
Di rumah duka. Suasana sedang panas, karena omongan para tetangga yang didengar si Sarah istri Tom. Dia tak menerima disalah-salahin sama orang-orang, dan mulai melempar kesalahan pada mama Virda.
"Tante yang sering ke Manado padahal papa lagi sakit..."
"Kan ada kalian anak-anak, apa kerjaan kalian, si Virda ke sana kan karena urusan anaknya yang menikah..."
Istri om Bert, salah satu tetangga jadi pembela mama di sini. Salah satu orang baik yang peduli dengan kondisi mama.
"Alasan itu, tante gak tahu kan di sana ada mantan suami, mereka mau balikan lagi pasti, kita saksinya..."
"Astaga mulutmu Sarah, aku kenal siapa mantan suami Virda, dia orang terpandang, orang kaya, orang bermartabat, jangan memfitnah. Memangnya seperti kalian tidak punya akhlak, papa kalian sudah tidak muda lagi masih banting tulang untuk kalian. Harusnya kalian malu, giliran papa kalian sakit mana kalian peduli. Yang ada, dia jatuh karena ke kamar mandi sendiri. Harusnya dia masih hidup sekarang..."
"Papa keras kepala, bukan salah kita dia jatuh... dia yang mau ke kamar mandi sendiri kok..."
"Iya... karena kalian memang tidak bisa diharap, cuma sehari saja bantu menjaga bukannya tambah sehat malah tambah parah."
Si Tom meradang...
"Tante, jangan ikut campur ya... apa hak tante? Tante gak tahu kan apa yang kita alami setelah papa menikah dengan tante itu?"
"Haha, memangnya apa yang kalian alami? Memangnya apa yang saya tidak tahu tentang kalian? Kalian salah didik, manja, seenaknya sendiri. Kalau papa kalian tidak menikah lagi, siapa yang urusin dia? Tangan kalian cuma tahu meminta tidak bisa bekerja..."
"Tante, aku lapor pemerintah tante bikin kekacauan di sini, tante keterlaluan, tidak menghargai orang yang sedang berduka..."
"Hahh... kalian yang keterlaluan, banyak orang tahu itu, pemerintah siapa? Pala sama lurah juga tahu kelakuan kalian..."
Tangan Tom yang hendak menampar istri om Bert ditahan mama Virda.
"Berhenti Tom... masuk kamar, Sarah juga. Kalian semakin mempermalukan diri kalian."
"Apa hak tante mengatur kami? Ingat, tante tidak punya hak apa-apa di sini, setelah pemakaman tante harus tinggalkan rumah ini."
"Tidak usah kamu ingatkan, tante tahu itu."
Mama Virda berkata dengan airmata yang mulai berurai lagi.
"Tante yang salah tidak mengurus papa dengan baik kenapa kami yang disalahkan... masih istri papa, di depan mata papa lagi, sudah selingkuh dengan mantan suami."
Mama Virda merasa dadanya sakit, kesedihan semakin memuncak, napas sesak tiba-tiba, mama jatuh terduduk si kursi dengan kedua tangan menahan dadanya. Rommel sigap memeluk mama Virda. Sambil menangis mama bicara.
"Dengar tante...Tom, Sarah... tante tidak berhutang apapun pada papa kalian, sampai akhir hidupnya tante telah berusaha melayani dengan baik. Meskipun papa kalian terlalu berat pada kalian terlalu memanjakan kalian, tapi tante bertahan."
Mama Virda coba mengapus airmata yang tidak berhenti mengalir dengan tissue yang di sodorkan Rommel.
"Tante... hikss... tante berterima kasih pada kalian karena sebutan kalian tentang tante yang suka kawin-cerai justru membuat tante bertahan meskipun tante tidak bahagia. Tante terpaksa mengorbankan anak-anak dan cucu-cucu tante, tapi tante bersyukur justru tanpa tante di samping mereka membuat mereka mandiri, membuat mereka jadi orang. Jangan khawatir, setelah ini tante tidak akan tinggal di sini lagi... hikss..."
__ADS_1
Mama kemudian meraung dalam kesedihan yang dalam, seperti ada sembilu menusuk hatinya, mama Virda kemudian pingsan di depan jenazah suaminya.
"Ma... mama..."
Rommel turut menangis dan panik melihat mama. Meskipun marah, Rommel bukan seperti Keke yang akan segera membalas. Para tetangga datang membantu menyadarkan mama Virda, si tetangga mereka yang begitu tabah walau hidup dimusuhi anak sambungnya.
"Kalian memang tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih... Kalian belum merasakan sekarang, belum menuai sekarang. Makan cabe, pedasnya belum langsung terasa, tapi tak lama sesudahnya. Besok-besok kalian pasti akan mencari tante Virda kalian... baru kalian menyesali semua perkataan pedas kalian..."
Istri om Bert belum puas dan masih mengoceh, membuat Tom dan Sarah akhirnya masuk kamar.
.
Siang, saat acara pemakaman di rumah itu, Keke dan Ben akhirnya bisa turut melayat, ada papa Ramly juga. Ada bisik-bisik dan banyak cerita di antara para pelayat soal kehadiran mereka. Sedikitnya ada yang mengetahui siapa yang membiayai acara pemakaman itu, karena ada tetangga yang menyaksikan Rommel menyerahkan uang pembayaran kepada beberapa orang. Jangan dilupakan satu pick up bahan makanan dari Tomohon, dari mantan suami mama Virda.
Melihat sikap seorang Ramly yang santun dan sopan, sebagian orang tidak percaya tentang rumors yang coba digulirkan Tom dan Sarah, terlebih ada penegasan dari om Bert tentang siapa orang satu kampung dengan istrinya itu. Interaksi Ramly dengan si Virda tetangga mereka pun turut diperhatikan. Dan sebagian lagi membenarkan rumors itu, secara mantan suami itu sekalipun sudah berumur terlihat lebih dalam hal apapun, mana mungkin tidak tergoda.
Yang juga menjadi pusat perhatian adalah pasangan Keke dan Ben, daya tarik seorang Ben dengan setelan resmi putih hitam plus kacamata hitam bertengker di wajahnya membuat banyak mata gagal fokus pada pemimpin acara. Juga ada tatapan iri melihat posesifnya seorang Ben pada istrinya. Yang paling terhibur dengan kehadiran pasangan ini adalah Shello, dia sedih kehilangan sang papa tapi dia tertawa saat Ben menyelipkan jajan 5 lembar uang merah di tangannya.
Sepulang dari lokasi pemakaman...
"Ma... kita pulang ya... mama ikut kita kan?"
Keke duduk di samping sang mama yang terlihat sangat lelah dan tertekan. Pertanyaan putrinya justru membuat mama Virda kembali menangis. Keke hanya bisa memeluk sang mama.
"Seharusnya mama tidak boleh keluar rumah saat masih masa berduka, hikkss... seharusnya mama tinggal di sini dulu sampai kuburan om selesai dibuat... hikss..."
"Vir... kamu di sini saja tidak apa-apa, anak-anak itu sudah dinasehati keluarga mereka, mereka tidak akan macam-macam padamu, tenang saja kami akan menemanimu..."
Istri om Bert datang memberi informasi juga janji yang menenangkan.
"Ma... gimana? Mama masih mau di sini?"
"Iya, Ike... mama di sini dulu. Kurang bagus di mata orang kalau mama langsung pergi, lagi pula hari minggu nanti ada acara mingguan di tempat ini."
"Mel... kamu temani mama ya?"
"Iya kak..."
"Ada bawa baju cadangan kamu?"
"Ada kak..."
"Ma... Ike tinggal ya..."
Keke memeluk mama lagi.
__ADS_1
"Ma... yang sabar ya, jangan ragu hubungi kita kalau ada perlu apa..."
"Iya Ben... makasih banyak ya..."
"Jangan bilang makasih sama kita, kalau kita melakukan sesuatu itu kewajiban kita terhadap mama."
Mama menangis lagi, tak bisa dia bayangkan hidupnya seperti apa jika tak ada anak-anaknya sendiri di sampingnya. Keke melepas mama pada Rommel dan menghampiri papa Ramly yang duduk mengobrol dengan om Bert di teras rumah.
"Pa... kita mau pulang sekarang... papa gimana?"
"Oh... papa mau pulang juga kalau begitu... ayo, pamit sama mama dulu..."
Papa Ramly tak sungkan merangkul anaknya masuk ke dalam rumah.
"Hon eh Virda... saya pamit pulang..."
Papa sadar ada orang lain di sekitar, untung tidak keceplos dengan sapaan seperti biasanya. Mama Virda hanya mengangguk samar dan menatap mantan suami yang bersikap simpatik, kemudian mama berujar lemah...
"Terima kasih, Ram..."
Mantan suami balas mengangguk dan tersenyum samar.
"Tante, terima kasih ya tante mau menemani mama, ada adik saya juga yang akan tetap di sini. Saya titip mama saya ya tante..."
Keke berpamitan pada istri om Bert..."
"Oh iya iya... kalau sempat, hari minggu datang lagi ya... ada acara Mingguan di sini... pak Ramly juga..."
"Semoga saya punya kesempatan..."
Papa Ramly menanggapi dengan sopan. Setelah kembali memeluk sang mama, Ben juga pamit dengan sebuah pelukan... Keke meninggalkan rumah duka itu dengan tanggan yang digenggam erat suami.
Keke akhirnya tidak menyesali sikap Ben yang bersikeras membantu mama Virda. Melihat sendiri kesedihan mama Keke tahu keputusan untuk datang tidaklah sia-sia... benar mama Virda yang lebih butuh perhatian dibanding mami-papinya, yang tidak akan tahu dia datang atau tidak mengunjungi mereka. Suatu saat dia pasti ke makam mereka, tak apa tertunda.
.
.
Up 2 eps...krn ke depan ada kesibukan menjelang setahun papaku pergi.
Semangat guys...
Thank you.
💟
__ADS_1
.