Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 75.


__ADS_3

Sikap bak seolah-olah pemilik kantor Daulay group. " Jawab ! ! Jangan diam saja! Anda punya mulut, di pergunakan. Jangan cuma tangan doang yang buat otak-atik data. Sampai-sampai.. Mbak.. Sudah berapa lama dia bekerja? Apakah pengeluarannya selalu tidak tepat dengan dana yang di kucurkan? "


" Hem... Aku tidak tahu. Ibuku yang selalu mengurusnya. Ibu memang tak mempermasalahkan seseorang yang membutuhkan uang itu dengan cara salah atau benar. Kalau dana itu bisa membantu, kenapa tidak? Asal... Di ganti nanti kalau jika sudah ada uang. "


" Baiklah. Jawab dengan jujur, jika anda tidak ingin jujur. Maka saya akan memanggil polisi agar anda mendekam di penjara dan saya pastikan dana yang harus anda ganti melebihi ini. "


( Penjara. ) Ujarnya dalam pelan.


Namun, siapa sangka.. Bintang mendengar itu.


" Iya, penjara. Jadi, pikir-pikir lah lagi sebelum anda berbohong. "


" Hahahaha.. Emangnya anda siapa? Disini yang memiliki jabatan hanya Bu bos Mutia. Sedangkan anda? Hahaha.. Bocah bau kencur aja udah berani melawan saya. "


Ternyata Handoko sangat licik itu juga sangat serakah. Nampak dengan sikap yang ia tunjukkan saat ini. Bukannya dia mengaku malah dia membahas jabatan.


" Oke. .. "


Bintang mengambil ponselnya dan juga mengetikkan sebuah tombol.


" Hallo... Pak pol.. "

__ADS_1


" Shiffttt ! ! Baiklah baiklah saya mengaku. Saya memang menggelapkan dana itu. Tapi, saya terpaksa. "


Mungkin dengan cara ini dia akan terbebas. Sebab dari yang di katakan Mutia tadi menunjukkan bahwa seseorang bolehn mengambil jika keperluannya mendesak dan dana itu akan di ganti nanti setelah gaji cair.


Dengan menunjukkan wajah yang nampak sedih. " Oh iya? Karena apa, kalau boleh tahu? " Mutia yang ingin tahu dan penasaran. Mana tahu dia bisa sedikit meringankan.


" Ibu.. Ibu saya.. Beliau sakit keras."


" Sakit apa? " Mutia masih menyimak.


"Sakit... "


" Bu..bukan seperti itu. Ibu saya itu adik dari mama saya beliau lah ... "


" Teruslah berbohong hingga polisi tiba dan berikan saksi dan keterangan kepada nya. Kau boleh keluar, dan anda di pecat ! "


Handoko keluar dengan rasa yang sangat membara. Rasanya ia ingin meninju saja wajah bintang saat ini. Namun, ia urungkan sebelum polisi menambah catatan yang masuk nantinya yang akan membuatnya lama untuk keluar dari sel.


Mutia memberikan dua jempol kepada bintang. " Good ! Kamu sudah seperti pemimpin perushaan saja. "


Hahahaha... Diselingi ketawa Mutia. Bila mengingat.

__ADS_1


" Bahkan aku bisa menjadi ayah untuk kedua anak-anak mu itu, mbak. "


( Bug )


Sebuah sampel map yang di gulung dan di timpukkan ke kepala bintang. " Mengkhayal anda terlalu tinggi, apakah karena kursi yang sedang kau tempati itu? "


Mencoba menyindir, karena dari tadi Mutia sudah berdiri cukup lama.


" Eh iya.. Mbak mbak calon istriku.. Ternyata capek toh.. Silahkan duduk, mbak cantik. "


Berdiri dan memundurkan kursi kebesaran Mutia dan mempersilahkan Mutia untuk duduk.


" Silahkan, nyonya Bintang. "


Mutia hanya menggelengkan kepala. Sikap bintang memang tidak berubah setelah beberapa bulan yang lalu. " Kenapa ?


" Mbak semakin cantik kalau dilihat dari dekat. "


Mutia reflek mendorong bintang supaya menjauh dari dekatnya.


" Mbak itu sudah tahu kalau aku lagi... "

__ADS_1


__ADS_2