Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Bab. 37. Tak Apa Seperti Ini?


__ADS_3

Nasi goreng sudah lama dihabiskan Benaya, mereka berdua masih duduk berhadapan di meja makan itu. Anak-anak sudah bangun dan sudah sarapan dan sekarang duduk di depan TV.


"Papa kandung aku datang ke sini mencari aku. Gak menyangka... papa meminta kesempatan untuk jadi papa aku lagi. Aku sepertinya melihat kesungguhan papa... gak salah kan kalau aku menyambut tawaran papa..."


"Oh gak sama sekali, dia papa kamu, dia berhak, kamu juga..."


"Agak aneh untuk aku sebenarnya, seseorang tiba-tiba datang dan dalam dua hari aku punya papa..."


"Kenapa aneh? Hubungan darah itu sangat kuat Rens... lama-lama kamu akan terbiasa. Kamu menginginkan juga kan ada papa di hidup kamu?"


"Sekarang? Mungkin iya... aku jadi ingat papi. Sepertinya papa juga sayang aku..."


"Masih meragukan itu?"


"Baru kemaren dia ada, belum bisa percaya sepenuhnya, masih banyak pertanyaan aku juga tentang papa..."


"Gak ada papa yang gak sayang anaknya, Rens..."


"Ada kok, buktinya anak-anak. Kak Bens masih ingat kan terakhir bertemu papa mereka seperti apa..."


"Jangan cepat menyimpulkan, mungkin ada sesuatu dibalik sikapnya waktu itu, kita gak tau kan..."


"Tapi, sejak pisah dengan kak Boni dia gak pernah datang lihat anak-anak. Pas ketemu malah gak mau mengakui sebagai papa mereka..."


Keke memberengut, rasa marah seolah muncul lagi mengingat sikap kasar Rocky terhadap Via.


"Udah... pagi-pagi kamu udah marah-marah aja."


"Apa... papa aku juga dulu seperti itu?"


Keke bertanya lirih seolah pertanyaan itu hanya untuk dirinya sendiri.


"Aku gak tahu sayang, tapi seandainya seperti itu, itu sudah lalu kan... Mungkin dulu dia sebenernya tidak ingin meninggalkan kamu, mungkin ada masalah dan hal lain yang terjadi. Sekarang dia datang dan mengakui kamu anaknya dan mau hubungan kalian menjadi baik. Itu yang penting Rens..."


Keke diam, merenungkan apa yang terjadi dalam hidupnya. Tadinya dia merasa tidak perlu seseorang seperti Ben, tidak ada dalam kamusnya untuk berpacaran. Tapi kemudian dia tak bisa menolak kehadiran Ben. Papa juga sama, datang tiba-tiba masuk dalam hidupnya. Ini kenyataan hidupnya sekarang, tak pernah dia bermimpi atau berangan bisa seperti ini. Mengijinkan cinta Ben menjadi bagian dalam hidupnya, mempermudah dirinya menerima uluran tangan kasih sang papa.


"Semoga suatu saat juga papanya anak-anak menyadari kesalahannya."


Ben melanjutkan. Ben jadi ingat papanya, si papa Fredrik. Hubungan mereka jauh dari harmonis mungkin karena sama-sama lelaki dengan ego masing-masing. Tapi sejauh ini papanya selalu peduli padanya dan sejauh yang dia tahu papa tipe setia pada istri dan sayang anak cucu.


"Keke... tante masak aja ya, gak usah beli makanan. Masih ada sisa ikan di freezer, mana sayuran banyak sekali itu..."


Tante Lenda menginterupsi Ben dan Keke yang sedang diam dalam pikiran masing-masing, bersuara dari ujung tangga.


"Ini hari libur tan... gak usah lah..."


"Tante bingung mau ngapain, masak aja ya, gak apa-apa. Sekalian mau bersihin semua bahan di karung itu..."


"Terserah tante deh..."


"Iya. Ben mau dimasakin apa?"


"Wah... tante, boleh ya request yang saya suka?"


"Boleh..."


"Masak ikan woku tan... kak Bens sukanya itu..."


"Eh... udah hafal kesukaan aku ya..."


Ben senyum-senyum senang menatap kekasihnya.


"Udah... udah ada setahun kan makannya di sini..."


"Haha... iya juga..."


"Baik... Yica sama Via... mau makan apa nanti?"


Tante mendekati Lisya yang tiduran di lantai sambil nonton channel anak di TV.


"Yica mau tentati... ten-ta-ti..." (Kentucky)


"Gak ada daging ayam di freezer, ikan aja kali ya..."


"Iya tan... dia sih gak peduli isinya apa yang penting kriuknya..."


Tante Lenda turun ke lantai bawah lagi.


"Rens... nanti siang kamu mau pergi?"


Benaya akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak tadi belum tersampaikan.


"Iya... papa mengajak aku berkunjung ke tempat dia..."


"Sendiri?"


"Iya... Rommel kalau minggu suka ke tempat pacarnya."


"Aku ikut ya?"


"Ehh? Gak cape, baru aja sampe..."


"Perginya nanti siang kan, masih sempat tidur dulu, ngantuk memang... gak bisa tidur di pesawat tadi, aku dapat sit di belakang agak bising."


"Oke kalau kak Bens mau ikut, gak apa-apa."


"Perginya pakai mobil aku ya..."

__ADS_1


"Ehh... terserah."


"Alright... aku ke rumah ya, mau mandi sekaligus mau nyuci ada pakaian kotor yang aku tinggalkan kemaren... nanti berangkat jam berapa?"


" Jam satu-an gitu, setelah makan siang. Makan di sini aja..."


"Pasti lah, udah dimasakin tante Lenda..."


Tangan mampir sebentar di kepala Keke, kemudian Ben beranjak.


"Yica, Via... papi Bipi mau pulang..."


"Nati cini lagi tan?" (Nanti ke sini lagi kan)


"Iya Yica..."


.


.


Mama menelpon si Benaya yang baru saja membuka pintu rumahnya.


📱


"Ya... mama..."


"Udah sampe rumah?"


"Baru aja..."


"Kamu gak bilang teman-teman kamu ya udah ke Manado lagi?"


"Iya... kenapa?"


"Mereka nyariin kamu ke sini, baru aja pulang..."


"Siapa?"


"Mama gak ingat nama mereka. Mama heran juga kamu tiba-tiba langsung berangkat. Kamu bilang senin baru pulang kan... papa marah-marah kamu gak pamit. Ada apa sebenarnya Ben?"


Apa kasih tahu mama sekarang? Tadinya maksud kepulangannya antara lain dia mau memberi tahu orang tua soal Renske. Kesibukan mama membuat Ben menunda pembicaraan itu, baru aja mau ngomong saat minum kopi itu, eh mama kasih info soal Renske yang ulang tahun juga.


"Rens ulang tahun kan... pengen aja kasih ucapan langsung ke orangnya..."


"Memangnya harus seperti itu? Ada hp..."


"Ini pertama kalinya buat aku jadi pengen seperti itu..."


"Ben... kalian punya hubungan?"


"..."


"Iya ma... kami pacaran..."


"Ben?? Renske istri orang!"


"Eh... bukan ma, Rens bukan istri siapa-siapa..."


"Kamu yang ngomong ke mama waktu itu..."


"Aku salah, waktu itu aku belum tahu..."


"Kamu serius dengan Renske?"


"Iya ma, udah bukan waktunya aku main-main..."


"Pikirkan dengan baik, jangan gegabah. Udah, nanti kita bicara lagi."


.


Mama menutup telepon. Dia shock dengan ungkapan anaknya. Dia memang pernah berharap Renske jadi menantu saat Vosye masih hidup. Tapi sekarang situasinya berbeda, keadaan Renske juga berbeda. Mungkin iya dia single sekarang tapi dengan dua anak? Ada perasaan tak nyaman merasuki hati mama Talitha.


Benaya meletakkan ponsel di meja makan dengan sedikit tanya, mama sikapnya agak beda... nanti aja bicara lagi...


Dia masuk ke kamar mandi ingin menyegarkan diri, kepala mulai terasa tak nyaman, setelah mandi mungkin bisa lebih fresh untuk tidur.


.


Keke gelisah, tiga kali panggilannya tidak dijawab Benaya.


"Mel... tolong kak Keke, liatin kak Bens ke rumahnya, udah siang belum datang, dia mau ikut apa gak sih?"


"Kak Keke mau ke mana?"


"Mau ke tempat papa Ramly, udah janjian sama kak Bens..."


"Oh... Bentar kak..."


Beberapa menit selanjutnya...


"Kak... tidur kayaknya, pintu rumah terbuka sih tapi aku panggil berkali-kali gak ada jawaban..."


Keke diam sejenak, akhirnya memutuskan berangkat sendiri. Ini juga baru di titik awal hubungan dengan papa akan berjalan, mungkin masih canggung membawa dan memperkenalkan Benaya.


"Mel, kak Keke bawa mobil ya..."


"Iya iya... aku nanti bawa motor aja..."

__ADS_1


.


Perjalanan satu jam ternyata buat Keke yang belum terlalu mengenal jalan ini, dia jarang pergi-pergi apalagi arah luar kota. Agak sulit mencari tempat papa di daerah perbukitan Tomohon, ada banyak jalan, apalagi signal berkali-kali hilang.


"Pa... signal aku gak bagus..."


"Ike sama siapa?"


"Sendiri..."


"Tunggu di sana aja ya, nanti dijemput Lody, patokannya apa biar gampang?"


"Ada jalan simpang ini, Ike baru lewat tempat wisata Puncak Rurukan..."


"Oh udah dekat, tunggu sebentar ya..."


Tak berapa lama mobil hitam yang dia kenali sebagai mobil sang papa berhenti. Lody dan seorang lagi turun dari mobil. Keke membuka kaca jendelanya.


"Hai... Ike..."


"Eh... kak..."


"Turun aja, pindah ke mobil kita, nanti mobil Ike dia yang bawa... "


"Ehhh?"


"Iya... ayo..."


Keke turun dengan perasaan jengah, masih sungkan menerima keramahan Lody. Seseorang yang lain yang mau atau tidak masuk juga dalam lingkaran hidupnya sekarang. Kakak angkat, sebuah status yang akan menghubungkan mereka. Terlebih nampaknya dia tak menjaga jarak seperti pertemuan sebelumnya, kali ini tersenyum manis dan... memanggil dia dengan Ike, nama kecilnya.


Lody membukakan pintu untuk Keke, di depan, masih tersenyum. Senyum Keke pasti canggung, dia jarang berinteraksi ramah dengan orang.


"Gimana... cape ya ke sini?"


Lody mengajak Keke bicara saat mobil bergerak.


"Eh... iya..."


"Baru pertama sih ya... papa suruh kak Lody jemput Ike sih, tapi ternyata Ike pengen datang sendiri..."


"Iya..."


"Kapan-kapan kalau Ike ke sini lagi, biar kak Lody yang jemput..."


Keke tidak menjawab lagi, itu tadi sebuah penegasan bukan sebuah pertanyaan. Dia menyebut dirinya kak Lody, masih aneh terasa tapi begitu kenyataannya, mungkin harus membiasakan diri saja biar gak canggung terus.


Mobil masuk ke sebuah persimpangan.


"Dari depan sini, sekitar 12 hektar itu milik papa... macam-macam yang ditanam di sini. Semua yang kita bawah buat Ike itu hasil pertanian kita. Nanti kalau Ike perlu bilang ya... nanti kak Lody kirim..."


Pria ini berbicara lancar tanpa ditanya, seolah mereka sudah lama saling mengenal. Keke menangkap dengan ekor matanya bahwa dia juga berani menatap Keke. Kakak seperti apa dia ya?


Mereka tiba di puncak bukit, sejak dari simpangan tadi jalanan sudah mendaki.


"Nah... di sini papa tinggal. Di sebelah kanan itu tempat tinggal karyawan, sebelah kiri tempat kak Lody dan papa..."


Keke turun dari mobil dan mulai memperhatikan sekeliling. Udara dingin pegunungan langsung terasa di kulit Keke, dia hanya mengenakan t-shirt lengan pendek dan celana kain selutut.


"Ayo... Ike..."


Keke mendapati lagi senyum si kakak. Mhmm... kakak angkatnya ganteng juga. Wah... gak apa-apa mengakui sebuah fakta ya... Sejak mengenal Ben dia mulai suka memperhatikan lagi bahwa lelaki itu ada yang ganteng, ada yang menarik, ada yang standar, secara selama ini Keke hanya tahu membedakan bawang merah bawang putih bawang bombay. Punya pacar yang wajahnya sempurna tanpa sadar membuat dia suka membandingkan wajah lelaki yang dia lihat...


Papa sudah menunggu di depan pintu rumah. Senyum lebar menghiasi wajah itu. Tadi pagi dia hanya mencoba mengajak Keke untuk datang, dan ternyata Keke menyambut dengan baik. Ini membahagiakan buat pria kepala lima ini, hidupnya tak akan sepi lagi. Lody hanya memberi penghiburan buat dirinya tapi tidak mampu mengisi kekosongan saat terpisah dari istri dan anak 21 tahun yang lalu.


"Ike... akhirnya kamu ke sini..."


Papa menyambut Keke dengan pelukan, Keke tak sungkan lagi menerima itu, ada usapan sayang di kepalanya, ini menjadi sesuatu yang dia nikmati hari-hari ini, dua pria kini melakukan itu padanya. Meresapi perasaan sayang itu nikmatnya tak terlukiskan.


"Ike sudah makan?"


"Eh... belum sih..."


"Oh... papa juga belum makan, papa memang menunggu Ike datang. Lod... bilang Noniek kita makan sekarang..."


"Iya pa..."


Keke langsung merasa lapar saat mendengar kata makan, tadi dia menunggu kak Bensnya untuk makan siang sama-sama, akhirnya dia melupakan makan siangnya karena Ben gak nongol-nongol.


"Ayo nak... kita ke dalam..."


Papa meraih tangan Keke membawanya masuk ke dalam rumah. Rumah yang besar, nampaknya baru selesai dibangun, model minimalis memiliki beberapa kamar, dan penataan interior yang apik dan berkelas. Sayang rumah ini di tengah perkebunan. Tangan saling melepas kemudian...


"Tunggu sebentar ya nak, sudah selesai masak, tinggal mengatur saja..."


"Iya..."


Di samping ada teras yang besar, Keke mengarahkan kakinya ke sana. Angin dingin kembali menusuk, jadi menyesali pilihan pakaian yang digunakannya. Keke hanya berdiri di depan pintu. Dan pemandangan dari teras itu menakjubkan... Keke akhirnya melangkah ke luar. Baru dua langkah dia berhenti, tak tahan dengan terpaan angin. Saat hendak berbalik...


"Di sini dingin Ike..."


Dengan tersenyum manis Lody memakaikan sebuah sweater rajut warna putih ke tubuh Keke, merapikan tanpa canggung, tapi Keke jadi risih. Kepalanya berputar mencari sang papa, ada di dekatnya, tesenyum juga.


"Papa lupa kasih tahu Ike kalau di sini dingin..."


Keke terpaku... ini tak apa? Diperlakukan seperti ini?


.

__ADS_1


.


✴


__ADS_2