
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
" Oh ya ya.. Tidak masalah. "
" Silahkan duduk, tuan Ali. "
" Ah tidak. Jangan memanggilku dengan sebutan tuan. Kau sama seperti dengan putraku. "
" Maaf? " Sebenarnya Arman tahu apa yang dimaksudkan Tuan Ali. Namun, ia hanya ingin memperjelas nya.
" Ah tidak. Bagaimana dengan produk minuman herbal yang anda janjikan? "
" Soal itu.. Saya akan memberi nama AHI ( Anak herbal Indonesia ) Bagaimana? Khusus produksinya kita kan mengambil bahan-bahan dari petani sekitar, dengan begitu kita akan dapat membantu setidaknya sedikit dari pada yang mereka tanam tidak laku di pasar karena menjamur. "
" Wah boleh-boleh. Saya juga inginkan seperti itu, para petani di daerah saya juga ada. Nanti saya akan menyuruh orang untuk menghubungi mereka. "
Dia dan aku sejalan. Muka hampir sama. Tuhan.. Jangan mengingatkanku, pada 22 tahun silam. - Batinnya.
^^^**Flash Back ! ! !^^^
Dimana kejadian itu tidak ada yang mengetahuinya. Kehidupan yang sangat berlinang harta membuatnya haus untuk menguasai harta dan tahtanya. Sehingga ia nekat membunuh saudari tirinya untuk kepentingan pribadinya.
" Aku nggak mau hidup seperti ini terus! Setelah papah meninggal, bukannya meninggalkan aku warisan. Dia malah meninggalkan aku hutang yang banyak. Sedangkan Intan, dia memiliki suami yang sangat kaya. Setelah menikah dia selalu memakai rantai emas yang sangat banyak. Dan di tambah lagi, dia sedang mengandung. Tuhan aku ingin merebut semua itu. " Rancaunya hingga, ia harus berpura-pura menyayangi selama bertahun-tahun ia berhasil masuk dengan mudahnya karena rumahnya sengaja ia bakar agar ia bisa hidup enak menumpang tanpa ada beban hidup yang ia harus cari.
Dan pada hari itu, kejadian ketika putra Intan berumur 8 tahun. Racun yang sedikit demi sedikit ia akan menumpuk, begitulah kata Mbah dukun yang kala itu dimintai tolong oleh Meriam untuk menghabisi tanpa gejala yang nampak.
" Intan.. Intan hiks hiks hiks kam...kamu kenapa Intan? Bangun Intan ! ! "
" Mama ! ! "
Teriak sangat kencang membuat Ali terperanjat. " Arman? " Ia menaruh cangkir kopi itu.
" Mama hiks hiks hiks mama kenapa ma?! Bangun ma ! ! Jangan tinggalin Arman sendirian ma ! Mama ! ! ! " Memegang tangan sang mama dengan penuh erat ia mencium tanpa kenal lelah.
" Arman.. Nak.. Kamu kenapa? Nak? "
" Mama.. "
Suara itu makin kencang. " Arman.. " Ali mencoba mencari keberadaan suara Arman.
" Arman.. Kamu dimana? "
Terhenti setelah melihat mainan balok susun milik Arman berhamburan di depan pintu. Arman tadi pamit untuk ke atas melihatkan sebuah karyanya yang sudah ia susun seperti istana dongeng. Berharap ibunya akan sedikit memberikan semangat berupa senyum yang lama tak pernah ia lihat setelah ibunya dinyatakan oleh dokter lumpuh dan kehilangan pita suaranya. " Mama.. Jangan tinggalin Arman sendiri ma, Arman sudah membuatkan istana untuk mama. Mama bangun ya.. "
__ADS_1
Setelah kejadian itu.
Meriam memanfaatkan keadaan. Memang dari dahulu ia dekat dengan Arman. Dan ketika 3 bulan kemudian Ali sangat frustasi. Kehilangan sosok yang selama ini mendampingi dirinya.
" Intan, aku harus bagaimana? Apakah aku harus menikah lagi? Tapi, dengan siapa? "
Entah ia dapat bisikan dari mana? Sampai Ali memutuskan untuk menikahi saudara tiri Intan.
2 Tahun menikah tepat dimana hari ini Meriam mengajak Ali untuk berlibur menghabiskan honeymoon bisa dibilang seperti itu.
" Mas.. Hari ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan anak kesayangan kita? Bolehkan? Soalnya biar dia hapal dengan jalan-jalan disini. Jadi, kalau;- "
" Iya sayang iya. "
Sangat mudah sekali kamu dibujuknya? Pantas saja intan sangat menyayangi mu. - batin Meriam.
" Tante, kita mau kemana? "
" Sssttssss! Diam kamu ! ! "
Deg.
Kenapa Tante Meriam langsung berubah sikap jika sedang tidak bersama papa? Apakah ini yang dinamakan mempunyai dua muka? - Batin sesosok pria yang mulai tumbuh remaja.
" Tante, ini kita mau kemana? Dari tadi kita jalan kaki terus? Ini banyak keramaian tan, Arman takut jika Arman hilang disini. "
Hilang? Sebuah ide yang bagus sepertinya. Dari pada aku harus repot-repot membunuhnya. Lebih baik dia hilang disini saja. Hahaha.. Dan harta bocah cilik ini. Akan aku alihkan menjadi namaku. - Pikirnya.
" Tante.. Arman lapar banget.. "
" Lapar? Kamu bukannya tadi pagi makan sama mbok? "
Aku makan Tan, tapi.. Porsi aku selalu Tante kurangi setiap aku salah mengerjakan sesuatu. - Ingin sekali bocah itu berujar.
" Eh iya ya.. Arman sudah kenyang. " Dengan terpaksa Arman menutupi rasa laparnya.
" Tante mau ke sana. Kamu disini saja. "
Arman tanpa curiga sedikitpun tentang apa yang Tante nya lakukan hingga sampai setengah jam berlalu ia tak kunjung kembali.
" Ini sudah setengah jam lebih dari waktu yang Tante bilang sebentar? Aku ingin kembali.. Tapi, aku tak tahu harus kemana? Orang-orang ini sangatlah tinggi. Bagaimana jika aku berjalan berhimpitan dan aku terlindas oleh mereka yang mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. "
Kediaman Wardhana Hotel.
" Sayang.. Kenapa kamu menangis? "
" ... ... ... "
__ADS_1
" Baik, baik. Aku akan ke sana. "
Dasar lelaki bodoh ! Seperti ini saja kau mudah percaya.. Hahaha memang Tuhan berpihak kepadaku. - Senangnya.
Di bangku taman.
" Mas Ali kapan datangnya? Hemmp.. Sebaiknya aku siap-siap air mata bohongan. Dari pada dia nanti mencerca ku dengan banyak pertanyaan. "
Suara mobil sudah mendekat dan bunyi klakson mulai terdengar. " Silahkan turun pak. "
" Apa yang terjadi dengan dirimu? Tadi pagi kau nampak bahagia? Kenapa muram? Dan, dimana putra ku? Kau tadi pamit ijin kepadaku untuk pergi dengannya? Lalu, dimana dia? "
" Dia.. Hiks hiks hiks ! ! "
" Berhenti menangis! Aku tanya dimana putra ku. Jawab Meriam ! ! "
" Putra mu.. Putramu. Hiks hiks hiks aku telah gagal menjaganya."
Deg !
Ali bingung bagaimana ia harus menyikapinya. Setelah satu hari sebelum kejadian, Meriam memberi tahunya bahwa dia tengah mengandung. " Arman.. Arman.. Narendra ! " Kencang.
" Siap 86 tuan. "
" Cepat cari anak ku. "
Sejak pencarian tidak menemukan titik terang. Karena Meriam tidak mau jujur kemana ia pergi membawa Arman. Sedangkan Ali, ia terlalu polos untuk di bohongi dengan kata manis.
^^^**Flash Off.^^^
Jalinan kerjasama itupun berhasil. Arman terus mengembangkan usaha bisnisnya dan kariernya sedang ada di puncak-puncaknya.
" Tuan muda, selamat. "
" Terima kasih, Nauv. Kalau kamu tak menyemangati ku maka aku tidak akan mencapai titik ini. "
" Sama-sama tuan muda. Lalu, apakah rencana anda selanjutnya? "
" Aku akan mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama. "
" Tuan ingin menggugat Wina? "
" Tidak ! Aku hanya ingin menggugat wanita kampung itu. "
" Bos.. Saran saya. "
" Keputusanku sudah aku pikirkan dengan matang. Soal Wina, aku masih menyuruh orang-orang ku. "
__ADS_1
^^^**^^^
Di hari pagi yang cerah, Mutia tengah berjalan-jalan keliling perumahannya. Dengan perut yang semakin besar. Kini tinggal menunggu hari dimana bayi mungil yang sangat di nantinya datang ke dunia.