Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 12. Rasa yang Melekat di Hati


__ADS_3

Pagi yang tenang di awal minggu. Langit masih berwarna biru lembut, angin pun masih terasa dingin sejuk. Benaya baru menyelesaikan larinya di treadmill. Pilihan exercise untuk sekarang, dilakukan 3 kali seminggu demi kebugaran tubuhnya. Seperti biasa dia akan berdiri bersandar di railing depan teras untuk mendinginkan tubuhnya.


Jam enam seperempat, 45 menit dia berlari dan setelahnya dia menyukai saat tenang berdiri di sisi depan terasnya. Dan setiap kali juga dia akan mendapati pemandangan akrab sebulan belakangan dari atas rumahnya, kesibukan pagi di ruko depan kompleksnya. Si mama Yica dan seorang cowok yang ternyata adiknya, fakta yang membuat dia kagum, dua kakak beradik masih muda tapi terlihat tekun dan giat menjalani profesi mereka.


Entah sadar atau tidak mata Benaya hanya akan mengikuti sosok Keke. Bila Keke menghilang di balik pintu maka pandangannya akan beralih ke tempat lain dan bila Keke muncul lagi dia akan memperhatikan apa yang Keke lakukan.


____________


Jauh di lubuk hatimu kau menyimpan bayanganku... Di pikiranmu kau lupa, tapi di alam bawa sadarmu tak kau ingkari hadirku...


_____________


Keke berdiri depan pintu dan berteriak ke arah Rommel yang hendak memindahkan mobil ke depan ruko.


"Mel... langsung muat tabung gasnya dulu, biar sekalian, sebentar pas agennya buka jam sembilan langsung ditukar..."


"Nanti aja kak... takut ada tabung yang hilang lagi, mobil aku parkir depan jalan..."


"Ya udah..."


Keke kemudian hendak menarik pintu, matanya menangkap bayangan seseorang di bangunan seberang. Sejenak matanya bersirobok dengan mata Ben... beberapa second saja, agak jauh memang tapi mereka saling memandang. Keke cepat menarik pintu besinya, semakin yakin bahwa Benaya tinggal di rumah itu.


Ben tersadar dari apa yang dia lakukan sekarang, dia memperhatikan seorang wanita.


Hahh... Hanya kebetulan, ya... hanya kebetulan, bertepatan selesai olahraga, bertepatan mereka ada di lorong itu...


Suara penyangkalan menggema di lorong hatinya. Dia butuh air minum sekarang, hatinya sedikit bergelora, ini tak biasa. Ben turun menuju kulkas mencari teh kemasan.




"Rolly..."



Benaya berteriak dari dalam ruangan. Dia memperhatikan wadah tempat makan siang yang baru dicecapnya, terasa berbeda dari biasanya hanya dus makanan biasa. Rasa dan bentukannya juga berbeda, meskipun jenis makanan terlihat sama seperti sebelumnya, terlebih tidak enak rasanya.



"Ya... pak..."



"Ini makanan dari mana, ?"



"Oh... saya beli dekat sini pak."



"Beli? Bukannya kita langganan?"



"Maaf pak, saya tidak konfirmasi untuk melanjutkan, memang waktu itu saya hanya minta sebulan, pembayarannya sebulan juga."



"Saya tidak suka ini, ganti yang lain."



"Baik pak..."



Rolly keluar ruangan dengan bingung, nanti kalau beli di tempat lain kemudian boss gak suka juga, gimana, mana dia belum selesai makan.



*Perasaan rasanya sama aja*?



"Fran, emang makanannya gimana? Gak enak ya? Boss gak suka..."



Rolly bertanya sambil mengambil tasnya bersiap keluar cari makanan lagi, bingung mau beli makanan apa.



"Gak tau... udah lapar, gak ngerti bedanya... kamu kok bisa lupa sih bayar ke katering. Boss marah-marah tadi udah setengah dua belum ada makanan..."



"Ya... saya lupa mau gimana coba... kerjaan saya banyak tau gak setelah di sini. Gak ngurus yang beginian sebenernya..."



"Ya udah... pergi sana, tambah lapar tambah ngamuk si boss nanti..."


__ADS_1


Rolly mengambil kotak makanannya, makan di mobil saja...



"Far... anterin saya lagi..."



"Ke mana?"



"Cari makan, kamu tahu di mana resto Minahasa yang enak?"



"Yang enak banyak sih, tapi apa cocok sama lidah si boss?"



Itu dia... si boss Benaya sudah terlanjur suka dengan masakan dari Keke's Catering. Cita rasanya sudah melekat di kerongkongan, diingat oleh otaknya boss, sudah melekat di hati kayaknya, jadi susah untuk beralih...



Rolly jadi ingat waktu mereka dijamu makan siang oleh istri pak Sonny Wijaya saat beliau ulang tahun beberapa waktu lalu. Pertama saat baru mulai makan muka boss terlihat sumringah, ada banyak Minahasan Food, Manadonese Cuisine di atas meja. Tapi tak lama piring boss letakkan di meja setelah mencoba beberapa makanan, boss hanya makan sedikit, tapi mencari kotak makanan miliknya saat kembali ke kantor.



Apa lidah boss segitu pekanya ya?



°°°°°



Malamnya di ruko putih dengan pintu besi berwarna biru...


Keke tahu apa maksud Rolly datang mencarinya. Keke berdiri di belakang lemari *display* memandang lurus ke wajah Rolly. Yang ditatap jadi salah tingkah.



"Saya mau membayar katering untuk dua bulan ke depan, mbak Keke..."



"Maaf om... kita gak bisa lagi..."



"Hah? Kenapa mbak Keke?"




"Mbak, please... tadi Pak Benaya marah-marah karena makanannya beda..."



"Pak Benaya?"



"Atasan saya mbak, dia yang menempati rumah paling besar di kompleks belakang. Sejak pertama dia sudah suka masakan mbak Keke..."



"Tapi maaf, kita udah gak bisa lagi... cari yang lain aja, di sini banyak resto, banyak lokasi kuliner, banyak jasa katering, tinggal dipilih aja..."



"Mbak... pak Benaya pemilih makanan, gak suka juga keluar kantor saat istirahat makan. Tadi siang saya sampai tiga kali beli makanan gak ada yang cocok... please ya mbak Keke..."



"Aduuh om... saya gak bisa, beneran..."



*Kenapa sih harus maksa-maksa. Saya bukan gak bisa tapi gak mau*...



"Mbak Keke... please, selama ini pak Ben cuma makan makanannya mbak Keke... sabtu sama minggu dia cuma bikin indomie sama rebus telur ayam kampung... dia gak suka *Chinese food* atau makanan Jawa, paling-paling soto ayam makannya mbak... di Jakarta juga begitu..."



"Dia makan sehari sekali aja?"



Keke jadi penasaran...


__ADS_1


"Tiga kali sih... maksud saya pagi saya gak tau makan apa, tapi makan siang sama sore itu dari katering, satu karyawan kita si Hapsari orang Jawa, gak suka makanan Manado, jatah dia yang dimakan pak Benaya sore hari sebelum pulang kantor."



*Masa sih sampai segitunya dia*?



"Mbak... saya minta tolong ya... mbak naikin harganya juga gak apa-apa..."



"Eh... bukan seperti itu... kita memang gak bisa lagi..."



Rolly diam, tapi belum beranjak, muka masih memelas berharap Keke mengubah keputusan. Soalnya dia sangat terbantu saat langganan catering, gak perlu susah-susah urus makanan si boss. Kenapa juga di Manado kerjaannya jadi beda begini, urusan remeh kelihatannya tapi ternyata merepotkan. Gaji naik dua kali lipat, tapi jadi pusing, dia lulusan IT malah mengurus makan siang karyawan.



Aduuh si Keke juga, kenapa sih gak mau lagi... ini duit loh, kata Rommel untungnya banyak...



"Kak... Lisya udah ngantuk... nyariin kakak... belum selesai ya?"



Rommel datang kemudian...



"Oh... iya, om saya masuk ya..."



"Mbak Keke..."



Rolly masih berusaha membujuk, dia gak ingin repot esok hari, jadi maju teruuss. Keke akhirnya tergugah melihat tampang dan mendengar suara cowok Manado di depannya.



Baiklah... kenapa harus menolak sih, hanya karena sebuah alasan tidak jelas dari masa lalu, ini bisnis, duit... tak ada hubungannya dengan kejadian di masa lalu. Usahanya memberi jasa dan dibayar, kenal atau tidak kenal. Toch si Benaya tidak mengenali dia lagi, dan dia tidak harus berhubungan secara langsung. Anggap aja bagian dari cara membalas kebaikannya dulu, meskipun sering ngomel marah menggerutu tapi dia pernah berbuat sesuatu untuk Keke... Jadi apa yang harus dipermasalahkan Keke?



"Baiklah..."



"Akhirnya... makasih ya mbak Keke... makasih. Saya bayar dua bulan sekaligus. Mbak Keke mau naikiin harga gak apa-apa, dihitung aja..."



"Gak... harga seperti biasa aja..."



"Oh... baik. Saya bulatkan Rp. 15 juta deh untuk dua bulan, anggap aja rasa terima kasih saya."



"Eh... entar dimarahin boss anggarannya jadi berubah..."



"Gak. Yang di kantor malah mark up sampai milyaran mbak... ini cuma enam ratus ribu doang, nanti kan ada kuitansi pembayaran... tadi aja saya beli makanan lima ratus ribu gak dimakan sama pak Benaya..."



Ahh... Keke jadi menyesal tidak menaikkan harga padahal sudah ditawarin, gak ada konsumen yang minta naik harga umumnya minta diskon.



.



Kadang kita menghindari sesuatu tanpa berpikir, hanya berdasarkan emosi, sesuatu yang sebenarnya tidak nyata hanya sebuah prasangka. Jadi sebelum menghindar atau menolak pikirkan lagi dengan bijak, supaya tidak melepas kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang baik...


~Author~



.



Jadi penasaran, kenapa si Benaya bisa gak mengenali si Keke...



Hai hai.... HAPPY READING...

__ADS_1



✴✴✴


__ADS_2