Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 57. Bahagia Semakin Nyata


__ADS_3

Selanjutnya sisa acara syukur ulang tahun papa Ramly berlangsung penuh keakraban. Lody tersenyum puas, dia selalu berusaha menyenangkan hati papa Ramly yang sudah membesarkannya seperti anaknya sendiri. Tak akan mampu dia membalas kebaikan sang papa untuk dirinya.


Banyak orang yang menyebut dia begitu beruntung mendapatkan orang tua yang mengasuhnya seperti papa Ramly. Entah akan jadi apa dia jika dia hidup dengan orang lain. Dibanding kakak kandungnya yang tinggal dengan omnya, hidupnya jauh berbeda dalam segala hal, hidupnya jauh lebih baik dan nyaman.


Papa Ramly dan Keke, sudah sejak tadi ada di dalam rumah bersama si Ben dan keluarganya, dia dapat menduga apa yang sedang diperbincangkan. Papa pernah menyinggung soal Ben yang sengaja datang beberapa hari yang lalu. Sejak beberapa waktu yang lalu dia telah membersihkan hatinya dari keinginan untuk mendekati Keke, dia sadar itu tak benar dan tak mungkin. Tapi tidak seperti sebelumnya dia dengan mudah dapat kembali dekat dengan Inge. Kali ini Inge menjauh, menolak berkomunikasi dan bersikap memusuhinya.


Lody menatap dari kejauhan interaksi Inge dengan salah seorang undangan, seorang pria dengan postur sedang, berpenampilan menarik, good looking. Lody tidak kenal tapi terlihat akrab dengan Inge. Sudah lama mereka bercakap-cakap di deretan bagian belakang area acara hut. Dadanya sesak melihat pemandangan terakhir saat kedua orang itu melakukan foto selfie berdua, jarak mereka terlalu dekat, hampir saling menempelkan kepala.


Lody menuju area lain di samping kafe itu yang masih ditutup untuk pengunjung, ada beberapa gazebo di situ dan ada keluarga dan karyawan perkebunan yang duduk santai di situ. Lody duduk sendiri di sebuah gazebo yang agak tinggi dari tanah, tak ada kursi karena diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin lesehan di lantai kayu itu. Elon mendekati sahabatnya yang duduk di ujung gazebo itu, menyodorkan sebuah gelas berisi saguer manis, minuman low alcohol hasil fermentasi dari air seho atau pohon aren.


"Kenapa muka anda, pak. Tampang kamu kayak kita rugi besar karena gagal panen cabe hehe..."


"Gak kenapa-napa..."


"Anda gak bisa bohong, man..."


Lody menyesap perlahan saguer di gelas kecil itu, kemudian menundukkan kepala menatap kedua kakinya, kemudian menatap kejauhan, pikirannya jauh melewati lanscape gunung Klabat yang terhampar di depan mata, menyesali setiap tindakan terhadap Inge selama ini. Dengan suara rendah akhirnya dia berujar...


"Inge menjauh sekarang, Lon... aku gak tau bagaimana cara ngedekitin dia lagi, kayaknya dia bener-bener marah sekarang..."


"Bener kan aku bilang, kamu aja yang gak mau mengakui perasaan kamu selama ini Lod... Sayang kan kamu sama Inge..."


"Iya... aku sayang dia ternyata. Sakit... saat dia terus menghindar..."


"Nah... kamu rasain sekarang gimana perasaan Inge saat kamu sibuk dengan kelakuan gak jelas kamu senang-senang tebar pesona sama perempuan lain. Sakit kan... Untung aja perempuan yang kamu suka kali ini anaknya boss Ramly udah punya pacar... jadi kamu gak semakin terjerat sama kelakuan minus kamu lagi, bisa cepet sadar. Kamu sih ya... mengabaikan apa yang baik yang sudah kamu punya, hanya karena hal-hal bodoh."


"Jangan ceramahin aku lagi..."


"Eh... tapi apa yang aku bilang gak salah kan? Man kata orang bijak ya, guru terbaik adalah kesalahan terakhir yang kamu lakukan... Makanya tobat man, kemudian usaha kejar dia lagi, rebut hatinya kalau emang beneran sayang..."


"Gimana aku memulai lagi Lon..."


"Lah... aku gak tahu, kamu yang lebih kenal siapa Inge. Deketin aja dengan cara yang berbeda dari sebelum-sebelum ini, tunjukkan kali ini kamu sungguh-sungguh..."


Lody menyimak dengan tertunduk perkataan Elon. Sahabatnya ini jauh lebih dewasa setelah punya keluarga. Dan hidupnya benar-benar lurus setelah menikah dan punya anak. Lody akui dia benar.


"Lon... istri kamu butuh kamu kayaknya..."


Lody menunjuk dengan dagunya ke arah Greity yang sedang hamil besar, terlihat kerepotan menangani anak kecil.


Kadang orang lupa belajar dari pengalaman, berulang kali terjerat pada masalah yang sama. Lody banyak merenung akhir-akhir ini, yang dia temukan bahwa dia tidak menghargai rasa sayang Inge untuk dirinya. Dia baru menyadari kenyamanan dalam dirinya selama ini karena ada Inge di sisinya. Inge yang begitu pengertian, Inge yang begitu peduli padanya. Sekarang dia kehilangan itu, banyak kegembiraan dalam dirinya karena Inge sebenarnya.


Lody berdiri, melambai ke arah Elon yang sedang mengganti baju anaknya di gazebo sebelah. Dia mau cari Inge berharap ada peluang untuk mereka berbicara seperti dulu. Benar kata Ma Ade Noniek, ada penyesalan menyusup di hatinya sekarang.


.


☘


.


Di dalam rumah kecil itu, di ruang duduk yang hanya berukuran 3x4, pembicaraan informal soal Ben dan Keke sedang berlangsung.


__ADS_1


"Ben... Manokwari itu jauh... kenapa harus tugas luar lagi sih?"


Mama Litha baru tahu soal kerjaan Ben yang hampir selesai di Manado dan dalam beberapa minggu ke depan harus berangkat ke ujung timur negara ini.


"Itu bagian dari pekerjaan aku, ma..."


"Tapi kayaknya dulu kamu lebih banyak stay di Jakarta kan..."


"Mace... kita fokus soal rencana mereka berdua dulu, jangan bahas di sini keberatan kamu sama Ben..."


Mama Litha diam. Jadi teringat maminya di Semarang, teringat dulu bagaimana maminya mengeluh saat anak-anak satu demi satu meninggalkan rumah. Sekarang sang mami malahan tinggal hanya ditemani seorang saudara jauh yang sama-sama janda.


Ben melanjutkan topik mereka yang sempat terpotong dengan keluhan si mama Litha.


"Maaf jika saya seperti terburu-buru dengan rencana ini, om... saya berkeinginan hubungan saya dengan Rens sudah lebih kuat sebelum saya pindah ke Manokwari..."


"Ben... minta bossmu pertimbangkan lagi, di perusahaan itu bukan hanya kamu kan yang bisa kerja... mama tidak mau kamu tinggal jauh lagi dari rumah..."


Mama menimpali lagi, masih tak menerima anaknya harus pergi jauh dari rumah lagi.


"Mace..."


Papa bersuara tegas sambil tangan sedikit menekan paha istrinya yang belum berhenti protes.


"Begitulah orang tua pak Fredrik... tidak rela jauh dari anak-anak. Saya bersyukur bisa bertemu Ike lagi dan untungnya tinggal tidak begitu jauh, jadi kapan saja saat saya rindu bisa bertemu."


Papa Ramly meraup jemari Keke yang duduk di sampingnya dan menggenggamnya. Papa Ramly kemudian melanjutkan...


"Saya juga berharap yang sama, setelah kalian menikah, kalian tidak berjauhan dengan saya, belum puas saya menebus hari-hari tanpa melihat Ike... 21 tahun saya tidak melihat dia..."


Tenang beberapa saat. Keke sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik. Dia telah menyetujui saat Ben meminta mereka melangkah lebih jauh memastikan arah hubungan mereka. Dan dia tak memikirkan ide apapun sejak tadi, selain mengikuti niat tulus sang kekasih. Tapi, dia juga tak bisa tinggalkan kota ini, bukan hanya karena papa dan keluarganya yang ada di sini, juga karena usahanya, dan rasa nyaman yang dia dapati di kota ini.


Mereka berdua belum bicara soal di mana mereka akan menetap setelah menikah. Ben hanya fokus untuk meresmikan hubungan mereka.


"Kita jangan bicara itu dulu, yang mendesak sekarang adalah soal acara Tunangan Ben dan Renske. Kita orang tua harus membebaskan anak-anak menyusun dan memutuskan sendiri soal mereka akan bagaimana dan di mana setelah menikah."


Papa Frederik memecah keheningan.


"Saya sudah bicara dengan Ben... anak saya sedikit kurang ajar, dia meminta sendiri Renske pada pak Ramly, dan saya minta maaf tidak bisa melamar secara formal seperti seharusnya. Ben didesak waktu, dia meminta acara Tunangan diadakan sebelum dia ke Manokwari."


Papa memperbaiki posisi duduknya, duduk tegak dengan dua tangan mengunci.


"Pak Ramly, saya sebagai papanya Benaya Petra Manoppo melamar putri bapak, Renske Supit, untuk menjadi istri anak saya. Mohon maaf jika lamaran ini bersifat dadakan, dan tidak mengikuti adat kebiasaan kita, sikonnya seperti itu. Mohon maaf juga kami datang dengan tangan kosong, saya sadar tidak selayaknya seperti ini. Semua hal berkaitan dengan lamaran nanti kami sertakan pada acara Tunangan nanti. Semoga pak Ramly dan Renske bisa memahami hal ini."


Keke berdebar mendengar kalimat resmi dari papa Ben. Dia dilamar jadi istri seorang Benaya. Matanya terpaku pada Ben yang juga sedang menatapnya.


"Saya, papanya Renske Eunike Supit menerima dengan sukacita niat hati keluarga nak Benaya Manoppo untuk anak perempuan saya ini. Maaf juga tidak bisa menerima dengan baik dan benar kedatangan bapak dan ibu seperti kebiasaan kita. Yaa... kita menyesuaikan dengan keadaan ya... harusnya ada saksi-saksi. Tapi tak apa, saya melihat kedua anak kita sudah saling mencintai. Saya bersyukur Ben punya niat tulus terhadap Ike. Semoga rencana kita selanjutnya bisa berjalan dengan baik."


"Terima kasih... pak Ramly... terserah pak Ramly acara Tunangan kapan diselenggarakan. Tapi saya mohon secepatnya saya tahu tanggal berapa supaya saya bisa mengurus cuti, atau pelaksanaannya akhir minggu seperti ini..."


"Oh... baik. Itu Ike dan Ben saja yang pilih tanggalnya." Papa Ramly menatap Benaya.


"Nanti kami berdua diskusi om, yang pasti waktu yang saya punya 1 bulan sebelum ke Manokwari. Mungkin saya memanfaatkan waktu cuti 2 minggu sebelum bekerja lagi."

__ADS_1


"Oh... baiklah."


Papa menganggukan kepala tanda menerima. Sementara papa Frederik menghembuskan napas lega. Ternyata bukan hanya Ben dan Keke, beliau gugup juga dengan situasi ini.


"Selanjutnya kamu yang urus Ben, kamu bukan anak kecil, umur hampir 32, papa dan mama tidak akan campur tangan, kamu tinggal bilang apa yang kamu butuh. seharusnya papa sudah punya banyak cucu darimu..."


"Pace... kok lepas tangan sih... masa kita tidak melakukan sesuatu, pace ini ada-ada saja, itu penting buat Ben... gimana sih..."


"Bukan lepas tangan. Dia mampu mengurus kerjaannya, masa tidak mampu mengurus sendiri urusan pribadinya."


"Mama... nanti kita bicara di rumah ya ma, soal itu..."


Ben segera menengahi mama papa yang tidak melihat sikon. Kalau dibiarkan mereka akan terus saling bantah sampai salah satu akhirnya bosan kemudian mengalah dengan terpaksa. Om Ramly senyum-senyum di tempat duduk sambil mengusap tangan anaknya yang belum dia lepaskan dalam genggamannya.


.


Sore telah sempurna ditandai redupnya cahaya mentari dan semburat cahaya jingga yang nampak indah dari puncak Green Hills ini. Mulai sepi, kebanyakan keluarga sudah pulang, pengunjung lokasi wisata ini pun tampaknya tak seramai biasanya. Inge masih menutup lokasi acara karena belum mau membongkar dekorasi. Banyak karyawan kafe yang tidak terlalu sibuk sekarang memanfaatkan venue acara itu dengan berpose di tempat itu.


Para orang tua sekarang duduk santai di salah satu gazebo. Papa Fredrik langsung jatuh cinta dengan lokasi ini dan berbincang soal ide-ide mengembangkan lokasi penuh sejuta pesona ini. Dan staff Ben yang ikut diundang benar-benar memanfaatkan kesempatan pesiar ini dengan baik. Sekarang mereka ada di dalam kafe menikmati suguhan cemilan dan minuman gratis Inge si boss tempat ini.


Ben dan Keke berjalan berdua menyusuri sudut lain tempat penuh magic ini. Semua sisi tempat ini begitu memukau.


"Sweety..."


"Iya..."


"Kita akan tinggal berjauhan setelah ini, mungkin setelah nikah juga. Aku gak tahu berapa lama aku di sana. Aku perlu lihat pekerjaannya dulu baru bisa menentukan rencana aku selanjutnya. Yang pasti aku sudah punya target sendiri... tiga atau empat bulan aku bereskan tahap awal pekerjaan kemudian kita nikah. Nikah di sini aja. Setelah satu tahun aku kerja di sana aku pengen resign. Sebetulnya bisa resign sekarang dan mulai usaha sendiri aja di sini, tapi aku hutang budi sama boss, gak enak langsung minta berhenti begitu aja. Terlebih alasan dia mengambil proyek ini karena ada aku. Jadi aku ikutin boss dulu. Kamu bisa kan sayang... kita pisah sementara waktu..."


Keke tak menjawab. Semua yang ada di pikirannya sudah diutarakan Ben dengan gamblang.


"Rens..."


"Aku... terserah kak Bens aja..."


Ben berhenti. Mereka berdiri bersisian menghadap bagian timur dengan pemandangan eksotik sore hari landscape gunung Klabat. Bukan hanya tangan yang saling bertaut, tapi keinginan hati mereka juga kini menyatu sekarang. Ada rasa hangat, rasa damai, tenang, aman dan nyaman berasal dari hati yang dipenuhi cinta dan keindahan sore ini.


"Aku belum pernah senyaman ini Rens... kamu membuat kebahagiaan itu hal yang nyata buat aku..."



.


πŸ€


.


✳


.


Happy reading...


(Aku nulis di puskes guys... antri nunggu surat pengantar ke apotik untuk obat rutin mama aku.... Semangat ya para mama yang baca ini....πŸ₯°)

__ADS_1


Blessing πŸ˜‡


(Foto saat sunrise di lokasi... ☺🀭)


__ADS_2