Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 25. Alasan Mencuri


__ADS_3

Benaya mengendarai mobil miliknya sementara ini dengan kecepatan 20 km per jam, sangat lambat. Lalu lintas sedang macet sehabis hujan mengguyur deras kota selama beberapa jam yang lalu. Akhir-akhir ini di kota ini banyak hujan, dan hujan satu jam bisa mengakibatkan banjir sekarang, dampak dari buruknya drainase. Sudah lebih setengah jam Ben masih tertahan bergerak sangat lambat di area tugu Zero Point, pasti karena ada genangan air yang cukup tinggi di jalan.


Ben tak lagi menggunakan jasa sopir, dia merasa tak butuh itu. Farly dialihkan jadi staff karena ternyata dia sarjana IT. Hampir setahun ada di sini, dan semua urusan proyek sudah tertata, walau masih banyak yang perlu dibereskan, serta progress kerja yang belum sesuai target. Proyek mulai berjalan lagi sekarang, setelah sempat terhenti 2 minggu.


Ponsel berbunyi... Ben tersenyum.


"Rens..."


Tak ada jawaban, tapi ada dua suara yang sedang berebutan ingin bicara... Ahh ternyata anak-anak. Kapan sih dia mau menelpon... Ingin banget seorang Benaya dicari atau dihubungi kekasihnya.


"Via... pasang speakernya aja..."


"Iya Papi Bipi... "


"Papi Bipi ayok cini... (ayo ke sini)"


"Papi Bipi... lagi sibuk?"


"Butan cibuk ayok ciiiniii... (Gak sibuk kan... ayo ke sini)."


"Iya... iya, dikit lagi sampai rumah, mau mandi dulu, setelah mandi nanti papi Bipi ke rumah Yica sama Via ya..."


"Iya... tapi jangan bilang mami Keke kalau Via sama Dede nelpon papi Bipi..."


"Kenapa?"


"Mami Keke nanti marahin kita, katanya gak boleh ganggu papi Bipi..."


"Iya... iya, mami Keke lagi apa?"


"Bitin tue bana-bana... cana itu... (Lagi bikin kue banyak-banyak, di sana)."


"Oke ya... udah ya... papi Bipi lagi bawa mobil... daaah."


Progress hubungan dengan Keke pun masih berjalan lambat. Setelah jadian, seharusnya masih hangat-hangatnya, tapi apa daya sikap kekasih hati masih sama, kaku dan masih suka menolak sikap Ben. Dia masih menatap Ben dengan heran saat Ben mencoba melakukan sesuatu yang dekat sebuah perhatian dari pacar untuk gadisnya. Ternyata Benaya masih harus bersabar lagi.


Gadis ini bukan gadis kebanyakan. Menunggu dia membalas chat pun sama seperti menunggu tanggal 29 Februari muncul di kalender 😜. Kadang dibaca gak dijawab, kadang gak dibuka sama sekali. Padahal ponsel ada di dekatnya, giliran orderan pesanan kue atau makanan langsung ditanggapi.




Setelah mandi, sore sudah berganti malam, sinar mentari semakin redup, lampu di kompleks serta di lorong itu sudah menyala. Ben melangkah dengan langkah ringan ke depan. Di pintu gerbang, para staff sedang duduk nongkrong di pos kecil bersama om Denny.



"Pak... "



Elijah menyapa si boss yang berpenampilan santai sekarang, kaos oblong putih dengan celana panjang berbahan kaos warna hitam.



"Eh kalian... ngopi-ngopi ya..."



"Iya pak... mau sekalian pak... ini kopinya masih banyak kok, kita baru mulai... ada kue-kue enak juga pak, beli di ruko depan..."



Benaya senyum kecil, dia mau ke sana, nanti aja makan di sana, gratis.



"Kalian aja..."



"Pak... mau titip beli makan malam sekalian? Farly mau ke sini..."



Fransien keluar dari rumah begitu lihat si boss ada di pos bersama anak-anak. Dia sengaja datang mencari alasan bertemu bos. Maklum bos jarang bercengkerama dengan mereka saat di rumah, padahal mereka sering banget bikin keributan di pos yang deket banget sama rumah si bos.



"Oh... gak usah... saya jalan dulu..."



Benaya pun melangkah dengan kedua tangan berada di saku celananya. Fransien menggigit bibir bawahnya hanya bisa memandang siluet indah tubuh bos dalam temaram lampu jalan, ahh siapa pemilik tubuh terutama hati si boss, dia pesimis boss akan melihat kepadanya apalagi tertarik padanya.



"Si boss mau ke mana?"



Fransien bertanya pelan, dengan tampilan seperti itu hanya bersandal jepit gak mungkin keluar cari makan malam.



"Ke depan..."



Rolly menjawab pendek tapi masih memperhatikan si boss, dia juga penasaran si boss dia lihat ke ruko depan, ngapain ya?



"Ke mana?"

__ADS_1



Fransien masih bertanya. Boss terlihat sudah naik dua anak tangga dan berdiri di depan pintu samping ruko itu. Nampak jelas dari pos itu boss sedang menelpon, tak lama pintu terbuka. Rolly saling bertatapan dengan Elijah. Sedikitnya mereka tahu itu ruko milik si janda dua anak itu dan ada kepentingan apa si boss sering ke situ, gak mungkin kan si boss berteman dengan adek cowoknya yang sepertinya baru lulus SMA.



"Heii... malam bro semua..."



Farly datang dengan motornya dan langsung buat keributan, mesin motor gak dimatikan malah digas-gas sama dia.



"Mana makanan aku Far?"



"Ikut aja yuk, kita cari sama-sama..."



"Ya udah... tapi bentar lagi."



Fransien masih ingin mencari tahu sesuatu, sama seperti rekannya yang lain dia juga penasaran sama si boss ganteng yang punya aktivitas sampingan sekarang, sering banget ke ruko depan, dia pernah beli pulsa si boss yang layanin, dia kaget juga waktu itu. Penisiriiiin.



"Ada siapa aja sih di ruko itu om Denny?"



Fransien buka suara... gak tahan lagi.



"Mereka aja, si janda sama dua anaknya sama adeknya. Kadang ada mama mereka suka nginap di situ..."



"Terus... si boss ke sana ketemu siapa? Udah sering banget loh, kadang sabtu sama minggu seharian di sana..."



Fransien meneruskan mulai was-was, apa ketemu si janda?



"Ketemu mereka lah emang siapa lagi?" Elijah menjawab asal.




"Hah??? Masa sih, om Denny tahu dari mana?"



"Apalagi yang menarik di situ, janda itu cantik juga kan..."



"Hah???"



Fransien dan semua staff sama-sama tersadar, iya bener kan... apa lagi memangnya yang menarik bagi seorang lelaki dewasa ganteng setiap kali di waktu senggang hanya ke ruko itu???



.



Di situasi yang lain... Benaya setelah dibukakan pintu sama Rommel masuk, mata mencari kekasih hati yang dirindukan. Rommel yang sudah bisa menduga sejak lama kalau kak Bipi ini sedang pdkt sama kakaknya hanya tersenyum...



"Kakak di belakang..."



Bipi menepuk pundak Rommel dan langsung masuk.



"Hai... "



Benaya menyapa Keke yang masih sibuk di meja kerjanya. Kini ruangan di bagian belakang dulunya ruang serbaguna milik Keke, setelah kamar dan ruang keluarga pindah di atas sekarang jadi tempat Keke mengolah pesanan makanan kecilnya.



"Eh..."



Benaya mengusap sejenak kepala Keke yang masih berbalut topi kerjanya. Sebentar aja, gak bisa lama-lama, pasti yang punya kepala udah langsung menarik kepalanya...


__ADS_1


"Klappertart ya..."



"Iya..."



"Udah ada yang mateng? Jadi pengen makan... ada buat lebih kan?"



"Iya... sendok ada di dapur..."



Benaya segera ke dapur, gak sabar makan yang manis dan enak, si nona manis kekasihnya masih gak biasa disentuh mesra apalagi mau dilahap, hiks... makan buatan tangan manisnya aja. Ben mengambil 1 loyang sedang klappertart yang sudah dingin, langsung menikmati. Keke menggeser sebuah kursi ke arah Benaya tanpa suara, hanya isyarat. Ben duduk dan mulai menikmati penganan kecil nan lezat itu.



"Masih lama?"



Ben bertanya di sela-sela menikmati makanan kecil favoritnya. Lehernya memang betul-betul gak bisa mendustai dari mana dia berasal, semua jenis masakan yang dia suka adalah asli menu khas daerah. Dan semua suguhan makanan dari Keke selama ini selalu nikmat buatnya. Cinta si Benaya benar-benar dari leher turun ke hati deh...



"Gak... udah hampir selesai, ini tinggal bakar 2 loyang lagi..."



"Biasanya kecil-kecil... ini ada yang pesan gede begini ya?"



"Gaaak sih... buat dimakan aja bukan untuk dijual kok..."



"Emang di sini siapa yang suka makan ini, gak ada kan selain... aku?"



Benaya menunjuk dirinya, ini... Keke buatkan spesial buat dirinya?



"*Sweety*... kamu spesial bikin ini buat aku ya?"



Benaya senyum-senyum, tangan kanan masih memegang sendok. Dia menggeser sedikit kursinya ke arah Keke. Sementara Keke pura-pura tak mendengar dan pura-pura sibuk menyusun peralatan yang sudah selesai digunakan. Malu si kak Bens mengetahui dia sengaja membuatkan klappertart kesukaannya. Terlebih dia canggung dengan panggilan manis yang sudah beberapa kali dia dengar untuknya...



"Reennns... gak dengar aku ngomong apa?"



Tangan Benaya meraih lengan gadisnya yang masih aja bikin Ben penasaran hingga detik ini, apa yang menghalangi Keke untuk datang mendekat padanya, padahal mereka sudah punya status sekarang. Sudah sekian lama jadi kekasih satu-satunya moment romantis mereka hanyalah saat Ben nembak Keke.



"Heii... "



"Iya... denger kok... iya itu sengaja aku bikin buat kak Bens..."



Suara lembut dibalut rasa malu itu terdengar, pelan saja tapi memberi efek membahagiakan buat si Benaya. Ben berdiri di tempatnya dan mengangkat tangan memegang bagian atas kepala Keke lalu memberi satu ciuman singkat di bibir penuh itu, berbisik kemudian...



"*Thank you sweety... love you*..."



Ben segera beranjak ke atas, tak ingin melihat reaksi Keke yang sudah mematung di tempat. Senang juga ada alasan mencuri satu ciuman.



.



.



Yang hepi dan ringan-ringan aja ya beberapa part ini. Baik Ben maupun Keke kan masih sedang saling menerima dan memahami satu dengan yang lainnya. Untuk saling mendekatkan diri pun masih suka kebentur... masih mempelajari seperti apa hubungan ini akan berjalan...



Enjoy... happy reading, nikmati akhir minggu ini dengan rasa syukur...



Dan... minta apresiasinya readers semua... semoga mau bermurah hati... hahaha


__ADS_1


✴✴✴


__ADS_2