Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 30. Papi Cemut


__ADS_3

Hari minggu pagi, selesai sarapan hanya dengan sereal mix susu saja bersama anak-anak, Keke menata teras depan di lantai atas. Dia baru membeli batu coral putih dan beberapa pot kecil tanaman beberapa hari yang lalu. Keinginannya sejak lama punya taman kecil di ruko ini. Rumput sintetis dan beberapa furniture mungil untuk outdoor sudah lama dibelinya.



Taman mungil si Keke akhirnya selesai setelah berjam-jam dia mengaturnya. Keke berdiri di depan pintu menikmati dengan hati puas hasil kerjanya. Rapih dan enak dipandang, warna hijau memang menyegarkan mata.


"Mami Keke... udah selesai?"


"Udah... bagus gak?"


"Bagus, cantik tamannya... Via boleh duduk di situ?"


Via menunjuk sofa stool bulat bercorak daun.


"Boleh..."


Via memindahkan bantal abu-abu dari atas kursi kemudian duduk hati-hati di sofa kecil tanpa sandaran itu.


"Enak ya duduk di sini. Jadi tempat Via sama Dede main boleh gak?"


"Boleh... tapi batu-batunya jangan dibongkar ya... kasih tau si Dede..."


"Iya... Dede... Dede... sini..."


Via berteriak memanggil adiknya yang sedang tengkurap di lantai dekat dinding antara area TV dan meja makan.


"Tata Pia ayok cini ja... (Kakak Via yang ke sini aja)."


"De... ngapain bobo di situ..."


Keke datang mendekati Lisya.


"Butan bobo... Yica liyat cemut... cemut bana-bana ini...(Bukan bobo, Lisya lihat semut, semut banyak)."


"Berdiri De... nanti digigit semut kamu..."


"Cemut ndak gigit, mami Thethe..."


"Tapi jangan deket-deket sama semutnya, entar digigit loh..."


"Ndak, cemut jayan-jayan ini... di ding ding (semut jalan-jalan, di dinding)."


"Kak... aku mau keluar ya..."


Rommel keluar dari kamarnya sudah rapih dan ganteng dengan kaos polo warna hitam dan jeans biŕu pudar. Ada topi warna putih melekat di kepala yang digunakan terbalik.


"Ganteng banget... mau ke mana sih?"


"Mau ke rumah Nuela..."


"Wah... mau ke rumah pacar ya... udah jadian ya?"


"Hehehe... udah sebulan kak..."


"Eh... kakak gak tau..."


"Hehehe sekarang udah tau kan..."


Lisya berdiri melihat Rommel sudah rapih, dia sudah mengerti pasti Rommel hendak pergi.


"Momemel mau apa?"


"Jalan-jalan..."


"Momemel pegi?... Yica itut..."


"Dede gak bisa ikut, di rumah aja ya, om Rommel perginya jauh, nanti Dede cape di mobil..."


"Mami Thethe ndak pegi?"


"Gak... kita di rumah aja ya..."


"Momemel jayan-jayan... cama... cemut itu jayan-jayan... (Om Rommel jalan-jalan, sama dengan semut itu, jalan-jalan)."


"Mana semutnya De..."


Keke mengambil botol spray anti nyamuk.

__ADS_1


"Mami Thethe mau apa?"


"Mau semprot semutnya... nanti naik ke makanan kita."


"Itu na... cemut baba-bana..."


"Itu bukan semut Yica... itu bifi..." (bifi \= semut, bahasa Manado).


"Cemut... butan bipi..."


"Bifi Yica bukan bipi... bipi itu kak Bipi... eh papi Bipi, hehehe..."


"Cemuuuut... butan papi Bipi..."


"Hehehe... coba Yica bilang bifi."


"Bipi tan...(kan)?"


"Nah itu Yica bilangnya bipi, papi Bipi..."


"Papi Bipi butan cemuuut... huaaah, mami Thethe... ini Momemel natay (Om Rommel nakal)."


"Mel... nanti dia keterusan nangis ah... kamu iseng aja, sana pergi."


Rommel tertawa masih ingin menggoda ponakannya. Dia sengaja karena Lisya belum bisa mengucapkan huruf f atau v dengan benar. Tapi tatapan Keke membuat dia mengurungkan niatnya.


"Pamit ya kak... aku bawa mobil."


"Iya, hati-hati..."


Di tangga hendak turun Rommel berpapasan dengan Benaya yang baru naik.


"Rom, pintu kok dibiarin terbuka... "


"Eh... iya, tadi ada pak pala nagi registrasi sampah. aku lupa tutup."


"Oh... mau keluar ya?"


"Iya... mau ke rumah pacar, heheheh... Yica... ini papi cemut dateng..."


"Papi Biiipiii... butan papi cemuuut... huaaah Momemel natay..."


"Momemel natay... huaaah... Yica ndak tacih ecim huaaah... (Om Romel nakal, Lisya gak kasih es krim)..."


"Mel!!! Iseng banget..."


"Hehehe... iya... iya, nanti om Rommel bawain es krim deh buat Lisya, banyak-banyak... Pergi dulu kak Bipi..."


"Iya... "


"Papi Bipi... huaahhh."


Lisya mengangkat tangannya minta digendong Benaya.


"Kenapa Yica nangis?"


"Papi Bipi butan cemut tan? Huaah..."


"Cemut? Rens... dia kenapa?"


"Itu... hehehe..."


Keke tertawa akhirnya merasa lucu untuk menjelaskan pada Ben mengapa si Lisya menangis.


"Kamu ketawa manis banget..."


Eit si papi Bipi butan bipi dateng-dateng langsung ngerayu dan tak lupa ngasih satu ciuman kilat khusus di... bibir Keke yang masih ada sisa tawa di sana, tak lupa menutup mata Yica yang ada di gendongannya dengan telapak tangannya.


"Kak..."


Mata Keke membulat melancarkan protes.


"Papi Bipi... mata Yica... huaah..."


Si Bipi masih terpesona dengan senyum Keke jadi lupa pada balita di gendongannya.


"Hehehe... abiss gak tahan lihat senyum kamu sama ini..."

__ADS_1


Tangan yang tadi menutup wajah Yica sekarang berpindah, jari telunjuk menusuk tempat biasanya sebuah lubang manis di pipi Keke muncul. Keke bergeser dengan malu, terlebih ada tatapan heran seorang anak kecil di antara mereka.


"Papi Bipi... napa pipi mami Thethe..."


"Eh... gak apa-apa... ada semut tadi..."


"Mana cemut na, huahh"


"Cemut itu semut ya? Bifi... Yica coba bilang bifi..."


"Bipi... papi Bipi butan cemut tan... huaah..."


"Hehehehe...."


Keke tertawa sangat lepas, tertawa karena bahasa cadel ponakannya dan tertawa karena Ben baru menyadari sesuatu sekarang. Benaya hanya ikut tertawa akhirnya sambil menikmati ekpresi langka sang kekasih yang masih tertawa. Kalau gak ada Lisya di gendongan pasti Keke sudah habis dilahapnya, gemessz si abang tuh...


Kontras banget dengan cewek manis di depannya, si kecil justru masih terisak di dekapannya.


"Udah... Yica diam ya..."


"Iya... papi Bipi janan jadi cemut (papi Bipi jangan jadi semut)..."


"Dede panggilnya papi Omen aja, biar papi Bipi gak berubah jadi bifi, hehehehe..."


"Rens... kamu sekali ketawa gak bisa berhenti ya..."


"Hehehe..."


"Yica main sama kakak Via sekarang... tuh kakak Vianya..."


Ben membawa Lisya ke teras.


"Rens... kapan ngatur ini... bagus banget..."


"Baru aja selesai..."


"Ehmm... cantik seperti orangnya..."


"Gombal..."


"Iya, beneran cantik. Dibilangin gak mau percaya."


Keke menyimpan senyumnya berganti malu yang kini merambat di wajahnya. Dia bersandar di kusen pintu masih belum puas menikmati penataan yang baru di rukonya.


"Masih pengen nambah tanaman pot gantung, sekalian jadi penghalang cahaya kalau sore suka silau kalau pintunya dibuka..."


"Iya... ide bagus..."


"Malam-malam sepertinya asyik ya berduaan di sini..."


Benaya menatap Keke dengan tatapan menggoda. Keke blingsatan jadinya, langsung berbalik masuk ke dalam. Si Ben mengejar dari belakang.


"Rens... mau ke mana?"


"Mau mandi, belum sikat gigi juga... tolong liatin anak-anak ya..."


Memang setelah sikat gigi mau apa Rens??


.


.


Hi... maaf ya nulisnya asal... lagi kehabisan ide hahahaha....


Ke depan setiap jumat aku gak bisa up, sabtu sama minggu mungkin bisa sesekali.


Makasih byk masih stay di sini...


Kali ini gak ada quotes, ide ini aja karena aku liat semut yang nakal yang berbaris rapi di dinding jadi saksi abadi aku melongo sambil megang handphone.


Maafkan krn suka nulis quotes ya, bukan berlagak pintar, tapi sayang aja ada sstu yg muncul di kepala terus gak ditulis. Jika gak suka bukan untuk kalian deh... utk aku aja... 😚


.


.


(Ijin pinjam foto terasnya ya... kali aja ada yang merasa rumah itu miliknya 😇😍🤭🤗)

__ADS_1



__ADS_2