Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 46. Lody


__ADS_3

Lody masuk ke dapur belakang tanpa suara. Tante Noniek masih ada di sana merapihkan peralatan makan yang sudah kering, melihat Lody sejenak.


"Makan sekarang Ody?"


"Iya Ma Ade..."


Tante Noniek segera menyiapkan makanan lagi, tadi sudah disimpan di lemari, mengatur sebuah piring dan sepasang sendok garpu untuk Lody. Lody makan dalam diam, apa yang dia lihat di teras samping tadi mengganggu hatinya. Tante Noniek duduk depan Lody.


"Ody... kamu marahan sama Inge?"


"Gak kok, Ma Ade. Inge yang ngomong?"


"Iya... dia bilang dua bulan ini Ody cuekin dia. Katanya dia gak ngerti Ody marah soal apa..."


"Gak Ma Ade... gak ada apa-apa. Inge aja yang terlalu perasa..."


"Ma Ade perhatikan kamu gak pernah ke Green Hills lagi, biasanya kamu suka bantuin Inge kalau kerjaan kamu beres di sini. Masa gak ada apa-apa, Dy..."


Lody diam. Dia memang menjauhi Inge sejak Inge sering menyinggung status mereka, memang tidak terang-terangan hanya secara implisit. Lody sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Dia memang dekat dengan Inge mungkin karena terbiasa bersama bertahun-tahun, boleh dibilang mereka tumbuh bersama, apa-apa dilakukan bersama. Mereka sering menyatakan tentang konsep kakak-adik karena kaitan mereka berdua dengan papa Ramly, walau dalam hati sama-sama menyadari sebenarnya tak ada hubungan darah yang mengikat mereka. Lody merasa tidak nyaman dengan sikap Inge yang terasa mulai menuntut, walau memang dia menyadari wanita terdekat dengannya adalah si Inge.


Melihat Renske pertama kali seperti memberi sesuatu yang baru dalam dirinya. Awalnya karena dia terlalu akrab dengan cerita soal Renske yang selalu jadi pembicaraan papa Ramly. Kemudian ada saat dia seperti terbawa untuk memperhatikan sosok Renske yang begitu sukar disentuh, mengulik rasa penasaran di hati.


"Tante... eh kak Lody..."


Yang sedang ada di pikiran Lody muncul di dapur...


"Ike... sudah makan?"


Lody bertanya sambil menatap intens Keke yang berdiri canggung di dekat meja makan.


"Eh... sudah kak."


"Renske perlu apa..."


Tante Noniek bertanya tersenyum melihat Keke yang canggung.


"Mau minum tante... tadi selesai makan, lupa minum..."


"Kakak perhatiin di Manado kamu memang jarang minum, Ke..."


Lody berdiri dan mengambilkan Keke gelas di rak penyimpanan melanjutkan mengisi di dispenser dan menyodorkan pada Keke.


"Makasih kak..."


Keke menerima dengan risih tapi langsung meminum sampai habis.


"Panggil tante Noniek dengan Ma Ade Noniek... seperti kakak. Ma Ade Noniek terhitung adik papa. Semua adik papa yang perempuan kita panggil seperti itu, nanti kakak kenalin kalau pas ketemu mereka..."


"Oh gitu..."


"Iya... kebiasaan di keluarga kita seperti itu. Semua adik atau adik sepupu papa yang laki-laki kita panggil Pa Ade."


"Kalau yang lebih tua dari papa?"


"Mama Tua sama Papa Tua. Kayak orang tuanya Inge, kita sebutnya Mama Tua Irene atau Tua' Irene dan papa Tua Raff..."


"Oh... Makasih kak, udah dijelasin."


"Duduk bentar Ke... kakak perlu ngomong. Waktu itu di Manado gak sempat, kakak liat Ike sibuk..."


"Eh... ada apa kak?"


"Duduk dulu..."


Lody mendekat dan sedikit mendorong bahu Keke ke arah meja makan, Keke akhirnya bergerak cepat melepaskan tangan Lody yang sempat menempel sejenak di bahunya. Keke mengambil tempat di depan Lody duduk tadi, ada makanan yang masih tersisa di piring, dia pasti masih lanjut makan. Dan benar Lody duduk di situ.


Tante Noniek yang duduk di kepala meja tak bergerak di situ, ada sesuatu yang menahannya tetap di tempatnya. Dia masih ingin membicarakan soal keluhan Inge terhadap Lody. Dia tahu Lody sedang menyimpan sesuatu. Keduanya seperti mama dan anak walau tak ada pengakuan untuk itu. Tante Noniek tidak menikah tapi jiwa sebagai ibu ada terutama untuk Lody.


Lody lanjut makan... sesekali menatap Keke. Keke menunggu dengan tidak sabar, tadi dia hanya pamit untuk minum pada kak Bensnya.


"Ada apa kak?"


Tak tahan, Keke bertanya aja.


"Mmmh... 2 minggu lagi papa ulang tahun ke 56. Kakak rencana mau adakan syukuran di sini. Ike bantuin kakak ya?"


"Tanggal berapa?"


"Tanggal 20 bulan ini, itu pas hari minggu, jadi kerjaan Ike gak terganggu."

__ADS_1


"Oh... Ike bantu apa ya?"


"Hanya bantu nyiapin makanan. Gak usah khawatir untuk kokinya... Ma Ade bisa masak, ada beberapa saudara papa juga bisa kita mintain tolong. Ike bantu ngatur menu atau apa gitu yang berhubungan dengan itu, kakak pikir Ike lebih paham deh soal katering..."


"Oh oke. Nanti Ike bantu soal itu."


"Papa juga pengen ngenalin Ike ke keluarga kayaknya."


"..."


"Iya Renske... Ramly sering ngomong itu, pengen semua keluarga tahu tentang kamu... Ma Ade pikir itu gak salah malah perlu..."


Tante Noniek menyambung Lody.


"Kakak pengen kita pakai baju seragam sih, tapi kayaknya udah gak keburu udah mepet waktu. Tadinya kakak pengen Ike yang urusin itu... waktu itu..."


"Ody... serahkan ke Inge soal itu, dia paling jago urus yang begituan..." Sergah tante Noniek.


"Iya, Ike gak punya waktu banyak untuk cari seragam kak..."


Keke menimpali, mana sempat dia ke toko, dari pagi sampai sore dia gak bisa keluar dari dapur.


Lody tak menyahut. Menatap sejenak tante Noniek yang sedang memperhatikan dirinya. Tante Noniek berdiri dan meraih ponselnya di atas lemari dapur, lalu melakukan panggilan.


📱


"Kamu bisa pulang lebih cepat, Nge?"


"Gak bisa Ma Ade, ini hari sabtu, lagi rame ini, jam 11 malam baru bisa pulang kayaknya. Ada apa Ma Ade..."


"Ada Renske di sini..."


"Oh, salam aja buat dia..."


"Nge... Ody pengen buat seragam untuk acaranya Ramly, kamu yang urus ya..."


"Lody gak ngomong apa-apa..."


"Nanti pulang kamu tanya dia aja... udah ya..."


.


Lody menatap protes pada tante Noniek.


"Udah... suruh Inge jangan suruh Renske, bagi-bagi urusan biar gampang."


Tante Noniek menatap tegas. Lody tak menyanggah lagi.


"Rens..."


Si cowok yang tak rela ditinggal sendirian di teras akhirnya menyusul, sudah lama dia menunggu Keke gak balik, dia juga sudah mengintip di pintu dapur tadi, melihat sebuah pemandangan yang mengganggu matanya, ada Lody depan Keke. Tapi dia langsung lega karena ternyata ada tante Noniek juga di sana.


"Eh... kak Bens, sorry lagi ada hal yang penting..."


"Oh... aku tunggu di depan ya..."


Ben hendak memutar tubuhnya lagi...


"Kak Bens... duduk sini aja gak apa-apa..."


Keke menunjuk kursi di sampingnya. Ke depan mereka akan sering bertemu sebagai saudara, mungkin kak Bens harus dibawa masuk juga di lingkungannya yang sekarang. Lody hanya melirik dan sibuk dengan piringnya tak bersuara lagi.


"Eh nama sebenernya siapa ya... Ma Ade denger tadi dari si kecil siapa ya... Bipi?"


Tante Noniek menyapa hangat pada cowok tampan yang sekarang sudah duduk di sebelah Keke.


"Nama saya Benaya, panggil Ben aja..."


"Asal Jakarta?"


"Iya... tapi saya marganya Manoppo..."


"Ohh... torang deng torang ternyata (kita dengan kita, kita sama satu daerah)."


"Iya tante..."


"Panggil Ma Ade aja, pacarnya Renske kan?"


"Iya..."

__ADS_1


Ben tersenyum pada tante Noniek, kemudian masih menahan senyum di wajahnya dia menoleh ke arah Keke yang sekarang menatap dirinya. Tangannya mengelus pelan punggung Keke.


"Ody... udah kenal Ben kan?"


Tante Noniek beralih menatap Lody yang tersenyum masam.


"Bro..."


Ben memanggil Lody, sambil senyum kecil. Saat Lody menoleh Ben mengulurkan tangan dengan jemari terkepal, salam para pria biasanya. Dengan canggung Lody membalas. Secara resmi belum pernah saling menyapa walau sudah saling tahu. Ben memutuskan membuka ruang untuk Lody, awalnya dia tak suka cara Lody mendekati Keke, tapi ketimbang melihat Lody sebagai ancaman Ben memilih menjalin hubungan baik saja.


"Umur berapa Ben...?"


Tante Noniek melanjutkan mencari tahu soal Ben.


"Kita seumuran mungkin ya bro? Gw 31... lu berapa Lod?"


Lody menatap sekilas dengan malas, masih risih dengan basa-basi Benaya, tapi dia menjawab juga.


"Gw baru 28..."


"Oh... gitu..." Ben menanggapi kalem.


"Kak Bens udah 31 ya?" Keke mengernyit, lupa dengan umur Ben.


"Lupa ya... umur aku?"


Tangan di punggung berpindah memegang kepala Keke, sengaja di depan mereka terutama depan si Lody, merasa punya kesempatan menunjukkan kepemilikannya pada si Rens. Dia sempat mengintip tadi bagaimana Lody memperlakukan Keke. Dan dia seperti membuat pengumuman dengan sikapnya sekarang bukan hanya pengakuan verbal, Keke itu pacar akuuuu.


"Iya... sorry."


"Haha... gak papa..."


Ben tertawa pelan sambil menjawil pipi Keke yang memerah.


"Hehehe... Masa Renske lupa ya, Ben..."


Tante Noniek berseloroh salah tingkah juga, jarang melihat tontonan yang manis-manis langsung seperti sekarang... dua tatapan dan kelakuan orang yang jatuh cinta.


"Belum lama jadian tante... eh Ma Ade... Tapi memang dari dulu suka gitu sih dia, suka lupa banyak hal..."


"Eh... aku gak pelupa. Kak Bens malah yang ngaku-ngaku ingat semua tentang aku, eh malah lupa ulang tahun aku kan?"


"Hahaha... becanda sayang..."


Ben mengacak sayang rambut Keke, lupa ada dua orang lain di situ.


"Aduuuh kalian berdua, Ma Ade jadi cemburu ngeliatnya. Ody... kamu ngeliat sampai segitunya, jadi pengen kayaknya kamu romantisan sama pacar... kamu ke tempat Inge sana... hehehe."


"Oh... kak Lody pacaran sama kak Inge ya?"


Keke menatap Lody yang sedang memberengut.


"Gak kok, Ma Ade ngomongnya asal..."


Lody berdiri membawa piring bekas makan ke tempat cuci.


"Jangan menyangkali itu Ody..."


Lody langsung menuju pintu belakang, malas dia berada di ruangan itu sekarang, malas juga berdebat dengan tante Noniek soal Inge, tak ingin dipaksa mengakui suatu hubungan yang memang gak pernah ada. Dan lebih malas lagi melihat sikap si Benaya...


Kenapa Lod?


Mungkin hatimu sedang gelap ya, gamang atau... eh... gih sono ke tempat Inge, jangan-jangan karena jauh dari dia kamu malah seperti itu...


.


.


Hi...


Info ulangan buat readers terbaik...


Jumat aku gak bisa up, sabtu minggu aku usahakan bisa. Intinya, maaf aku gak up rutin gituuu..


Tenksssz buat semua atensi yang baik utk cerita ini 🍀💚


.


__ADS_1


__ADS_2