Fate Or Destiny

Fate Or Destiny
Eps. 24. Mulai dari Sana


__ADS_3

Keke jadi merasa aneh dirinya membiarkan Benaya menariknya tanpa perlawanan. Begini rasanya saat tangan digenggam seseorang, hangaaaat. Dia tak pernah merasakan ini sebelumnya, ini sesuatu yang baru, tindakan seseorang yang membuat pori-pori kulitnya seolah terbuka, terlebih di bagian wajah, otaknya menerima kiriman signal aneh yang menentramkan. Ada rasa indah terkirim di seluruh tubuhnya.


Saat menaiki tangga, tak ada suara anak-anak terdengar. Pas sampai di lantai dua, perhatian Keke menyapu seluruh ruangan, TV besar di dinding tidak hidup, dan tak ada jejak dua bocah di sana. Ada sih snack yang diletakkan di sebuah wadah di atas meja, sudah terbuka berarti sudah pernah dimakan.


"Kak... anak-anak mana?"


Tangan belum terlepas. Ben berbalik menatap Keke di belakangnya, senyum belum lepas dari wajah itu. Keke harus akui senyum itu terlalu mempesona sekarang. Dulu yang paling sering dia lihat adalah ekspresi marah seorang kak Benes untuknya.


Ben membuka sebuah pintu... itu kan pintu kamar, anak-anak di dalam situ? Astaga... Keke terhenti di depan pintu yang terbuka, menyaksikan dua ponakannya yang satu duduk di sebuah single sofa sedang menonton di ipad, satu lagi sedang menonton TV dari atas tempat tidur.


"Dede... Via... ayo pulang..."


"Mami Keke... sebentar lagi filmnya belum selesai..."


Via yang duduk di sofa menyahut tanpa memandang Keke. Si kecil lain lagi...


"Mami Thethe, liyat... Yica yompat-yompat... (Lihat, Lisya lompat-lompat)."


Anak itu melompat dengan bebas di atas tempat tidur. Waduuuh Yica... spontan Keke melepas tangannya dari genggaman tangan Ben dan menuju ke sisi tempat tidur Ben.


"Dede... jangan begitu... berhenti..."


"Papi Bipi... boyeh tan?"


Ben hanya tertawa memandang Lisya dan Keke, terlebih melihat ekspresi Keke.


"Boleh... Rens, sini deh... biarin aja anak-anak, toh belum waktu tidur. Sini..."


Tangan Keke kembali ditarik Ben, kali ini Ben membawa Keke keluar lewat pintu yang lain menuju teras. Di luar Ben membawa Keke ke sisi favoritnya. Berdiri berdua di sisi depan teras. Kesadaran penuh menyebar ke sekujur tubuh Keke, dan masih belum terbiasa berdiri berdekatan dengan tangan digenggam seseorang maka perlahan dia menarik tangannya. Ben melirik sekilas.


Angin malam terasa menerpa kulit, dingin. Tapi hatinya beda, sesuatu sedang menghangatkan hatinya. Kali yang kedua di masa sekarang berada di suatu tempat hanya berdua dengan Ben. Dia merasakan ini lagi, ada seseorang di samping dirinya, menawarkan sesuatu padanya. Lebih dari enam bulan dia telah melihat tawaran itu, kadang samar kadang begitu jelas. Dalam waktu yang sama dia mencoba menolak itu, dia coba bertahan bahwa dia tak butuh seorang pria di hidupnya.


Tapi apa yang dia lihat dan rasakan dari perlakuan Ben terhadap dirinya dan dua ponakannya, kehadiran Ben mengoyak rasa nyaman semu dalam dirinya, ternyata ada sepi yang begitu dalam di hatinya. Sepi yang terasa saat Ben tidak ada.

__ADS_1


"Aktivitas kamu setiap pagi di lorong itu terlihat jelas dari sini..."


Ben berkata dengan suara yang rendah tapi jelas. Kedua tangannya memegang railing pagar itu. Keke senyum kecil, dia beberapa kali mendapati perhatian Ben padanya berdiri di tempat yang sama ini.


"Sebelum tahu itu kamu, aku udah sering lihat kamu dari sini..."


Keke balik melirik, tak tau bagaimana menanggapi Ben. Posisi yang lumayan dekat menabuh sesuatu di dadanya kini. Rasa apa ini?


"Sebelum tahu itu kamu... aku menunggu di sini dan belum masuk ke dalam sebelum melihat kamu..."


Keke mulai gugup... apa ini yang dia bilang waktu itu ingin dia omongin sama Keke...


"Sebelum tahu itu kamu... aku sudah penasaran sama kamu, sekaligus kagum kamu begitu mandiri dan bekerja begitu keras... waktu itu aku tahu Yica dan Via anak kamu... masih muda punya dua anak dan begitu kuat dan gigih dengan hidup kamu... "


Ben berhenti sejenak, dia berdiri menyamping menghadap Keke, satu tangan bersandar di railing pagar teras. Keke masih menunduk dada semakin bergemuruh menanti kalimat selanjutnya dari Benaya.


"Sebelum tahu itu kamu, Rens yang aku kenal, aku sudah tertarik padamu... hanya melihatmu dari jauh, tapi sosokmu begitu menggangguku, terasa damai saat melihat kamu dari sini..."


Keke mengangkat mukanya dia memandang wajah Ben sekarang, mengetahui Ben bahkan sudah tertarik padanya jauh sebelum menyadari siapa dirinya, itu sesuatu yang tidak biasa. Ketertarikan muncul biasanya saat saling memandang muka, saat sudah saling kenal, tapi ini... Keke tersentuh dengan hal itu.


Keke terpaku... Benaya mencintai dirinya, dia baru mengatakannya kan... tapi, apa dia juga punya rasa yang sama untuk Benaya? Dia terlalu bodoh untuk hal ini.


"Reenss..."


Tangan kanan Benaya menyentuh pipi kirinya. Keke mengerjapkan matanya. Sentuhan Ben, seperti seseorang yang sedang menyalurkan rasa sayang, dia merasakan itu, rasa yang indah langsung meresap di seluruh kulitnya.


"Rens, aku cinta kamu... boleh aku berada di samping kamu?"


Keke tak mampu berkata-kata. Ben sebenarnya ingin sebuah jawaban atau paling tidak sebuah anggukan. Tapi Ben tahu Keke tak menolak lagi sekarang. Tangannya memperbaiki geraian anak rambut di dahi Keke. Meneruskan melakukan itu. Mata Ben telah melihat Keke yang membuka hatinya, tak menolak sentuhannya. Bahagia Ben tak terkira.


"Kita jadi kekasih ya mulai sekarang..."


Keke diam, tapi dia menikmati sentuhan Ben di wajahnya. Ben mendekat, walau gugup Keke tak menghindari kedekatan itu. Ben tersenyum dan menatap sayang, sekarang dua tangannya mengusap lembut kedua pipi Keke.

__ADS_1


"Kita pacaran ya... mmh, berikan senyummu aja untuk menjawab permintaan aku, aku kangen melihat sesuatu di sini..."


Ben menusuk lembut kedua tempat lesung pipit Keke...


"Please... senyum buat aku..."


Malu-malu Keke menarik bibirnya, sebuah senyuman yang Ben minta membuat lekukan itu kini terlihat. Ben tertawa bahagia...


"Hahaha... makasih ya, sudah terima aku, makasih juga sudah memperlihatkan ini khusus buat aku malam ini..."


Keke kemudian berpaling, kembali menghadap ke arah depan, memandang menembus kegelapan malam. Dalam diam dia mencoba mencerna apa yang terjadi, ini nyata. Tujuh tahun yang tak saling berjumpa ternyata bisa membuat perbedaan yang besar bagi mereka berdua. Ben meraih tangan Keke lagi, Keke membiarkan, ini menyenangkan.


"Rens... gak ingin mengatakan sesuatu? Kamu terlalu diam. Aku juga ingin mendengar suaramu..."


"Aku harus bilang apa, kak Bens hanya minta aku menjawab dengan senyum tadi..."


"Hahaha... ya kamu tak mau menjawab sih... aku suruh senyum aja..."


Keke kembali diam juga di sisi Benaya.


"Rens... sayang aku gak sih?"


Keke memandang Benaya. Dia juga tak mengerti apa yang dia rasa untuk seorang Benaya.


"Aku gak tahu, yang aku tahu aku merasa kehilangan saat gak lihat kak Bens. Dan saat ini aku merasa nyaman di samping kak Bens... emh apa itu bisa disebut rasa sayang?"


"Ya... kamu bisa mulai dari sana..."


Benaya perlahan merengkuh pundak Keke mendekat padanya.


Asal kamu sudah membuka hati, itu cukup, perlahan kamu akan menyadari perasaanmu untuk aku...


.

__ADS_1


.


🍄🍄🍄


__ADS_2