
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
******
Waktu sudah berjalan mengikuti jarum yang terus berdetak. Jarum telah menunjukkan pukul 1 dini hari. " Astaga katanya terserah.. Giliran aku kasih dosis rendah saja sudah mabuk. Terus, bagaimana ini.. Aku mana kuat jika membopong bos sendirian. "
Menengok kiri kanan, hanya ada pelayan wanita yang menyuguhkan tubuh mereka pada pria hidung belang. " Hais kenapa hanya tersisa itu sih.. Panggil nggak? Panggil, nggak.. Astaga panggil ajalah. Dari pada nggak bisa bawa pulang. Nanti kena semprot lagi sama bos. "
Naufal memakai bahasa isyarat. Melambaikan tangannya. Namun, sepertinya sang wanita tak menggubris Naufal. " Harus cara apa lagi agar itu cewek kesini. "
" Suttttttt sutttttttttttttt sutttttttttttttt .. "
" Itu orang nggak ada kerjaan apa ya? Tadi melambai, sekarang sudah kaya manggil hewan peliharaannya saja suttt sattttt suttttttt. Hari sudah malam, dan aku belum juga dapat pelanggan.. Bagaimana aku bisa membayar penebusan ijazah ku. "
" Cewek! Sini.. "
" Ada apa sih mas? Dari tadi kaya orang kekurangan oksigen aja. "
" Kamu itu dari tadi saya panggil-panggil. Kenapa kamu tidak menoleh sama sekali! "
" Oh soal itu.. Saya pikir masnya lagi latihan vokal antar burung kakak tua. Hahahaha.. "
Gadis ini benar-benar ingin menguji kesabaran ku rupanya? - Naufal sangat geram jika ada yang menertawakan ketidakpastian dengan anggapan.
" Huh! Nona yang baik dan cantik. Saya sedang tidak bercanda. Saya lagi butuh bantuan dengan sangat.. Apakah kau bisa membantuku? "
Apa katanya? Membantuku? Wah sepertinya Tuhan memang lagi berpihak kepadaku. Ijazah ku sayang.. Baek Baek kau di sana ya, nak.. Ibu akan menebus mu. - Rasa ingin melompat.
" Oh tuan tampan... Kau mau aku membantu apa.. Mau aku servis dengan.. "
" Sudah jangan banyak gaya, aku sedang kepepet ini. Bantu aku mengangkatnya ke mobil. "
" Lalu, berapa imbalan yang akan ku dapatkan? "
Cih mata duitan. Oh ya kenapa aku lupa? Dia kan memang wanita murahan. Wanita pemuas nafsu om om. Hiuhhhh jauhkanlah aku dari wanita-wanita macam ini Tuhan. - Bicara dalam hatinya.
" Berapa yang kau inginkan? Nanti akan ku beri, setelah tugas yang aku perintahkan kau selesaikan. "
" Baiklah tuan tampan. "
" Kau angkat kepalanya, dan aku kakinya. "
Setelah memandang seseorang yang dimintai untuk mengangkat.
" Tuan, Cindy mana kuat tuan. Badan sebesar itu. Cindy nyerah tuan. "
" Lalu, bagaimana? Aku harus membawanya pulang. Dia adalah atasanku. "
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita bopong dia saja tuan. Jika harus mengangkat, saya rasa itu bukan hal yang bisa membereskan ini. "
" Baiklah. "
^^^*^^^
Setibanya di apartemen.
" Nona, nona.. Nona.. "
" Eaghhhhhh malam-malam siapa yang berteriak gitu sih? Eh tapi, bagaimana aku bisa mendengarnya? Atau jangan-jangan hantu? Ah sebaiknya akubtidur lagi aja. "
Menepuk-nepuk bantalnya supaya nyaman ia tempati untuk tidur kembali. Ting tong ting tong.
" Hah.. Suara bell? Jangan-jangan tuan muda? " menyingkap selimutnya dan berlari ke depan untuk membuka pintu.
Cektekkkkkk.
Mutia kebingungan, dia tidak melihat sosok tuan mudanya. " Asisten Naufal, dimana suamiku? "
" Nona, tolong bantu saya.. "
" Bantu? Emangnya apa yang sudah terjadi dengan tuan muda? "
" Ikut saya nona. "
Rambut sudah tidak Serapi saat ia berangkat tadi. Wajah menjadi masam. " Ini ada apa Naufal! Kenapa dengannya? "
" Kau pikir nasi kotak! Pakai selamat segala. Ya sudah ayo, pelan-pelan. "
Saat Mutia membantu membopongnya.
Oh tuhan.. Kenapa dia berat sekali, apa ini adalah dosa karena sudah mendzolimi ku? - Batin Mutia.
Saat sudah memasuki ruang tamu. " Nona, dimana kita akan meletakkannya? "
" Eeeeeee sebaiknya kita bawa ke kamarnya saja. Ayo cepat asisten Naufal, saya sudah tak sanggup lagi membopongnya. "
.
" Disini nona, pelan-pelan. "
Naufal mencoba menata posisi yang mengenakkan untuk Arman tidur. " Huh! Akhirnya tugas saya selesai juga. "
" Huh! Benar katamu. Apa kau haus? Aku bisa membuatkan mu minum dahulu jika memang iya? "
" Tidak nona... Saya ingin pulang saja. Besok saya harus menyiapkan sesuatu. "
Tidak bisa nona. Tuan muda pasti akan marah jika beliau tiba-tiba bangun dan melihat kita lagi dengan berduaan seperti tadi saja bola matanya sudah ingin keluar saja. - Batin Naufal.
__ADS_1
" Oh, baiklah. Mari aku akan mengantarmu ke depan. "
" Tidak usah nona. Sebaiknya nona urus dulu tuan muda. "
" Baiklah. Tolong tutup kembali pintunya. "
" Baik, nona. "
Saat ini hanya ada mereka berdua dalam satu ruangan itu.
" Huh! Tuan muda, tuan muda. Bisa tidak? Jangan bikin ulah sehari saja. Tadi sudah marah-marah nggak jelas. Sekarang malah pulang dalam keadaan tidak sadar. Untung aku cinta tuan, jika tidak.. Mungkin aku sudah kabur dari sini. "
" Maaf ya tuan.. " Ujar Mutia saat mengangkat kaki kanan tuannya.
" Maaf lagi tuan.. " Sambil menggigit kecil bibir bawahnya. Ia takut jika tuan mudanya terbangun.
" Nah sekarang tinggal taruh deh. " Ujar Mutia saat menaruh sepatu itu di rak selesai itu ia mencoba menyelimuti tubuh sang suami.
" Mimpi indah, tuan muda. " Bisik Mutia.
Saat ia mencoba melangkah dengan perlahan.
" Jangan pergi.. "
Kakinya mendadak berhenti. " Tuuu...tuan.. Mutia hanya ingin pergi ke,- " Saat ia mencoba membalikkan dirinya.
" Fyuhhhhh.. Aku pikir dia bakalan bangun. Ternyata dia sedang mimpi bermimpi rupanya. "
Saat melangkah kembali. " Berhenti aku bilang! " Mata masih terpejam, namun ia bisa duduk dan berhasil menggenggam pergelangan tangan Mutia.
" Tuan.. Saya cuma ingin. "
" Aku bilang jangan pergi. Wina aku benar-benar mencintaimu. Kau kemana saja? Dari tadi aku menunggu kapan kau pulang. " Kali ini matanya sedikit terbuka namun bola mata itu sedikit merah.
" Tuan.. Saya Muttt..Mutia... " Usaha memberi tahu yang sebenarnya pun terasa percuma.
Arman menariknya hingga ikut terjatuh di kasur supermewah itu. " Tuan.. Kamu mau apa tuan.. " Bulu kuduk Mutia seakan melihat setan saja.
" Aku sudah kangen kamu. Kenapa kamu baru pulang. Dan kau sekarang sudah pulang, maka tak akan ku biarkan kau pergi lagi. "
Tanpa basa-basi lagi, Arman segera menindihnya. Usaha Mutia untuk mendorong tidak cukup kuat. Kedua tangannya sudah di kunci oleh Arman.
" Tuan.. Hiks hiks hiks.. " Mutia gemetar, ini hal yang pertama baginya.
Tuhan.. Jika aku benar-benar akan menjadi istri seutuhnya saat ini juga Mutia rela. Tapi, kenapa tidak dalam keadaan sadar saja. - Batin Mutia.
" Sayang jangan menangis. Setiap malam saja kita selalu melakukan ini bukan? Tenang ya sayang.. Malam ini adalah malam buat kita berdua. "
Kemudian Arman mencium paksa Mutia, lama tak berselang Mutia mulai mengikuti gerak irama yang di tuntun Arman. Gerakan itu semakin dalam membuat Mutia hilang akal kala itu tangan Arman juga tak henti-hentinya meremas gunung kembar dari luar.
__ADS_1
Karena tak puas,-