
Hi...
Aku memilih TaMaT dan memang niat memberi bonus episode, jika kakak2 semua masih suka... monggo silahkan dibaca...
Mengapa tamat... ada alasan pribadi.
Terima kasih buat semua perhatian dan cinta kalian buat cerita ini, God Bless yaa.
.
.
Masih di Siladen yaaa...
Hari-hari dengan bahagia sepenuh-penuhnya, cinta bertebaran di mana-mana di resort ini ke manapun pasangan honeymoon itu ada. Ben tak segan lagi bersikap mesra pada Keke, tak peduli ada siapa di sekitar mereka, hanya Keke yang cukup kelabakan menghadapi perubahan drastis sang suami.
Berhubung bulan madunya bersama rombongan keluarga, para keluarga terlihat bersikap memahami kebucinan seorang Ben bahkan sering melempar gurauan atau candaan karena itu. Mereka maklum, ada pria terlambat menikah dan baru merasakan salah satu surga di dunia, toch semua pria yang baru menikah kelakuannya rata-rata sama, bucin abisss.
Sore ini… ada banyak anggota keluarga yang berenang di pantai, sudah berjam-jam tapi belum puas, Keke hanya bermain air di pinggiran pantai, Ben tak memaksa, pelan-pelan saja, selangkah demi selangkah saja. Yang penting sekarang, Keke gak takut pantai lagi. Ben akhirnya hanya menemani Lisya dan Livia berenang, sementara Keke kemudian memilih mandi di kamar mandi dan setelahnya duduk di teras bersama papa Ramly, di bungalo tempat papa Ramly dan anak-anak menginap.
Di atas meja kopi di teras bungalo ini ada terletak beberapa brosur, iseng Keke mengambil dan membaca, ternyata brosur berisi tentang apa saja yang bisa dinikmati selama berlibur di pulau ini.
Siladen adalah destinasi diving terbaik yang menjadi pilihan para divers, popularitas pulau Siladen sebagai wisata underwater yang indah sudah mendunia. Itu mengapa Ben tak sabar untuk menyelam besok hari.
Sebagai bagian dari taman nasional Bunaken, tempat ini surga untuk para penyelam karena memiliki laut dengan berbagai biota laut yang cantik, ada ratusan species ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni, ada gua bawah laut yang menantang untuk diselami. Ada dua spot selam utama yang direkomendasikan bagi para penyelam sedunia, di mana terdapat dinding karang di dasar laut seperti rak buku yang sangat besar yang di setiap lacinya menyimpan jenis ikan yang berbeda… wah author promosi gak papa yaaaaa… 🤪🤭😚
Sepupu Ben yang tidak berani diving besok hari memilih snorkeling. Bahkan sejak tadi siang sudah ada yang melakukan kegiatan itu. Air laut yang sangat jernih dan bersih, berganti-ganti warna gradasi dari hijau tosca ke biru cerah menjadi alasan mengapa snorkeling di sini menyenangkan.
Perairan di Siladen yang relatif tenang dan tidak banyak karang di tepian membuat hampir semua rombongan keluarga datang nyebur di pantai selama berjam-jam sore ini. Ombak yang jarang datang menyapa membuat anak-anak bisa berenang dengan bebas dan aman.
Keke gak bisa semua hal di atas, mungkin yang Keke bisa adalah bermain-main pasir putih aja kali, bangun kastil atau apa… 🤭🥴 Tapi Keke hanya memandang laut yang mulai berubah warna, sebentar lagi matahari akan tenggelam di horison tepat di depan mata, duduk santai di teras dengan pemandangan sore yang luar biasa, betapa menakjubkan.
“Ike…”
“Iya pa...”
“Di sini menyenangkan ya…”
Papa Ramly membuka suara. Keke hanya tersenyum, iya sih Keke setuju bahwa menyaksikan pemandangan di sini begitu menenangkan, walau untuk dirinya perlu perjuangan sejak keberangkatan, dia memang bisa mengatasi rasa takut melihat air yang banyak sekarang, tapi dia masih belum bisa menikmati semua keindahan yang tersedia di sini.
“Di sini tenang banget, pemandangan pun menakjubkan.”
“Iya pa… sebentar lagi sunset, ini aja udah bagus banget warna langitnya, apalagi pas sunset…”
“Oh iya… kata seorang room boy tadi, jika beruntung di sore hari atau pagi hari ada sekawanan ikan lumba-lumba yang akan muncul bermain-main di permukaan.”
“Serius pa?”
“Iya… kita tunggu saja, siapa tahu kita beruntung… sebenarnya menurut mereka kita bisa berburu lumba-lumba pakai perahu motor kecil, katanya lumba-lumba justru suka saat ada perahu motor lewat, kawanan ikan itu akan muncul di permukaan…”
“Oh ya? Pasti seru... tapi Ike masih takut naik speed boat, apalagi perahu kecil.”
Keke bersuara pelan. Melanjutkan kemudian…
“Dulu waktu Ike kecil suka banget kalau diajak mami Vosye ke Ancol karena pengen lihat atraksi lumba-lumba…”
Papa menatap anaknya sejenak, perlahan membelai kepala Keke, menyesalkan masa kecil Keke yang tidak pernah dia tahu tapi mensyukuri momen sekarang, bisa melihat kebahagiaan Keke saat menikah. Papa Ramly tersenyum bahagia…
“Semoga kita beruntung Ike…”
Keke meletakkan brosur dan sekarang fokus memandang laut sambil tetap duduk di samping papa Ramly, menanti, siapa tahu dia benar-benar beruntung dan bisa melihat lumba-lumba. Matanya tak berkedip mencari kemungkinan hewan ramah itu muncul di perairan.
“Mami Kekeeee… opa Ramly….”
__ADS_1
Via dan Lisya melambarkan tangan pada mereka sambil berteriak. Ben turut melambaikan tangan. Keke membalas sambil tersenyum, anak-anak begitu menikmati ini, semacam liburan buat mereka. Ben berhasil mengajarkan Lisya berenang, anak gempal itu ternyata dengan cepat bisa belajar. Keke memilih jadi penonton, air yang mulai berubah warna di sore hari, mulai berwarna biru gelap membuat Keke bergidik.
Setengah jam berlalu dan Keke benar-benar mujur…
“Ike…”
Papa Ramly berdiri.
“Itu mereka Ike… itu mereka datang…”
“Amazing… wow papa, amazing... aku bisa lihat lumba-lumba… Dede…Via... lihat ke laut…”
Keke berlari turun dari dak kayu teras depan kamar papa Ramly. Anak-anak masih asyik berenang. Keke melambaikan tangan menarik perhatian mereka.
“Dede… Via… kak Bens… itu ada lumba-lumba 2 ekor….”
Teriakan Keke membuat beberapa orang yang sementara berada di dalam air memandang apa yang ditunjukkan Keke, termasuk Ben. Dia awalnya tidak mengerti mengapa Keke begitu ekspresif, berteriak sambil menunjuk sesuatu… semua yang ada di pantai itu akhirnya mengetahui ada lumba-lumba. Ben keluar dari air sambil meraih tangan Lisya dan mendekat lalu berdiri di samping Keke.
“Ada ikan lompat-lompat, kakak Via, ada ikan lompat-lompat…”
Lisya berteriak kesenangan.
Via datang mendekat juga.
“Itu ikan apa kakak Via?”
“Dolphin…” Via menjawab.
“Dolphin?”
“Lumba-lumba, De…”
“Kak Bens… ahh… minggir, iseng banget sih…”
Keke mendorong dada telanjang suami menjauh darinya, air asin dari wajah suami mampir di bibirnya. Ben tertawa…
“Seneng banget lihat lumba-lumba, kayak anak kecil deh…”
Ben meraih tangan istri.
“Iya… gak pa-pa…”
Keke masih tak berkedip, tak rela melepaskan momen ini sedetikpun, matanya mengikuti ke arah lumba-lumba yang sedang memainkan lompatan akrobatik berpasangan di tengah laut sana. Tapi bagi seorang Ben, ekspresi Keke, mata dan bibirnya, lebih menarik untuk seorang suami yang tiada duanyanya di dunia ini ketimbang atraksi hewan cerdas itu. Tangan merangkul di bagian leher Keke, membawa si istri masuk dalam pelukannya dan kembali menciumi pipi Keke berkali-kali. Keke bisa menjauhkan wajah suami tapi tak bisa melepaskan rangkulan suami.
“Kak Benssss, aku mau lihat lumba-lumba… sanaaa jangan ganggu…”
“Lumba-lumba aja... itu gak menarik kok…”
“Lah… itu amazing kak… bisa melihat mereka beruntung banget…”
Keke masih memandang ke laut.
“Kamu lebih amazing…”
“…”
“Lumba-lumba itu biasa aja kan… ikan besar doang…”
Ben usil…
“Apa sih, kata aku itu ikan yang cantik dan lucu…”
__ADS_1
“Kamu lebih cantik dan lebih lucu…”
“Iseng ihh… sanaa…”
Keke mengeliat mencoba melepaskan rangkulan suami.
“Ya… mereka pergi… kak Bens sih, gangguin aja…”
“Hahaha…”
Suami hanya tertawa dan kembali mencium wajah Keke yang kini memberengut.
"Mami... ikannya pergi..."
Lisya berkata kecewa.
"Nanti besok pagi, mudah-mudahan lumba-lumbanya ke sini lagi..."
Keke menghibur si Lisya, padahal dirinya sama, masih kepengen melihat si hewan lucu itu.
“Ayo masuk sekarang Rens, aku mau mandi. Via dan Yica langsung mandi juga ya…”
“Kak Bens aja yang ke kamar, bilas-bilas sana, aku mau di sini sampai sunset. Via… ajak Dede bilas ke kamar mandi ya…”
“Iya mami… ayo De…”
Via memegang tangan adiknya dan berjalan menuju bungalo papa Ramly. Ben tak bergerak di sisi Keke.
"Katanya mau mandi..."
“Aku temenin kamu dulu... lihat sunset…”
Ben tak melepas rangkulan tangan pada sang istri, berdua memandang ke arah laut yang sedang bertemu langit sore hari yang telah menampakkan warna jingga keemasan. Ada beberapa orang juga yang masih bertahan di tepian pantai menunggu momen yang sama, saat mentari selesai dengan tugasnya di sini di belahan bumi ini… Ada yang duduk di pasir, ada yang memilih duduk di kursi kayu yang tersedia di sepanjang lokasi pantai di resort mewah itu.
Saat fenomena alam yang luar biasa ini terlukis di langit, hanya suara kekaguman yang bisa terungkap dari bibir Keke…
“Indah… sangat indah ya kak…”
“Iya… dan buat aku, kamu lebih dari indah. Kamu di sini… seperti sebuah keindahan dalam keindahan…”
“Kak Bens pintar menggombal sekarang…”
“Karena kamu sih, dan hanya buat kamu…”
“Sanaaa… mandi…”
“I love You… my Rens…”
Sebuah kecupan di rambut Keke, memaknai keindahan yang tercipta karena cinta.
.
Ada banyak keindahan yang patut disyukuri. Keindahan yang diberikan secara limpah dan gratis di sekeliling kita, tergantung bagaimana kita mengapresiasinya. Pandang langit, perhatikan berbagai bentuk awan, nikmati pemandangan suara dan aroma, bayangkan dan pikirkan bahwa itu tidak terjadi begitu saja... Ada tangan yang merancang semuanya. Semua yang DIA buat baik dan indah...
Haha... author, itu kita udah tahu, gak usah dibahas...
.
Sampai jumpa di beberapa bonus episode selanjutnya...
Wasalam... 😇🙏
__ADS_1
.