Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 29. Kembali pada Tempatnya


__ADS_3

Malam sudah larut saat Benaya meninggalkan ruko, angin dingin terasa menusuk pori-pori kulitnya tapi Ben melangkah dengan membawa rasa bahagia di hati. Tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi, apakah baik atau buruk, atau lain hal yang tak terduga. Seperti yang terjadi sebelumnya, sebenarnya Benaya juga marah dengan kelakuan Fransien yang tak biasa dan dia bisa menduga mengapa.


Tapi hal yang membahagiakan Benaya justru terjadi setelahnya, Keke jadi lebih dekat dan semakin terbuka terhadap dirinya. Baru kali ini dia bebas rangkulan sama pegangan tangan lama-lama tanpa penolakan, haha. Bahkan Keke sudah mulai berani bersandar padanya. Aissssh... yang lagi pacaran kalau gak ada sentuhan-sentuhan atau afeksi gitu gak afdol kan ya... 😜


Benaya berdiri di depan rumah tempat Fransien dan Hapsari tinggal. Lampu di dalam masih terlihat menyala dan Benaya merasa perlu datang. Dia mengetuk pintu...


"Pak? Masuk pak..."


"Tidak perlu. Fransien mana?"


"Eh... dia..."


Sari hanya memberi isyarat dengan tangannya, Fransien di kamar dan sedang menangis. Benaya melirik pintu kamar yang ditunjuk Sari, dia melihat pintu yang terbuka dan bergerak bukan karena angin tetapi karena didorong seseorang di balik pintu itu.


"Baik... saya tidak akan memaksa bertemu, tapi tolong beri tahu dia saya tidak suka sikapnya tadi. Renske perempuan baik bukan wanita penggoda. saya mengenalnya sejak kecil, dia bukan orang lain dalam keluarga saya dan yang penting sekarang... dia kekasih saya. Banyak hal yang kalian tidak tahu tentang dia jadi tolong jangan berprasangka dan hormati dia. Ini memang bukan urusan kantor, menyangkut masalah pribadi tapi terkait dengan saya. Saya juga minta Fransien tidak mengaitkan ini dengan pekerjaan. Oke itu saja..."


Benaya hendak berbalik meninggalkan rumah itu, tapi dari pintu kamar Fransien keluar perlahan...


"Pak Benaya..."


"Ya..."


Benaya menanggapi dengan datar, masih menyimpan kesal pada staffnya ini.


"Saya... saya... saya mi.. minta maaf pak..."


Benaya menatap Fransien yang tertunduk beberapa meter di hadapannya. Dia harus bijak di sini menghadapi perempuan yang dia tahu punya perasaan padanya, perempuan yang sekaligus staffnya, dia tak perlu membesar-besarkan masalah. Setelah ini mereka masih akan satu kantor dalam waktu yang relatif lama sampai proyek di sini selesai, dan perempuan ini cara kerjanya bagus. Jadi dia memilih sedikit bertoleransi.


"Saya tidak perlu itu, kamu memang bersikap berlebihan pada saya. Kaitan kita adalah pekerjaan, saya hanya butuh kamu bekerja dengan baik. Kalau merasa salah, minta maaf pada Renske itu lebih tepat... "


"Iya... pak."


Fransien menjawab lirih. Meski sempat kesal dan dan marah, tapi dia punya nurani juga, sadar sudah bertindak bodoh karena rasa irinya pada perempuan di ruko depan. Informasi dari Sari tadi dan penjelasan Benaya yang dia dengar dari balik pintu membuat dia malu.


Fransien sempat berperang dengan perasaan malunya, tapi tak apa mengakui kesalahan, dia bukan wanita bar-bar yang tak berpendidikan, dia juga punya dasar moral yang baik. Sakit memang mengetahui orang yang disukai telah punya pasangan, tapi dia harus lewati ini, sama seperti Sari bilang, dia harus lepaskan perasaannya.


"Baiklah..."


"Terima kasih bapak mau mengerti..."


"Iya..."


Benaya melangkah perlahan, setidaknya persoalan tidak berlarut-larut, lega ternyata saat sesuatu kembali pada tempatnya. Dia hanya berharap Fransien mampu bersikap benar, dia tak mungkin menyalahkan perasaan orang lain padanya. Semoga tidak ada drama pelik tentang perempuan lain yang suka padanya atau sebaliknya pria lain yang menyukai Keke.

__ADS_1


.


🪴🪴🪴


.


Pagi-pagi subuh, seperti biasa Keke siap dengan rutinitas hariannya, tak lupa memulai hari dengan memanjatkan syukur dan memohon perlindungan pada Yang Kuasa.


Kali ini tante Lenda dan Rommel yang akan ke pasar, dia harus mulai memasak pagi-pagi karena ada pesanan katering untuk acara pesta siang nanti. Keke semakin berani memperluas cakupan usaha melayani permintaan layanan makanan Minahasa untuk acara meskipun masih menyanggupi di bawah 100 kepala. Dia menyewa dua tenaga lepas setiap kali ada pesanan katering pesta. Untungnya memang besar makanya Keke mau.


Bumbu dan sayuran sudah disiapkan sejak kemaren siang, daging sudah dipotong-potong juga, sementara menunggu daging dan ikan mencair Keke memulai dengan menyiapkan membuat dessert dulu, nanti saat Titin datang Titin yang melanjutkan.


...


"Hai... "


Seseorang muncul dari pintu samping yang sudah terbuka saat Rommel berangkat ke pasar.


"Ehh?? Kak... pagi-pagi udah bangun?"


"Iya... udah biasa jam 5 pagi. Kamu lebih pagi lagi kan..."


"Iya... harus pagi subuh mulai kerjanya biar bisa selesai tepat waktu."


"Pagi-pagi udah buat dessert begini banyak?"


"Iya... nanti siang ada pesanan makanan untuk acara pesta."


"Oww... kamu terima pesanan seperti itu juga?"


"Baru beberapa kali..."


"Gak repot itu?"


"Ya... pintar-pintar kita gimana mengatur dan menyiapkan. Menunya kan gak beda jauh dengan yang sering dibuat, hanya menambah jumlah dan nambah beberapa menu lagi. Aku sewa orang juga tiap kali ada katering pesta..."


"Keren pacar aku... hebat, bisa mengembangkan usaha."


Sebuah ciuman hangat dilabuhkan di pipi..."


"Ihh... ganggu aja pagi-pagi..."


"Itu bukan gangguan, itu penyemangat..."

__ADS_1


Muka Keke sedikit cemberut, Benaya semakin ke sini semakin berani. Sedikit melirik sang pacar, terlihat biasa aja, tapi Keke gak tahu hatinya si Ben sedang berdendang riang.


"Aku bantu apa?"


"Eh... gak usah, gak lama lagi orang kerja udah datang."


"Rens... aku diajarin masak ikan woku belanga ya..."


"Ajarin masak? Serius?"


"Iya..."


"Emang perlu belajar? Kan kalau pengen bisa minta aku masakin..."


"Eh... iya ya... bener bener, aku lupa calon istri aku pintar masak, semua masakannya aku suka, kenapa aku harus repot belajar masak..."


Ehhh???? Calon istri?


Apa yang lelaki ini pikirkan sih. Keke menggeleng pelan menghalau rasa gelisah dan takut dalam hatinya. Bayangan mama Virda melintas, ingatan kepada papa kandungnya datang. Sementara si Ben senyum-senyum di samping Keke, sesuatu muncul di otaknya, sebuah keinginan yang mulai dia pikirkan beberapa waktu belakangan, sepertinya dia harus mulai menyusun sebuah rencana untuk ke depan. Dua insan itu sedang berdiri berdekatan di belakang meja kerja Keke dengan isi pikiran yang berbeda sekarang.


"Anak-anak belum bangun ya...?"


"Belum kayaknya..."


"Ehm... aku bangunin si Via ya... kan mau sekolah..."


"Boleh... kak kalau mau minum yang hangat, eh... buat sendiri ya? Di kulkas ada balapis di lemari ada donut..."


"Iya..."


Si Benaya senyum kecut, pengennya dibuatin minum pagi atau sarapan oleh kekasih tersayang, haha... malah disuruh buat sendiri. Benaya naik ke lantai dua.


.


Hal-hal yang menguntungkan bisa terjadi bagi mereka yang matanya terbuka dan melihat peluang kemudian berani untuk bertindak.


~AkuSiAuthorYgBeraniNulisQuotes~


.


.


Hai... tengkyuuu untuk semua yang berani meninggalkan jejak manisnya.... hehehe 😍🙏😇

__ADS_1



__ADS_2