
: Kenapa anak ini bisa hidup dengan gelar Yangs sudah menyandang di tubuhnya. Seharusnya keponakan ku satu ini tidak boleh masih hidup di dunia ini. Dia harus tiada. Hanya boleh anakku Jihana sebagai pewaris kekayaan Ali. Kalau jika ada anak laki-laki, kedudukan Jihana akan kalah di mata hukum.
" Ma.. Sudahlah. Lagian seharunya kamu senang dong, dulu aja kamu nangis-nangis dan merasa bersalah banget atas hilangnya Arman. Tapi, sekarang kenapa seolah-olah malah tidak rela jika Arman akan tinggal bersama kita. Dan kamu dek, papa mohon tolong terima kakak kamu ya nak.. Hanya kita keluarga yang dia punya saat ini. "
Mengelus rambut menjuntai Jihana.
" Baik pa. "
" Tapi pa.. Nggak bisa begitu dong. "
" Tolong kamu antarin kakak kamu ke kamarnya, papa mau istirahat dulu. "
Tanpa memperdulikan istrinya Ali langsung menaiki tangga. " Mari... Hemp.. Maaf boleh aku memanggilmu kakak? Maafkan sikap tidak kesopanan ku pada mu waktu itu. "
" Tidak apa apa. Boleh, aku pun senang jika aku mempunyai adik. "
" Mari.. Aku antar ke kamar. "
__ADS_1
Setelah pertemuan yang berlangsung itu...Dengan sukses ia memperlajarinya, siapa sangka anak dari desa bisa menghafalkan materi dengan waktu yang cukup singkat.
" Selamat tuan, anda berhasil. " Berjabat tangan dengan dewa.
" Sekarang kau tidak akan meremehkan aku lagi bukan dewa? Jangan anggap pria kampung tidak bisa menghafalkan materi dengan cepat. Bahkan kata-kata gombalan saja sudah aku ingat selalu, agar es balok itu mencair. "
" Siapa yang kau anggap es balok? " Terkejut bukan main.
Mutia sekedar ingin mengucapkan kata selamat atas keberhasilan bintang yang pertama. " Eh.. Lho lho.. Baby baby aku kok kesini, nggak tidur nak? " Mengalihkan pandangannya ke anak-anak kembar Mutia.
" Jawab ! Siapa yang kau anggap es balok hah! Kau kira kau ini tampan? Jangan mengatai orang kalau tak mau di Katai. "
" Es balok... Siapa es balok itu ! "
" Ehmm Anu mbak.. Itu es batu tercantik yang pernah saya punya. "
" Jadi, kamu maksud.. Aku ini kaya es balok ya? Keterlaluan. " Menjewer telinga bintang.
__ADS_1
" Dewa.. Bawa anak-anak aku keluar terlebih dahulu. Aku dan pria tengik ini akan membahas sesuatu terlebih dahulu. "
" Baik lah nona. Kalau begitu saya permisi, tolong jaga nona saya dengan baik. Nona, saya permisi. "
" Baiklah. "
Di meja makan dengan makan yang tersisa.
Bintang dengan cekatan mendorong kursi agar Mutia duduk di depannya. " Silahkan tuan putri. "
" Hemp.. Nggak usah baik deh. Saya masih marah dengan kamu. "
" Eh jangan marah-marah dong. Nanti kalau mukanya ayangnya bintang keriput gimana? Nggak lucu dong.. Suami nya aja masih gagah seperti perwira perang masa istri dah kusut kayak kulit jeruk. "
" Siapa juga yang mau sama kamu. Lagian, yang ngebucin juga kamu timbang akunya. Toh kalau nggak ada laki-laki mah nggak masalah. Perempuan karir itu nggak butuh sosok suami kalau bisa kerja sendiri tanpa membebani orang lain kenapa nggak? "
" Dan lagi.. Kali aja nanti setelah kamu bisa sukses, mbak akan bantu kamu mencari pekerjaan yang akan menjadi identitas kamu sendiri. "
__ADS_1
: Aku hanya ingin menggodamu saja.. Tapi.. Aku di kalahkan oleh ego, ego yang semakin hari semakin menggebu walau hanya melihat kedekatan mu dengan orang lain.