Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 73. Berdua Lebih Baik dari pada Sendiri


__ADS_3

Ben menyadari dia menyepelekan sesuatu yang penting, yaitu perasaan seorang Keke. Dia hanya dapat memandang Keke yang sedang menyemburkan begitu banyak kata-kata dengan gemetar, menumpahkan semua kemarahan yang entah sudah berapa lama tertimbun di hati. Keke yang menolak untuk disentuh selain pelukan paksa di ruang makan tadi, yang belum bisa menerima permintaan maafnya sejak tadi, dan selalu menghempaskan tangannya dari tubuhnya. Ingin sekali dia memeluk tubuh itu tak tahan melihat kedua mata yang berselubung kristal. Lampu-lampu kecil yang dilingkarkan di pohon kecil dalam pot dekat dengan tempat Keke berdiri bisa menunjukkan wajah penuh emosi Keke.


Dia berhasil membawa Keke ke rooftop ruko itu, dengan paksaan tentu saja. Paksaan yang akhirnya memicu luapan lahar panas tumpah semua. Satu hal yang sudah dia hafal, mulut Keke bisa tiba-tiba penuh beragam kosakata dalam keadaan marah.


Selain area service, di lantai tiga ini ada area terbuka untuk bersantai, ada sebuah ayunan nyaman di sana, ada satu set meja-kursi outdoor dari kayu, dan banyak tanaman di dalam pot, penataan yang simple dan tak kalah apik dengan taman di balkon Keke. Ada pagar kayu yang menjadi pembatas dengan area service. Sungguh nyaman ada di sini terlebih langit malam yang bersih dari awan penuh bintang dan cahaya purnama penuh yang begitu memukau. Tapi tidak dengan suasana hati pasangan itu.


“Aku salah Rens… maaf. Aku pikir kita bisa mengurus semua itu setelah aku di sini. Aku fokus ingin membereskan pekerjaan, setelah itu baru urusan kita… Sekarang aku di sini, kita urus lagi ya, sama-sama… ya?”


Akhirnya Keke berhenti dan akhirnya Ben punya kesempatan untuk menjawab Keke. Dari tempatnya berdiri Keke masih menatap Ben tapi dengan kemarahan yang perlahan surut. Emosi tak lagi mengendap, telah keluar bersama semua perbendaharaan kejengkelan, kedongkolan, ketersinggungan beberapa menit tadi. Keke kemudian diam tak menjawab Ben.


“Tadi siang aku sudah ke kantor capil diantar Rommel. Aku memang gak bisa kirim file penting milik aku karena ada di Jakarta semua. Besok kita ke studio foto ya, untuk pasfoto berdua.”


Tak ada sanggahan atau balasan dari Keke, Ben melanjutkan…


“Untuk gedung yang dibooking Inge, aku minta maaf ya karena terlambat dan ternyata udah gak bisa lagi. Tapi aku udah DP ballroom di Novot el, dan kita masih dapet tanggal cantik, bukan bulan ini sih… bulan depan. Maaf ya… gak minta pertimbangan kamu, karena dua minggu ini kamu gak mau ngomong sama aku, aku cuma diskusi sama Inge aja.”


Keke memalingkan wajahnya dari Ben dan kemudian melangkah ke dinding beton setinggi dadanya bersandar di sana. Ternyata Ben sudah membereskan urusan yang menjadi sumber kemarahannya. Semua yang dia ingin sampaikan sudah terucap, dan sekarang dia kehilangan kata lagi. Keke menaikkan kedua lengannya menyandarkan kedua sikunya di situ membelakangi Ben. Ben mencoba mendekati Keke, berdiri sejajar bersandar di dinding yang menjadi pagar di lantai tiga ruko ini.


Beberapa waktu berlalu dalam kebisuan. Entah apakah suara amarah Keke tadi terdengar di lantai dua, Ben berharap kedua orang tua Keke tidak mendengarkan mereka. Tapi sekarang Keke yang kemudian membisu membuat Ben juga terdiam, memandang Keke dari samping, menangkap raut wajah yang mulai melunak. Ben tak dapat menahan hatinya lebih lama lagi, tanpa kata lagi Ben menarik lembut tubuh Keke masuk dalam pelukannya merekatkan lagi apa yang sempat putus dalam sentuhan, Keke tak menyambut tapi tak menolak, semua energi negatif telah terburai dan perlahan rindu menyapa relung hatinya…


“Rens…”


Kecupan panjang dilabuhkan di dahi Keke…


“Sayang…”


“…”


Tubuh yang semakin rileks dalam dekapan menjadi pertanda untuk Ben…


“Aku… dimaafkan?”


Sebuah anggukan kecil terasa di dadanya, ahhh... dia leluasa sekarang untuk melakukan yang ingin dia lakukan. Pertama dia mengambil kedua tangan Keke dan meletakkan di pinggangnya, dia juga ingin dipeluk dengan hangat. Ben kemudian lebih mengeratkan pelukannya sendiri.


“Peluk aku Rens, kangen…”


Ben bersuara di dekat telinga Keke. Keke sedikit menggerakkan tangannya di pinggang Ben, merasakan itu Ben melabuhkan banyak ciuman di kepala Keke dan sebuah cubitan bersarang di pinggang bagian kanan.


“Heiii, sakit Rens… kamu ya, belum cukup ya marahin aku habis-habisan tadi… sekarang malah… wadowww… Reeensss…”


Sebuah cubitan susulan yang dilakukan dengan segenap hati dan segenap kekuatan membuat Ben refleks melepas pelukannya dan sedikit menjauh. Gadisnya luar biasa kalau emosi ternyata. Melihat Keke yang tersenyum kecil karena reaksi Ben, lelaki itu kemudian menangkap kedua lengan Keke menahan Keke menempel pada tubuhnya dan sebuah sergapan kemudian di bibir Keke, dan pada akhirnya semua berlangsung indah kemudian akibat sihir ciuman yang turut meluma t perasaan mereka berdua. Desiran angin malam turut mendinginkan emosi tapi kehangatan tubuh karena aktivitas intim mereka segera menghangatkan lagi hati dan cinta mereka.

__ADS_1


Bagaimana menjelaskan rasa di dada sekarang, hanya ada kelegaan yang datang menyertai sebuah pelukan dan ciuman sayang tanpa nafs u, hanya berisi keinginan untuk menyatakan rasa cinta yang semakin mendalam. Saat semua resah telah berlabuh dalam sebuah sesapan panjang yang menyejukkan dahaga jiwa, ada damai di hati keduanya.


“Lain kali kalau kamu cubit aku… aku akan…”


Ben tak meneruskan perkataannya, matanya melihat lagi lesung pipit yang dia rindukan, tak melepaskan kesempatan, dua lengkungan itu menjadi sasaran bibirnya dan masih melanjutkan di bibir merah muda Keke. Tangannya mengusap sepanjang punggung Keke, menikmati ciuman panjang berikutnya.


Ehm… yang lagi rindu dan sudah mendapatkan maaf dan sekarang punya banyak peluang melakukan ini-itu… sabar bang, taruh kekang pada bibir dan hati-hati gunakan tanganmu... 🤭😙


“Sini…”


Ben melonggarkan pelukan kemudian masih merangkul Keke membawa Keke duduk di ayunan nyaman berwarna hijau yang cukup lebar. Ben menarik pelan tubuh Keke ikut duduk di sampingnya dan membawa Keke bersandar di dadanya. Ben sendiri bersandar di sandaran ayunan warna hijau itu.


“Di sini dulu ya… masih pengen meluk kamu…”


Walau Keke masih diam, tapi kini dia merespon tindakan Ben. Tangannya memegang tangan Ben yang mengunci di perutnya.


“Tempat ini bagus Rens… kirain cuman tempat cuci jemur… kamu yang menata tempat ini ya?”


“Iya…”


Keke menjawab dengan suara serak.


“Kak Bens yang bikin aku kayak gitu…”


“Hahaha…”


Cubitan pelan kembali bersarang kali ini di bagian lengan dalam Ben.


“Sayang, jari kamu ada kukunya, sakit…”


Ben mengganti cubitan itu dengan dua buah kecupan di pipi Keke


“Besok-besok, jangan ngamuk seperti tadi, mengerikan loh, belajar kalem mulai sekarang ya…”


“Jangan bikin aku emosi juga, ada alasan kan aku marah…”


“Iya… maaf. Lain kali aku gak akan seperti itu…”


“Kak Bens menyepelekan urusan nikah, itu yang aku gak suka. Yang pengen nikah di sini siapa…”


“Ehh?? Emang kamu gak pengen nikah juga?”

__ADS_1


Keke diam, Ben jadi teringat percakapannya dengan Inge di telpon.


“Sayang, niat untuk nikah bukan hanya aku kan? Kamu juga kan?”


“…”


“Rens??”


“Iya.”


“Kemaren kata Inge, kamu udah gak mau…”


“Iya. Udah pengen mutusin kak Bens juga, abiss nyebelin…”


“Maaf ya… aku banyak masalah di sana, pekerjaan di sana gak seperti di sini walau awalnya kacau tapi bisa aku tangani, tapi di sana aku gak bisa berbuat banyak. Tujuan dan mimpi aku terlalu besar kali dan aku merasa mampu mencapai itu, aku pengen resign setelah menyelesaikan proyek besar di sana. Tapi ternyata udah kerja keras tiga bulan ini tanpa hasil, aku menyerah kali ini. Mungkin aku terlalu idealis dan tidak cocok dengan iklim kerja di sana.”


“Maaf, aku gak tahu kondisi kak Bens, aku terlalu menuntut ya…”


“Gak sayang… kita hanya gak tahu bagaimana menangani keadaan terutama perasaan kita saat sedang berjauhan.”


“Tadi kak Bens urus berkas nikah kita ya?”


“Iya. Urusannya gak sederhana ternyata, harus minta surat dari kelurahan baru ke kecamatan baru ke capil. Untung Rommel kenal seseorang di kecamatan, dia banyak membantu. Aku minta tolong dia urus beberapa surat sampai selesai, mudah-mudahn minggu ini urusan capil beres. Ternyata mau menikah gak gampang ya, urusan di kantor capil tadi cukup ribet juga, aku jadi ngerti kenapa kamu marah…”


“Iya masalahnya KTP kak Bens dari luar Manado…”


“Iya… udah beres kok... Ada lagi yang harus kita persiapkan?”


“Kita belum photo prewed, nanti aku tanya Inge kapan… Konsepnya indoor atau outdoor?”


“Terserah kamu, sayang…”


Ternyata berdua lebih baik dari pada sendiri, membicarakan berdua tentang semua hal itu lebih baik, saling tahu sumber kemarahan dan masalah itu menenangkan kemudian. Walaupun pernikahan sedikit tertunda itu lebih baik yang penting perasaan mereka berdua semakin kokoh sebelum memasuki pernikahan.


.


💚



Tempat mereka baikan lagi 😍😍

__ADS_1


__ADS_2