
Keke masih menangis, pertama kali menangis lagi dengan kencang seperti ini tanpa bisa dia tahan. Terakhir seperti itu saat di hadapan jasad sang mami, tapi saat itu tangisannya adalah karena kesedihan dan kehilangan. Sekarang, dia menangis dalam sejuta rasa, seperti mendapatkan sesuatu yang lama hilang, menjawab pertanyaan sejak dia kecil apa papa kandungnya sayang padanya, mengingat dirinya?
"Ike... anakku..."
Sang papa juga ikut menangis lagi, ingin sekali dia memeluk dan menenangkan anaknya.
"Pa... hkkszz... pa... hiikzzs... papa... hikkss"
Akhirnya dengan terbata-bata Keke mengucapkan kata papa di sela tangisnya. Om Ramly yang mendengar itu memandang lekat anaknya yang juga tengah memandang padanya penuh airmata. Pria itu berdiri dan berpindah di kursi sebelah Keke...
"Ike anak papa... papa boleh peluk Ike?"
Keke menunduk terisak dan menggeleng pelan.
"Ke... papa kangen Ike... sudah lama sekali ingin melakukan ini, melihat dan memeluk anakku sendiri..."
Oh... papa... sejurus kemudian Keke menghambur ke dada sang papa, disambut dengan segenap perasaan oleh papanya. Keduanya menangis bersama. Orang-orang yang menyaksikan termasuk orang-orangnya Keke yang berdiri di tangga ikut menangis dalam haru. Hidup memang seperti drama.
Om Ramly mengusap sayang kepala anaknya dan memberanikan diri mengecup puncak kepala putrinya itu...
"Papa sayang sama Ike. Terima kasih nak... mau menerima papa. Ike memaafkan papa?"
Keke menganggukkan kepala dalam pelukan papanya.
"Oh praise God, papa senang Ike... papa senang... oh God..."
Keke akhirnya berani melingkarkan tangannya si tubuh papanya. Dia merasakan lagi kasih sayang seorang papa... dari papi Rein dulu dan sekarang dari papanya sendiri, papa kandungnya.
"Mami Thethe napa nayis (kenapa menangis)..."
Lisya keluar dari kamar, baru bangun dan heran melihat mami Kekenya menangis. Ekspresi mukanya pun sudah mulai ikut menangis. Tante Wisye dengan sigap mengambil Lisya memeluknya lalu turun ke bawah.
"Yica liyat mami Thethe duyu... huaaah..."
Keke keluar dari pelukan si papa, hendak berdiri mencari Lisya, tapi tante Lenda memberi isyarat tidak usah sebelum turun lagi. Tadi jiwa kepo mereka muncul saat mendengar suara tangisan maka tiga srikandi dapur Keke naik ke atas. Sekarang pekerjaan harus dilanjutkan, cukup sudah mengetahui si majikan baik hati sudah bertemu papa kandung dan terlihat baik-baik saja.
"Ike... tadi itu Via dan si kecil, anak-anaknya Bonita ya?"
Papa Ramly langsung bisa menerka melihat wajah dua gadis kecil itu yang mirip Bonita. Dulu pernah menjadi papa sambung dan dia juga menyayangi Bonita saat masih bersama mama Virda.
"Iya..."
"Boni mana?"
"Di Singapura, kerja."
"Oh ya... Ike, papa perkenalkan dengan sepupu kamu, dia Engline sudah ketemu kan? Itu anaknya tante Irenne dan om Raff, kakak tertua papa... Ike lupa mungkin ya karena masih kecil dulu saat bertemu mereka... Engline lebih tua 2 tahun dari Ike..."
"Hai Renske... panggil aku Inge aja..."
"Kak Inge... halo..."
Keke melempar senyum kecil pada sepupunya.
"Nah... yang itu Lodewyk, panggil Lody aja... dia anak angkat papa, dia yang menemani papa selama ini. Dia seumuran dengan Inge..."
"Kak..."
Keke menatap sejenak cowok yang tersenyum canggung padanya. Lody hanya menganggukkan kepala membalas sapaan Keke.
"Diminum dulu tehnya... udah dingin kayaknya..."
"Oh iya... makasih Renske..."
Keke berdiri dan mengambil satu cangkir di meja kopi dan memindahkan ke meja di depan papanya.
__ADS_1
"Papa juga minum..."
Om Ramly tersenyum bahagia mendapat perlakuan itu.
"Papa gak minum yang manis Ke... papa ada diabet, boleh papa minta air putih hangat aja?"
"Iya..."
Keke kembali dengan segelas air putih hangat di tangan, meletakkan di depan papanya.
"Eh... mau turun sebentar... mau kasih tahu soal kerjaan, nanti ke sini lagi..."
"Iya... iya... Ike sibuk pasti, silakan Ike kerja gak apa-apa."
"Kuenya dimakan pa... Eh... nanti Ike buatkan sarapan ya, gak lama kok. Ike tinggal ya pa..."
"Iya nak..."
Sesuatu yang besar terjadi hari ini, seperti sebuah keajaiban yang disimpan untuk Keke terima sebagai hadiah ulang tahunnya kali ini. Keke turun ke lantai satu dengan langkah ringan, hatinya juga terasa ringan, plong. Terasa sesuatu yang mendamaikan di hatinya, ada cinta yang baru sedang meresap di jiwanya sekarang.
"Tante... dede mana?"
"Di depan sama Rommel."
"Oh... Rommel sudah pulang?"
"Iya... kenapa Keke turun sekarang? Kita bisa gerak cepat kok, Tole udah tangani masak nasi, tante Wisye sama Lenda yang masak lauk sama sayur..."
"Ada katering nanti sore tante Wis... lumayan banyak yang akan kita masak hari ini."
"Tante Lenda udah lihat menu katering di pintu kulkas, 2 menunya kita masak sekalian untuk rantang dan untuk panstove nanti sore... keburu kok kita... udah Keke naik lagi, papanya Keke masih kangen itu..."
Tante Lenda mendorong Keke ke arah tangga.
"Eh... tan, aku sekalian mau buatin mereka sarapan... bantuin biar cepet..."
"Yang cepet aja... nasi udah ada tan?"
"Udah ada... Tole cepet juga kerjanya, ini udah masak yang kedua..."
"Oke, tante bakar ikan aja kalau gitu, aku bikin dabu-dabu sama cah kangkung..."
"Keke... di depan ada mobil pick up isinya karung-karung bahan kayak kemaren, ternyata papa Keke yang kirim waktu itu ya?"
"Serius?"
"Iya... tadi tante Wis ke depan saat bujuk si dede biar berhenti nangis, sopirnya tanya mau diturunkan di mana bahannya... tante tanya dari siapa, dia baru jawab sekarang hehe... dari om Ramly, kemaren dia tutup mulut..."
"Eh tan... dibawain minum sopirnya..."
"Udah..."
"Katanya papanya Keke usahanya itu... apa ya tadi... holtikultura. Kebunnya katanya berhektar-hektar di Rurukan Tomohon..."
"Oh... gitu..."
Keke tersenyum kecil memikirkan papanya seperti membawa hadiah ulang tahun bahan makanan satu mobil untuknya.
"Keke... tante juga sempat nanya-nanya tadi..."
"Apa... tante Wis kepo ya..."
"Sorry Keke... tante tanya, mana istrinya pak Ramly... kok gak ikut?"
Keke mengangkat muka menatap tante Wisye yang sedang membalur potongan ikan tuna di loyang besar dengan lemon nipis, menanti kelanjutan informasi tante Wisye, dia juga ingin tahu kehidupan papanya.
__ADS_1
"Kata dia, selama 2 tahun kerja sama pak Ramly yang dia tahu pak Ramly sudah lama bercerai, punya anak satu tapi ikut istrinya dan punya anak angkat setelah cerai..."
"Papa gak... gak nikah lagi?"
Keke bersuara lirih, meneruskan memotong kangkung.
"Katanya seperti itu..."
Keke mulai memikirkan kehidupan papanya sebelum ini... mungkin sepi sendiri tanpa keluarga, tanpa dirinya? Maka terlihat begitu sungguh-sungguh mengharapkan Keke? Sesuatu yang hangat menyebar di hati, mata memanas lagi. Tapi ada tanya juga menyeruak, mengapa bercerai dulu? Mengapa tidak menikah lagi?
Papa Ramly kali ini tinggal lebih lama di ruko, Inge dan Lody meninggalkan papanya karena ada keperluan di Manado ini, si sopir pick up setelah menurunkan berkarung-karung bahan sayuran dan bumbu dapur langsung pergi.
Awalnya Keke masih kaku dan canggung bertegur sapa, tapi saat makan siang sempat sedikit ngobrol soal usaha papa. Perlahan chemistry mulai bertemu dan jika tidak mengingat pekerjaan yang menunggu mungkin mereka berdua akan duduk bersama merangkai cerita melepas rindu. Akhirnya saat papa pamit seolah baru sebentar saja bersama.
Malam hari, setelah sepanjang hari yang menakjubkan... Keke berbaring di kamarnya. Keke sudah mengantuk badan cape banget, setelah papa Ramly pulang Keke ngebut menyelesaikan beberapa menu pesanan. Hari Ulang Tahun yang sangat berkesan, tapi rasanya ada yang kurang. Saat tertidur, dia belum bisa mengidentifikasi apa yang missing hari ini di hatinya...
.
🎈🎈🎈
.
Di Jakarta, selesai acara hari Ulang Tahun mama Talitha. Seharusnya dua hari yang lalu, tapi karena hanya berbeda dua hari dengan Mosses maka dirayakan sekalian pada hari ini. Acara diadakan siang hari, ada teman-teman si Mosses, ada teman-teman papa dari perkumpulan Kawanua, serta saudara dekat.
Benaya menyempatkan pulang, sudah lama dia merencanakan ini. Tadinya dia ingin mengajak Keke, tapi profesi Keke tak memungkinkan itu. Ben sudah tiga hari pulang dan rencananya Senin pagi, dua hari lagi baru balik Manado.
Jelang malam, selesai membantu merapikan halaman rumah yang menjadi lokasi acara, Benaya duduk di meja dapur dengan segelas kopi di depannya. Ada mama Talitha menemani sama-sama minum kopi. Si papa masih lanjut kongkow di kafe teman kebiasaan papa Fredrik di malam minggu.
"Kak, mintain resep klappertart dong sama Renske, atau kakak punya nomor hpnya? Aku minta sendiri."
Rebbeca datang ke dapur membawa tumpukan baskom kecil yang kotor.
"Kamu mau buat itu?"
"Iya... enak bikinan Renske, kata teman-teman aku juga enak."
"Kapan mereka makan? Beli di mana?"
"Tadi, kan masih ada 1 loyang lagi di kulkas yang kakak bawa dari Manado, aku kasih mereka coba..."
"Eh... itu punya aku, kenapa dikasihkan ke orang sih?"
"Ya ampun kakak... nanti udah mau balik makan di sana sampai puas... Mana hp kakak, mau lihat nomor hpnya..."
Benaya menatap Beca dengan kesal, menyeruput kopi dan dengan malas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Beca langsung merampas ponsel keluaran terakhir merek terkenal itu.
"Kakak... gak dijawab-jawab..."
Ben hanya senyum samar, dia aja sudah tiga hari di sini baru sekali panggilannya dijawab Keke.
"Jadi... Renske usahanya katering ya Ben?" tanya mama penasaran dibawain macam-macam makanan katanya bikinan Keke semua.
"Iya..."
"Eh... ini hari ulang tahun Renske juga..."
"Hahh? Beneran Rens ulang tahun hari ini?"
"Iya, kan beda dua hari dengan mama, dan sama tanggal sama Mosses."
Ben langsung merampas hp dari tangan Beca. Oh... Ben belum mengucapkan selamat untuk kekasihnya. Mama mengernyit melihat reaksi Ben, dia memperhatikan tingkah Ben saat beberapa kali ngobrol soal Renske, ekspresi wajahnya beda. Ada sesuatu yang terbaca oleh wanita setengah abad lebih itu.
Ben beberapa kali melakukan panggilan, tak ada jawaban.
.
__ADS_1
.
✴