Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 56.


__ADS_3

pulsa data ne entek guys... mau ada yang transferan percuma kah 🤭😜 canda


🤣🤣


****


Dengan muka sangat senang. Mungkin karena energinya sudah terisi. " Masnya yakin nggak mau nambah? " Tawar Naysilla.


" Eh MMM gimana ya... Mas bro, gimana? "


" Em.. Kalau saya sudah kenyang dek. Kalau teman saya yang di sebelah ini masih lapar, biar aja dia tambah. Soalnya pekerjaan saya belum selesai. "


" Lah iya ya.. Sorry adik manis. Saya ikut mas bro aja. Soalnya mandat tuan muda saya kalau di langgar ancamannya nggak main-main. Malah di gunting langsung. "


Mereka bangkit. Dan mereka mendatangi rumah Tasya. Dalam keadaan sudah hampir magrib. " Lista, kamu sudah ambil air wudhu? "


" Eh iya bi. Sebentar lagi Lista ambil wudhu. Baby El tinggal sedikit lagi makannya. "


" Oh iya sudah. Gantian saja kita kalau begitu. Dan kamu, Mel? Kenapa masih duduk saja? Nyantai bener bibi lihat. "


" Hehhee.. Gimana nggak nyantai Bi. Saya lagi ada tamu bulanan. "


" Oalah.. Ya sudah saya duluan. Takutnya nanti malah nggak sempat. "


Dengan keadaan rumah yang sunyi. Suara tv mereka kecilkan. Karena di desa, jarang sekali tetangga yang menyukai menonton tv. Mereka lebih memilih bermain bersama buah hati mereka atau bahkan bertanding catur.


" Mel, kamu itu rajin-rajin lah merawat diri. Mumpung belum punya anak hehee. Nanti kalau sudah punya, bakalan nggak ingat karena kita sibuk merawat anak kita. "


" Hehehe.. Iya, Bu. Kalau saya sih nyarinya yang apa ya .. Hemp.. Gini Bu. Kan ada kata pepatah, kalau mencintai itu harus dari hati bukan dari kaki. 🤭 canda Bu. " Memanglah kaki tidak seputih orang kaya. Namun, hatinya di jamin bersih. Ketulusan Imel yang membuat Mutia mempertahankan Imel untuk berada di sisinya.


Mutia hanya menggeleng lemah.


" Alhamdulillah, gitu dong lahap hap hap.. Ibu seneng jadinya. El pintar maemnya. "


" Punya Al lebih dulu habis Bu. " Dengan nada anak kecil Imeldianti menirukan baby Al.


" Bagus, anak ibu juga pintar yang satu ini. Kelak kamu akan menjadi pemimpin dan melindungi adik kamu. Jadi, kamu harus menjadi orang pertama di depan adik kamu. Cup sudah ya.. Mbak Imel, tolong jagain Al dan El ya.. Saya mau ambil air wudhu dulu, sepertinya sebentar lagi bi Tasya sudah selesai. "


Di tinggal kedua orang dewasa yang selalu membimbingnya dan memberikan nasehat. Ya walaupun dia belum menikah, ia harus mengambil semua perkataan yang baik dan jika buruk maka Imel akan mendepaknya dengan tendangan Madun.


" Dek dek.. Kira-kira.. Ada gak ya, cowok yang suka sama mbak Mel? " Aneh.. Ya memang anehlah... Masa iya baby yang baru umur 7 bulan ia ajak bicara yang sembarangan.


Ting tong .. Ting tong...


Bel rumah berbunyi. Malam-malam siapa yang bertamu? Tapi, Imel tidak ambil pusing. Barang kali ada segerombolan anak yang iseng menekan bel rumah bidan Tasya. Ya.. Karena hari ini hari Jumat, Tasya hanya bekerja setengah hari. Kecuali, benar benar ada kejadian urgen yang harus segera diambil tindakan pertama.

__ADS_1


" Imel ! ! " Teriaknya yang hampir membuat para bayi kembar itu menangis.


" A..ada apa bi? " Dengan wajah tegangnya, ia langsung berdiri tegak.


" Kenapa kamu malah diam saja? Pintu sedari tadi bunyi, bibi heran deh.. Apa jangankan kamu mempunyai masalah pada gendang telinga mu? "


" Ish mana ada bi ! Imel kan nggak dengar bibi.. Imel lagi jaga Al dan El. "


" Halah banyak alasan kamu, Cepetan bukain pintu sana, biar Al dan El saya yang jaga. "


" Baiklah bi. "


Imel berdiri dan mendatangi suara gedoran yang di sebut bi Tasya tadi. " Lha iya ada gedoran. Tapi kok aku nggak dengar ya? Masa iya aku sudah jadi pak Bolot sih! "


Dengan jarak 5 langkah dari pintu. Namun, gedoran itu tak lantas di hentikan oleh sang punya perlu.


Iya tunggu. - Suara pelan seperti itu siapa yang akan dengar.


" Siapa yang bertamu malam-malam? Kalau warga desa,.. Jarang lah. Kan kalau urgen banget? Apa ini urgen juga ya.. "


Klek. Pintu itu terbuka.


" Lho.. Tuan dewa? "


CK ck CK selalu saja begini. Apa wajahku kurang tampan hingga ini cewek lebih mengenal dewa timbang aku ! - Umpat Nauval dengan menggenggam jari-jari nya dengan sangat erat.


Dewa datang dengan membawa koper yang ada di tangannya. " Oh boleh-boleh. Kalian duduk saja ya? Saya yang akan panggilkan Bi Tasya dulu. "


" Hem.. "


Setelah kepergian Imel kedalam untuk memanggil Tasya yang sedang asik mengajak baby Al dan El bercanda. " Anak siapa ini paling ganteng.. "


" Mam mam.. "


" Hihihi.. " Dan El malah tertawa melihat Al yang di cubit pelan di area pipinya.


" Bi, didepan ada tuan dewa? "


" Suruh mereka masuk. "


" Baik bi. "


*


" Tuan-tuan, silahkan masuk. "

__ADS_1


" Baik. Dimana Bibi Tasya? "


" Ada apa, mencari ku? " Datang dengan dua gendongan di tangannya.


" Astaga.. Tuan muda dan nona muda kecil. " Hendak memegang.


" Heh ! Tanganmu masih membawa virus. "


" Ck! ! Dewa, gue mau gendong. "


" Benar kata bibi gue. Kita ini kotor habis dari luar, nggak baik pegang bayi. "


Tasya lalu mendudukkan keduanya.


Bayi kembar itu sudah bisa duduk bahkan merangkak. Tapi, jika sedang di kamar mereka selalu bermain di atas kasur.


" Kalian ada apa kemari? "


" Kami disuruh tuannya dia untuk jemput kembar. "


" Kembar aja? Nggak ! Bibi nggak kasih ijin. "


" Ayolah bi, jangan menyusahkan pekerjaan kami. "


" Kami? Lo aja kali. Gue kan kerjanya sama mbak Muti, bukan sama bos ente. "


" Ye.. Sana aja kali Bambang ! ! "


" Ada apa ini ribut-ribut? " Tanya Mutia dari belakang sambil membawa tisu.


" Lho.. Kalian. Kapan datang? "


" Iya nona. Kami baru saja sampai. "


" Oh.. Sudah makan belum? Kalau belum, kita makan bareng saja? Yuk.. "


" Gimana ini Dew? Kalau nolak, sayang rezeki. Kalau terima, yang lainnya... Apakah kita bisa mempercayai diri sendiri. Besok, adalah ulang tahun tuan muda. Kalau kita tidak berhasil, kita akan jadi apa? "


Dewa sangat stres. Bosnya begitu memaksakan kehendaknya. Setelah masalah yang ia buat sendiri sampai harus membuat Mutia pergi dari sisinya.


" Ayolah nona, kalau tidak ikut.. Maka pekerjaan kami yang akan terancam. Nona tahu sendiri lah, tuan besar sudah amat percaya pada ku hingga belasan tahun lamanya.. Nggak lucu dong, seorang Dewa yang selalu pergi kemana-mana, dan namanya pun mungkin sudah melekat di keluarga Daulay. Dan.. Sekarang malah harus pergi. "


Wajah melas.


Aku memang tidak akan tega. Kau memang hebat dalam mengendalikan situasi Dewa. Pantas saja ayah Aklesh memperkerjakan mu dengan sangat lama.

__ADS_1


" Baiklah. Aku akan ikut. Tapi, dengan satu syarat... " Dengan memotong omongannya berhasil membuat Dewa dan Nauval berkelana mencari kelanjutan kata yang akan terucap.


__ADS_2