Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 15. Kamu Ternyata Sedekat Ini


__ADS_3

Siang hari... Cuaca sangat terik hari ini. Pendingin ruangan sudah diturunkan ke suhu terendah, tapi ruangan tetap terasa panas. Ben tak mampu menahan lagi rasa tak nyaman di tubuhnya. Kemarin dia seharian ada di lapangan mengontrol sendiri pekerjaan konstruksi, sempat kena hujan yang tiba-tiba datang. Dia basah kuyub kemarin dan baru hari ini terasa di tubuhnya. Kepalanya sakit... dia tidak suka minum obat, obat satu-satunya adalah tidur.


"Josh... kamu handle ya... saya gak enak badan, mau pulang..."


Benaya keluar dari ruangan, mukanya memang terlihat menahan sakit.


"Oh... baik pak."


Ben turun dengan lesu, langsung menuju mobil yang sudah siap depan kantor, Farly sudah dihubungi sebelumnya untuk mengantar dia pulang. Beruntung waktu tempuh ke rumah hanya sebentar. Terlebih di jam seperti ini jalanan masih sepi.


Saat mobil hendak memasuki lorong, Ben melihat Lisya yang sedang menangis... spontan meminta Farly berhenti, Ben bergegas turun. Si Lisya sudah masuk lagi ke dalam ruko. Tangisan si Lisya masih nyaring terdengar.


"Yica... Yica..."


Sempat ragu sebentar untuk masuk ke dalam, tapi tangisan Lisya yang masih terdengar kuat akhirnya membuat dia masuk saja. Ben masuk lebih ke dalam melewati pintu di bagian dalam itu, ternyata dapur, terus lagi mencari asal suara. Ada satu pintu lagi di bagian belakang. Sepi, apa tidak ada orang dewasa di sini sekarang?


"Yica..."


Ada ruangan di balik pintu ternyata ruang duduk dan Yica terlihat berdiri di ambang pintu kamar. Anak itu masih menangis, ketika melihat Ben dia datang mendekat sesegukan mungkin sudah cukup lama menangis.


"Omen... Omen huaaah..."


Benaya lupa sakit kepalanya, dia jatuh iba mendengar suara si Yica. Dia mengangkat tubuh Yica dan memeluk anak itu.


"Mama Yica mana?"


"Mama Yica pegi jauh..."


Anak kecil ditinggal sendirian...


"Yica sama siapa?"


"Mami Thethe... mami Thethe iyang.... huaahhh..."


"Mami???"


"Mami Thethe iyang... (hilang)"


"Ilang? Hilang...?"


Sedikitnya Ben mulai memahami bahasa cadel si Yica. Mama pergi... mami hilang, apa maksud anak ini...


"Omnya Yica mana?"


"Omen... ini omen..."


Lisya menepuk punggung Ben.


"Bukan om Ben, om yang satu..."


"Momemel iyang... huaaaah..."


"Udah... berhenti nangis ya... kan ada om Ben sekarang..."


Tangis Lisya mulai mereda, tapi masih terisak di punggungnya. Ben bingung harus apa, apa dia bawa Lisya ke rumah saja? Sejenak Ben hanya menepuk-penuk lembut punggung Lisya yang bersandar padanya.

__ADS_1


Keke masuk kemudian dan sedikit kaget melihat Lisya menangis dan dipeluk seseorang, dan orang itu Benaya?


"Dede..."


Suara Keke membuat Lisya kembali menangis. Keke mengulurkan tangan mengambil Lisya dari pelukan Benaya, mereka bertatapan sejenak.


"Huaahhhh..."


"Udah... diam ya..."


"Mami Thethe napa iyang... huahhh"


"Mami Keke pergi sebentar... diam ya..."


Benaya memperhatikan kedua wanita beda usia di depannya, terutama wanita yang menyebut dirinya Keke. Baru sekarang memperhatikan secara dekat, lebih seksama menelisik wajah itu. Selama ini jika bertemu dia tidak benar-benar memandang Keke.


Wanita ini... sama persis dengan seseorang? Ben terus memandang tanpa berkedip. Yang ini jauh lebih langsing tubuhnya, pipi tidak se-chubby dulu... tapi lesung pipit itu ada tertempel di kedua pipi chubby itu, apalagi saat senyum, bentuknya akan sangat jelas. Tubuh remaja bongsor telah berganti menjadi tubuh wanita dewasa. Tapi wajah itu terlalu akrab dulunya...


"Rens...?"


Keke menoleh, masih mengendong menenangkan Lisya. Mata saling beradu pandang. Lama tak mendengar sapaan nama itu. Tak menjawab, hanya memandang saja. Tapi di raut wajahnya tidak ada penolakan bahwa itu dirinya. Benaya membaca itu...


"Rens... ternyata kamu sedekat ini... aku tidak perhatikan sebelum ini..."


Keke masih diam. Di gendongannya Lisya sudah kembali tenang. Anak itu minta turun dari gendongan Keke.


"Omen... Yica puna ceda ceda..."


"Sepeda, De..."


"Ceda ceda tan (kan)?"


Ben tersenyum pada Lisya yang sedang mendorong sepeda 3 roda berwarna pink mendekati Ben. Anak itu cepat hilang sedihnya, kini memamerkan sepedanya. Ben teralih dari Keke dan tanpa disuruh Ben duduk di sofa tanpa sungkan. Menyadari Keke sebagai seseorang yang dia kenal di masa lalu membuat dia nyaman tetap di rumah itu.


Sebenarnya jika dia mau mengakui Renske sudah seperti saudara bagi keluarganya, seperti anak bagi mama dan papanya pengganti Rebbeca, waktu itu Rebbeca kuliah di Singapura. Renske sebenarnya bukan orang lain untuknya meskipun dia marah-marahin, meskipun suka dia teriakin tapi waktu itu dia tetap care, tetap mengantar dan menjemput si Renske. Bahkan dia punya panggilan khusus, Rens saja, dia bilang mengucapkan Renske itu ribet di lidahnya.


Keke yang bingung mau bersikap seperti apa akhirnya menarik kursi makan dan duduk di sudut paling jauh dari Benaya. Aneh tapi nyata, beberapa bulan tinggal bertetangga Ben baru mengenalinya. Ada apa dengan mata dan otaknya?.


"Kamu ke mana tadi Rens... Yica kenapa ditinggal sendiri..."


Ben mencoba mengurai kekakuan di antara mereka, sejak beberapa menit sebelumnya saling diam hanya memperhatikan Lisya yang mencoba sepeda barunya.


"Eh... tadi dia tidur, saya ke rumah kepala lingkungan kasih iuran ada warga yang meninggal... lagian di atas ada tukang lagi kerja..."


"Adik kamu?"


"Dia ke sekolah jemput Via..."


"Orang kerja?"


"Udah pulang..."


Kenapa jadi seperti menginterogasi sih...


"Kasihan tadi dia nangis sampai segitunya, untung aku pulang cepat tadi, untung juga Yica keluar tadi..."

__ADS_1


"Iya... makasih sudah peduli sama Lisya..."


Keke menjawab jengah karena dalam ucapan Ben tersirat singgungan soal kelalaiannya pada Lisya.


Ben menatap intens, ternyata wanita yang telah membuat dia tertarik beberapa waktu terakhir, bukan orang lain. Tak menampik bahwa tampilan Rens sekarang sangat berbeda, terlihat dewasa dan tentu saja matanya tak menyangkali fisik si Rens juga menarik.


Keke yang ditatap lama oleh Ben berdiri, jadi risih.


"Mau minum sesuatu?"


Keke berbasa-basi...


"Tolong buatin air jahe Rens... kepalaku lagi sakit..."


Ehh?? Jadi sok akrab pake nyuruh-nyuruh pula, memang kamu siapa? Jadi menyesal menawarkan minum, tapi Keke akhirnya beranjak ke dapur. Saat kembali dengan secangkir air jahe hangat, Ben nampak bersandar dan menutup mata.


"Suuut... Omen bobo..."


Si Lisya berbisik dengan telunjuk di bibirnya. Keke memperhatikan sejenak wajah Benaya, beneran sakit kayaknya. Tapi apa beneran tertidur? Akhirnya Keke meletakkan cangkir di meja makan, menutupnya dan dia melangkah ke dapur, ada pesanan dessert yang harus dia selesaikan.


Keke merasa tidak nyaman. Dia memang selalu auto waspada bila ada lelaki berakrab-akrab, tak ingin ada orang lain si sekitar kehidupannya. Apa Ben termasuk orang lain? Ya tak memungkiri kedekatan keluarga mereka dulu, sejak dia anak-anak keluarga mereka sering liburan bersama, saling mengunjungi. Tapi sekarang lain, melihat Ben seperti melihat orang asing.


Dessert selesai disusun di kotak. Si Rommel dan Via sudah pulang.


"Kak... kenapa om Benaya tidur di sini?"


"Eh tadi kakak ke rumah pala kasih iuran, ternyata Dede bangun, nangis ke luar dilihat sama dia, dia temenin Dede, ya gak tahu malah ketiduran..."


"Kak... kakak kenal om Benaya?"


"Ya... kenal sih, kenapa?"


"Dia suka perhatiin kakak dari teras rumah dia, suka senyum-senyum sendiri..."


"Eh... masa sih?"


"Iya..."


Kening Keke berkerut, suka memperhatikan tapi tidak mengenali dirinya. Sepertinya dia kaget tadi saat tahu dirinya si Renske yang selalu nyusahin dia dulu.


"Kakak gak tau?"


"Kakak gak pernah perhatikan Mel..."


Keke melanjutkan kerjaan membuat adonan kue Panada pesanan untuk sebentar malam.


"Bantuin ya Mel, ini pesanan 250 buah."


"Iya kak... tapi aku buat tugas kuliah dulu."


Rommel ke depan, sambil buat tugas sambil jagain toko kecil mereka. Selain pulsa, Kue dan dessert serta minuman dingin, jualan di toko sekarang jadi bertambah dengan air galon dan elpiji 3 kilo.


Keke penasaran si Benaya belum keluar juga. Dia ke ruang dalam mereka, benar Benaya sedang tertidur, kali ini sudah meringkuk di sofa yang jadi terlihat kecil karena tubuhnya yang tinggi dan terlihat kekar. Teh jahe ternyata langsung diminum tadi. Kipas angin sudah dihidupkan. Dia langsung sebebas itu di sini?


.

__ADS_1


.


✴ ✴ ✴


__ADS_2