Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 44. Aku Ingin Menjadi Istimewa


__ADS_3

Weekend kembali menyapa. Ben keluar dari rumahnya setelah selesai lari di treadmill. Kompleks nampak sepi, mungkin para staff masih tidur di rumah masing-masing.


"Rol... Rolly..."


Benaya memanggil si staff serba bisa itu dari arah parkiran. Rumah mereka tanpa tembok pemisah, hanya dibatasi taman selebar 2 meter di sepanjang rumah.


"Ya... pak..."


Rolly keluar dari dalam rumah dengan memegang handuk, hanya menggunakan celana pendek.


"Ada gak... kasur untuk satu orang di rumah sebelah kalian itu..."


"Ada pak... kenapa?"


"Minta tolong pindahin ke sini..."


"Mau diletakkan di mana pak..."


"Di kamar bawah..."


"Emang muat pak?"


"Muat kayaknya. Coba kamu lihat aja..."


"Bentar pak, saya pakai baju dulu..."


Ben masuk ke dalam, dia hanya sekali melongok ke dalam kamar bawah saat dia baru menempati rumah ini. Setelahnya sepulang dari kantor langsung ke lantai atas. Kalau sabtu dia membersihkan rumah ini tidak termasuk kamar itu.


Ben membuka pintu dan memperhatikan kamar berukuran 4x4m itu, jika tata letak furniture dirubah sepertinya muat aja ditambah 1 tempat tidur ukuran 1 orang. Ada tempat tidur ukuran queen di dalam kamar, 1 meja kerja dan satu kursi, serta 1 buah lemari. Kurang lebih 2 minggu mama dan ponakannya akan menginap di sini.


"Pak..."


Ben bergeser dari mulut pintu memberi ruang untuk Rolly masuk.


"Kayaknya muat aja, tapi mesti geser-geser dikit lemari sama meja itu..."


"Iya. Tolong kalian atur ya..."


"Sekalian sama dipannya aja kali ya..."


"Iya, diatur aja..."


"Iya pak... mau ada tamu?"


"Mama sama ponakan saya..."


"Oh... gitu. Pak, kita sarapan dulu baru ngatur kamar, ada si Farly mau masak nasi goreng. Bapak mau?"


"Gak... saya nanti bikin sarapan sendiri."


"Saya balik pak..."


"Iya..."


"Eh iya... maaf pak, saya lupa kasih tahu soal Farly..."


"Kenapa dia?"


"Eh... dia minta ijin tinggal di sini pak, tadinya dia ngekost, katanya sebulan 600 ribu. Kalau tinggal di sini dia bisa hemat sebanyak itu. Boleh pak?"


"Mmmh... boleh."


"Makasih pak..."


Ben senyum kecil mengingat awal-awal dia bekerja. Dia paham kondisi Farly, dengan gaji standar, 600 ribu sangat lumayan untuk Farly. Dia saja tinggal di sini dengan gaji mungkin tiga puluh kali lipat dari Farly. Pengeluaran Ben tidak banyak, hanya belanja rutin, jarang pergi ke mana meskipun akhir minggu. Hidupnya di sini hanya ada di tiga wilayah aja, rumah-kantor-ruko depan. Selama di sini dia bisa saving untuk masa depan. Dia bukan tipe hedon yang menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Satu-satunya pengeluaran yang besar adalah membeli sebuah benda untuk Keke.


Jadi ingat... sudah tertunda beberapa kali memberikan itu. Ulang tahun Keke sudah lewat berapa bulan, gak banget si kak Bens ini...




"Papi Bipi... kita mau jalan-jalan..."



Suara riang Lisya menyambut Ben di ujung tangga. Anak itu sudah rapih, ada ransel mungil warna *pink* di pundaknya.



"Mami Keke mana?"



Ben tak mendengar dan melihat suara serta bayangan Keke di bawah.



"Mami pelgi..."



"Ke mana? Via... mami Keke pergi ke mana?"



Via muncul dari kamar, sudah rapih juga.



"Mami Keke pergi ke MTC."



"Sendiri?"



"Iya, mami jalan kaki..."



MTC sekitar 200 meter dari sini.

__ADS_1



"Udah lama perginya?"



"Udah papi Bipi.



Ben duduk di sofa, meletakkan sebuah *paper bag* kecil di meja dan meraih *remote* tv, diikuti Lisya yang duduk dengan nyaman di pangkuan Benaya. Ben melepas tas punggung yang membatasi gerakan si kecil.



"Janan (jangan) papi Bipi, Yica mau pelgi..."



"Yica mau ke mana?"



"Lumah opa Lamly (rumah opa Ramly)."



Ben menegakkan tubuhnya dan memindahkan tubuh Lisya ke sofa dan beranjak turun.



"Tunggu bentar ya... papi Bipi ngambil mobil, papi Bipi mau ikut."



Ada Rommel keluar dari kamar.



"Rom... kamu ikut juga ke Tomohon?"



"Iya... aku anterin kak Keke aja gak ikut nginap... besok aku jemput lagi."



"Eh... Rens nginap di sana?"



"Iya, sama anak-anak."



"Rom... aku aja yang anterin mereka... tapi jangan ngomong ke Rens dulu, aku ambil mobil..."



"Oh... oke, kebetulan aku punya rencana sendiri kak..."




Beberapa saat kemudian saat Ben kembali naik ke lantai dua, Keke sudah ada, sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam sebuah tas warna hitam. Ben duduk di sofa tempat Keke sedang membereskan bawaannya nanti. Keke hanya melirik Ben, yang dilirik juga diam saja menunggu Keke bersuara... apa Keke akan memberitahu kegiatannya.



Tak lama...



"Via, Dede ayo..."



Ben masih memandang Keke, dan kali ini perasaan kesalnya bertambah, naik tiga garis. Saat pandangan mereka bertemu...



"Kak... pergi dulu... Mel... ayo..."



"Mel... udah mau berangkat..."



Keke mengangkat tas itu dan berjalan ke arah tangga. Via mengikuti, tapi Lisya mendekati Ben...



"Papi Bipi ayok..."



Dua tangan yang terentang minta dipeluk akhirnya membuat Ben berdiri tapi masih menggerutu dalam hati... Apa susahnya ngomong sih? Dia meraih *paper bag*nya dan mengangkat Lisya. Ben turun tangga dengan Lisya di gendongan, Keke masih bergerak lambat karena tak ada sahutan dari Rommel. Saat melewati Keke, Ben mengambil tas di tangan Keke dan menyampirkan di pundaknya.



"Kak... aku aja, lagi gendong Dede, nanti di tangga ta..."



Ben menoleh menatap tajam langsung memotong...



"Menggedong kamu juga aku masih bisa..."



"Eh???"

__ADS_1



Ben langsung turun sambil menetralkan hatinya, dia tidak boleh marah, pacarnya memang seperti itu pelit informasi, irit bicara, gak pernah kirim chat apalagi telpon dan masih banyak lagi kelakuan Keke yang harus Ben pahami dengan baik dan coba dia mengerti dan harus dia terima.



Mencinta bukan hanya menerima yang baik-baik aja, menyukai yang baik-baik aja. Bukan hanya mau makan masakan Keke, melihat lesung pipit Keke, tapi dia harus toleran juga soal sikap Keke dan menyesuaikan diri.



"Kak..."



Keke berdiri di pintu samping ruko, Ben sudah membantu anak-anak naik mobil, tas juga sudah di dalam. Sekarang Ben menatap Keke yang diam dan menatap aneh padanya.



"Ayo Rens, aku yang anterin kalian."



"Tapi... kita dianter Rommel kok..."



"Rommel ada acara sendiri dia bilang..."



Melihat Keke yang belum bergerak hanya memandang padanya dan terlihat sikap enggan diantar Ben, Ben mendekati Keke, melemparkan tatapan yang menguasai Keke hingga akhirnya Keke melengos. Ben meraih tangan Keke...



"Ayo..."



Dalam genggaman dan tarikan tangan Ben yang erat, Keke tidak bisa membantah lagi. Ben membuka pintu depan dan menunggu Keke duduk dengan baik. Dia mengambil *seatbelt* dan memasangkannya. Mata saling bertaut, Ben melembutkan tatapannya dan menarik sebuah senyum. Keke yang risih diperlakukan seperti itu hanya menunduk, menyebabkan wajah mereka semakin dekat. Ben tak menyia-nyiakan kesempatan, mengecup pelipis kiri Keke.



"Kak..."



Suara pelan Keke menggemaskan, satu kecupan lagi. Lebih baik mengecup gadis ini dari pada marah... ya kan Ben?



Dalam perjalanan...



"Tadi ke mana, Rens?"



"Ehh... ke MTC..."



"Ngapain?"



"Beliin anak-anak sweater, di sana dingin."



"Oh... untung aku pakai lengan panjang..."



Ben tersenyum memandang ke arah Keke yang sedang meliriknya.



"Kenapa gak kasih tau aku sih mau ke sana..."



"..."



"Lain kali ngomong ke aku ya... kalau mau pergi-pergi..."



Si Rens masih diam di kursinya. Ben konsentrasi di jalan, tapi tak sabar mengatakan sesuatu dalam pikirannya.



"Aku ingin terlibat dalam hidup kamu Rens, ingin selalu tahu keadaan kamu... apa yang kamu lakukan, apa yang kamu rasakan, apa yang kamu rencanakan, apa yang kamu sukai atau tidak suka... semuanya Rens... semua tentang kamu..."



"Seperti itu biasanya sebagai pasangan, saling peduli... saling jaga. Aku selalu khawatir saat kamu ada di mana di luar jangkauan aku. Kamu jarang mengangkat telpon meskipun ada di tas kamu..."



"Pahami mau aku ya Rens... ada aku di sisi kamu sekarang ini yang mau kamu menjadi bahagian istimewa dalam hidup aku, dan aku juga berharap yang sama, aku menjadi sosok penting dalam hidup kamu..."



.



.


__ADS_1


🥰


__ADS_2