Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 61.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


****


Perasaan yang begitu sulit untuk dia ungkapkan. Sepanjang jalan dia berpikir, bagaimana kalau orang tuanya bertanya tentang Arman. Apa yang harus dia jawab? Kebimbangan bagi seorang Mutia. Ia paling tidak bisa melihat orang terkasihnya bersedih.


" Bagaimana kalau ibu bertanya macam-macam.. Aku harus bilang apa? " Menahan tangis supaya matanya tidak terlihat merah dan bengkak akibat mengeluarkan air mata.


Sikap ketidakpedulian Arman mulai terlihat kembali saat Wina menyapanya.


" Tuhan.. Kirimkan lah jalan yang terbaik untukku. Jika memang aku bukan jodoh yang tepat buat mas Arman, kenapa engkau malah mendekatkan Hambamu ini kepadanya lagi. Aku harus apa... " Sendu, menatap layar handphone nya yang di sana ada sebuah gambar keluarga yang sangat sempurna dengan senyum yang terlukis oleh wajah polos keduanya.


" Ibu harus apa nak... "


" Nona.. Kita sudah sampai. "


Terperanjat. " Oh iya ya pak.. Berapa? "


Mutia membayar taksi itu dan turun. Memasuki mansion miliknya. " Assalamualaikum.. "


" Waalaikumsalam.. "


Dilihatnya sekeliling.


Kemana orang-orang?


" Nona muda? " Membuyarkan lamunannya.


" Eh iya bi. "


" Nona muda pasti mencari ibu dan nona Putri ya? Mereka pergi ke arisan nyonya besar nona. "


" Oalah.. Lalu? Dimana anak-anak saya bi? "

__ADS_1


" Baby Zhalina dan Zhafran turut serta dibawa nyonya, nona. " Dengan sopan.


" Baiklah bi. Mutia ingin istirahat sebentar. "


" Baik non. Jika perlu apa-apa, panggil bibi saja. "


" Hem.. " Memasuki kamar dengan rasa lemas lesu seperti orang melaksanakan puasa.


Malam hari pun tiba.


" Mutia.. Nak Mutia.. " Teriak menggema dari sudut pintu masuk.


" Ibu. " Bergegas turun dari lantai atas.


Tap tap tap..


" Ada apa Bu? "


Ibu A'yunina langsung memeluk erat Mutia sambil menangis. " Bu.. Ibu kenapa? Katakan Bu, siapa yang berbuat jahat pada ibu? Biar Mutia balas Bu. "


Matanya ikut berkaca.


" Kenapa... " Terhenti lalu menatap tajam mata Mutia.


" Kenapa kenapa Bu? Siapa orangnya? Biar Mutia suruh orang-orang Mutia buat balas mereka Bu. "


" Hiks hiks hiks bodoh. Kenapa kamu tidak bilang kepada ibu, pasti kamu sangat tersiksa kan? "


Deg!


Apa maksud ibu? Apa dia tahu tentang mas Arman? Tapi.. Nggak nggak ngggak..


" Kenapa? Ibu sudah tahu semuanya. "


•••°•°• Flashback.

__ADS_1


Dengan geng sosialitanya.


" Aduh jeng.. Maaf ya terlambat.. " Ucap ibu A'yunina.


" Nggak apa kok jeng. Saya baru saja datang. "


" Hemp ... Langsung kita mulai saja ya? "


" Oh ya ya jeng.. " Teman sosialita itu mengocok dengan botol nggak main-main tupwe**** karena malas menggunakan botol bening yang murah.


" Astaga.. " Menutup mulutnya. Ketika nama itu keluar dan di bacanya dalam hati.


" Kenapa jeng? "


" Kok bisa ya.. Aduh.. Selamat buat jeng Ayu, kemarin nama anaknya jeng yang keluar. Dan sekarang malah nama cucu jeng ayu yang keluar. "


" Wah benarkah? Berarti rezeki cucu cucu saya hehehhe... "


" Iya jeng. Bisa jadi. Dan ini uangnya. Dihitung lagi ya uangnya jeng? "


Setelah menghitung.


" Oke pas. Saya ingin mentraktir cucu cucu saya dulu. Sampai jumpa Minggu Minggu selanjutnya. "


" Ya jeng. "


" Oke jeng. "


" See you next time jeng.. "


Saat mendorong stroller.


" Kamu kenapa dari tadi diam saja Put? "


Seseorang ibu akan selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Walau hanya sedikit saja, ia bisa merasakannya karena hati mereka sudah bersatu dengan satu sama lainnya.

__ADS_1


__ADS_2