Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 20.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


*****


" Dan aku jamin kau pasti menyesal, putri ku yang kau tolak dahulu. Setelah di tolak oleh anak mu itu. Dia di lamar oleh pengusaha besar, dia pun menikah dan kau pun tahu jika saat ini anakku tengah mengandung. "


" Lalu? Arman memang tak menyukai anak mu kak. Andai saja Arman menyukai Nirmala, maka aku pun yang akan menolaknya dengan keras. "


Karena muak atau apa, Rini bangkit dari duduknya. " Aku pulang dulu. "


Cih baru saja begitu dah ngacir aja kamu mbak. - Batin A'yunina.


^^^*^^^


" Sayang. "


" Apa sayang? "


" Kamu sedang apa sih? Aku lapar. "


" Aku? Lapar? Lalu, jika kamu lapar kenapa? Apa ada hubungannya denganku? "


Arman mengusap wajahnya dengan kasar. Ingin ia mengungkapkan rasa emosinya kepada sang kekasih. Bukannya peduli, ia malah melanjutkan aksinya mengukir kuku palsunya itu dengan cat kuku.


" Sayang, aku perlu makan. Aku manusia, aku juga bisa lapar sayang. "


" Sayang, jangan jadi kayak anak susah deh ah. Tinggal order by Gojek kan bisa, nggak usah lebai. "


Benar-benar ia tak habis pikir dengan jalan pikir sang kekasih. Ia hanya ingin makanan rumah saat ini, ntah kenapa ia sangat merindukan masakan sang istri saat ini.


" Huh baiklah. "


Arman meninggalkan Wina dengan kesibukannya sendiri.


^^^*^^^


Memasuki kamar, kemudian ia mengambil kunci mobilnya dan lalu pergi. " Sayang, kamu mau kemana? "


" Aku lapar sayang, aku mau pulang. "


" Oh oke. Baiklah, jangan lupa belikan aku tas G. Itu barang limited edition, aku tak ingin orang lain memilikinya. "


" Heemmmm.. "


^^^**^^^


" Bu, hari sudah semakin larut. Mutia pulang dulu ya, takutnya mas Arman sudah ada di perjalanan. Mana Mutia belum masak. "

__ADS_1


" Oh, iya iya nak. Pulanglah, jangan lupa sampaikan ke Arman. Bikin cucunya harus yang giat, biar cepat berada di rahim kamu. Okeh. " Sambil jari tengah dan ibu jarinya membentuk huruf 'O'.


^^^**^^^


Muka yang sangat masam saat Arman Unboxing tudung saji. " Alamat.. Tumben nggak masak. Kemana ini orang? Perut ku sudah lapar, gimana ini? "


Arman mendekati kulkas. " Apa aja yang tersisa didalam sana? "


Krekkkkkk ternyata kulkas itu penuh terisi dengan bahan makanan dan juga daging.


" Kenapa isinya bahan mentah semua? Yang ada apa ini? Ikan kembung, kah ini? " Mengambil wadah yang berisi ikan berbumbu.


" Ikan kembung ya ini ya? " Tap tap tap ia malah menepuk-nepuk perut ikan yang sudah kosong.


" Ini nggak kembung tuh, masa ikan sehat di bilang ikan kembung. Ais.. Goreng ajalah, dari pada mati kelaparan. Kan nggak lucu seorang CEO mati kelaparan. "


Membawa wadah itu ke tepi kompor. " Ini penggorengan, minyak minyak.. Dimana minyak gorengnya? "


Ternyata ada di meja yang lainnya. " Astaga Mutia Mutia, taruh barang-barang kenapa acak-acakan sih!! Nggak bisa apa di taruh nya di satu tempat? "


^^^*^^^


Disisi lainnya.


Mutia baru saja pulang. Lapar kini telah melanda perutnya, ia juga memikirkan sang suami yang saat ini mungkin belum makan. " Ah lelahnya. " Krekkkkkk kamar terbuka lebar.


" Lho lho, ini kan? " Buru-buru Mutia melempar tasnya ke sembarang tempat.


" Mas, eh salah. Tuan muda, tuan? " mengetok pintu kamar mandi yang berada di kamarnya.


Kok sepi ya? - Mutia ragu saat ia ingin membuka pintu kamar mandinya.


Dag dig dug.


" Astaga nggak ada orang ternyata. Dasar, Mutia Mutia. Kamu itu lho kalau mikir yang benar dikit. " Rasanya ia ingin menertawai dirinya sendiri.


*


Tek Tek Tek.


" Alamat, kenapa kompornya nggak nyala nyala!!! Please nyala, aku lapar banget nih. "


Suara kompor? Wah jangan-jangan maling? - Batin Mutia.


Mutia mengendap-endap, seperti polisi yang sedang memantau pergerakan terdakwa yang di duga pencuri.


" Haduh kompor! Coba kek kamu nyala nah, perutku ini nggak bisa di ajak sahabatan lagi. " Pasrah karena kompor belum juga menyala. Ia tak sengaja menyenggol satu tombol kalau kompor itu menyala.


" Nah coba dari tadi kek nyalanya!! "

__ADS_1


Mutia dari tadi senyum-senyum nggak karuan melihat tingkah pewaris utama Daulay bersikap konyol bak pelawak dadakan. " Mas mas, kenapa nggak bilang sama aku aja sih? "


Arman menoleh. " Apa sih? Jangan ajak saya ribut, tenaga saya sudah abis. "


" Sini sini, biar Mutia saja yang menggorengnya. "


" Nggak! Sana kamu jauh-jauh. Biar saya sendiri, saya juga bisa kalau cuma goreng ikan. " Ucapnya dengan penuh percaya diri.


Tingkat percaya dirimu sangat tinggi mas. Yang ku khawatirkan adalah ketika. percaya diri kamu berkurang. - Batin Mutia.


Mengobrol membuat minyak itu terlalu panas. Srengg dan disaat ikan itu di masukkan, tak sengaja minyak itu malah meletup-letup ke tangan Arman.


" Awh awh awh. " Mengusapnya dengan tangan.


" Tuan. " Mutia langsung sigap mematikan kompor yang masih menyala.


" Tuan, ih tuan kenapa goreng ikan sendiri. "


" Saya lapar, mangkanya itu saya masak sendiri. Kamu juga, tumben nggak masak? Dari mana saja kamu seharian ini? "


" Iya, iya maaf tuan. Mutia tadi pergi ke rumah ibu mertua tuan, kangen aja gitu. Jadi Mutia pesan Gojek deh. "


" Tapi, setidaknya kamu hubungi saya dulu lah. Biar saya bisa nyusul ke sana! "


Mutia heran. Padahal ia sudah mengirimkan pesan kepada suaminya itu. Tapi, kenapa dia kena semprot lagi?


" Tuan, sebenarnya Mutia sudah mengirimkan pesan ke nomer tuan. Mutia juga sudah berusaha menghubungi nomer tuan. Tapi, tidak ada balasan tuan. "


" Jadi, kamu anggap itu salah saya gitu!! "


" Eh nggak nggak tuan. Mutia pergi ke dapur dulu kalau begitu. " Gelagapan menghadapinya, langsung ngacir dari bangku ia duduk.


Arman tersenyum menggoda istrinya itu. Baru kali ini ia tersenyum kepadanya. Namun, ia kembali menarik senyum itu.


Aku tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Ingat Arman! Kamu masih mempunyai Wina. - Menepiskan rasa itu sebelum ia akan muncul menjadi sebuah perasaan yang sangat besar.


Selang beberapa menit, ikan goreng sudah matang. Mutia sedikit menghias dengan sayuran agar yang makan semakin tambah lahap.


" Apa!! Kamu serius? "


" Iya sayang. Aku sangat serius. "


" Tapi, bagaimana bisa? Aku kan sudah memintamu meminum pil itu, bagaimana kamu bisa hamil. "


Jjjjddaaarrrrr bak petir disiang bolong. Senyum yang ia tunjukkan pun sirna.


" Waktu itu aku lupa sayang. Aku... Hiks hiks hiks. "


Ya Allah, berita apalagi ini? Suamiku ada main dengan perempuan. Dan di tambah ia sedang mengandung buah cinta mereka. Apakah Mutia harus menyandang status janda lebih cepat ya Allah? Bantu Mutia melewati ini semua dengan ikhlas. - Mutia sedih, namun juga bahagia. Sesosok malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah keluarga Daulay.

__ADS_1


Mutia masih menyimak pembicaraan mereka berdua. " Sayang tenang, oke. Kamu nggak boleh nangis. Setelah aku mengisi perutku, aku akan datang ke sana. "


" Hiks hiks hiks iya sayang. Aku akan menunggumu. "


__ADS_2