
Mama Talitha sedang mengitari rumah itu dari lantai bawah sampai di lantai atas, memperhatikan tempat tinggal anaknya. Anak-anak berebutan bercerita dengan Ben di sofa lantai atas, melepas rindu dengan papi Bipi mereka.
"Ben... kamu masak sendiri? Peralatan masak kamu lengkap..."
Mama berujar saat sudah ada di atas lagi.
"Baru aku beli ma, kali aja mama mau masak..."
"Jadi... biasanya makan di luar ya kamu?"
"Jarang... mama tau sendiri aku gak suka makan di resto... aku biasanya makan di rumah Rens..."
"Ohh??"
Sedekat itu mereka?
"Rumah Renske di mana?"
"Di ruko depan ma... sebelah kiri sebelum belok ke sini..."
"Yang pintunya biru? Dekat aja ternyata ya..."
"Mama mau bertemu... nanti kita ke situ..."
Mama Talitha tidak menjawab. Dia ada bawa sesuatu juga buat Renske, tapi hatinya masih berat untuk menerima fakta anaknya pacaran dengan Renske. Mama enggan bertemu, tadinya dia berpikir tidak usah bertemu tak apa, tapi ternyata kemungkinan untuk bertemu Renske sangat besar. Dia sadar tidak bisa menolak lagi jika Renske menjadi pilhan Ben untuk jadi istrinya, kenyataan status Rebecca membuat dia pasrah.
"Mosses, Matthew, sana mandi dulu, oma udah siapin piyama. Papi juga cape dari kantor kan tadi..."
"Iya... sana turun ke bawah, papi Bipi mau mandi juga..."
Ben berdiri dari sofa.
"Papi Bipi, Matthew pengen bobo sama papi..."
"Mosses juga..."
"Eh... terus oma sama siapa, masa oma sendiri di bawah?"
Oma Litha protes ke cucunya, walau merasa kasihan pada anak-anak yang masih kangen pada papi mereka, tapi dia takut juga sendiri di tempat yang masih asing buatnya.
"Malam ini tidurnya dengan oma dulu ya, nanti besok malam boleh tidur di kamar papi Bipi, ganti-gantian. Sana mandi..."
Benaya masuk ke kamarnya. Cape terasa di sekujur tubuhnya. Hari ini sangat sibuk dan dia langsung ke bandara sorenya menjemput mama Litha dan dua ponakannya.
Setelah mandi Ben turun ke bawah...
"Mama masih pengen makan sesuatu?"
"Tidak... tadi cukup. Mama mau tidur aja, cape..."
"Ya udah. Aku ke rumah Rens sebentar..."
"Pulang jam berapa?"
__ADS_1
"Emang aku anak abg... ditanyain jam berapa pulangnya..."
"Ya... gak begitu. Maksud mama... takut mama ketiduran, gak ada yang bukain pintu..."
"Gak usah dikunci... di gerbang ada orang, staff aku juga suka nongkrong di situ... di sini aman ma... aku pergi ya..."
Mama Litha mengikuti punggung Ben yang menjauh. Dugaan yang melintas sekarang Ben setiap hari ke rumah Renske. Mama Litha membuang napas dengan berat, anaknya sudah dewasa bukan anak kecil lagi yang harus diarahkan, dia punya pilihan sendiri. Mungkin memang Rens lah wanita yang ada di garis hidup anaknya dan hanya harus menerima saja.
.
🍀
.
Lody menatap langit-langit kamarnya. Apakah dia bebas memilih dengan siapa dia akan jatuh cinta? Apakah mendapatkan cinta adalah seperti sesuatu yang sudah digariskan dari awal ada dalam hidupnya, dengan cara apa ia datang, dalam waktu mana mereka akan bertemu, siapapun wanitanya... dia hanya perlu menerima karena itu sudah digariskan oleh suatu kekuatan tak terlihat yang maha mengatur segalanya. Atau untuk mendapatkan cinta perlu perjuangan, perlu pencaharian, perlu usaha...
Lody mengingat pertemuan dengan Sifra, Manda, Leony, dan beberapa nama lain, terakhir ini Renske. Apakah itu jatuh cinta yang sebenarnya? Atau seperti kata Elon, hanya sebuah pengalihan. Bagaimana dengan perasaannya pada Inge? Banyak hal telah dilewati bersama, sebetulnya dilubuk hatinya dia dan Inge bukan sekedar dekat. Dengan yang lain dia hanya sekedar have fun kemudian bosan, tapi dengan Inge...
Pintu kamarnya diketuk. Dari cara serta bunyi ketukan Lody tahu siapa orang dibalik pintu itu. Hati sabtu dan hari minggu dia masih menghindari Inge. Tapi tadi sore dia diomeli tante Noniek. Tante yang menjadi mamanya bertahun-tahun ini, dia menyayangi sosok itu, dan tak ingin melawannya. Lody membuka pintu.
"Ya..."
Inge yang tadi mengetuk sudah berjalan ke kamarnya. Sebenarnya dia malas menjalin komunikasi lagi, dia tak memahami sikap Lody beberapa bulan ini. Terakhir mereka ngobrol saat berkunjung ke rumah Keke saat ulang tahun Keke. Tubuhnya hampir menghilang di pintu kamarnya...
"Yang..."
Inge menahan pintu, berdiri menunggu Lody yang berjalan menghampirinya. Kamar mereka bersebelahan di rumah ini.
Manggil masih 'yang' kayak emang beneran sayang...
Lody bertanya pendek. Inge mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya yang perlu aku, kamu deh..."
Inge menjawab malas dan datar, menghindari tatapan Lody.
"Eh... itu... soal ulang tahun papa... aku rencananya mau buat syukuran. Di Green Hills aja acaranya, belum pernah kan hut papa dibuat di sana..."
"Ya udah... nanti aku siapin tempat dan makanan."
"Aku udah ngomong ke Ike juga untuk urusan makanan..."
"Oh... gitu. Bagus lah..."
Inge bergerak masuk kamar, tapi pintu ditahan Lody...
"Yang... belum selesai..."
"Apa lagi??"
"Kamu tolong cari seragam ya buat kita..."
"Iya... udah aku ngantuk. Dan... jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi... aneh! Kita tak ada hubungan apapun!"
__ADS_1
Inge berkata dengan suara rendah sambil menatap langsung mata Lody. Dia kemudian mendorong tubuh Lody yang menghalangi pintu, dan membanting pintu itu. Lody terhenyak, baru sekarang Inge bersikap ketus bahkan sedikit kasar. Dan entah kenapa ada rasa tak nyaman menyusup. Lody balik ke kamar masih memikirkan sikap Inge.
.
Pagi hari, Lody dan Inge bertemu di meja makan. Papa Ramly sudah sarapan sejam sebelumnya. Di meja hanya ada tante Noniek dan Inge. Cewek berwajah cantik itu sedang makan sambil menelpon karyawannya, ada reservasi acara siang ini di Green Hills. Lody duduk di samping Inge, diikuti tatapan heran Inge dan tante Noniek. Sudah lama Lody tidak pernah lagi duduk bersama Inge di meja makan saat sarapan pagi.
"Papa mana Ma Ade?"
Lody memecah keheningan di antara mereka.
"Baru aja keluar. Mau lihat panen kacang katanya."
"Papa udah sehat?"
"Udah Ody... mau telur matasapi?"
"Gak Ma Ade... ini aja..."
Lody mengambil 1 buah jagung manis rebus, tunduk syukur sejenak lalu mulai menikmati sarapannya. Matanya melirik Inge yang sudah selesai menelpon dan sedang menikmati roti bakar keju miliknya. Tante Noniek menyodorkan segelas susu coklat di depan Lody.
"Makasih Ma Ade..."
Tante Noniek hanya mengangguk tapi memberi isyarat mata pada Lody sambil jari menunjuk ke arah Inge yang kini menyeruput teh panas miliknya. Lody bertanya maksud tante Noniek tanpa suara, tapi hanya dipelototin tante Noniek, tangan bergerak-gerak, Lody menafsirkan bahwa dia harus bicara sama Inge.
"Yang... kapan cari seragam, nanti aku antar."
Inge tak mengubris, kemudian dengan cepat berdiri mengambil tasnya dan menuju garasi.
"Yang..."
Lody menaikkan volume suara, tapi tak mendapat jawaban dari Inge. Dari kaca jendela dapur Lody melihat city car kuning milik Inge bergerak mundur dan menghilang.
"Ody... kamu jangan mempermainkan perasaan Inge, dia sudah cukup sabar selama ini. Lama-lama dia bisa menyerah... atau mungkin sekarang sudah menyerah. Ody... siapa lagi gadis yang kamu incar?"
"Gak ada kok, Ma Ade..."
"Ma Ade hafal kelakuan kamu... tidak mungkin kamu kayak gitu sama Inge kalau tidak ada perempuan lain, haduuuuh Ody... berhenti main-main... ingat umur..."
Lody tertunduk. Sejak kemarin Ma Ade tidak berhenti mengomeli dia soal Inge.
"Kamu tidak akan mendapatkan gadis baik seperti dia lagi... nanti nyesel kamu... Kamu ini punya perasaan atau tidak? Kamu panggil dia begitu manis tapi kelakuan kamu tidak sesuai."
"Tanya dirimu sendiri, kalau tidak bisa berubah dan tidak bisa mencintai Inge sepenuhnya, kalau kamu tidak bisa serius dengan Inge, tidak usah mendekati dia lagi."
Lody mengangkat muka. Sorot tajam tante Noniek membuat dia terdiam tak bisa menyanggah atau membela diri.
.
Cinta yang mendatangkan kebahagiaan ada karena ada sepasang wanita dan pria yang saling tertarik dan berusaha mewujudkannya. Ada banyak kemungkinan itu, dua insan hanya perlu dorongan dan keinginan untuk memulai, kemudian bahagia akan datang...
.
💚
__ADS_1
.
✳