Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 32. Pikirkan Aja...


__ADS_3

Malam hari, di luar begitu gelap. Ada pemadaman listrik bergilir di kota ini karena ada pembangkit listrik yang bermasalah. Dan di wilayah Wenang ini sudah kali yang kedua dalam minggu ini. Keke menghidupkan senter besar di kamar anak-anak, di luar dia hanya menyalakan lilin.


"Via... sebelum tidur jangan lupa lagi gosok giginya ya, kemaren Via lupa kan?"


"Iya tapi nanti, Via hampir selesai kok..."


"Masih butuh bantuan mami Keke?"


"Gak lagi... Via bisa sendiri yang ini..."


Keke keluar dari kamar anak-anak menuju ke balkon, berdiri memperhatikan suasana malam. Lisya baru tertidur dan Via masih menyelesaikan PR, sementara Rommel masih nongkrong di toko. Di luar nampak cahaya kecil-kecil dari setiap rumah. Dari tempat Keke berdiri ada juga rumah yang terlihat terang benderang karena menggunakan genset.


Keke jadi berpikir untuk membeli satu unit yang kecil. Dia punya 1 freezer box lumayan besar untuk menyimpan daging dan ikan, 2 kulkas ukuran besar di lantai bawah dan satu lagi ukuran sedang di lantai atas. Semua selalu penuh terisi, jika listrik padam cukup lama itu pasti berpengaruh pada kesegaran bahan makanannya.


"Sweety..."


Benaya tiba-tiba sudah bergabung dengan Keke di balkon itu. Keke sedikit kaget...


"Eh...??"


Benaya memegang kepala Keke kemudian berdiri sejajar dengan Keke di balkon bersandar di sisi balkon yang lapang tidak ada pot bunga. Keke bergeser memberi jarak, tadi itu deket banget, tangan Ben akhirnya terlepas. Ben senyum melihat reaksi Keke, gadisnya kadang masih suka spontan menjauh saat dia melakukan kontak fisik.


"Belum tidur ya?"


"Belum mengantuk... Udah makan?"


"Dasar tukang masak ya... yang ditanya selalu udah makan belum?"


Benaya menjawil pipi Keke.


"Ya... spontan aja nanya..."


"Tapi kalau aku perhatiin ya paling banyak ketemu orang di sini pertanyaannya sama... udah makan belum?"


"Itu sih kebiasaan, kayak jadi cara kita untuk menyapa, cara bersikap ramah. Saat bertemu teman bukan menanyakan apa kabarnya, tapi pertanyaannya, udah makan belum? Kadang basa-basi aja sih sebenarnya."


"Iya juga, masih ingat dulu pernah berkunjung ke kampung papa, aku tuh lupa di mana pokoknya di sini lah. Kita mampir ke salah satu sepupu papa pas mau pulang ditahan, ngomongnya jangan pulang dulu makan malam dulu. Ya udah kita gak jadi pulang, duduk lagi gobrol lagi lamaaa. Aku mikir waktu itu... ini kapan makannya? Akhirnya kita pamit aja, eh sepupunya papa ngomong lagi, mau makan dulu kenapa sudah mau pulang? Lah... dari tadi kita udah tungguin berapa jam tuh makanan gak keluar-keluar, ternyata basa-basi doang... hahaha..."


"Ya gitu deh di sini, kak Bens juga kan orang sini..."


"Aku... mmh... aku orangnya Manja..."


"Eh? Gak nyambung..."


"Manja itu Manado-Jawa."


"Oh..."


"Hahaha... kirain kamu mau ketawa, hahh pacar aku mahal banget senyum sama ketawanya."


Ben yang coba bergurau hanya tertawa sendiri. Keke nyengir kecil menanggapi. Dia berdiri nyaman memandang langit yang penuh bintang, jadi nampak indah banget. Sesuatu yang jarang diperhatikan memberi kesan menakjubkan padahal setiap malam pemandangan langit sama saja, bintang-bintang itu selalu ada di sana. Mata Keke mencari kelip cahaya di titik terjauh yang dapat ditangkap matanya, kemudian beralih ke titik cahaya paling dekat bintang yang paling terang, matanya menjelajah menikmati langit malam dalam diam.


Benaya memperhatikan Keke, siluet buram wajah Keke karena pantulan terang lilin dari dalam ruangan dekat pintu balkon jadi pemandangan eksotik untuk Ben, seperti melihat sebuah kelembutan yang terbungkus dalam sikap dingin, ada keceriaan dan kehangatan tapi tersamarkan oleh sikap yang jarang bicara.


"Rens..."


"Iya... apa..."


"Gak apa-apa, ngajak bicara aja, gak ada suaranya sih..."


"Eh? Kak Bens aja yang ngomong apa, terserah..."


"Ok ok... jawab kalau aku tanya ya..."


"Iya..."


"Emmh... hari ini ngapain aja..."


"Kerja rutin aja."

__ADS_1


"Emmh... Yica rewel gak hari ini..."


"Iya masih. Rewelnya lucu sih, mastiin kak Bens gak berubah jadi semut, papi Bipi butan cemut terus yang diomongin beberapa hari ini."


"Hehehe... logika anak-anak kadang gak bisa kita jangkau."


"Aku suruh dia panggil Omen aja lagi... eh dia gak mau, bukan Omen... itu papi, gitu katanya..."


"Tau gak kenapa dia seperti itu?"


"Kenapa?"


"Dia butuh figur papa. Bahasa anak kecil kadang seperti tak ada artinya, tapi sebenarnya merupakan ungkapan hatinya. Kenapa dia gak mau ganti papi dengan Omen, karena dia taunya dari awal Omen itu om bukan papa. Ngerti gak kamu?"


"Iya..."


Keke menjawab sendu, sedih dia dengan kondisi ini, papa anak-anak itu tak mau mendekat bahkan terakhir tidak mau mengaku sebagai papa. Apa yang harus dia lakukan untuk anak-anak... Keke jadi ingat seseorang sekarang, yang begitu ingin diakui sebagai papa yang katanya selalu ingat padanya. Sesuatu menyentuh hatinya, apa dulu dia pernah ditolak sebagai anak? Mengapa di masa kecilnya pria itu tak pernah mencari dia?


"Aku mengerti ini saat Paul pergi, anak-anak kehilangan figur papa, mereka jadi dekat dengan aku... Yica sama Via juga begitu langsung dekat aja sama aku... karena itu tadi. Dan polosnya mereka... saat ada figur papa itu pada seseorang mereka gak ragu mendekat."


Keke termangu menyimak perkataan Ben, dia melihat ini sebenarnya sejak lama, anak-anak cepat akrab dengan Ben. Kadang dia merasa juga bahwa anak-anak memperlakukan Ben seperti seorang papa, maka itu dia membiarkan Ben ada di sekitar mereka. Tapi dia tak berpikir bahwa anak-anak memang butuh figur papa.


"Rens..."


"Ya..."


"Kamu kebalikan dari mereka, kamu doang yang kayak yoyo... kadang deket banget kadang menjauh. Sini... jadi pacar kok gak ngerti banget keinginan aku apa..."


Ben menarik tangan Keke masuk ke dalam.


"Eh... mau ke mana?"


"Gak ke mana-mana, pindah tempat doang, sakit kaki aku lama-lama berdiri di situ."


Ben menarik Keke ke arah sofa, lebih nyaman di sini dan lebih bebas untuk mendekap sang pacar.


"Eh..."


Kebalikan dari Ben yang sepertinya menikmati ruangan dengan penerangan minim itu, hati Keke mulai was-was, dia ada dalam pelukan erat Ben, dia merasa tidak nyaman duduk berdua dempetan lagi hanya dengan cahaya lilin. Nafas Ben begitu terasa di pipi kirinya.


"Kamu ada liburnya kapan sih selain hari minggu? Tanggal merah kamu tetap kerja..."


"Kerjaan aku hitungannya 1 minggu 6 hari..."


"Masa gak ada liburnya sih? Kan kamu yang ngatur sendiri..."


"Ada lah kak, bodoh namanya kalau gak bisa libur."


"Kapan?"


Ben memainkan jari tangan Keke yang ada dalam genggamannya, diusap-usap, dilipat sampai keluar bunyi...


"Aww... sakiit..."


Suara Keke sedikit tercekat, iseng amat sama jari...


"Hehehe... kapan kamu liburnya?"


Keke akhirnya memilih bersandar nyaman di lengan Benaya, kaki dia naikkan ke meja kopi mengikuti posisi duduk Ben, sementara sang pacar tangannya masih belum berpindah tapi kali ini seperti memijat pelan tangan kiri Keke.


"Biasanya minggu terakhir Desember dan awal Januari... dua mingguan lah..."


"Itu doang liburnya?"


"Iya... kenapa?


"Pengen ajak kamu ke Jakarta ketemu mama papa..."


"Oh..."

__ADS_1


"Oh aja? Nih anak... emang dasar yaa, gak pengen tau kenapa?"


"Gak..."


Suara yang keluar dari mulut satu kata aja, beda dengan suara yang bermain di hati, banyak dugaan di sana. Keke jadi takut Benaya mulai ke arah-arah yang... maksudnya ke arah yang jelas-jelas udah menjurus ke arah yang serius untuk hubungan mereka.


Ben kehilangan kata, merasakan ada sesuatu pada jawaban pendek Keke. Intuisinya berkata bahwa Keke masih menolak pembicaraan seperti itu. Keke sensitif sekali, jika dipaksa sikap Keke akan segera berubah kaku lagi dan menjauh.


"Kapan terakhir ke sana?"


"Gak pernah..."


"Waktu Dinand merit kamu gak ke sana?"


"Oh... kak Dinand udah nikah? Sama kak Youla ya?"


"Iya... 2 atau 3 tahun lalu ya... lupa. Sama siapa juga lupa."


"Kak Bens hadir waktu itu?"


"Iya... mama papa waktu itu jadi wali orangtuanya Dinand. Kalian gak diundang?"


"Gak... kita lost contact gitu sejak aku pulang."


"Oh... gitu..."


Diam-diaman lagi... Pikiran dan hati Benaya sedang bertempur, kapan Keke bisa diajak bicara soal niat yang ada dalam hatinya, apa dicoba aja ya... jika mengikuti Keke, mungkin hubungan mereka tidak akan pernah berkembang ke arah yang lebih intim.


"Sweety..."


"..."


"Sayang..."


Benaya menggocang lembut lengan Keke yang gak dia lepas sejak tadi.


"Eh... iya..."


"Aku boleh ngomong serius sama kamu ya... gak usah kamu tanggapi dulu, aku pengen kamu memikirkan aja dulu... Emmh, boleh ya sweety?"


"Apa?"


Suara Keke yang lirih sedikit bergetar.


"Aku... aku inginnya kita akan bersama-sama sampai akhir hidup aku. Aku gak pernah merasakan perasaan yang kuat seperti ini pada wanita lain, hanya sama kamu aja perasaan ini terus tumbuh... makin sayang... makin gak ingin pisah sama kamu... kangen terus tau gak..."


Benaya berhenti berkata. Dia memberikan ciuman di pipi kiri Keke juga di kepala Keke. Tangan kanannya menarik kepala Keke ke arah dada bidangnya. Dia ingin Keke mengerti rasa sayang yang dia miliki untuk Keke, dia ingin Keke menerima sentuhannya sebagai wujud rasa sayangnya untuk Keke.


Ben mengetahui Keke belum pernah pacaran sebelumnya selain cinta monyet di masa SMA yang dia tahu, sehingga Keke seperti asing dengan sentuhan fisik seorang lelaki pada kekasihnya. Bisa juga karena dulu mereka berdua sering kontak fisik tapi dalam artian yang jauh berbeda... Ben sering menjitak kepala Keke, sering banget menarik kasar tangan Keke karena emosi.


"Rens... aku punya keinginan besar buat kita berdua ke depannya... kita gak hanya pacaran tapi kita lanjut ke tahap berikutnya... kamu mau memikirkan ini... memikirkan masa depan bersama aku?"


Hening... hanya tarikan napas mereka berdua yang terdengar beberapa saat. Benaya coba mencari tahu respon Keke dengan meremas jemari tangan kiri Keke yang sejak tadi ada dalam genggamannya. Posisi kepala Keke tak berubah, tangannya juga masih nyaman si genggaman Benaya, pasif memang, tapi itu sesuatu buat Ben, itu tanda Keke tak menolak dan tak akan menjauh.


"Pikirkan hal itu ya sayang ya... aku gak akan memaksa kamu menjawabnya... Aku sayang sama kamu... sayaang bangeet..."


Dada Keke bergemuruh, berulang-ulang dia mendengar ungkapan cinta seorang Benaya... begitu membahagiakan. Tapi sesaat tadi, pernyataan tadi seperti membuka jalan bagi ketakutannya terhadap sebuah pernikahan, ya... Ben sedang menyuruh dia memikirkan pernikahan kan? Bayangan buruk pernikahan mamanya, pernikahan kakaknya begitu melekat. Dia takut ditinggalkan...


.


.


Pikirkan orang-orang yang sayang sama kita....


itu aja.... 🤭🥰


.


🍿

__ADS_1


__ADS_2