
Setelah kejadian malam itu, hidup Mario sudah tidak tenang lagi. Selalu ada SMS yang masuk mengajaknya untuk bertemu dan mengancam dia tentang sesuatu yang Mario pun tidak ketahui.
" Siapa sebenarnya orang iseng ini? Ya Tuhan! Berani-beraninya dia mengancamku. Apa dia sudah bosan hidup?" tanya Mario pada dirinya sendiri. Mata Mario terus melihat nomor telepon asing yang sejak tadi terus saja meneleponnya.
Mario kemudian menghubungi anak buahnya yang ahli di bidang IT. Mario meminta kepada mereka untuk menyadap nomor yang menghubunginya agar bisa diketahui siapa pemilik nomor tersebut.
" Hati-hatilah jangan sampai orang tercuriga dengan gerakanmu!" ucap Mario sambil mengacungkan jempolnya kepada anak buahnya yang sudah bersiap dengan alat-alatnya.
Setelah mendapatkan kode dari anak buahnya Mario pun kemudian mengangkat telepon tersebut, " Katakan apa maumu?" tanya Mario kepada orang itu.
" Bukankah aku sudah mengatakan padamu. Aku ingin bertemu denganmu. Kapan kau ada waktu?" tanya seorang laki-laki yang ada di seberang sana.
Mario tampak berpikir dia memberikan waktu kepada anak buahnya untuk bisa mendeteksi keberadaan nomor telepon tersebut.
" Katakan padaku! Apa kepentinganmu untuk mengajak bertemu denganku? Kau tahu kan kalau waktuku sangat berharga?" tanya Mario yang sejujurnya sudah mulai kesal sekali sejak tadi.
Terdengar laki-laki ditelepon itu tertawa terbahak-bahak, " Saya memiliki bukti sebuah rekaman suara tentang pengakuan seseorang yang terjadi pada malam itu di hotel xxxx saat kau bermalam dengan Rosa! Bertemulah denganku maka Kau pasti tidak akan rugi sama sekali!" ucap laki-laki itu yang langsung menutup teleponnya.
Mario sangat terkejut mendengarkan perkataan laki-laki itu.
Mario menatap kepada anak buahnya dia memastikan bahwa anak buahnya tidak mendengarkan percakapannya tadi.
" Kau sudah mendapatkan lokasi orang itu?" tanya Mario dengan wajah datarnya.
Anak buah Mario kemudian memberikan sebuah alamat kepada Mario yang membuat Mario sangat terkejut.
" Kenapa ini adalah alamat rumahnya Rossa?" Mario benar-benar sangat frustasi Dia sangat khawatir kalau sampai terjatuh lagi ke dalam jebakan Rossa, wanita ular yang sudah menteror hidupnya selama lebih dari dua minggu ini sejak kejadian malam itu.
" Hapuslah semua percakapan tadi dan kalian bisa kembali ke tempat masing-masing. Ingat! Apapun yang terjadi dalam ruangan ini adalah rahasia. Kalau sampai ada orang lain yang mengetahui tentang ini, maka kalian akan menanggung semua akibatnya!" ancam Mario kepada anak buahnya.
" Oh ya ambil bonus sekalian di bagian keuangan bawalah ini bersama kalian!" ucap Mario sambil menyerahkan nota pengambilan uang kepada anak buahnya.
" Terima kasih Tuan kami permisi!" ucap mereka berdua pamit kepada Mario.
Langkah kaki mereka dihentikan oleh Mario dengan nada suara baritonnya yang sangat menggelegar di ruangan itu. Membuat jantung mereka berdua berdegup sangat kencang di buatnya. Terlihat tubuh mereka keluar bergetar ketakutan melihat mata Mario yang begitu tajam menusuk jantung mereka.
" Ingat bawa rahasia ini sampai ke liang lahat kalian! Kalau kalian masih menginginkan hidup kalian dan semua keluarga kalian aman!" Mereka pun langsung mengangguk dan keluar dari ruangan Mario.
Sungguh hidup mereka benar-benar sangat ketakutan sekarang. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan rahasia yang sekarang berada di tangan mereka. Maka pastilah mereka yang akan menjadi dalang ataupun tertuduh dari masalah itu.
__ADS_1
" Kalau tahu hidupku akan terteror seperti ini lebih baik dari aku menolak tugas sedang diberikan oleh Tuan Mario!" ucap Deni merasa menyesal karena dia sudah mempertaruhkan hidupnya demi tugas tersebut.
Temannya Deni pun sama. Dia juga mulai merasa menyesal sudah membantu Mario yang ternyata malah sekarang mengancam mereka berdua untuk tidak membocorkan rahasia yang tadi mereka dengar di dalam percakapan telepon.
" Begini banget ya jadi rakyat jelata yang lemah? Apapun yang kita lakukan pasti berakibat buruk untuk kehidupan kita!" ucap Deni menggelengkan kepalanya.
Mereka pun kemudian kembali ke ruangan mereka masing-masing dan berusaha melupakan rahasia besar milik Mario yang saat ini berada di tangan mereka berdua.
Sementara itu sekarang Mario sedang melajukan kendaraannya menuju kediaman Rossa. Mario akan langsung menemui orang yang sudah mengancamnya dari kemarin.
Begitu sampai di kediaman Rossa, Mario melihat Andien dan juga Bagas yang sedang asyik bermesraan.
Bagas ternyata tidak bisa hidup tanpa Andien karena ternyata dia sudah jatuh cinta terhadap wanita paruh baya yang sudah memikat hatinya.
Mario terlihat menghubungi nomor telepon yang dari kemarin selalu menterornya. Mario melihat laki-laki yang saat ini sedang bersama dengan Andien tampak mengangkat teleponnya dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan.
" Maaf di mana kau ingin bertemu denganku dan kapan waktu yang ingin kau berikan kepadaku?" tanya Mario sambil terus menatap Andien dan Bagas.
Terlihat Bagas yang menjauhkan dirinya dari Andien ketika dia mengangkat telepon tersebut.
" Sayang aku ke taman dulu ya? Ada telepon penting dari atasanku!" dusta Bagas kepada Andien yang langsung mengangguk dan mempercayai perkataannya.
Bagas kemudian keluar dari ruang tamu dan matanya melotot ketika dia melihat Mario yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan tajam.
Bagas langsung menyambut uluran tangan Mario. Tetapi Mario menarik kembali huluran tangannya dan dia masuk ke dalam rumah di mana Andien memperhatikannya dengan wajah keheranan.
" Ada apa kau kemari Mario? Kok tumben sekali sih?" tanya Andien merasa tidak nyaman dengan kehadiran Mario yang tiba-tiba saja berada di rumahnya.
Andien kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati Mario.
" Rossa tidak ada di rumah dia masih sedang bekerja di luar!" Andien menatap tajam kepada Mario yang menurutnya sangat aneh karena sejak tadi Mario terus mengawasi Bagas yang tampak salah tingkah dan terlihat begitu gugup.
Mario langsung duduk di sofa yang ada di hadapan Andien sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, Mario pun melipat kedua kakinya dan menatap tajam kepada Bagas yang terlihat sangat gugup.
" Duduklah! Bukankah dari kemarin kau selalu menelponku dan ingin bertemu denganku? Kenapa kau malah berdiri saja di sana?" ucap Mario sambil menatap tajam kepada Bagas yang sekarang malahan nyengir kepadanya.
Mario menggelengkan kepalanya karena heran dan juga jengkel melihat tingkah Bagas yang sangat aneh di matanya.
" Cepat katakan apa kebutuhanmu ingin bertemu denganku! Tadi di dalam telepon kau mengatakan kalau kau memiliki bukti rekaman suara tentang kejadian pada malam itu bukan? Malam di mana Aku telah dijebak oleh perempuan jahat bernama Rossa yang sampai sekarang bahkan selalu menteror hidupku dengan tingkah kurang ajarnya!" ucapp Mario dengan tatapan penuh rasa penasaran ketika dia melihat Bagas yang terus memberikan kode kepadanya untuk diam.
__ADS_1
Akan tetapi bukan Mario kalau menurut permintaan Bagas yang menurutnya sudah sangat lancang terhadap dirinya.
" Rekaman apa yang kau maksud?? Sayang! Apa kau bisa menjelaskannya padaku apa yang dia katakan itu?" tanya Andin tampak bingung ketika dia melihat Bagas yang malah menggaruk-garuk kepalanya.
Bagas benar-benar hilang engkau dia kecewa kepada Mario yang menembaknya tepat di depan Andien sehingga membuat dirinya tidak bisa berkutik saat ini.
Bagas terus berpikir dan memutar otaknya untuk mencari alasan agar anda tidak curiga dengan statusnya yang sebenarnya.
" Tidak kok sayang itu cuma rekaman biasa saja, kau tidak usah memikirkannya!" ucap Bagas sambil melirik ke arah Mario yang malah tersenyum sinis ke arahnya yang seperti takut kepada Andien.
Mario kemudian bangkit dari duduknya. Dia berniat untuk meninggalkan Bagas yang sekarang seperti ayam kecelup yang ketakutan di hadapan Andien.
" Kenapa kok diam saja dari tadi huh? Kau benar-benar sudah membuang waktuku sangat banyak!" ucap Mario yang sudah mulai kehilangan kesabaran.
Bagas kemudian langsung menarik Mario untuk keluar dari rumah Andien.
" Sayang aku pulang dulu ya aku perlu bicara dengan orang ini!" Mario kemudian mengikuti Bagas yang masuk ke dalam mobilnya.
" Kau Ikutilah mobilku di belakang kita bicara di tempat lain!" ucap Bagas sambil masuk ke dalam mobilnya dan kemudian meninggalkan rumah Andien.
Andien yang merasa heran sekali dengan kelakuan mereka berdua benar-benar sangat penasaran.
" Aku harus mengikuti mereka berdua. Tetapi bagaimana caranya ya? Kalau Bagas tahu aku mengikutinya dia pasti akan sangat marah padaku!" ucap Andien berada dalam dilema.
Bagaimanapun Andien mencintai Bagas dan dia tidak mau membuat laki-laki itu marah kepadanya dengan berbuat hal yang ceroboh.
Andien kemudian menghubungi anak buahnya yang biasanya dia perintahkan untuk melakukan sesuatu yang jahat.
" Tolong kau ikuti mobil yang baru saja keluar dari rumahku aku akan mengirimkan plat nomornya kepadamu!" Andien langsung menutup telepon tersebut Setelah dia memberikan perintah kepada anak buahnya.
Andien pun kemudian menghubungi Rossa yang saat ini sedang bertugas ke Filipina untuk menemani seorang pengusaha muda yang saat ini sedang melakukan pembicaraan bisnis dengan kliennya.
Setengah jam Andan menghubungi Rossa tetapi tidak juga diangkat oleh putrinya.
" Ke mana anak bengal itu sih? Kenapa dia tidak mau angkat telpon sih? Dasar menyebalkan!" Andien benar-benar frustasi dibuatnya.
Andien terus bertanya-tanya tentang maksud Mario mengatakan pertanyaan seperti itu kepada kekasihnya.
" Dari mana Bagas mengetahui tentang Mario yang pernah bermalam dengan Rossa?" Andien terus berusaha mengingat-ngingat kapan dia membicarakan tentang hal tersebut dengan putrinya.
__ADS_1
Mario tadi mengatakan tentang rekaman suara yang membicarakan tentang malam tersebut. Andien berpikir keras. Bagaikan menyatukan potongan-potongan puzzle yang penuh misteri. Andien terus berusaha untuk mencari titik temu dari semua misteri yang disampaikan oleh Mario kepada Bagas tadi.
" Sebenarnya apa yang sudah diketahui oleh Bagas? Bagaimana caranya dia bisa berhubungan dengan Mario?" banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam hati Andien Saat ini yang membuatnya benar-benar tidak bisa duduk diam dengan tenang.