Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 9. Mulai dari Rasa?


__ADS_3

Di mana-mana, urusan manejemen sangat urgent. Hal pertama yang dilihat Ben, manajemen Sinar Jaya amburadul. Dalam pertemuan dengan Sony Wijaya semalam saat makan malam Ben menegaskan ketidaksiapan mereka, dan menuntut dalam 1 minggu mereka melaksanakan pekerjaan sesuai dengan MOU. Pak Wijaya kaget karena laporan Boy Rumangkang berbeda. Terlihat pak Boy tidak menduga juga di hari pertama, saat makan malam si boss dari Jakarta langsung menyentil hal itu. Tambah kaget ketika diminta menyerahkan data detail pembiayaan.


Sesuai perjanjian kerja, Sinar Jaya yang menyediakan hal-hal teknis yaitu kantor, karyawan maupun material kontruksi. Jadi, mereka bertanggungjawab bagi sebagian pekerjaan di tahap awal. Tapi nampaknya tidak demikian. Insting Ben langsung bergetar, pak Boy tidak bisa dipercaya dan Pak Sonny tidak bisa diharapkan.


Pagi di jam sembilan, Ben dan tiga anak buahnya sudah ada di rumah yang dijadikan kantor sementara. Dua meja makan di letakkan di tengah ruangan, laptop masing-masing sudah siap di meja, itu cukup untuk memulai pekerjaan besar di sini.


"Josh... kamu ke kantor, cari data karyawan yang direkrut, data material konstruksi yang sudah masuk, data detail belanja, pokoknya semua data, apa saja yang kita butuhkan. Mereka tidak profesional, level abal-abal ternyata. Heran pak Nico bisa kecolongan, tim analisnya siapa di Jakarta sana. kita akan bereskan dulu manajemennya untuk minggu ini."


"Baik pak..."


"Elijah, saya perlu meeting dengan konsultan kita, hubungi pak Hendro... saya juga butuh lihat tahapan pekerjaan..."


"Baik pak..."


Jika Benaya sudah mulai, maka dia tidak dapat dihentikan sampai target pekerjaan selesai. Itulah mengapa si boss jadi terpikat pada seorang Ben.


...


Malam, masih di hari yang sama, jam kantor sudah lama selesai, tapi kesibukan di salah satu rumah kompleks ini baru saja berhenti.


Rolly merenggangkan otot badannya yang kaku sambil berjalan menuju pos kecil di dekat gerbang. Ada om Denny sedang minum kopi hitam duduk santai. Ada sepiring gorengan di meja kecil.


"Om Denny... ada gak dekat-dekat sini warung makan khas Minahasa..."


"Wah... di lorong ini gak ada Rolly... di Boulevard banyak rumah makan kan..."


"Iya om banyak sih... tapi rata-rata chinese food. Si boss gak suka, seleranya asli banget lidahnya mau yang pedas-pedas..."


"Oh si boss orang sini toch?"


"Iya...marganya Manoppo..."


"Manoppo... masih saudara dengan om berarti..."


"Om Denny marganya Manoppo juga ya?"


"Oh tidak, adik ipar om mamanya Manoppo..."


"Eehh??"


Di mana hubungan darahnya?


Rolly jadi ingat jargon terkenal 'Torang Samua Basudara'.


"Hahaha... iya om..."


"Rolly, kalau cari selera Minahasa, di depan Mega Mall, ada lorong yang tembus Gramedia, satu lorong itu menjual makanan Minahasa..."


"Oh... iya ya... Tapi kita sementara ini berkantor di sini, maunya yang dekat-dekat aja, waktu istirahatnya gak banyak, si bos disiplin banget gak boleh telat, kalau harus cari makan ke sana cukup jauh."


"Coba kamu tanya sama Keke... kateringnya makanan Minahasa..."


"Keke?"


"Itu... janda yang punya ruko itu."


"Ini sudah malam sudah tutup kali', besok aja."


"Masih buka, belum jam sepuluh, dia jualan pulsa. Kalau sore perlu kue untuk minum sore, di situ suka ada jual kue."


"Oh gitu ya pak... saya ke sana dulu deh... siapa tahu besok udah bisa, biar saya tidak repot cari makan siang lagi..."

__ADS_1


...


"Selamat malam..."


"Malam... mau beli apa?"


Rommel menghentikan bermain game di ponselnya.


"Saya ingin bertemu eh... Keke?"


"Om siapa?"


"Saya Rolly, tinggal di kompleks di belakang ruko ini..."


Astaga, masih perjaka ini, sudah dipanggil om aja...


"Tunggu sebentar ya..."


Rommel masuk ke dalam, tak lama kemudian muncul lagi.


"Tunggu sebentar om, si dede baru bobo, kakak masih menemani..."


Rommel menggeser sebuah kursi plastik dekat si Rolly.


"Oh... baik... Saya beli pulsa data dulu deh... paling besar untuk xxxx berapa GB?"


"Ada yang 41 GB untuk 30 hari... Rp. 255.000."


"Voucher?"


"Bukan om..."


"Itu aja deh..."


"Oh ya... tolong isi di nomor ini ya... dan nomor ini juga..."


"Baik..."


"Mel... ada siapa yang cari kakak?"


"Ini kak..."


"Oh... om yang tadi siang ternyata... ada perlu apa?"


"Saya mau tanya kateringnya, mbak..."


"Mau rantangan? wah... udah penuh om. Belum menerima pelanggan baru..."


"Saya bukan mau rantangan mbak, langganan per porsi makanan lengkap aja untuk 6 orang hanya untuk 1 bulan ini aja, boleh ya... saya sangat-sangat butuh bantuannya..."


Keke diam. Otak si tukang katering berhitung cepat. Makanan porsi ringan saja sih, terlebih hanya untuk 6 orang, lagi pula ada si Titin masuk kerja lagi gak akan terlalu merepotkan nampaknya.


"6 Orang ya?"


"Iya mbak, makan siang seminggu 5 kali senin sampai jumat..."


"Tapi saya tidak bisa layani antar di tempat."


"Mbak, kita hanya di belakang ruko ini, nanti om Denny yang ambil ke sini setiap hari..."


"Baiklah... saya hitung Rp. 60.000 per porsi kali 6 orang, seminggu 5 kali... totalnya Rp. 7.200.000 untuk 4 minggu. Setelah pembayaran lunas baru saya mulai."

__ADS_1


Hah? Cepet banget hitungnya?


"Itu apa aja mbak, lengkap kan?"


"Paketnya: 1 porsi nasi, 1 lauk, 1 sayur, 1 dessert..."


"Baiklah, nanti saya balik lagi untuk pembayaran, besok bisa mulai kan?"


"Iya... setelah lunas tentu saja..."


"Ok... terima kasih sebelumnya... Oh ya... berapa total harga pulsa tadi?"


"Rp. 510.000..."


...


Jam makan siang di tengah-tengah padatnya pekerjaan, om Denny masuk dengan 2 kantong kresek sedang berisi 6 buah wadah plastik warna putih, berisi makan siang mereka. Om Denny mengeluarkan wadah itu dari dalam kantong dan menatanya di meja. Ada juga 6 buah kemasan kecil dessert yang dikeluarkan.


"Oh... makan siang sudah ada. Pak Ben... apa kita bisa istirahat sekarang?"


"Oh... ok..."


Si boss Ben menjawab pendek, mata masih di laptopnya, tangan kanan bersandar di meja menopang dagunya... tanda masih sangat serius dengan pekerjaannya.


"Pak... kami makan duluan..."


Josh yang lapar tak sanggup lagi menunggu si pak boss.


"Iya... silahkan."


Wangi makanan segera menyebar di ruangan saat ketiga anak buah makan di meja seberang. Harum menggugah selera langsung membuyarkan konsentrasi si boss Benaya.


"Mana punya saya?"


Si boss mengambil 1 buah wadah makan yang masih tertutup. Dan si boss sudah lapar ternyata, isi tempat makan itu tandassss tanpa sisa. Pipi Benaya terlihat sedikit merah dan ada keringat di wajah putih supernya...


"Mau tambah pak? Ini ada 2 porsi lagi..."


"Iya... itu milik siapa sebenarnya?"


"Bukan milik siapa-siapa sampai minggu depan. Saya langganan di catering depan pak, untuk 1 bulan ini biar gak repot. 6 porsi hitungnya karena nanti ada Fransien sama Hapsari."


Rolly menjelaskan. Si boss segera menarik 1 wadah lagi, terlihat benar masih ingin melanjutkan makan siangnya.


"Katering depan? Ruko itu?"


Jari tangan Benaya mengarah ke ruko depan kompleks.


"Iya... Keke's Catering namanya.... Gimana rasanya pak?"


"Enak... enak... cocok sama saya... jadi kita langganan ya?"


"Iya pak, sebulan..."


"Bagus... bagus... cita rasanya enak. Saya suka."


Benaya melanjutkan makan siangnya dengan lahap. Hmmm... Si Benaya menyukai masakan si Renske....


.


.

__ADS_1



__ADS_2