Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 71. Apa yang Paling Mendominasi?


__ADS_3

Mama Virda muncul lagi di ruko kali ini tanpa senyum dan hanya menganggukkan kepala pada karyawan Keke di dapur, dia harus melewati mereka di dapur sebelum naik ke lantai atas. Tadi di depan Rommel sudah memberitahu bahwa Keke ada di lantai atas.


Di samping tangga ada pintu ke arah ruangan baru yang sudah selesai, mama Virda menangkap bayangan serta suara mantan suaminya, terlihat sedang memperhatikan tukang yang sedang memasang lemari di dinding.


Dengan langkah canggung mama Virda naik ke lantai atas. Dia terlanjur datang ke sini berencana menginap, menilik pakaian rumahan yang digunakan Ramly dia pasti sedang menginap juga. Sementara dia sedang tidak ingin tinggal di rumah suaminya.


"Ike..."


Keke yang sedang merapikan dus kemasan untuk pesanan kue menoleh pada mama yang menenteng sebuah tote bag warna krem yang terlihat penuh terisi. Tas yang sering dia lihat mama bawa ke sini dulu, tanda mama akan tinggal beberapa hari.


"Ma... sendiri?"


"Iya..."


Mama terlihat ragu, dan akhirnya meletakkan tasnya di dekat tangga.


"Mama cuma mampir saja, nanti siang mama pulang. Kangen anak-anak..."


Mama tersenyum menutupi maksud kedatangannya sebenarnya. Dia memutuskan tidak jadi menginap, ada Ramly di sini, itu bukan sesuatu yang baik untuknya, tidak nyaman tentu saja, nanti terpaksa pulang lagi ke Pondang setelah bertemu cucu-cucu tersayang.


"Anak-anak masih di sekolah."


"Sekolah mereka di mana? Apa mama jemput mereka?"


"Gak usah, ada mobil antar jemput. Sekolah mereka cukup jauh dari sini..."


"Oh... mama tunggu mereka, setelah itu mama pulang. Ehm... mama bantu?"


Mama mengambil beberapa dus yang belum dibentuk dan duduk di depan Keke.


"Gak usah ma... udah cukup, Ike hanya butuh lima aja."


Keke bisa menebak dilema sang mama. Raut wajah mama terlihat tegang, meskipun tadi tersenyum tapi terlihat sangat terpaksa.


"Ma... nginap aja... mama harus biasakan nginap di sini meskipun ada papa..."


"Eh... bukan seperti itu Ike..."


Mama jengah niat hati serta alasannya diketahui sang anak.


"Papa pasti senang ada mama..."


Keke senyum kecil menatap mama yang sedang salah tingkah. Seandainya mama masih sendiri dia orang pertama yang akan mendorong papa dan mama bersatu lagi. Mama Virda secara implisit mengakui tidak bahagia dengan suaminya yang sekarang, tapi keinginan mama untuk setia pada pernikahannya yang sekarang membuat Keke menyimpan keinginan hatinya dalam-dalam. Saat ini dia cukup bahagia jika mereka berdua boleh berhubungan baik saja sebagai orang tuanya, selalu ada di sampingnya.


"Mama yang gak tenang..."


"Ada kita kan... tapi siap-siap aja, pasti papa pengen ngobrol berdua..."


Keke menyembunyikan senyumnya.


"Ike... mama gak mau seperti itu..."


"Ma, gak usah menghindari papa... temenan aja gitu biar enak. Tapi papa harus dingatkan terus bahwa mama itu istri orang, kalau gak..."


"Ikeee...."


"Becanda, maa... makanya jangan tegang hehe... tapi Ike gak ijinin mama pulang. Kali ini mama harus nginap..."

__ADS_1


"Tapi Ike..."


"Ma... papa gak mungkin gigit kan... udah gak boleh..."


"Ike ahh..."


"Tenang aja ma. Lama-lama mama pasti nyaman kok, mama tahu papa kan? Papa juga pasti menghormati status mama... paling-paling keceplos honey-honey doang, hehehe..."


"Itu yang bikin mama tidak nyaman..."


Keke tertawa mengingat bagaimana papa Ramly masih memanggil mama dengan mesra, aduuh gimana kalau mama bukan istri orang ya?


Keke hanya mencoba menghilangkan ketidaknyamanan sang mama, mencoba menghibur mamanya. Keke tahu jelas, mama datang dengan tote bag berarti keadaannya sedang tidak baik. Dulu dia tidak peduli, sekarang dia tahu rasanya menjadi mama Virda. Sungguh membingungkan sebenarnya menghibur orang lain ketika sedang butuh seseorang datang menghibur dirinya.


Keke sebenarnya sedang kesulitan menangani hatinya sendiri terlebih dia membaca wa dari Ben, siang ini dia sudah landing. Dia tegang sepanjang waktu, semua rasa sedang berhadap-hadapan di hati dan pikirannya. Rasa marah yang besar versus rasa rindu yang juga besar, mana yang paling mendominasi hatinya?


"Honey..."


Nah kan... sebutan itu... papa Ramly muncul di anak tangga. Tadi dia diberitahu karyawan Keke ada mantan istrinya datang berkunjung. Setelah acara Keke tiga bulan lalu, mereka tidak pernah berjumpa lagi.


"Honey... baru sampai ya?"


Ishh si papa... siapa yang gak akan meleleh hatinya disapa mesra seperti itu, omg papa Ramly, gak bisa apa mengganti panggilan sesuai permintaan mama Virda?


Mama menatap sejenak dan segera memalingkan wajahnya. Rona wajah sudah berganti, entah seperti apa. Gugup dan tegang membuat mama tak menjawab. Keke yang memperhatikan mama dan papanya dengan reaksi masing-masing tersenyum dengan sejuta rasa. Benar dugaannya, percikan senang yang sekilas muncul di wajah papa menunjukkan seberapa dalam cinta papa sampai sekarang.


Papa duduk di samping Keke dan memandang mantan istri yang sedang kelabakan mengontrol diri sendiri.


"Pa, mama mau nginap di sini..."


Keke menengahi arus perputaran emosi yang sedang berlangsung di antara mantan pasangan suami istri itu, sekaligus memberitahu papa tentang maksud kedatangan mama, juga biar mama tidak membatalkan niatnya.


Mama Virda tak menyahut, tempat inilah rumah sebenarnya buat dia, tapi dia tak dapat berbicara tentang itu atau membuka diri kepada Ramly ataupun Keke. Dia tak dapat menjelaskan kepedihan yang dia rasakan bertahun-tahun lamanya, saat dia salah mengambil keputusan dulu meninggalkan suaminya, saat kesalahan berikutnya terjadi ketika dia terjebak membalas hutang budi dengan cara yang salah pada lelaki yang kemudian meninggalkan dirinya sesaat setelah tahu dia hamil Rommel, dan kesalahan yang lain menganggap menikah lagi adalah solusi untuk kesulitan keuangan dulu.


Mama Virda malu jika mantan suaminya tahu keadaannya yang sebenarnya, karena itu dia coba menampilkan ketegaran demi menjaga sepenggal dari citra dirinya yang tersisa.


"Papa mau makan sekarang?"


"Iya... iya, Ike atur aja."


Keke mengambil piring, sendok dan garpu untuk orang tuanya.


"Ike... anak-anak pulang jam berapa?"


Mama bertanya saat perasaannya mulai terkendali.


"Dikit lagi ma, si Dede sebenarnya udah selesai dari sejam yang lalu, tapi pulangnya menunggu Via."


"Oh... kasihan dong Dede harus menunggu lama..."


"Gak apa-apa ma, selama ini dia enjoy, dia betah malah bisa lebih lama di kelas banyak mainan katanya..."


"Ayo, makan..."


Papa Ramly segera memulai saat makanan telah siap di meja. Mama memperhatikan menu makanan yang diambil sang mantan suami, menduga sesuatu tapi membatasi dirinya untuk bertanya. Mama Virda menikmati makan siang dalam diam.


Keke berdiri dan menghampiri tote bag sang mama di dekat tangga.

__ADS_1


"Tas mama, Ike bawa masuk kamar ya? Mama tidur di kamar Ike..."


"Nanti aja Ike... makan dulu..." sergah mama tak ingin ditinggal hanya berdua dengan papa Ramly.


"Ike gak lapar..."


"Ke... makan dulu. Papa perhatikan Ike makan gak teratur, Ike kurusan loh sekarang..."


"Masa kurus... biasa aja..."


Keke memandang sekilas tubuhnya di bagian pinggang serta memperhatikan tangannya.


"Kamu beneran kurus sayang..."


Suara ngebass yang kalem terdengar di sisi kiri, tangan yang besar itu langsung meraih tubuh Keke, dan dengan erat membawa Keke ke dalam pelukan. Satu ciuman yang lamaaa terasa di puncak kepala. Keke yang tidak siap melawan dan dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bersikap marah, sejenak terpaku di bawah penguasaan lengan kokoh itu.


Sebuah sikap agresif seorang Benaya di hadapan calon mertua, Ben yang langsung menyambar sebuah kesempatan menguak rindu yang sudah begitu menyesakkan raganya terlebih jiwanya. Memeluk tubuh itu lagi sudah bermain di angannya sekian jam ini, rindu mengejar kasih sayang dari kesayangannya dan membawa sang kekasih menjelajahi lagi ruang rindu yang sempat terabaikan.


Beberapa waktu dalam rengkuhan Ben, Keke kemudian menyadari keberadaan orang tuanya segera berusaha melepaskan diri.


"Om... tante... apa kabar?"


"Ben... kami baik..."


Papa Ramly menjawab pendek. Baru kemaren dia ngomong soal Ben yang perlu datang, orangnya sudah muncul di sini. Dia mengkhawatirkan penundaan pernikahan mereka jika Ben tidak segera datang.


Ben melepaskan ransel di punggungnya dan meletakkan di samping tas mama Virda. Keke mengikuti dengan ekor matanya dan segera menyadari sesuatu, dia segera menyambar tas mama dan secepatnya juga menuju kamarnya. Ternyata mengajari mama untuk bersikap tenang dan biasa saat menghadapi papa itu gampang. Tapi membuat diri sendiri untuk bersikap dewasa pada Ben, begitu sulit.


Ben mengikuti dengan senyuman, dia sudah menduga reaksi itu, tak mengapa Keke bersikap kaku lagi dan memasang tembok yang dulu, yang terpenting adalah kerinduannya telah tersalur walau hanya sejenak merasakan tubuh yang dia sangat rindu itu.


"Mari, langsung makan aja Ben... honey, boleh ambilkan piring untuk Ben?"


"Gak usah, biar saya ambil sendiri....


Ben menuju lemari penyimpanan, dia sudah hapal di mana tempat menyimpan piring. Tak mungkin menunggu Keke menyiapkan, dia yakin Keke gak akan muncul di ruangan makan.


.


Seberat apapun memulai, komunikasi harus dibangun demi harmonisnya sebuah hubungan.


.


Ben... kata kakak readers:


Kamu harus sabar...


Kamu sesibuk-sibuknya jangan mengabaikan chat atau telpon Keke, kalau gak bisa ngetik ada voice note kan, hanya perlu memencet mic doang...


Jangan ditunda ya menikahnya...


Belajar terbuka sama Keke ya... Keke juga, jangan lari ke kamar ninggalin Ben, grogi kan dia makan bertiga sama calon mertua...


Kata aku... makasih buat perhatian readers semua.


Aku nulis sampai menjelang subuh, karena jumat gak bisa up... 😄


.

__ADS_1


🍀


__ADS_2