
Salah satu keanehan yang selalu terjadi dalam relasi dengan orang lain, dengan orang terdekat, dengan orang yang disayang... saat seseorang berdiri menentang, maka ada seseorang yang akan membela. Dan orang yang tadinya membela mati-matian di waktu yang lain bisa berbalik menentang. Itu sudah biasa, bukan hal yang baru.
Rumit? Sederhananya... sekarang papa Fredrik bersikap biasa aja terhadap Ben bahkan setuju dengan Ben dan mama Talitha justru lagi uring-uringan, lagi jengkel terhadap pilihan anaknya. Begitulah, memang apa yang tak bisa berubah di dunia ya... kata seorang filsuf, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri ðŸ¤âœŒ
"Beca, coba cari tahu soal Renske..."
Ibu dan anak ini sedang menikmati sore di meja makan di teras belakang dekat pantry di luar. Tempat biasa ART makan. Mama baru selesai menyiram bunga-bunga kesayangannya.
"Kenapa ma?"
"Cari tahu aja..."
"Kenapa mama gak tanya kakak aja sih, dia kan sering ketemu Renske sekarang..."
"Justru mama gak mau dia tahu mama selidikin si Renske..."
"Ada apa ma? Mama aneh deh, apa yang pengen mama tahu soal Renske?"
"Dia punya dua anak kan sekarang, satunya anak sambung kayaknya. Mama pengen tahu suaminya, apa udah meninggal atau cerai dari Renske..."
"Ma... kayak gak ada kerjaan aja... kok mau cari tahu hidup orang lain? Sekalipun itu Renske, kayaknya aneh aja tiba-tiba mama kepo..."
"Beca... Ben suka dia, mereka pacaran dan mama gak suka itu."
"Serius???"
"Iya... makanya sebelum mereka semakin jauh, mama pengen tau si Renske. Kakakmu pasti gak akan menolak jika mama memberi alasan yang masuk akal kenapa gak suka Renske..."
"Hehehe... kenapa jalan mereka berdua harus berputar jauh dulu ya... lucu deh..."
"Lucu apanya..."
"Iya ma lucu aja... ingat waktu Renske kecil sampai remaja, gimana sikap kakak ke Renske dulu. Eh sekarang jadian gitu..."
"Gak lucu akh..."
Si mama memberengut, gak punya sekutu untuk menentang Ben.
"Kenapa mama gak suka?"
"Dia janda punya dua anak, mama gak suka itu..."
"Ma???"
Rebbeca tersentak kaget. Dia menatap mamanya dengan sedih.
"Alasan mama menyakitkan... Aku janda dengan dua anak loh... mama lupa? Gimana kalau ada seseorang yang ingin nikah denganku kemudian orang tuanya menolak dengan alasan yang sama? Aku gak minta jadi janda, Renske juga. Mama bukan hanya menolak status Renske di sini, tapi mama menolak status aku juga..."
Rebbeca berdiri meninggalkan mama Litha. Mama terdiam. Seperti sebuah pedang bermata dua, alasan sang mama menolak Renske justru menebas hati sang putri kesayangan. Ya dia lupa fakta itu. Rebbeca melangkah sedih meninggalkan sang mama yang baru sadar sudah kelepasan omong. Melihat langkah anaknya dia tahu dia telah menyakiti putrinya, dan sekarang menyakiti dirinya sendiri.
Mama membuang napas berat. Kata-kata itu gak mungkin ditarik lagi. Memang si Renske tidak mendengar, tapi pasti si Renske akan bereaksi sama seperti Rebbeca. Dia pernah menyukai anak itu dulu. Rasa bersalah penuh menguasai hati mama Litha.
Mama mengetuk pintu putrinya perlahan...
"Beca... mama masuk ya..."
Tak ada jawaban. Mama mengetuk lagi.
"Beca..."
Mama bisa menduga apa yang sedang dilakukan anaknya di kamar. Rasa bersalah semakin bertambah.
"Beca..."
Saat tak kunjung mendapat jawaban mama akhirnya membuka pintu kamar itu. Pemandangan sedih langsung tertangkap matanya. Rebbeca menangis di tempat tidur sedang memeluk tumpukan baju Paul.
"Beca..."
Mama duduk di sisi tempat tidur, di belakang punggung putrinya. Dia memegang bahu yang sedang berguncang perlahan itu.
"Mama minta maaf Beca..."
Rebbeca menangis kembali setelah sekian lama melupakan kesedihannya. Hari ini ada luka tertoreh lagi justru dari mama sendiri, soal statusnya. Apa mama tidak paham bahwa jadi janda itu menyakitkan? Dia harus kuat untuk kedua anaknya, bekerja lebih keras demi kedua putranya, dia harus menahan hati menghadapi gangguan lelaki yang menggoda menganggap dia murahan karena statusnya, dan banyak lagi sikap sinis dan diskriminatif yang dia terima.
__ADS_1
"Ca... maafkan mama..."
Mama Litha kemudian memeluk putrinya menunduk ingin menggapai hati anaknya, ikut menangis di bahu yang dipeluknya dari belakang.
"Maafkan mama, Ca..."
"Kenapa... Paul pergi ma... kenapa dia... ninggalin aku..."
Suara Beca tersendat-sendat di tengah tangisannya.
"Maafkan mama ya Ca... sikap mama salah sama Beca, sama Ben juga, sama Renske..."
Keduanya menangis semakin kencang. Rebbeca duduk di tempat tidur dan kembali dipeluk sang mama.
Perkataan bisa melukai bisa juga menyembuhkan. Tak apa mengakui kesalahan secepat menyadari kesalahan itu, dan luka hati segera dapat dibebat.
.
🪴🪴🪴
.
Mama menelpon Ben setelah dua minggu tidak melakukannya karena alasan naifnya. Dia bukan mama yang konservatif sebenarnya, tapi mungkin dengan melihat pencapaian Ben dia bangga dan membuatnya sedikit 'tinggi' memandang sesuatu untuk Ben termasuk soal pasangan.
📱
"Ya ma..."
Ben keluar ke teras depan saat menerima panggilan. Dia baru pulang kantor. Cape terasa, hari ini dia bolak-balik mengitari bangunan 5 lantai yang memanjang kurang lebih 300 meter. Belum ada lift, belum ada eskalator, sudah terpasang tapi belum berfungsi, masih lewat tangga darurat sementara lift barang sedang dalam perawatan. Dia mengontrol pekerjaan lantai yang baru dimulai.
"Kamu sehat?"
"Iya... mama?"
"Sehat... semua sehat. Anak-anak kangen kamu."
"Oh... nanti aku vc mereka."
Panggilan beralih...
"Papi Bipi..."
Dua suara masuk ke telinga Ben. Ben senyum, dia kangen juga bocah-bocah ini.
"Mat gemuk sekarang ya..."
"Papi... mana Via, kak Mosses kangen katanya..."
"Apaan... gak gak..."
Kedua bocah terlihat di layar ponsel udah saling pukul.
"Hei... jangan berantem. Ma... pisahin."
"..."
"Mosses... Mat...!" Ben memberi penegasan di suaranya.
"Iya... iya..."
Sekarang dua bocah itu malah saling berebut ruang di layar ponsel. Si Matius paling berisik.
"Papi... kita liburan ke Manado ya... Kita udah naik kelas. Matthew rangking 5."
"Rangking 5 aja sombong..."
Mosses menggerutu sambil mendorong kepala Matthew.
"Mosses rangking berapa?"
"Biasa... papi Bipi, rangking 1, udah bosen sebenernya..."
Ben tertawa, siapa yang lebih sombong sebenarnya?
__ADS_1
"Papi Bipi... kita mau liburan..."
Matthew kembali teriak di layar itu.
"Iya. Boleh..."
"Yeiiii..."
"Mana oma, kasih hpnya ke oma..."
"Ben..."
"Kapan anak-anak ke sini?"
"Minggu depan, Beca sudah beli tiket."
"Ok. Mama ikut aja, udah lama kan gak jalan-jalan ke sini..."
"Mama yang anterin anak-anak..."
"Oh...gitu... Beca gak ikut?"
"Dia gak bisa ninggalin toko kuenya, udah rame sekarang."
"Wahh... bagus untuk dia..."
"Mau dibawain apa Ben?"
"Gak usah repot ma... Minta tolong aja Beca ke apartemen, ambilin sepatu aku tiga pasang."
"Oh... mama beli baru aja..."
"Gak usah ma, sepatu aku banyak di apartemen gak digunakan, sayang... Di sini sering ke lapangan makanya sepatu jadi cepat lusuh..."
"Oh... baik. Ben... ehmm... Renske... dia baik?"
"Iya... dia baik ma..."
"Anak-anaknya Renske?"
"Anak? Renske belum punya anak, ma."
"Si... siapa tadi... Via sama Cia?"
"Oh... anak-anak... Via sama Lisya... Mereka sehat-sehat aja ma... udah dulu ya, aku cape udah gerah juga, mau mandi dulu... bye ma..."
.
Ponsel mati, mama Litha jadi binggung. Apa maksud Ben Renske belum punya anak? Tambah penasaran mama gak sabar menanti saat keberangkatan ke Manado.
.
.
.
Menyakiti hati seseorang itu gampang aja, semakin egois semakin mudah. Tapi untuk membalut kembali seseorang yang terluka hatinya perlu kebesaran hati...
Sama seperti sebuah kertas jika robek gak akan utuh seperti semula jika disambung dengan lem terbaik sekalipun...
So... menyakiti orang itu sebenarnya menyakiti diri sendiri...
.
Semangat guys... aku juga masih semangat menulis...
ðŸ¤ðŸ‘‹ðŸ’ªðŸ‘Œ.
.
.
💚.🥕.🥬.🥔.💚
__ADS_1