Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 55.


__ADS_3

" Imel,saya mau pergi ke pasar dulu. Tolong kamu jaga anak-anak saya ya? "


" Siap Bu. "


Perjalanan ke pasar sudah sering. Cemoohan tidak? Jarang ada warga yang terlalu mengurusi hal pribadi. " Mbak Lista, mau belanja apa? " Sapa ibu itu.


" Eh, iya. Saya mau beli ayam sekilo, wortel dan daun kelor ya ya Bu. "


" Buat apa belanja banyak-banyak Bu? " Tanya berbasa-basi.


" Eh itu.. Buat anak anak saya. Mereka kan sudah mulai makan tuh. Nah sebagai ibu yang baik, saya ingin membuat MPASI yang bagus 4 sehat 5 sempurna. Eh Bu, kalau ada jagung dan daun bawang boleh deh. "


" Oh baik. "


Setelah belanja di pasar, Mutia melihat ada penjual mainan keliling. Kasihan bapak itu. Ia sudah tua, bahkan giginya pun ikut tergerus bersamaan dengan tulang yang saat ini memikul segala macam permainan anak-anak.


" Assalamualaikum, pak. "


" Waalaikumsalam, eh neng nya mau beli apa? "


Saat tengah asik mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecil. Beliau bangkit dari duduknya dan dengan ramah melayani costumers barunya.


" Eh eh tidak pak. Bapak duduk saja, saya cuma ingin membeli ini pak. "


" Wah pilihan yabg tepat neng. Mau dibuat kado keponakannya, ya? " Sang bapak itu membungkus 6 jenis permainan yang 3 diantara mereka berbeda-beda.


" Oh nggak pak. Saya beli buat anak saya, kasihan mereka kalau menunggu saya lama-lama di sini. "


" Lho neng nya sudah nikah? Wah saya pikir masih gadis. Baru saya ingin mengenalkan cucu saya kepada neng. "


" Hehehe sudah pak. Sudah setahun lebih malahan. Ini pak, uangnya. "


" Mainannya cuma 25ribu satu neng. Kenapa banyak sekali ini? " Menghitung uang yang sengaja Aisyah gulung gulung agar dia bisa kabur rencananya setelah memberikan uang itu. Namun, bapak itu ternyata lebih cepat menghitungnya dari pada jurus ninja yang Mutia ingin prakterk kan.


" Haah lebih ya?? "


" Iya neng. " Menyerahkan uang itu kepada Mutia.


" Hemp.. Gimana ya pak? Tangan saya penuh semuanya nih.. Bapak ambil saja ya uang itu, anggap saja itu pemberian dari anak bapak. Jadi, bapak nggak perlu susah-susah bekerja keliling lagi. Nanti ada orang-orang daya yang akan mengecek bapak. Dari mulai keadaan dan kesehatan bapak. "


" Ya Allah neng.. Mulia bener hatimu. Terima kasih neng, terima kasih banyak. "


" Sama-sama. "

__ADS_1


^^^***^^^


Urusan DNA sudah selesai. Kali ini Ayah Ali mendatangi kediaman Daulay. Dengan setelan jas yang rapi seperti biasanya.


" Nak, ayah mohon kepadamu.. Tolong kelola juga perusahaan ayah. "


" Maaf yah.. Untuk saat ini Arman tidak bisa membantu ayah. Arman sendiri sedang dalam masalah yang sangat besar. Istri Arman, mereka pergi. Yang satu, Arman tidak tahu pergi ke mana? Dan yang satunya, di ajakin pulang nggak mau. "


" Ala ala ala.. Masalah wanita lagi. Kamu mempunyai dua istri? Wah ayah kalah kalau begitu ya? "


" Bukannya enak yah.. Malah Arman yang bingung sendiri. Yang satunya hilang nggak tahu kemana? Dan yang satu, anak ibu saya juga mengasingkan diri ke desanya asisten ibu saya. "


" Hahaha.. Rasain. Mangkanya jangan menjadi cowok sok keren. Di tinggalin susah sendiri kan? " Sindir Jihana.


" Jihan, pakaian kamu nggak ada yang lebih panjang lagi? " Ujar Arman.


" Nggak, baju-baju aku memang begini semua. Lagian ya.. Aku ini seorang model papan atas, nggak cocok kalau pakai baju baju kampung! "


^^^**^^^


Dengan wajah yang masih sedikit menahan rasa sakitnya akibat bokong yang menyentuh tanah.


Karena lapar, Dewa dan Nauval memutuskan tidak memperpanjang masalah ini. Toh, dari sisi lain.. Emang Nauval lah yang bersalah. Memang seorang gadis tepat di bahunya dan di saat sang gadis itu merasa risih. Ia tak mengira kalau yang ia banting orang yang baik. Bukan seperti yang berada di bayangkan, oleh Naysilla.


" Baik. Ya kamu pasti bisa lihat lah kalau dari luar. Jika di dalam, kamu pasti akan melihat luka memar di bokong ku. " Ujar ketus Nauval.


" Ya maaf, om. " Menundukkan pandangannya.


Membenarkan posisi topinya. " Om Om sekali.. Saya Naysilla mau pamit dulu, karena lagi pengen ngider timbang mangkal. " Sudah memegang gerobak dorong.


" Eh cewek jadi-jadian ! Mau kemana Lo ? "


" Mau ngider lha. Udah deh kalau nggak kenal jangan main ganti ganti nama orang segala. Emang Lo mau bikinin gue bubur merah putih? "


" Ya .. Nggak mau sih... Tapi, gini lho.. Gue butuh itu. " Tunjuk nya pada gerobaknya.


" Nggak ada ya ! Gerobak aku ini gerobak dari jaman perang dunia kedua. "


"Ye kepedean ini cewek. Bukan, aku nggak mau beli itu, tapi isinya. "


" Halah Val Val, kamu tuh Lo kalau ngomong sama cewek-cewek disini.. Jangan dengan bahasa alien. Gini neng, si Mama's yang haduh kurang tampan ini kelaparan saat perjalanan ke sini. Padahal dari bandara tadi dia sudah makan Lo neng. Ampun itu perut atau karung beras ya.. "


Bangkai Lo Dew. !

__ADS_1


" Oh kalian mau membeli gorengan toh.. Ayo kalau begitu cus. "


Etdah. Tadi nangis-nangis sampai umbel pada kemana-mana. Sekarang malah kayak nggak ada beban. Aneh betul ini cewek. - Umpat Nauval.


Gadis tegar. Semoga kamu bisa menemukan jodoh yang tepat untuk mu. - Doa tulus dewa.


Lapar atau doyan entah apa yang dipikirkan Nauval saat ini. Padahal dia yang merasa sangat lapar. Dan sekarang malah Dewa lah yang memakan dengan porsi jumbo.


" Bro ! Lo lapar, atau doyan? "


" Haah ? " Dewa baru menyadari Satu piring setengah dia habis kan sendiri pentol tusuk itu.


" Apa haah apa? Lo itu tadi katanya masih kenyang. Nyatanya Lo juga yang rakus. "


" Eh gue nggak rakus ya ! ! "


" Iya, Lo nggak rakus, tapi Maruk. "


" Astaga kalian itu ya.. Kalau mau makan disini, bisa nggak? Kalau nggak pakai ngegas dan pakai otot. Apa kalian mau masuk ke dalam liang lahat secepatnya? "


Deg !


Mereka bergedik ngeri dengan apa yang Naysilla katakan.


" Eh nggak nggak. "


" Berapa yang harus aku bayar? "


" 150 ribu aja. "


" Apa.. Sebanyak itu. " Terkejut. Jika ia belanja di sebuah makanan di tempat mall pasti melebihi 300 ribu.


" Murah sekali. " Gumamnya secara pelan.


" Ya murah lah. Orang pentol nya rumahnya Made. "


" Apa? " Mereka berdua bingung. Rumahnya Made?


" Iya, kami buat sendiri dari penggilingan sampai rumah bulat bulatin sendiri tanpa bahan pengawet. "


Alamak.. Maksud dia tadi HomeMade. - Menepuk jidatnya sendiri karena entah dia yang bodoh atau kurang lagi ilmunya padahal belajarnya tak pernah usai. Batin dewa.


" Hoalah.. Tak kira apa. Ya udah ini uangnya. "

__ADS_1


__ADS_2