Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 60. Mama


__ADS_3

Pagi-pagi di hari minggu. Biasanya Keke akan bermalas-malasan di tempat tidurnya, menikmati pagi tanpa agenda melakukan sesuatu, tak diburu jumlah menu dan jumlah pesanan, bebas dari sepatu boot plastik, apron dan penutup kepala. Tak berbasah-basah mencuci ini-itu dan tangan bebas dari tepung dan segala macam peralatan masak.


Tapi pagi ini suasana berbeda, ada papa Ramly yang terbiasa sarapan di jam tujuh pagi, dan hanya mau makan makanan buatan anaknya, papa yang lagi pengen dimanja sama anak perempuannya. Jadi Keke keluar dari pakemnya no kitchen di hari minggu. Pagi-pagi Keke sudah bangun, Keke hanya merebus pisang goroho dan membuat sambal roa sesuai permintaan papa.


Sekarang, selesai mandi Keke menemani papanya sarapan, papa Ramly bilangnya gak suka makan sendirian, harus ada seseorang paling tidak teman ngobrol.


"Anak-anak mana, Ike?"


"Udah dijemput guru SM pa..."


"Oh... kamu mau ke mana, pagi-pagi sudah rapih, anak papa cantik..."


"Papaa... Ike biasa aja..."


"Ike cantik kok... papa ngomong kenyataan..."


Keke risih pagi-pagi sudah terima pujian dari sang papa.


"Mau pergi ke mana anak papa?"


"Ehmm... mau menemui mama..."


Keke menjawab dengan suara rendah. Papa lega dan tersenyum pada anaknya.


"Bagus... papa pikir Ike tidak ingin kasih tahu mama."


"Pa... Ike heran sama papa, seperti tidak terjadi sesuatu antara papa dan mama... mama kan yang ninggalin papa?"


"Peristiwa itu sudah lama Ike, sudah lebih dua puluh tahun yang lalu. Waktu itu papa sangat marah, merasa dikhianati... terlebih saat tahu ada orang lain yang lebih didengar mama. Tapi sekarang, apa keuntungannya papa menyimpan amarah, kami sudah punya kehidupan sendiri. Papa meminta Keke memberitahu mama, karena walau bagaimanapun mama, Ike tetap anak mama, itu saja..."


"Papa pernah bertemu mama lagi sejak pisah?"


"Tidak. Tapi papa pernah bertemu papanya Rommel. Papa pikir mama menikah dengannya, ternyata tidak. Dia punya istri, Rommel hadir karena kesalahan mereka. Dari dia papa tahu banyak hal yang papa tidak tahu saat mama menggugat cerai. Tapi sudahlah, kami berdua sama-sama bersalah. Sekarang papa memilih hidup tenang aja Ike... Oh ya... Ike berangkat dengan siapa?"


"Ike sama Ben pa... dia pengen kenalan dengan mama."


"Oh bagus itu... kita jaga silahturahmi ya... Jam berapa berangkat?"


"Tunggu kak Bens siap... Eh iya... Mel... Mel..."


"Iya kak..."


Rommel menyahut dari kamar.


"Alamat rumah mama di mana?"


.


🍀

__ADS_1


.


Tidak susah menemukan rumah mama Virda di kelurahan Pondang Amurang ini. Patokannya dekat dengan kantor bupati Minahasa Selatan. Rumah bercat orange dan kuning mencolok mata, di bagian depan rumah ada kios sembako terbuat dari papan yang juga bercat kuning. Ada juga sebuah rak tempat berjualan pertali te botolan di depan kios di bagian trotoar.


Keke turun dari mobil, menilik rincian yang diberikan Rommel, seharusnya rumah ini yang dia maksudkan.


"Mau beli perta*lite?"


Seorang wanita muda dengan potongan tubuh yang extra size menyambut Keke.


"Ehh... bukan... boleh tanya tante?"


"Tante tante... saya belum menikah, masih perawan, mata gak dipake!"


Wanita itu menjawab ketus dengan mimik wajah cemberut. Dia berdiri di pintu besar kios itu, menatap tidak suka pada Keke.


"Maaf... kak. Di sini rumah tante Virda?"


"Iya, situ siapa?"


Tambah kasar suara wanita itu.


"Saya anaknya..."


"Anak? Anak dari suami yang ke berapa?"


Tambah kasar dan mimik muka mulai sinis. Wahh... ada yang sedang menabur bibit peperangan ini, Keke berusaha tenang dan berusaha menjaga sikap sopan, meskipun hatinya mulai panas. Entah siapa wanita ini, demi kesopanan pula Keke memilih mengabaikan pertanyaan terakhir.


"Ehh...! pindahkan mobil dari depan sini jangan menghalangi pemandangan, saya jualan perta lite, mobil itu menghalangi konsumen saya!"


Wanita itu tak menghiraukan permintaan Keke, malahan menunjuk-menunjuk mobil dengan suara mirip teriakan. Ben turun akhirnya, dari kaca spion dia menangkap wajah Keke yang berubah. Ben menghampiri Keke yang masih berdiri di depan kios itu dan sekarang tidak diacuhkan wanita ekstra size tadi.


"Maaf... boleh bertemu mama Virda?"


Keke mengulang kembali permintaannya. Wanita itu tak menjawab hanya melihat pada Ben yang sedang mendekati Keke.


"Rens... bener ini rumahnya mama?"


"Iya kak Bens. Kak... pindahin mobil dulu, menghalangi jualan dia katanya..."


Keke dengan suara yang sudah berubah karena kesal mendorong tubuh Ben di dekatnya.


"Oh maaf ya... saya tidak tahu, saya pindahkan mobil saya sekarang."


Ben mengangguk sopan kepada wanita itu yang juga sedang menatap Ben.


"Eh... gak usah kak, gak apa-apa parkir di situ aja... mau nyari tante Virda kan?"


Lohh? Tadi marah-marah sekarang bicara pada Ben dengan suara sopan dan lembut, sambil senyum pula, Keke sedikit mengernyit sementara si wanita belum mengalihkan pandangannya dari wajah Ben. Keke yang memperhatikan perubahan sikap mendadak juga melihat tatapan terpesona dari wanita big size dengan daster merah mencolok, hanya menelan geramnya di hati.

__ADS_1


Dasar! Lihat cowok ganteng langsung berubah, astaga...


Keke harus mengakui Ben tampil sempurna hari ini dengan outfit casual, serta kacamata hitam yang bertengker di hidung mancungnya, Ben memang menyilaukan mata. Keke aja yang sudah sering melihat masih suka ternganga apalagi orang lain kan? Seperti wanita di depan mereka sekarang, yang mulai senyum-senyum manja pada Ben.


"Iya... bisa kami bertemu tante Virda?"


Ben bersikap sopan.


"Boleh kak, boleh... tunggu sebentar ya kak, aku panggilkan..."


Kak? Emang kamu siapa, sok dekat?


Wanita itu masuk ke kios dan masih sempat mengerling pada Ben. Ben mengusap kepala Keke, tahu Keke sedang gusar.


"Tadi sama aku marah-marah dan kasar, sama kak Bens malah manja-manja gitu, dihh!"


"Haha... cemburu ya ada yang manja sama aku?"


"Kak Bens... jangan aneh, bodoh aku cemburu sama cewek model begitu."


"Haha... Becanda. Jangan emosi ya sayang, gak boleh kesel sama orang yang baru kita temui meskipun sikap mereka kurang baik."


Keke diam. Sejak bangun pagi dia ada rasa tidak nyaman dengan pertemuan ini, mencari mama gak ada di pikirannya tapi dia harus mengikuti apa yang baik menurut papa, menurut Ben, bahkan si Rommel yang jadi sok dewasa terhadapnya sebelum berangkat tadi. Dan rasa tidak nyaman itu bertambah sekarang menerima perlakuan wanita tadi.


"Santai aja sayang, muka jangan seperti itu dong. Mau bertemu mama jangan cemberut ya..."


"Kesel sama perempuan tadi..."


"Udahlah... sikap seseorang pada kita tidak bisa kita paksa harus baik..."


"Tapi sama kak Bens dia ramah, sama aku judes banget..."


"Hahaha... itu anugrah buat aku Rens, semua wanita kayaknya gak bisa gak bersikap baik sama aku, meskipun baru pertama kali ketemu..."


"Gak lucu..."


"Hahaha... kecuali kamu Rens. Dulu jutek, muka super dingin tanpa ekspresi."


"Kak Bens!"


"Sorry ya... sekarang senyum dulu... buat aku aja... senyum bisa merubah suasana hati kamu, biar enak saat ketemu mama..."


.


.


☺☺☺


.

__ADS_1


Ayo senyum aja dulu...


__ADS_2