Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 23. Pedih Perih Sedih Sepi


__ADS_3

Ketika dihadapkan pada sebuah tantangan Benaya pantang untuk menyerah, terbukti Ben melupakan rencana hanya tiga bulan saja dia ada di sini. Keadaan awal di kantor yang amburadul sementara dana yang sudah digelontorkan cukup besar, orang-orang yang dia hadapi, semua menggugah prinsip kerjanya, membuat dia mengerahkan semua upaya dan kemampuannya untuk membereskan semua dengan benar.


Sekarang dia tertantang menaklukkan hati seorang gadis. Lebih mudah membereskan urusan kantor, sudah biasa, pola kerja sudah ada, jika gagal rencana A ada rencana B, bahkan instingnya bisa memunculkan rencana C tanpa terduga. Tapi hati Keke tidak sederhana, sikapnya pun rumit untuk dipahami. Dan itu membuat keseimbangan emosional seorang Benaya terganggu. Tensi di kantor pun ikut meninggi...


"Josh!"


"Josh!!!!!!"


Benaya teriak dari ruangannya. Hapsari masuk dengan tergopoh-gopoh dan menjawab takut, aura si boss sedang mengerikan.


"Pak Josh sedang di lapangan, pak...."


"Rolly mana????"


"Lagi di lantai atas, pak..."


"Suruh kumpul semua... kita meeting... 15 menit udah siap!!!!"


"Ba.. baik baik pak..."


Sari langsung melepas sepatu wedgesnya... pakai sandal, naik turun tangga kantor pasti akan sulit, mana hanya 15 menit untuk menyiapkan meeting. Aduuuh si boss... ganteng-ganteng tapi menakutkan.


"Fran... lu siapin ruang meeting, gw kumpulin anak-anak, cepaaaat... bos lagi..."


Si Sari menaruh 2 telunjuknya di atas kedua telinganya.


Ben capek hati dan jiwa, beberapa masalah krusial harus dia selesaikan, salah satunya harus segera mengganti semua pekerja bangunan karena target kerja yang melenceng jauh, kualitas pekerjaan yang tak sesuai. Sejak awal memang hal teknis sudah menjadi masalah, termasuk penyediaan tenaga kerja, kinerja dan ketrampilan mereka ternyata belum mampu menangani konstruksi besar. Mau tak mau pekerjaan jadi terhambat.


Di kantor Ben jadi pemarah dan imbasnya pada anak buahnya yang jadi sasaran pelampiasan. Josh yang sudah tahu cara kerja Ben hanya bisa memaklumi, tapi karyawan yang lain termasuk mereka yang direkrut di sini jadi takut untuk macam-macam. Termasuk pak Boy, tadinya dia merasa aman karena bossnya si pak Sonny Wijaya gak mungkin melepaskannya. Tapi, keberadaan Ben mengubah itu, si Boy oh Boy jadi ketar-ketir, pak Sonny jadi tahu seperti apa kualitas kerja manager andalannya.


Dan... kekacauan hati boss tambah parah, Keke masih menjadi salah satu masalah krusial lainnya. Pengen Ben racik bom untuk diletakkan di tembok hati si Keke... Renske... Rens yang sudah disayang sampai terbayang-bayang, supaya dia bisa melenggang masuk dengan bebas di sana dan meletakkan segenap cintanya supaya memenuhi seluruh relung hati Keke.


Tapi memang ada yang seperti itu?? Keke tak mempan dengan cara lembut kan... apa harus dikasari, diserang biar menyerah??? Benaya kehilangan daya, ide dan kreativitasnya lumpuh jika tentang Keke. Dan Ben juga merasakan karma untuk dirinya yang juga gak bisa ditaklukkan oleh Ferna, Andien, Jesselyn dan deretan nama lain. Apa yang dia tabur itu yang dia rasa... pedih ternyata.


.


📈


.


"Kak Keke, Titin pulang ya..."


Si Titin pamitan, sudah sore, setiap ada pesanan dessert atau kue dengan jumlah banyak dia akan kerja sampai sore.


"Iya Tin... makasih ya..."


"Iya... dadah Via..."


Ada Via baru turun dari lantai dua...


"Mami Keke... kenapa papi Bipi gak pernah ke sini lagi sih?"


Livia mendekati meja kerja Keke, dia sedang menyelesaikan pesanan lumpia. Keke mengamati sebentar Livia yang duduk di kursi, wajah sedihnya nampak jelas. Hati Keke sedikit perih, kenyataan bahwa anak-anak jadi tergantung pada Ben tak bisa dia tolak. Dia mengusap sebentar kepala anak itu, meski berlapis sarung tangan pink, mengikuti apa yang sering Ben lakukan pada anak-anak termasuk pada dirinya dua kali.


Oh... ada yang menghitung...


"Mungkin sibuk Via..."


"Tapi papi Bipi bilang Via boleh menelpon, Via telpon gak diangkat..."


"Berarti memang sedang sibuk, jangan diganggu ya..."


Sejujurnya dia juga kehilangan, sejak dia menolak keluar bersama, sejak itu Ben gak muncul. Sengaja dia membuat klappertart beberapa kali meskipun gak ada yang pesan karena Ben menyukai itu, tapi Ben gak datang. Sudah berapa lama? tiga atau empat minggu mungkin... gak heran ya anak-anak terutama Via jadi kehilangan, anak ini mudah merasa sedih dengan sesuatu.


"Kenapa manggil om Ben jadi berubah papi Bipi?"


"Papi Bipi yang minta... kemaren itu kita video call sama Mosses dan Mattew, mereka manggilnya papi Bipi."


"Oh..."


"Mosses sama Matthew itu siapa?"


"Ponakannya om..."


"Kayak Via sama Dede?"


"Via dan Dede itu ponakan mami Keke, Mosses dan Matthew itu ponakannya om Benaya..."

__ADS_1


"Tapi... papi Bipi bilang semua anak-anaknya papi Bipi, makanya kita juga harus panggil papi Bipi..."


Eh... maksudnya apa?


Apa memang Ben serius dengan pendekatannya? Tapi buktinya sekarang dia mundur.


Jadi... mau si Bens pendekatan lagi Rens?


Keke menarik napas panjang. Lumpia pesanan sudah siap, tinggal menunggu assisten ibu Wakil Walikota datang mengambilnya. Kue-kue Keke sekarang sudah masuk Rudis Wakil Walikota, terutama lumpia dan klappertartnya sudah rutin tiap 2 kali seminggu masing-masing 250 buah, katanya Bapak dan Ibu Wawali suka banget.


"Itu papi Bipi udah pulang..."


Via tersenyum mengenali mobil Benaya lewat dan terlihat dari pintu samping ruko.


"Mami Keke... boleh Via ke rumah papi Bipi?"


Keke terkejut, anak ini... apa benar-benar kangen Benaya? Pengen banget ketemu Ben?? Dia melihat mata penuh permohonan dari Via...


"Boleh ya???"


"Nanti Via menganggu om... cape kan pulang kerja..."


Keke menjawab pelan, takut penolakannya menyakiti Via.


"Via gak lama, cuma ketemu sebentar, boleh ya??"


Si Via memaksa...


"Baiklah... jangan lama-lama..."


Muka sedih Via sedikit cerah, dia ke depan, tak lama muncul dan menggandeng si Lisya yang sudah berceloteh senang sambil sesekali lompat-lompat...


"Pegi yuma papi Bipi tita? (Pergi ke rumah papi Bipi kita?)"


"Iya... mami Keke kita pergi ya..."


"Teyinti tu... yucuna yucu... mata buyat...🎶"


(Kelinciku amat lucu, matanya bulat..)


"Hati-hati ya... cepat pulang..."




Keke gelisah... sudah dua jam lebih anak-anak di belakang, dia sudah selesai mandi, sudah tidak ada kerjaan lain lagi, pesanan sudah diambil, jualan di ruko bukan urusannya itu kerjaannya Rommel.



Apa dia jemput saja? Kan kangen juga sebenarnya sama si kak Bens bikin hati gemes.. eits, gak kangen, cuma mau bertanya aja penasaran kenapa gak pernah ke ruko lagi....



Keke yang gelisah memandang ruang *chat* hijau, menulis sesuatu, menghapus lagi, menulis lagi, dan... hapus lagi, gak jadi.



Di rumah belakang, Benaya senyum sedih saat Keke batal mengirim pesan, dia juga menutup aplikasi hijau itu.



*Rens... dengan cara apa aku bisa membawamu ke pelukanku*?



Keke turun ke bawah menemui Rommel.



"Mel..."



"Ya kak... kak Bipi tadi kirim pesan, anak-anak udah makan malam, tapi masih pengen main di sana katanya..."


__ADS_1


*Semua jadi Bipi sekarang*.



Kalau anak-anak seperti itu percuma menyuruh Rommel menjemput mereka. Rommel suka lemah dengan keinginan anak-anak. Setelah menarik dan melepas napas panjang, Keke akhirnya melangkah ke belakang. Rasanya seperti apa? Bagaimana bersikap pada Benaya? Terserah nanti...



"Via... Via... Dede... Dede..."



Keke memanggil dari luar, enggan untuk masuk padahal ada sedikit celah di pintu pertanda pintu tak dikunci.



"Via... Via... Dede... Dede..."



Keke memasukkan kedua tangannya di saku celana hitam kain, menunduk melihat ke kaki kanannya yang dia hentakkan pelan di lantai.



"Rens..."



Keke mengangkat kepala, pintu sudah terbuka lebar, dan ada Benaya yang memandang Keke tepat di matanya.



"Anak-anak... "



"Di atas... lagi nonton..."



*Apa beda nonton di rumah sendiri sama di rumah orang*?



"Masuk yuk..."



Ben senyum... Hati Keke berdebar terpaku pada senyum itu, tiga minggu eh sebulan ya tak melihat pandangan hangat itu...



Benaya tak mau menunggu Keke menolak, tangan kanan Keke dia raih dan menarik lembut tubuh yang dia rindukan. Kedatangan Keke membuat Ben menarik kesimpulan apa yang harus dia lakukan sekarang, dia harus sedikit memaksa Keke untuk menerima dirinya. Ben berjalan masuk tak ingin melihat muka penolakan Keke jadi dia tak menoleh ke belakang dan tangan Keke dia genggam erat, melangkah masuk kemudian naik ke lantai atas.



Sementara Keke semakin berdebar, rasa asing itu merambat lagi, dan itu terasa menenangkan sekarang... sanggupkah dia menolak lagi? Sementara genggaman ini begitu nyaman...



.



Cemunguuut Ben, semoga berhasil Benaya...



.



HI... READERS...


Semoga bisa enjoy dengan alurnya...


.

__ADS_1



✴✴✴


__ADS_2