
Yaumul milad to me .. thank suport nya dan jangan pernah bosen membaca karya author abal-abal. di umur yang makin tua dan semoga sampai di umur nabi Muhammad Saw. Aamiin.
Selamat membaca ...
😍
" Silahkan duduk. Maaf saya selesai kan ini dulu. "
" I...iya mba.. "
" Hemp... "
Begitu lama... Mutia mengecek dengan teliti dan sampai suatu ketika ia di penghujung menghadapi kerumitan. " Ini kenapa tidak bisa sih.. ! ! " Menggigit pulpennya.
Tanpa menyadari seseorang yang berada di depannya tengah memperhatikannya.
" Ada apa, mba? "
" Eh sorry.. Sampai lupa kalau ada bintang. Sorry, ini lho ... Jumlah yang tertera tidak sama dengan akumulasi. Apa aku yang salah memakai rumus. "
Terlihat putus asa.
" Mana, coba sini aku lihat mbak? "
" Emangnya kamu bisa? "
Niatnya hanya bergurau berkata seperti itu. Namun, jangan salah.. Ternyata di sikapi dengan serius oleh bintang.
" Ye.. Walaupun aku berasal dari desa. Namun, namanya kurikulum itu tidak ada yang berbeda sama sekali. Kalau benar serius belajar pasti bisa. "
__ADS_1
" Ya ya ya.. Silahkan... Di coba dulu.. " Mutia bangkit dari kursi kebesarannya dan mempersilahkan bintang untuk mengerjakannya.
Bintang dengan gaya nyelenehnya dengan meregangkan otot-otot jari-jarinya.. Dengan piawai dan mengerjakannya dalam sekian menit saja.
" Sudah selesai. "
" Lho.. Ini kan jawabannya sama saja kaya hasilnya mbak tadi? "
" Emang mba... Mbaknya tadi nggak salah hitung memang benar hasilnya segitu. "
" Tapi.. Kok bisa sih.. "
" Mbak ... Siapa kepala keuangan kantor ini? " Tanya bintang.
" Kepala keuangan.. Buat apa? Ah kamu mah aneh ... "
" Ih mbak.. Ini itu nggak aneh tahu. "
" Nomer resepsionis mbak? "
Mutia menghubungkan telpon itu kepada kepala resepsionis. " Mita.. Panggilan pak Handoko, suruh keruangan saya. "
" Baik Bu. "
Dalam beberapa menit Mutia sempat bingung. Untuk apa bintang memintanya untuk menghubungi kepala keuangan di perusahaanya. Sampai seseorang yang di carinya mengetuk pintu.
" Masuk. "
Wajah yang amat dingin di tunjukkan oleh bintang. Beda dengan Mutia dengan wajah kebingungan seperti orang menyasar tidak tahu jalan. " Hay ! Siapa kamu ! Berani sekali kamu duduk di kursi Bu Mutia ! " Dengan sikap yang lantang.
__ADS_1
: Astaga cari muka sekali ini tua Bangka?
Masih diam saja.
" Bu, Mutia.. Ijinkan saya untuk menyeretnya keluar dari sini. "
" Hah...? ? Apa?? "
Sepertinya Mutia tidak mendengar Handoko berbicara. Dan saat Handoko bertanya pun tadi jawab dengan gagu.
" Jelaskan ! "
Menghentakkan meja setelah menaruh laporan keuangan yang telah di salin nya tadi.
" Apa-apaan kau ! ! "
" Apa? Kau yang apa-apaan hah ! Kau itu hanya tupai kecil yang terus saja mengambil uang kantor sedikit dikit dan memberi catatan anggaran yang palsu dengan uang keuntungan yang tidak sebanding. "
( Deg. )
: Astaga.. Bagaimana bocah bau tengik ini tahu ? Beberapa bulan ini sudah aku minimalis jumlahnya kenapa dia ...
Terlihat sangat jelas, wajah yang sudah sedikit keriput. Sudah tua namun tak pernah ada kata kapok di dalam dirinya.
Selama beberapa bulan ini, lebih tepatnya 5 bulan. Iya, 5 bulan yang lalu saat A'yunina tak sengaja melihat dia di depan kantor dengan pakaian yang sangat lecek mencari pekerjaan yang sangat sulit ia dapatkan setelah masa tua yang menghampiri setiap kaum Adam yang menginjak 56 tahun.
Bagai air susu di balas tuba begitulah peribahasa yang mungkin dapat menggambarkan sosok Handoko.
" Kenapa diam saja? Ayo jawab ! Kemana uang kantor yang selama ini kau gunakan? "
__ADS_1
: Perasaan yang pemilik kantor ini gue deh... Kenapa malah sangaran dia sih? Padahal bocah baru gede.