pendiam ini mengatakan dengan tepat apa yang tidak diucapkan Keke dan apa yang ingin diutarakan Benaya. Benaya mengusap sejenak kepala Via, seolah berterima kasih, anak ini memberi dia kemudahan untuk memulai bercakap dengan papa kekasihnya. Via balik lagi ke depan TV dengan mimik senang, seperti baru melakukan tugas penting untuk papi Bipinya.


Dia ini ingin mengakui sendiri statusnya, tapi dia takut Keke belum suka itu. Dan Via menolong tepat pada waktunya.


"Oh... begitu."


"Iya om... saya teman dekatnya Renske..."


Benaya senyum kaku pada calon mertua, lalu melirik Keke yang diam di sebelahnya. Hahh... kekasihnya gak bisa diharap kalau soal pengakuan verbal, Keke hanya akan berbicara banyak jika sedang emosi level lima ke atas.


"Benaya asal mana?"


Papa Ramly tertarik untuk bertanya-tanya lebih. Di depannya duduk pria yang terlihat dewasa, mungkin tidak main-main lagi dengan hubungan pacaran. Bisa jadi di kemudian hari akan selalu bertemu dirinya.


"Saya gak tau persisnya om..."


"Ada Manoppo asal Kotamobagu..."


"Kotamobagu di mana Rens?"


Papa Ramly melipat dahinya mendengar pertanyaan Benaya.


"Itu daerah Bolaang Mongondow, kabupaten lain."


"Di sini kabupaten apa?"


Giliran Keke yang mengernyitkan dahi? Kak Bensnya gak lulus lPS ya? Tapi nama-nama kabupaten masuk Mapel apa ya...


"Ini kota Manado kak... kak Bens gak hapal daerah sini?"


"Iya..."


Ben menjawab dengan suara rendah dan ada sedikit malu di hadapan calon mer... di depan om Ramly. Dari cara Ben ngomong, om Ramly menyimpulkan sesuatu.


"Benaya lahir dan besar di Jakarta?"


"Iya om..."


"Oh... begitu."


"Saya kerja di sini, sudah satu tahun lebih di sini, kebetulan tinggal gak jauh dari sini."


"Oh... bertemu Ike di sini ya?"


"Gak sih... kenal Rens sejak kecil. Orang tua saya sahabatan dengan om Reinhart dan tante Vosye..."


"Ohhh... seperti itu... Eh iya... makan aja dulu nanti kita ngobrol lagi..."


"Iya om..."


Ben akhirnya bisa bernapas lega saat om Ramly berdiri dan pindah ke ruang duduk dan mulai bercakap dengan anak-anak. Dan Ben senyum-senyum, satu yang dia inginkan tercapai hari ini, berkenalan dengan papa Keke, besok-besok gak canggung lagi untuk mengantar Keke ke tempat papanya, gak perlu diantar jemput si Lody...


Hahh Ben belum berdamai dengan diri sendiri soal Lody.


.


.


.


Melupakan kepahitan di masa lalu itu sulit, tapi ada orang yang memilih itu, dan hidup lebih bahagia...


🥰🥰


.


It's Monday but it's Ok... masih bisa beraktivitas, jadi harus bersyukur.


Semangat semuanya...

__ADS_1


🧄🫑🌽


__ADS_2