
Sejak hari itu, Ben tak sungkan lagi singgah di ruko milik Keke. Biasanya sore sepulang kantor atau malam hari sengaja datang dan sengaja juga berlama-lama, entah main dengan Lisya atau ngobrol dengan Rommel. Bahkan Livia yang pemalu kini berani minta bantuan si Ben menyelesaikan PRnya. Hanya Keke satu-satu yang tetap menjaga jarak.
Dia tahu Ben suka menatapnya berlama-lama, memperhatikan dia saat sedang membuat dessert, atau menggoreng kue pesanan. Tak jarang Ben mengulurkan tangan membantu menutup cup dessert menggunakan cup sealer, membantu menyusun kue ke dalam kotak. Tapi... ya itu tadi, jarang ada percakapan, jika Ben bertanya Keke hanya menjawab seperlunya, kadang mereka berdiri bersisian di depan meja kerja Keke tanpa adanya percakapan.
Ben hanya bersikap mengerti, menikmati kedekatan mereka tanpa memaksa atau mencoba lebih dekat lagi dengan Keke yang membatasi diri berkomunikasi dengannya, walaupun ada banyak tanya di hati mengapa Keke seperti itu.
Dulu saat Ben marah-marah si Rens atau Keke akan membantah atau paling tidak melotot juga dengan sikap yang sama marahnya. Keke yang sekarang sangat tertutup. Tapi hampir setiap hari si Benaya pasti mampir, karena sekalipun Keke seperti itu, dia percaya Keke tak menolak kehadirannya di ruko ini. Seperti hari ini, hari sabtu, siang hari Ben sudah muncul lagi di ruko.
"Om... makan yuk... makanan udah ada di meja makan..."
Rommel muncul dari belakang, Benaya sedang duduk di belakang counter, si Lisya sedang duduk nyaman di pangkuannya sambil menonton dari ponsel Ben. Tidak terhitung lagi berapa kali sudah dia makan di sini setiap sabtu atau minggu.
"Oh... ok... udah lapar memang. Kamu udah makan Rom?"
"Udah tadi sebelum mengantar rantang."
"Ayo Yica juga makan ya bareng om..."
"Yica ton ton Tayo duyu..."
"Makan dulu ya? Ayo. Rom... tadi ada tiga voucher pulsa yang laku, aku simpan di meja di bawah buku uangnya..."
"Iya... makasih om..."
Keke suka senyum diam-diam saat melihat interaksi Lisya dan Ben atau Livia dan Ben, sudah seperti papa dan anak saja. Padahal ada papa kandungnya di sini di kota yang sama, tapi tak pernah sekali saja datang menengok. Ben lewat di dapur, si Yica ada di gendongannya masih memegang ponsel milik Ben. Keke sedang membuat klappertart pesanan. Ben berhenti, sengaja dekat Keke.
"Lagi bikin apa Rens..."
Ben mencoba membangun komunikasi, mencoba lagi meruntuhkan benteng kekakuan si nona Keke.
"Eh... klappertart."
"Oh... kamu bisa buat itu juga? Kemaren waktu aku pulang ke Jakarta aku beli di Chella Bakery, enak sih... ada yang udah jadi?"
"Tuh..."
Tangan yang terbungkus sarung pink itu menunjuk ke klappertart yang sudah dibakar.
__ADS_1
"Aku cicip ya... Yica turun sebentar ya... "
Tak menunggu persetujuan Keke Ben mengambil satu buah wadah aluminium foil mini dari meja.
"Masih hangat..."
"Pakai sendok... makannya, tuh sendok di sana..."
Ben tersenyum, jarang sekali Keke berkata-kata dengan kalimat panjang padanya. Dua bulan sudah dia wara-wiri di ruko ini dan sikap Keke masih sama. Ben mengambil sendok kecil dan mencicipi klappertart buatan Keke... dan habis, aluminium foil itu bersih. Ben sadar dia sedang ditatap Keke.
"Kenapa?"
Ben senyum memandang Keke, jarang-jarang Keke mau menatap langsung di matanya.
"Enak gak?"
Malu-malu Keke bertanya, sejauh ini klappertartnya salah satu dessert yang paling banyak dipesan selain salad buahnya, tapi jarang dia mendengarkan penilaian orang terhadap buatan tangannya.
"Enak Rens... enak banget. Semua yang kamu buat enak kayaknya... cocok banget di lidah aku..."
"Boleh nambah gak..."
"Eh... boleh... tapi makan dulu sana, sayang makanannya keburu dingin, gak enak makan makanan dingin. Lagian ada ikan masak woku, biasanya nyari itu kan..."
Wow... kalimat terpanjang sejauh ini, dan itu membuat Benaya sangat senang, terdengar seperti sebuah symphony yang mengalun indah, dan serasa ada yang bermekaran di hatinya.
"Iya... tapi sisain klappertart ya buat aku jangan dikasih pelanggan semua..."
Benaya jadi menginginkan lebih, berlama-lama bicara dengan Keke.
"Aku bikinnya banyak kok... biasanya suka ada yang cari ke sini juga... nanti ambil sendiri kalau mau, bawa pulang aja tapi simpannya di kulkas..."
"Rens..."
"Iya...?"
Keke mendongak memandang Benaya yang melangkah mendekatinya jarak terdekat di antara mereka berdua selama ini. Tak ada orang lain di dapur ini, si Lisya sudah sejak tadi masuk ke dalam, dan Rommel nampaknya sudah berjaga di counternya. Keke tidak nyaman berdekatan seperti itu.
__ADS_1
"Aku punya nama kan Rens... kamu ingat selalu manggil aku apa kan? Kak Bens... kamu boleh manggil aku dengan nama itu lagi..."
Sambil menatap lekat Ben akhirnya mengeluarkan isi hatinya yang sejak awal merasa aneh Keke tak pernah sekalipun terdengar menyebut dirinya dengan namanya.
"Eh... iya."
Keke segera menunduk dan bergeser memperlebar jarak. Keke kembali bersikap kaku. Wajah yang tadi sedikit mengendur dan ramah, jadi berubah. Kenapa juga memaksa harus menyebut nama dia sih. Rasa insecure itu datang lagi. Beberapa waktu melihat Ben di sini dia mulai terbiasa, awalnya karena melihat Lisya dan Livia yang selalu enjoy saat ada Ben, terlebih Ben juga terlihat tidak mencoba menarik perhatian atau mencoba mendekat.
Melihat juga di jari manis Ben melingkar sebuah cincin pernikahan. Dia sudah menikah dan sepertinya sudah punya anak pula, karena beberapa kali terdengar menasihati atau membujuk anak kecil di ponselnya. Dan mengetahui itu menghadirkan rasa aman yang lain. Dia tidak khawatir sekalipun sering mendapati tatapan Ben yang intens dan lama padanya, Keke beranggapan itu sama seperti sosok Benaya di masa lalu.
Tapi... interaksi yang tadi, sorot mata yang tadi, bukan berasal dari Benaya yang dulu. Keke takut dan tidak mau mengartikannya.
Benaya menyadari sikapnya membuat Keke langsung berubah, sadar bahwa dia ceroboh kali ini. Ben akhirnya ikut mundur menjauh. Ahh... padahal tadi itu sebuah kemajuan dalam interaksi mereka, kenapa dia buru-buru ingin segera hubungan mereka mencair? Dia sudah sabar sejauh ini mendekati Keke sedikit demi sedikit.
"Maaf Rens... aku gak bermaksud lain... terserah kamu aja mau menyebut aku apa, senyaman kamu aja... maaf ya..."
Keke tak menjawab.
"Aku makan dulu ya..."
Keke masih tak bersuara. Dia harus bersikap seperti apa pada pria ini? Dia lama tak berinteraksi dekat dengan seorang pria selain Rommel. Dan apa maksud dia itu harus sangat dekat seperti tadi... Keke sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ben akhirnya masuk ke dalam, makan siang kali ini jadi terganggu, jadi tidak menarik lagi. Banyak pikiran datang kemudian, mengapa dia begitu tertarik pada sosok Rens ini? Dorongan untuk memilikinya semakin lama semakin menguat di dalam hati.
Apa ini karena dia telah jatuh cinta? Jika ini benar karena cinta, ini memang aneh, dia seolah tak peduli dengan sikap Keke yang dingin, bahkan sesaat tadi saat melihat Keke yang kembali menutup diri, dia justru tertantang untuk menakhlukkan hati Keke. Dia ingat pernah menertawakan orang yang jatuh cinta dan menyebut mereka naif dan absurd... itu sebutan untuk dirinya kini...
.
.
Enjoy reading.... 😄
Blessings 😇
.
✴ ✴ ✴
__ADS_1