Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 13. Dulu dan Sekarang


__ADS_3

Om Denny membuka pintu gerbang, Benaya kemudian masuk dan langsung memarkir mobil. Kali ini dia keluar tanpa sopir karena ini akhir minggu, si Farly tidak masuk. Setelah masuk rumah, terdengar bunyi ponsel dari ruang atas. Ben dengan cepat menaiki tangga, ponsel dia letakkan di meja kerjanya tadi. Dia lupa membawa benda itu.


Si mama menghubungi Benaya, sejak pagi menunggu telpon dari si sulung yang sekarang jauh di seberang pulau. Beda ternyata rasa di hati saat anaknya tinggal di apartemen, tidak melihat setiap hari tapi jarang sekali menelpon. Sekarang, jarak ternyata mempengaruhi, hampir setiap malam mama mengontak Benaya. Sabtu biasa Ben yang menelpon, ini sudah sore telpon tidak berbunyi.


📱


"Ben... mama menunggu dari tadi, biasanya hari sabtu kamu suka menelpon siang hari..."


"Aku baru sampe rumah ma... hp lupa aku bawa tadi..."


"Kamu ke mana?"


"Tadi ke mall, makan siang sekalian beli kebutuhan harian, ada cari buku juga, terus mampir sebentar minum kopi..."


"Oh... Beca udah telpon kamu? Minggu depan anak-anak libur seminggu, katanya mau ajak anak-anak ke sana..."


"Udah ma... mama mau ikut ke sini?"


"Gak bisa Ben, minggu depan justru mama ada banyak kegiatan Dharma Wanita..."


"Terus kapan ke sini?"


"Liat nanti ya... siapa tahu papa bisa cuti, mama sama papa bisa berkunjung. Kamu gak pulang apa?"


"Nanti, kalau kerjaan di sini sudah stabil, sudah jalan sesuai tahapan kerjaannya aku sempatkan pulang..."


"Ben... mama jadi ingat Renske..."


"Rens? Kok tiba-tiba ingat ma?"


Ada yang menyodok nuraninya. Lagi... damai batinnya terusik. Renske... nama itu muncul tiba-tiba di memorinya beberapa hari lalu saat tengah menikmati satu cup salad. Dan tak lama setelahnya seperti ada sebuah garis tak terlihat menghubungkan dengan mama yang menyinggung nama itu. Ben menarik napas. Dia keluar dari ruangan dan menuju teras, ponsel masih melekat di telinga dengan bantuan tangan kanannya.


"Kemarin ada teman papa di perkumpulan Kawanua meninggal, mama sama papa ikut sampai ke acara penguburan, lokasi kuburannya sama dengan Vosye dan Reinhart, mama ada mampir kasih bunga... makanya jadi ingat Renske..."

__ADS_1


"Oh... begitu..."


"Iya... kamu tau gak... papa kembali sedih sekali saat berdiri di kuburannya Reinhart, itu teman baiknya papa kan... Awal-awal mereka di perantauan mereka kost bareng, semuanya milik bersama, ya baju makanan bahkan isi dompet... makanya papa masih suka sedih... ya begitulah... Reinhart dan Vosye berumur pendek, sehidup semati..."


Ben diam, pikirannya sudah berkelana ke kejadian di masa lalu. Renske... jika anak remaja itu muncul di rumahnya maka hidup damainya langsung terusik. Itu berarti beberapa hari dia harus bangun jam setengah lima pagi demi mengantar anak itu ke sekolah yang jaraknya hampir 3 jam dari rumah, kemudian harus menjemput saat pulang. Jengkel, marah, benci bahkan pernah ada untuk anak itu. Hingga saat kejadian itu, melihat anak itu beberapa kali pingsan di depan peti tante Vosye, Ben merasa sangat berdosa, secara tidak langsung dia menjadi penyebab peristiwa tragis itu. Terlebih setelah Renske tak terlihat lagi...


"Ben..."


"Eh... iya ma..."


"Renske dibawa adiknya Vosye kembali ke Manado, siapa sih... mama lupa namanya... Itu mama kandungnya si Renske..."


"Oh... Renske pulang ke Manado ya..."


"Coba kamu cari deh... mama berhutang sama Vosye, saat mama jenguk dia terakhir kali, mungkin dia sudah punya feeling akan menyusul Reinhart, mama sempat dititipi si Renske... tapi ya mama gak bisa melakukan apa-apa karena mama kandungnya lebih berhak..."


"Aku mama suruh cari si Renske? Manado bukan kota kecil ma... Mau cari ke mana, lagi pula untuk apa cari dia?"


Ben terdiam... dia ingat sih tentang Renske, tapi terlalu aneh jika dia harus mencari. Memang pernah ada keinginan untuk mengetahui apa dan bagaimana dia sekarang, tapi untuk dengan sengaja mencari ahh, itu bukan dirinya, bukan seorang Benaya yang harus peduli dan berurusan dengan seorang wanita.


"Ben..."


"Ma... aku di sini kerja, jarang ada waktu luang. Gak tahu tentang dia gak apa-apa kali... toch mama gak ada kewajiban untuk itu..."


"Ben... mama merasa berhutang gak menjalankan amanah Vosye..."


"Ma, dia ada si tangan mama kandungnya bukan terlantar kan... sudahlah ma... Kalau mama gak bisa mama gak berdosa.. beda kalau mama sengaja... sudah ya... mama sehat kan? Aku tutup ya..."


Ben malas melanjutkan pembicaraan bila sudah seperti itu.


"Ben... pasti mama akan kepikiran..."


Mama mengeluarkan satu senjata manipulatifnya. Dan Ben tak menyadari itu. Setiap kali mama pasti berhasil dengan kalimat itu, dan setiap kali Benaya menyerah karena takut asam lambung mama kumat.

__ADS_1


"Iya... iya, kalau ada lowong nanti aku coba cari tahu, mungkin ada yang kenal... tapi jangan menuntut sekarang aku lagi sibuk..."


"Mama akan cari alamatnya, nanti mama tanya teman-teman di perkumpulan Kawanua..."


.


Astaga... mama ternyata sungguh-sungguh ingin Ben mencari tau si Renske.


Anak itu gak dulu gak sekarang jadi pengganggu nomor satu dalam hidup aku...


Telepon si mama sudah terputus. Ben yang duduk di teras samping kamarnya itu langsung kehilangan mood untuk membaca buku yang baru dia beli. Keinginan saat di mobil tadi jadi hilang begitu saja.


Ben berdiri dari kursi dan berjalan ke railing pagar teras dari besi. Bagian depan terasnya jadi sisi yang paling sering Ben pilih untuk menenangkan diri. Terlebih kadang dia mendapatkan pemandangan yang begitu menarik, rutinitas seorang wanita di lorong sempit itu.


Sesungguhnya dia tidak tertarik dengan gadis eh bukan si janda, mamanya Yica. Seorang wanita muda dengan dua anak yang begitu mandiri dan pekerja keras, bukan seperti wanita-wanita yang selama ini mengejarnya. Dia hanya suka melihat wanita seperti itu, tangguh, mandiri. Karena suka memperhatikan dia mulai hafal rutinitas wanita muda itu di sisi lorong sempit --lorong yang mulai menjadi penghubung lintasan mereka berdua kayaknya... hmm, tidak tertarik tapi suka mengamati, begitu kan ya si Ben--


Dan... seperti ada tangan rahasia yang maha mengatur segalanya... Ben mendapati sosok wanita itu, sedang duduk di anak tangga samping rukonya, jari dan mata sedang sibuk di ponselnya.


Kegalauan karena telpon mama langsung menguap. Memandang sosok itu, yang wajahnya setengah tertunduk, meskipun dari jarak jauh tapi mampu membuat hati Ben merasa tentram. Ada apa ya... Mengapa menikmati aktivitas wanita itu sungguh mendamaikan? Padahal belum pernah melihat dengan benar wajahnya...


.


Ben... mamanya Yica wanita kali... katanya malas berurusan dengan wanita...


.


Hai hai.... jika menyukai ini... tinggalkan dukungannya...


Tengkiuuuu 🙏


.


✴✴✴

__ADS_1


__ADS_2