Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 11.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


Gadis itu menghentakkan kakinya berulangkali. Ia kesal banget, jadwal seminggu sekali menginap bersamanya telah di ingkar janji Arman. " Sesibuk apa kamu!! Apa nenek tua itu selalu menyuruhmu bekerja terus dan terus, sayang.. Aku khawatir akan kesehatan kamu disana. "


" Udahlah Li, mungkin dia memang sibuk. Lebih baik, Lo temani aja bos gendut yang ada di seberang pojok sana? " Tawar seseorang yang tidak lain dan bukan teman seprofesi yang menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang.


" Nggak! Lo aja! Gue udah bosen dengan bapak bapak. Gue mau yang brondong tajir. "


" Hey! Kamu itu sudah Mayan tua. Mana ada brondong yang mau main sama kamu? Lagian.. Mereka juga pasti bakalan mikir, dompet mereka bakal cukup buat bayar kamu selama sejam atau nggak. "


" Udahlah. Aku mau pulang aja. "


" Kalau Lo pulang, terus yang layani dia siapa? Gue sudah ada langganan gue sendiri. Gih nah Li, jangan buat Mami marah. "


" Oke oke! "


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ckittt..


Mobil sport keluaran terbaru, harga tak tahu berapa? Mungkin saja, uang hasil penjualan mobil itu dapat membangun 20 buah ruangan futsal. " Mana sih tu anak! " Mengecek jamnya yang ada di pergelangan tangan kirinya.


" Rumah begitu padat, mana ih apa ini... "


Wek wek Wek wek ternyata banyak sekali hewan berkaki selaput itu berjalan dengan geal.geol bak para penari yang tak memperdulikan sekitar. " Auh!!! Ternyata, iuhhh.. Naufal!!! " Pekik Arman.


*


Sedangkan Naufal.


" Eh, buatin gue minum dong... "


" Ogah! Emang gue siapa Lo?? "


" Ayolah Mut, Marmut... Buatin gue kopi anget napa? Atau nggak? Suruh bibi yang buatin. "


" Bibi bibi baba bibi... Emangnya rumah gue kelihatan banget buat bayar ba.bi itu? Nih ya, kalau Lo pengen kopi? Ya usaha!! Jangan pandai nyuruh orang aja. Emang situ bos? "


" Heeh.. Jangan menghina. Gini-gini gue ini, asisten bos besar. "


" Heeleh asisten bos besar. Kada ngaruh Bambang!! Mau Lo pamerin di seluruh komplek atau per-rumah ini! Lo nggak bakalan dilihat. Paham!! "


Astagah sumpah ni cewek lebih dari pada yang diomongin bos. Pantas saja bos, selalu emosian ibunya didekatnya. - Batin Naufal.


Kali ini ia tak ingin berdebat lebih panjang lagi.

__ADS_1


" Baiklah, tuan putri. Lalu, apakah seorang asisten ini boleh bertanya? "


" Pertanyaan akan bisa ku jawab jika tidak keluar dari topik hari ini? "


Benar-benar, cewek nggak nyambung! - Kesal Naufal.


Ia berjalan langsung kedalam rumah.


" Eh eh.. Lo mau kemana? Jangan main masuk-masuk aja dong!! "


" Gue haus! Dan jangan coba-coba menghalangi gue ketika sedang haus. Terkadang gue bisa meminum apa saja, termasuk darah manusia, sekalipun. " Melihat Mutia sekilas.


Terlihat dari raut wajah Mutia yang menjadi menegang saat Naufal meliriknya dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Ala dia benar-benar seperti Sumanto? Astagah jika benar? Aku telah salah mencari lawan. - Batin Mutia.


Mutia lebih memutuskan duduk kembali karena takut, akan bahaya jika itu benar-benar iya.


Langkah Naufal malah semakin sembarangan arah. " Eh eh.. Jangan kesana.. "


" Aku yakin... Kamu tidak akan lupa perkataan ku tadi, nona? "


" Hiiii...iiiis.. Iya iya, aku nggak lupa. Cuma, disana itu lemari untuk pakaian dalam ku. "


Terlanjur sudah, Naufal telah membuka laci itu. " Kenapa nggak hilang dari tadi!! Lalu, dimana kau letakkan bubuk kopinya? " Langsung menutup laci itu.


" Ada di ruangan paling belakang. Ya 5 langkah dari tempatmu berada. Di toples bertuliskan Pahit sepahit Kapal Api. "


*


" Ii..ih.. Siapa juga yang lihat-lihat? Jangan Ngadi Ngadi. Udah, itu minum aja kopinya. Timbang nanti dah dingin pasti nggak enak. "


" Pria kanibal juga pasti mikir, Mut Marmut.. Gelas masih ngebul begini kau suruh minum. Situ masih sehat?? "


" Ya udah sih.. Sensi.an amat jadi orang, cepat dipanggil Tuhan baru tahu Lo. " Kesal Mutia kemudian ia beranjak masuk kedalam kamarnya.


" Eh eh Lo mau ngapain masuk kamar? Biar Lo goda gue Ampe setipis kain.. Lo nggak bakal bisa nge.goda Gue! "


" Oooo dasar omes. Siapa juga yang mau merayu dirimu. Aku mau apa pun di kamar itu terserah ku. Kalau kamu sudah selesai ngopinya, silahkan angkat kaki mu dari sini. " Melangkah satu langkah lagi.


" Maksud Lo.. Begini? "


Saat Naufal mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya bertukar di atas.


" Serah Lo!! "


Selang limat menit. Baru saja hendak menyeruput kopi itu. " Naufal!!! "


Deg!!

__ADS_1


" Suara itu? "


Tin tin tin tin tin klakson itu mampu membuat tetangga sekitar membuka pintu. " Woh mas!! Kalau mau demo, jangan disini. Anak saya masih bayi mas. Mohon tolong pindah. "


" Ah! Sial!!! "


*


Mutia menggelung rambutnya yang panjang itu. " Suara apa itu?? "


" Sebentar,.. Biar aku cek dulu. "


Kenapa parasaanku menjadi tidak enak ya? - Batin Naufal.


*


" Enyahlah kau bebek jelek!! Enyah! Aku bilang enyah! "


" Nah kan benar.. Ternyata bos yang datang. "


" Selamat siang bos? "


" Dari mana saja kamu? Ini bawakan jas saya. "


" Baik bos. "


*


Naufal mengetuk pintu rumah Mutia kembali. " Nggak usah ngetik lagi! Cepat masuk, dan habiskan kopi mu!! "


Tanpa menoleh, karena saat itu.. Mutia sedang memotong kukunya. " Kemasi barang-barang mu. "


Deg!!


Suara ini... - Berhenti memotong kukunya.


" Kenapa? Rumah ini masih atas nama ku? Siapa kau, berani berani mengusi...iiiir..kkuu.. "


" Elo!! Ngapain Lo kesini? Pergi sekarang juga! Gue nggak akan pernah Sudi kembali ke rumah besar Daulay lagi. Cukup untuk saat itu Lo udah berteriak menuduh gue yang kesekian kali. Dan sekarang Lo main enak-enakan langsung mau bawa gue kerja ditempat Lo. Dalam mimpi!! " Bangkit Mutia.


" Nona, saya mohon jangan berbuat hal yang akan merugikan anda nona. "


"Rugi? Rugi tak membuatku takut untuk bangkit lagi. Sedangkan pengecut, dia sekali pengecut tetap pengecut!! "


" Oke oke! Gue salah! Gue minta maaf. Pada saat itu, gue udah nuduh Lo yang bukan-bukan. Tapi. sekarang gue mohon... Tolong sekali aja Lo ikut gue. Tolong bantu ibu gue supaya ia segera sembuh. "


" Heh Bambang!! Kalau ibu Lo sakit, ya tinggal Lo panggilkan dokter. Kenapa Lo sampai repot-repot kesini? Bikin waktu Lo tambah nggak ada arti banget. "


Frustasi Arman menghadapi gadis yang sangat keras kepala yang ada dihadapannya. " Kalau kau diajak baik tidak mendengar, baiklah.. Naufal, segera akuisisi rumah ini ke atas nama ku. "

__ADS_1


" Bagaimana bisa? Kalian tidak akan bisa mengakuisisi rumah ini. Karena. aku, sang pewaris sah.. Bahkan ibuku sendiri gak mungkin menanda tangani surat konyol itu. "


" Baik. Naufal, baca kan dengan terperinci... Supaya gadis ini tidak mampu mengelak lagi. "


__ADS_2