
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
" Wah ada sate.. "
Mutia turun, tak lupa ia menekan tombol itu. Tiuttt tiuttttt.
Dengan wajah sangat merona, seperti sedang mendapatkan harta karun yang tersembunyi.
" Bang sate bang. "
" Eh mbak cantik, mau berapa porsi mbak? "
" Seporsi berapa bang? 2 porsi aja bang, pakai lontong kan? "
" Haduh lontong rebus habis mbak, adanya lontong saya. " Dengan gurau.
" Oh habis ya, ya sudah satenya saja bang. "
" Siap, tunggu dulu. "
Kenyang memakan 2 porsi sate, Mutia segera kembali ke mobil. " Mas Arman, ngapain sih didalam? Ini sudah hampir 5 jam, kenapa tak kunjung kembali. "
^^^*^^^
^^^Flashback\=>^^^
" Sayang, lama sekali kamu datang? "
" Maafkan aku sayang, aku harus mencari cara agar aku bisa keluar dari rumah. "
" Apa nenek tua itu masih mengatur mu, sayang? "
" Stop, Wina. Aku datang hanya karena kau memanggilku, dan sekarang aku telah datang kau malah menghina ibuku. "
" Sayang, kenapa kau malah membentak ku. Aku tidak bermaksud seperti itu, aku sangat sayang padamu. Aku sangat menyayangimu, jangan pergi. " Ujar Wina sambil menggesek-gesekkan dua bukit kembarnya itu yang menonjol.
Sial! Kenapa selalu saja dia yang menang saat-saat seperti ini. - Batin Arman.
Arman tak tahan, kegelisahan menahan gelora yang ingin di tuntaskan. " Sayang, kenapa kau malah bengong. Apa selama beberapa hari ini kau tak merindukan ku? "
" Tidak, aku sangat merindukanmu. Aku terlalu naif jika aku tak merindukanmu, sekarang tolong puaskan aku untuk malam ini. "
" Baiklah sayang, namun.. Ada sebuah tas keluaran terbaru, harganya cukup lumayan. "
" Wina, apapun akan ku berikan sayang. " Suara beratnya sudah tak mampu menahan.
^^^**^^^
Pukul 5 subuh, Mutia terbangun mendengar suara seseorang mengaji. " Astaga sudah jam berapa ini. "
Mutia melihat jam yang ada di ponselnya.
" Lima pagi!!! Kenapa mas Arman belum juga kembali? "
__ADS_1
Ia melihat beberapa nomer yang muncul di log panggilan keluar. " Ibu? Untuk apa ibu mertua menelpon? Apa mas Arman tidak mengabari ibu? Lalu, dia dimana sekarang. "
Mutia turun dari mobil, dan bertanya pada satpam yang berjaga. " Permisi pak,- "
" Iya, mbak. Ada apa ya? "
" Mau numpang wudhu dan sholat pak, cuma masalahnya saya tidak ada mukena. "
" Oh, mbaknya mau sholat. Sebentar,- "
" Maman, sini kamu. "
" Iya, kang. Aya naon eta? "
" Ini tolong bawa mbaknya kedalam, dan panggilkan Tini buat kasih pinjam mukenanya. "
" Oh oke kang. Ayo neng, kita kedalam. "
*
" Lala Lala lalalalalala kalau ada kopi yang kusuguhkan tak pernah engkau minum. "
" Tin, Tini! "
Sekeras apapun kalau telinga di kasih headset tidak akan mampu kecuali di goyang. " Tini!!! " Panggil ke tiga kang Maman.
" Eh ampun bang jago, sorry bang jago. Ada apa bang? " Ujar Tini.
" Setdahhh Tin, kamu itu lho coba di kurang-kurangin. Sekarang masih jam kerja, bagaimana kalau bos tahu? "
Tap tap tap.
" Kalian sedang apa? Dan kamu, siapa kamu? " Yang di anggap bos adalah manager yang sering meninjau karyawan yang bekerja serius dan bermain-main.
" Bo...bos. " Gugup Tini.
" Iya, saya. Kenapa wajah kamu gugup, Tini? "
" Nggak pak, saya nggak apa-apa. " Langsung menyembunyikan kabel itu tadi di belakang tangannya.
" Dan kamu, kenapa berada disini? Disini bukan panti jompo, jangan bebas masuk dan keluarkan orang. Ngerti? "
" I..iya pak, tapi saya ada keperluan. Saya hanya ingin meminta mukena saja kok. "
" Mukena? Tini, cepat kasih pinjam. Lalu selesaikan tugas kamu kembali. "
" Baik bos. "
^^^*^^^
Karena menunggu Arman keluar, ia sampai ketinggalan 2 waktu sembahyang nya. Ia sempatkan untuk membaca Alquran, berbekal suara yang yah dibilang agak samar namun terdengar jelas bacaannya.
*
" Suara merdu, siapa yang tengah mengaji? " Langkahnya mendekat, kian penasaran. Bacaan dan lantunan ayat-ayat Alquran sangat terdengar fasih.
Arman memegang pundak wanita di balik mukena itu. Tak lama, wanita itu menoleh. " Mu...Mutia? " Gumaman itu terdengar jelas di telinga Wina.
__ADS_1
" Mutia? Apa jangan-jangan nama wanita itu? " Ujarnya secara pelan.
" Mutia, Mutia. Ini aku, Arman. "
" Maaf, anda siapa ya? Nama saya Raheel. "
Arman gemetar, memundurkan langkah kakinya. " Tidak, kamu Mutia. Ya, kamu Mutia. Aku tidak mungkin salah mengenali istriku sendiri. "
" Tidak! Tidak! Kamu Mutia ku. Kamu Mutia ku. Lista Mutia Sari. "
" Bukan mas, saya Raheel. "
°°
" Tidak! Kamu,- " Tersadar dari mimpi yang membingungkan.
" Iya mas, ini aku. Wina, Wina ada disini mas. "
Arman menghempas tangan yang hampir saja menyentuhnya. " Mas, kamu apa-apaan sih! Aku hanya ingin memelukmu saja, kenapa kamu menolak. "
" Sayang, maafkan aku. Aku harus segera pergi, aku takut jika orang rumah mencari ku. " Mencari semua perlengkapan yang ia kenakan saat ia datang tadi.
" Sayang.. Nenek tua itu tidak akan mencari mu. Lagian, dia pasti mengira putra kesayangannya ini sedang menginap di hotel untuk menghabiskan malam pertamanya dengan istrinya. "
" Wina, bisa tidak pagi-pagi jangan mencoba memancing amarahku. Aku sedang tak ingin berdebat denganmu. "
" Oke oke oke aku tidak akan berdebat lagi. Apakah kau mau melakukannya lagi seperti malam tadi? "
" Tidak, aku akan pulang ke rumah. Lain waktu, jika aku sedang senggang. Maka aku akan datang menemui mu. "
^^^*^^^
Gadis itu langsung melipat sajadah yang ia kenakan untuk berserah diri kepada yang maha kuasa. " Ya Allah, andai saja mas Arman dan hamba menikah karena cinta. Mungkin saja dia tak bersikap seperti ini kepada hamba. Hamba seperti seorang pelayan yang di pecat, dan **** lontang lantung karena tidak bekerja. "
" Sebaiknya aku kembali ke mobil, takutnya mas Arman sibuk mencari ku. " Ujar Mutia setelah ia mengembalikan mukena itu kepada yang pemiliknya.
••
" Ya ampun, di kota jam segini udah banyak banget mobil berlalu-lalang. Bagaimana aku akan menyeberang jika lampu merahnya saja masih belum menyala. "
Tampak samar Mutia melihat dari sudut lain. Sosok Arman nampak pada jendela transparan tengah di peluk erat oleh seorang wanita. " Mas Arman. "
" Tidak tidak! Mas Arman tidak mungkin berbuat hal seperti itu. Ayo Mutia, kamu buang pikiran jelek kamu. Ingat, dia suami mu sekarang ini. " Mencoba mendongak kembali. Namun, kali ini sosok Arman tak nampak.
^^^*^^^
Mutia dengan kepala dingin berhati-hati menanyakan hal yang mungkin saja menyinggung perasaan Arman. " Ma...mas. "
" Apa kata mu! "
" Panggil aku tuan!! Ingat itu. " Mencengkram tangan Mutia.
" Dari mana saja, tuan? "
.
" Perlukah seorang istri tak di anggap, bertanya-tanya tentang kegiatan suami sendiri. Kau seakan tak mempercayai ku, kau seakan menuduhku, menginterogasi ku. Apa kau sadar, hah!! "
__ADS_1