
Subuh… Keke terbangun, alarm di tubuhnya selalu berfungsi dengan baik, meskipun melewati hari yang melelahkan tubuhnya sudah terbiasa bangun di jam yang sama. Keke bergerak ke sebelah kiri berniat turun dari tempat tidur, tapi terhalangi sesuatu. Otaknya segera berfungsi dengan baik pula, ini malam pertama dia tidur bersama seseorang, suaminya sendiri. Keke memperhatikan sosok yang masih tergeletak di sebelahnya, sejauh yang dapat ditangkap indera penglihatannya di temaram lampu kamar hotel tempat mereka menginap.
Dengan jarak sekian sentimeter dari tubuh Ben, Keke mengangkat kepalanya sedikit memperhatikan sikap tubuh Ben saat sedang terlelap. Rambut yang dibiarkan panjang tergerai acak di pelipis mata, mulut setengah terbuka, dan suara napas rendah terekam pendengarannya. Keke tersenyum menatap pangeran impiannya, tersenyum karena merasa beruntung mempunyai suami yang memiliki wajah yang begitu menawan.
Keke merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, memori tadi malam segera menyapa, wajah memanas seketika, meringis sendiri mengingat sikap dan responnya. Dia awam soal hubungan suami-istri dan tadi malam hal-hal yang tabuh baginya mulai terkuak. Pengetahuan yang minim hanya bermodalkan scene romantis dari beberapa film yang dia ingat tak cukup bagi dia untuk menghadapi di kehidupan nyata. Sesaat setelah melepaskan semua pernik penganten di tubuhnya dan tertinggal berdua di kamar, sang suami yang telah menunggu dengan tidak sabar langsung bergerak cepat melakukan yang telah lama dia tunggu.
Ingatan yang membuatnya malu sendiri serta panggilan alam dari jam biologisnya membuat Keke bangkit perlahan turun di sisi kanan menuju toilet. Lega kemudian setelah pelepasan semua racun dan sisa-sisa zat yang telah tertimbun dan memang perlu dibuang. Tapi jadi bingung sendiri, tidak ada yang harus dia lakukan, selain menunggu Ben bangun. Akhirnya dia kembali ke tempat tidur dan naik perlahan di sana, masuk lagi di bawah selimut tebal dan mulai memejamkan mata.
“Rens...”
Keke menoleh, Ben sudah menarik tubuhnya masuk dalam pelukannya. Wajah Keke berada tepat di dada suami.
“Jam berapa sekarang?”
Melanjutkan bertanya dengan suara serak sambil mengecup lembut kepala Keke beberapa kali.
“Gak tahu, mungkin setengah lima… tidur lagi, masih subuh…”
Keke menyahut pelan. Tadi malam, dengan semua hal yang berlangsung cepat, tapi dia masih ingat persis bagaimana reaksi tubuhnya. Setelah mandi kemudian rasa lelah langsung membuatnya jatuh tertidur.
Saat ini dalam ketenangan subuh Keke mengenali rasa nyaman baru hadir di dirinya dalam pelukan sang suami, seperti ini ternyata tidur bersama suami. Di kepalanya, Ben masih mengusap-usap, terasa menenangkan.
Sesaat kemudian Keke merasakan aktivitas di punggungnya, dua tangan Ben sudah bergerak di sana memulai sesuatu. Keke menengadah mencari pandangan suami, gerakannya justru mempermudah Ben menyatukan bibir mereka, tidak seperti tadi malam, kali ini begitu lembut.
“Sweety…”
Aktivitas Ben mulai mendominasi. Dua indra utama kemudian bergerak dan mulai mengeksplor semuanya, menelusuri seluruh permukaan yang selama ini hanya hiasan khayalannya, menghasilkan serbuan gelombang aneh seperti magic yang bergetaran di titik-titik tertentu. Kali ini Ben ingin merasakan nikmat yang lebih lagi, setelah semalam dia begitu tergesa dan tak sampai lima menit sudah selesai. Kepasrahan diri pada kendali sebuah kuasa yang lahir karena hasra t dan aktivitas yang semakin intens, dan sesuatu yang menerobos membuat Keke tersentak kaget, kekuatan magnet yang tarik menarik dalam satu irama kemudian, saling memasrahkan diri dalam penyatuan sempurna cinta mereka, yang kemudian membuat surga nikmat turun ke bumi dan senyap sejenak buat sepasang insan yang mencapai puncak penyatuan mereka.
“My Rensssss…”
Suara tercekat tercetus berbarengan dengan hentakan ritme terakhir yang mengalun indah, sebentuk penyerahan diri secara total sepasang insan pun selesai. Nikmat yang tak terjabarkan merengkuh keduanya, aliran darah menyebarkan gelora dari jiwa ke seluruh raga lewat getaran dan gelombang dahsyat yang begitu memuaskan.
Ben berhenti, Keke terdiam, masih merasakan sensasi keindahan yang tertinggal. Ada sedikit perih tapi terkalahkan oleh gelenyar aneh tapi begitu menyenangkan. Beberapa saat Keke tak bergerak meredakan sesuatu yang terjadi dalam tubuhnya. Perlahan kedua tangannya mengusap punggung sang suami yang belum bergerak. Usapan yang lembut justru membuat Ben semakin diam dan dalam beberapa menit terdengar suara napas yang teratur.
“Kak Bens???”
Tak ada sahutan.
Apa dia tertidur dalam posisi ini?
Keke bergerak sedikit dan belum ada respon, akhirnya dia coba membiarkan walau mulai merasa tak nyaman. Beberapa waktu kemudian, rasa tak nyaman semakin meningkat membuat Keke memberikan cubitan kecil di seputaran pinggang belakang Ben. Ben terbangun.
“Kak Benss…”
__ADS_1
“Eh… aku tertidur ya?”
“Iya… minggir aku mau ke kamar mandi…”
“Eh… sorry sayang…”
Ben bergeser ke samping tapi langsung memeluk erat lagi tubuh Keke, memberikan ciuman ke seluruh wajah Keke kemudian mengusap sayang kepala istrinya.
“Akhirnya…”
“Apa?”
“Akhirnya bisa tembus juga…”
“Eh?? Tembus apanya?”
“Aku buka segel…”
“Ehh? Tadi malam emang belum?”
“Belum sayanggg… susah, dan aku cepat selesai…”
Ben berbisik di telinga Keke, tubuhnya masih enggan melepaskan Keke. Ciuman masih berlanjut di dahi sang istri.
Keke menggerakkan kepalanya beberapa kali mengusir rasa malu yang kembali menyergap dirinya.
“Kenapa?”
“Gak… lepas ya… aku mau ke kamar mandi.”
“Peluk aku dulu…”
Ben masih menempel ketat dan belum mau merenggangkan pelukannya meski tubuh istrinya beberapa kali menggeliat berusaha melepaskan diri.
“…”
“Peluk dulu suami kamu…”
Memaksa…
Keke kemudian memeluk sang suami erat mengikuti cara si suami mendekapnya…
"Mmmmhmm, sayang kamu..."
__ADS_1
Ben mengusapkan dagunya berkali-kali di kepala Keke.
“Udah ahh…”
Keke berdiri kemudian dan langsung berjalan ke kamar mandi. Keke berjalan sambil meringis.
Benar kata orang-orang, perih ternyata.
“Mulai sekarang, jangan pelit kasih pelukan buat aku…”
Ben bersuara dari tempat tidur.
“Eh??”
“Jangan pelit kasih ciuman…”
“…”
“I love You, my Rens…”
“Eh.. kak Bens bersihin diri sendiri juga…”
“Iya…”
Pagi pertama… semua bukan angan sekarang. Masih belum bergerak di tempat tidur, senyum begitu indah menghiasi wajah Ben, bahagia jelas memancar bukan hanya karena berhasil membuktikan pada diri sendiri bahwa dia lelaki sejati, dan wanita yang dinikahinya telah menjaga martabatnya dan hanya menyerahkan kehormatannya padanya, tetapi merasakan puncak pencapaian hidupnya sendiri. Perasaan yang sementara menguasai dirinya, menikah ternyata melebih semua pencapaian lain dalam hidupnya.
.
Hubungan sek s lebih dari tindakan fisik, tetapi sebuah kenikmatan yang dianugerahkan dalam kesejatian pasangan suami istri demi membangun dan meningkatkan serta memelihara kesatuan sempurna pernikahan.
.
.
.
.
.
.
✌✌✌✌✌✌
__ADS_1