
" Boleh. Tapi.. "
Bintang menghadap ke arah Mutia tertanda meminta persetujuannya.
" No sayang. No... Kamu masih ada sekolah sayang.. Nggak baik lho meninggalkan pelajaran. "
" Tapi, mom.. "
Al langsung setuju.
" Yes ... Al mau mandi dulu ya mom. "
" Iya, yang bersih mandinya jangan lupa gosok gigi. "
" Iya mom. "
El bersedih. Sudah pasti. Mutia hanya tak ingin anak-anaknya terlalu manja kepada bintang. Sampai-sampai mengesampingkan mata pelajaran di sekolah. " Tapi mom.. "
" Nggak ya nggak. Sudah, El lebih baik kamu mandi. Nanti mom yang akan mengantar. "
El berlari menaiki tangga.
" Sayang.. " Bintang merasa menyesal. Kenapa dia tadi pakai mencium kening El. Hingga membuat kegaduhan di pagi hari.
" Sudahlah, bintang. Lebih baik kamu berangkat sekaranglah. Soal anak-anak.. Biar aku yang tanggung sendiri. "
" Ba...baiklah. "
Bintang dengan berat hati menarik koper itu keluar dari pintu gerbang utama. Selang beberapa menit, mobil itu sudah beranjak dari garasi. Tersisa mobil itu, ya mobil kesayangan Mutia pemberian dari sang ibunda.
__ADS_1
Sopir lalu mengantarnya pulang ke kampung dengan aman. Mau bagaimana pun bintang tetaplah atasan yang harus di hormati. Ketika dia sudah tepat di rumahnya.
" Mari pak, singgah dulu. Kita minum kopi. "
" Eh... Nggak usah den. Saya cuma di suruh Bu Muti untuk mengantar Aden saja. Lepas itu saya harus balik lagi den. "
" Oh. Baiklah jika permintaan permaisuri begitu. Hati-hati di jalan pak, dan tolong minta bodyguard untuk selalu di samping Mutia dan anak-anak ku. "
" Baik. Kalau begitu saya permisi dulu, den. "
" HM.. "
Dengan wajah datar memasuki rumah.
" Assalamualaikum, yah.. Ayah... Bintang mu sudah pulang ini.. "
Mendengar suara di balik pintu depan.
" Iya bentar. "
: Siapa sih bertamu siang-siang. Nggak tahu apa kalau siang begini pekerjaanku baru di mulai.
Runtuknya.
Asisten rumah tangga ya yang biasa di sebut seperti itu memang mengerjakan tugasnya ketika pak lurah sedang tidak berada di rumah.
" Nyari siapa ya? "
Bintang pun berdiri.
__ADS_1
" Bibi pegawai yang saya pekerjakan ya? "
" Hah... Nggak tahu saya. Saya cuma di minta oleh den bintang untuk,-
" Saya lah Bintang, bi. "
" Ya Tuhan... Ganteng sekali kamu nak.. Tak kirain bule yang nyasar ke rumah-rumah. "
" Hah.. Emang ada bi? "
" Ada, den. Itu yang sering bibi lihat di tv tv, sering bawa koper duit lari-lari uang kaget. "
" Oalah.. Bibi emangnya perlu uang banget? Kalau perlu banget bintang bisa ambilkan dulu di bank bi. "
Bercerita layaknya seperti anaknya saja yang berada di depannya.
" Eh.. Nggak den, nggak. Gaji bibi masih cukup banyak bahkan kebutuhan bibi sangat tercukupi kok. "
Pembantu itu berkata yang sebenarnya. Gaji yang di berikan oleh bintang tidak main-main. Apalagi berkaitan dengan sang ayah. Ia tidak pernah perhitungan dahulu.
"Baiklah bi... Apakah bintang bisa masuk sekarang? Badan Bintang capek bi... "
" Oh iya iya den.. Masuk aja. "
Bintang mengangkat kopernya sendiri.
" Sini den biar bibi saja yang bawakan. "
" Tidak perlu bi.. Bintang masih mampu. "
__ADS_1
: Anak baik. Jarang sekali aku mendapatkan anak majikan yang sangat baik tingkahnya.
Kenapa pembantu itu berkata sedemikian. Karena ia sempat mendapatkan majikan yang super angkuh. Suka sekali memerintah tanpa kenal beban dan umur sekalipun.