Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 39. Situasi Apa Ini?


__ADS_3

"Rens..."


"Eh kak..."


Ben langsung meraih tangan kiri Keke dengan tangan kanannya, dan menarik pelan tubuh Keke mendekat padanya. Dia sengaja membuat jarak antara Keke dengan pria berperawakan sama seperti dirinya. Tak rela Keke berdekatan dengan pria ini, dia gak kenal tapi siapa pun orangnya insting Ben spontan waspada. Lagi pula terlihat dari atas tadi pria ini melakukan sesuatu yang tak disukainya.


"Baru sampe ya..."


"Iya..."


Lody memperhatikan Ben yang sedang menatap Keke, kemudian melirik genggaman tangan lelaki yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Siapa? Keke punya Pacar? Beberapa detik Lody melirik lagi, tangan itu masih belum terlepas malah jarak pun semakin rapat. Lody membuang pandangan ke sembarang arah.


Pintu belum terbuka, tangan kanan Keke masih menahan handphone di telinga, menanti jawaban. Ben juga berbuat sama, dia mengambil ponsel di saku celana dan menelepon Rommel.


📱


"Rom... bukain pintu samping..."


"Oh... iya..."


Keke yang mendengarkan percakapan Ben akhirnya menurunkan tangan dari telinga, tante Wisye tak menjawab panggilannya.


Akhirnya pintu terbuka, Keke tersadar tangannya digenggam erat si Ben, dia coba melepaskan tapi tak bisa, terlebih Ben sudah menarik dia masuk. Akhirnya Keke pasrah mengikuti langkah Benaya.


"Kak Lody... masuk dulu..."


"Iya..."


Lody masuk mengikuti Keke. Tadinya berencana langsung pamit pulang, tapi kakinya justru ikut naik ke lantai atas.


Di atas...


"Kak, aku mau ke kamar mandi, lepasin..."


Bisik Keke pada kekasihnya yang tidak mau melepaskan tangannya yang beberapa kali dia tarik.


"Kak Lody, duduk aja... Mel temenin..."


"Iya kak Keke."


Rommel melempar senyum ramah pada Lody, sedikitnya dia tahu siapa Lody. Dan pria yang paling muda di antara tiga pria di lantai atas ruko ini sekarang, bisa membaca reaksi Benaya. Dia memang pria perasa, sejak kecil dia seperti perempuan yang gampang terbawa sesuatu... makanya dia cepat menangkap sesuatu saat ini. Kak Bipi yang galau sejak siang di sini tadi, nampak semakin galau walaupun kak Keke sudah kembali. Rommel mengambil tempat duduk di sofa dekat Lody.


"Mobilnya belum sampai ya? Sudah sejak sore di antar ke sini. Sebentar saya telpon sopirnya..."


Lody langsung memulai percakapan. Tadi dia tidak melihat mobil Keke di depan. Dia mengeluarkan ponselnya.


"Udah kak, udah sejak tadi..."


"Oh... gak ada di depan soalnya..."


"Udah di parkir di dalam ruko, kak..."


"Oh begitu..."


Lody memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya.


"Kak Lody, kakaknya kak Keke kan?"


Sebuah kalimat tanya yang tak perlu sebenarnya, tapi punya tujuan, hem... Rommel pintar memang. Ben yang duduk di kursi makan, mendengar tapi pura-pura sibuk dengan ponselnya. Kakak? Belum puas dia dengan informasi itu. Dia tak ingin ada seseorang yang lain di sekitar Keke sekarang yang tak segan menunjukkan perhatian.


"Iya. Rommel adik Ike pastinya ya... papa sering cerita soal kalian..."


"Oh... om Ramly tahu siapa saya?"


"Tahu... papa tahu dari papanya Rommel, kata papa waktu itu pernah bertemu..."


"Papa saya? Dia bilang apa soal saya?"


"Kak Lody gak tau persis, tapi papa sempat ngomong kalau Ike punya adik cowok..."


"Oh..."


Rommel keluh, papa mengakui dia punya anak yaitu dirinya pada orang lain, itu menyentak perasaannya. Dia tak mengenal papanya, yang dia tahu sejak kecil dia dibuang papanya. Mama memang memberikan ungkapan yang menyakitkan untuk statusnya. Kak Keke berjumpa papanya sedikitnya memberi dia harapan yang sama. Om Ramly yang nampaknya tulus membuat keinginan kecil terbit di sudut hatinya. Seperti apa papanya sendiri? Apa seperti om Ramly?


"Kak..."


"Iya..."


"Iya Rens..."

__ADS_1


Dua mulut pria menyahuti dia juga sama-sama memandang padanya, membuat Keke menyimpan senyum. Selanjutnya jika ada mereka berdua di sini harus jelas siapa yang dia maksud.


"Eh... kak Lody makan dulu baru pulang. Ike pesen makanan..."


"Iya... boleh, sekalian istirahat sebentar..."


Si kakak ketemu gede tersenyum manis saat beradu pandang dengan Keke. Di sudut lain ada sorot mata tajam yang sedang mode waspada, memperhatikan interaksi Keke dan si kakak.


Keke mendekati meja makan hendak memesan makanan, ponselnya ada di meja itu. Saat dekat dia langsung ditarik tangan kokoh lelaki yang duduk di situ dan mendudukkan dirinya di kursi di samping lelaki itu. Keke yang tidak menduga tindakan Ben itu jadi mengernyit memandang pacarnya. Sebuah tatapan yang tidak dia mengerti tertangkap netranya.


"Maaf tadi, aku tertidur... maaf ya..."


Suara mirip bisikan itu lembut menyapa gendang telinganya.


"Gak apa-apa, aku ngerti kok kan Bens cape..."


"Kamu juga cape sekarang kayaknya..."


"Gak... bentar mau pesen makanan..."


"Aku aja yang pesen..."


Ben meraih ponsel Keke tapi dia hanya menahan di tangannya, kemudian membuka aplikasi pemesanan makanan lewat ponselnya sendiri.


"Mau makan apa?"


"Eh... kak Lody mau makan apa?"


Ada yang geram dalam hati...


Aku nanya kamu, kamu nanya ke dia, bukan makanan dia yang aku mau pesan... ekh!


"Apa aja Ike... kak Lody pemakan segala, hahaha..."


Ada yang coba bergurau, dan hanya Rommel yang tertawa, Keke tersenyum, tapi Ben malah bermuka datar. Keke kemudian melihat pacarnya, jadi mulai merasakan sesuatu.


"Kak... pesan apa aja. Terserah kak Bens."


"Oke... sekalian sama anak-anak aja, kita pesan dari Burger K ing aja..."


Setelah selesai Keke berniat berdiri lagi, tapi tangan Ben cekatan melepas ponsel dan menahan Keke di bagian paha, tak terlihat dari arah ruang duduk.


"Mau ke mana?"


"Mau mengambil minum..."


"Untuk?"


Keke tak menjawab, ada sesuatu di mata Ben, tapi apa?


"Kamu haus? Duduk aja aku ambilkan..."


Ben bergerak dari tempatnya meninggalkan Keke yang bingung. Keke ingin mengambilkan kak Lody minum sebenarnya tapi dia menahan mulutnya akhirnya. Sementara Lody mencuri pandangan dari tempat duduknya, bercakap dengan Rommel tapi tak melepas perhatian pada dua orang yang berjarak sekitar empat meter darinya. Melihat sikap pria di samping Keke itu yang seperti tidak menganggap dirinya, dia jadi tak berniat untuk menyapa sekedar berkenalan. Nampaknya juga Keke tak terpikirkan untuk mengenalkan pacarnya kepada kakaknya.


Situasi apa ini namanya ya?


.


🐌🐌🐌


.


"Ce..."


Mama Talitha mendekati suaminya yang sedang mengurus beberapa ayam kate warna hitam peliharaannya di belakang rumah. Mama duduk di salah satu kursi yang ada di belakang si papa Fredrik yang lagi jongkok depan kandang.


"Ce..."


Mama mengulang panggilan. Papa kalau lagi asyik dengan ayam-ayamnya sukar untuk dialihkan.


"Cee..."


"Apa Mace?"


"Si Ben..."


"Kenapa dia lagi? Anak gak ada adatnya, pergi gak pamit..."


"Jangan gitu... dia... dia ada alasannya."

__ADS_1


"Apa??"


"Si Renske ulang tahun."


"Renske? Oh... Ben sudah ketemu dia?"


"Mereka bertetangga malahan."


"Oh... bagus. Renske ada buat acara?"


"Tidak. Tapi... mereka... mereka ada hubungan."


"Oh... bagus."


"Bagus???"


"Bagus..."


"Ben serius katanya..."


"Bagus."


Si Pace-nya mama Talitha menjawab singkat tak begitu memperhatikan omongan istrinya, pikirannya lebih tertuju pada ayam-ayam kesayangannya.


"Papaaa, bagus gimana... si Renske sudah pernah menikah, sudah punya dua anak juga. Bagus apanya??"


"Ya bagus... Renske orang Manado, anak si Rein juga. Tidak masalah."


"Papa ini aneh, calon menantu yang harus dilihat bukan asal dari mana. Kalau seperti itu mama juga mau calon menantuku dari Semarang... gimana sih Papa ini..."


"Jadi mama maunya apa?"


Papa Fredrik kini duduk di samping istrinya yang tidak menyembunyikan kekesalannya.


"Kasih tau Ben, suruh pertimbangkan lagi, jangan serius dulu dengan Renske, suruh cari yang lain."


"Mace... mace... kamu pikir Ben mau denger? Lupa watak anakmu sendiri? Coba hitung sendiri, berapa kali dia bertengkar denganku gara-gara urusan ini?"


"Tapi kalau papa tidak bicara nanti mereka semakin serius susah nanti untuk pisah. Mama tidak mau Renske jadi menantu."


"Alasannya?"


"Mama bilang tadi kan... Renske sudah pernah menikah, sudah punya anak."


"Jangan naif. Ben tidak akan menerima alasanmu."


"Tapi mama juga tidak bisa menerima pilihannya."


"Mama, ingat apa yang selalu mama bilang, mama selalu berdoa supaya ada jalan Ben bertemu jodohnya... ini jalan yang mama doakan."


"Tapi Ben bisa mendapatkan yang lebih baik."


"Papa tidak mau ingkar, papa hanya kasih persyaratan calon istrinya orang Manado... Sebenarnya jika pun bukan orang Manado, papa tidak akan berkeras menolak jika dia sudah bawa pilihannya di hadapanku."


"Pace baru bilang seperti ini karena pilihan Ben sekarang orang Manado."


"Mace... mace. Berapa lama jadi istri bisa lupa karakterku?"


"Jadi papa tidak akan ngomong ke Ben?"


"Tidak, papa tidak keberatan dengan status Renske. Lagi pula belum ada kepastian, dia belum ngomong ke kita."


"Ahhh... gimana sih... Baik baik... mama akan cari cara."


"Mau mengatur perjodohan?"


"Tidak, bukan seperti itu, dia boleh memilih sendiri tapi ada syarat dariku, jangan Renske. Jadi imbang kita sama-sama kasih persyaratan sekarang."


"Mace... kenapa berubah? Dulu mama yang marah-marah bilang papa keterlaluan kasih persyaratan hingga Ben gak nikah-nikah... sekarang mama yang buat semua tambah rumit buat Ben."


Mama Talitha terdiam, benar, mengapa dia berubah?


.


.


Maaf ya terlambat update... ada sesuatu. 🤗✌


Maaf juga blm bisa menanggapi semua komen yg masuk, tapi terima kasih untuk apresiasi baiknya buat tulisan ini... Gb utk semua yg setia menunggu tulisanku... 😇😇👍👍

__ADS_1


.


🐌🐌🐌


__ADS_2