
Deka yang sekarang berada dalam perjalanan menuju ke indonesia saat ini berada di dalam pesawat dan siap mendarat di Bandara Soekarno Hatta.
Pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian banyak remaja cantik yang hadir di bandara. Auranya sebagai seorang pewaris menjadi daya tarik tersendiri bagi para wanita.
" Wah kenapa aku tidak ada yang menjemput seorang pun? Sungguh sangat menyedihkan!" ucap Deka sambil menggelengkan kepalanya.
Di saat Deka sudah bersiap untuk masuk ke dalam sebuah taksi tiba-tiba saja ada seorang wanita yang merebut taksinya.
" Maaf, apakah aku bisa menggunakan taksi ini dulu aku sedang terburu-buru," ucap wanita itu yang ternyata adalah Catherine adiknya Mario Dirgantara.
Deka menatap Catherine dari ujung rambut hingga ujung kaki sehingga membuat Catherine merasa tidak nyaman.
" Dengarkan aku ya! Kalau misalkan semua orang seperti kamu, pasti tidak akan ada kenyamanan di manapun. Karena maunya enak sendiri saja seperti kamu datang-datang main menyerobot saja. Padahal aku sudah menunggu taksi ini lebih dari setengah jam!" ucap Deka tidak mau mengalah kepada Catherine yang sudah berkacak pinggang dihadapannya karena marah.
Deka hanya tersenyum melihat emosi Catherine saat ini.
" Dengar ya! Aku benar-benar sangat berburu-buru sekarang. Orang tuaku sekarang sedang ada di rumah sakit. Apakah kau tidak bisa memberikan sedikit toleransi kepadaku? Lagi pula taksi di dunia bukan cuma hanya satu!" ucap Catherine berusaha untuk sabar.
Deka tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Catherine yang menurutnya sangat lucu dan berdusta.
" Ya ampun hanya untuk bisa mendapatkan sebuah taksi kalau sampai berdoa orang tuamu sakit? Sungguh tidak bisa di tolong sama sekali!" ucap Deka meremehkan Catherine yang mulai kesal kepadanya.
Sopir taksi yang menjadi bahan rebutan antara Catherine dan Deka tampak menghela nafas berat.
" Masuklah kalian berdua. Aku akan mengantarkan kalian ke alamat masing-masing sudah tidak usah ribut!" ucap Supir itu untuk membuat keduanya tidak ribut lagi karena berebutan taksi.
Catherine dan Deka saling menatap satu sama lain. Mereka sebenarnya keberatan untuk berbagi taksi hanya saja mereka sudah merasa bosan berada di bandara terlalu lama.
__ADS_1
Catherine kemudian mengulurkan telapak tangannya kepada Deka.
" Baiklah aku tidak masalah untuk berbagi taksi denganmu. Tetapi aku harus tahu dulu siapa namamu agar kalau terjadi apa-apa denganku Aku bisa mencari tanggung jawab padamu!" ucap Catherine sambil menatap tajam Deka yang tersenyum meremehkannya.
Catherine benar-benar merasa tersinggung dengan cara Deka menatapnya.
" Kalau kalian tidak mau berbagi. Sudahlah saya pergi saja. Saya juga tidak mau pusing dengan penumpang seperti kalian!" ucap sopir taksi itu yang kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk meninggalkan bandara.
Tetapi Deka dan Catherine menghentikan Sopir itu untuk pergi dan mereka akhirnya setuju untuk berbagi taksi.
Suasana di dalam taksi benar-benar sangat mencekam. Karena tidak ada satu orang pun yang mau berbicara.
" Ke mana aku harus mengantarkan kalian?" tanya supir taksi tersebut.
Deka kemudian menyebutkan tempat tinggalnya begitu pula dengan Catherine yang ternyata mereka tinggal di satu gedung apartemen yang sama.
" Jangan sembarangan bicara! Aku tidak Sudi untuk berjodoh dengan laki-laki labil seperti dia!" ucapkan sambil melirik sinis kepada Deka yang melakukan hal yang sama kepadanya.
Deka bahkan sampai tertawa terbahak-bahak mendengarkan perkataan Catherine yang begitu arogan dan terkesan sombong.
" Memangnya kau pikir aku mau berjodoh dengan wanita sepertimu? Aku yakin tidak ada laki-laki yang mau untuk jadi suamimu! Hahaha!" ucap Deka tertawa semakin kencang sehingga membuat Catherine menjadi marah kepadanya.
Catherine memukul kepala Deka untuk melampiaskan emosi yang ada di dalam hatinya.
" Bisa diam tidak kamu?" ucap Catherine sambil melotot kepada Deka.
Seumur hidup Deka baru melihat seorang perempuan begitu barbar seperti Catherine yang bahkan sama sekali tidak melirik dan tertarik dengan ketampanan yang dia miliki.
__ADS_1
Sopir taksi yang melihat mereka terus saja berantem akhirnya menghentikan mobilnya dan mengancam akan menurunkan mereka berdua di tengah jalan.
" Apa kalian berdua bisa diam? Saya jadi tidak bisa fokus dalam menyetir gara-gara kalian yang ribut terus dari tadi. Kalau kalian mau ribut terus, lebih baik turun saja dari taksi saya. Saya pusing sekali melihat kalian berdua yang ga mau akur dari tadi!" ucap sopir taksi sangat tidak nyaman melihat mereka berdua yang saling seram satu sama lain dengan kata-kata tajam dan menyakitkan.
Deka dan Catherine pun kemudian saling melirik satu sama lain yang akhirnya mereka meminta maaf kepada sopir taksi dan berjanji untuk tidak ribut lagi.
Begitu mereka sampai di apartemen mereka, tampak keduanya yang masih terlihat dalam perang dingin yang membuat sopir taksi geleng-geleng sendiri melihat kelakuan mereka yang sangat kekanakan.
" Kalau kalian suatu saat menjadi suami istri Pasti akan sangat seru ketika kalian bertarung di atas ranjang. Haha!" ucap Sopir itu sambil tertawa kemudian meninggalkan mereka berdua yang langsung memerah wajahnya gara-gara celotehan sang supir.
Catherine langsung menarik kopernya dan langsung menuju ke Unit apartemen miliknya.
Siapa yang menyangka kalau ternyata mereka berdua berada di satu lantai dan ternyata unit mereka pun saling berhadapan satu sama lain. Ya Tuhan! Benar-benar suatu kebetulan yang sangat luar biasa.
Catherine langsung masuk ke dalam unitnya tanpa melirik sedikitpun kepada Deka yang sejak tadi terus memperhatikan semua gerak-geriknya.
" Dasar pria aneh! Bisa-bisanya dia tinggal di satu gedung apartemen denganku! Oh Tuhan! Punya dosa apa aku ini? Sehingga harus bertemu dan bertetangga dan mahluk seperti dia?" tidak ada habisnya Catherine terus menggerutu begitu dia masuk ke dalam unit miliknya.
Deka hanya bisa mengelus dada ketika dia mengetahui bahwa ternyata dirinya bertetangga dengan Catherine yang menurutnya sangat menyebalkan.
" Tampaknya aku harus menjual apartemen ini dan mulai mencari tempat tinggal yang baru. Kalau tidak kesehatan mentalku pasti akan terancam gara-gara perempuan gila itu!" ucap Deka sambil memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
Setelah semuanya beres Deka kemudian menelpon ibunya menyampaikan bahwa dia sudah sampai di Jakarta.
Delia yang sebetulnya merasa keberatan putranya pergi ke Indonesia akhirnya tidak bisa berkutik setelah Aprilia ikut membujuk untuk Deka bisa pergi ke Indonesia.
Delia memang sangat menyayangi Aprilia karena keinginannya untuk mempunyai seorang putri tidak terkabul. Putrinya meninggal ketika usianya masih 2 tahun karena sakit. Sehingga dia sangat sedih dan akhirnya begitu menyayangi Aprilia layaknya putrinya sendiri.
__ADS_1