
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
" Kenapa? Apakah perbuatan mu saja tidak cukup membuatmu sadar hah!!! "
Wajah perempuan itu masih sangat muda.
Hahaha rasain! Mangkanya jangan ganjen kalau jadi cowok! Ih untung belum ada gebetan atau pacar. Kalau dia gebetanku, langsung habis. Babat babat dah!! - Batin Putri.
" Putri? "
Memegang salah satu pundak wanita yang ada di bandara. " Iya? " Kebetulan yang disentuh juga bernama Putri.
" Eh, maaf. Saya salah orang. "
" Gimana ini Fal! Putri kemana lagi.. "
" Sabar bos. Sebentar, saya akan mencarinya terlebih dahulu. "
Tiba-tiba, mata lekat coklat itu melihat ke salah satu kursi yang ada di ruang tunggu. " Itu kan Putri? Fal, itu benaran Putri atau mataku yang mulai rabun? "
" Sepertinya iya tuan. Dari segi spesifikasi, itu memang nona Putri. "
" Spesifikasi spesifikasi! Emangnya adikku itu layar tap tap apa yang ber memori. "
" Hehehe maaf tuan. Saya hanya bercanda. "
^^^**^^^
" Fal Fal, coba kau lihat itu! "
" Wah tuan, sepertinya daya pikat nona Putri sangat ampuh tuan. Baru saja ia landed, sudah menyantet pria. "
" Emangnya adikku dukun apa! Udah ayo kita ke sana aja, aku paling nggak mau kalau adikku kenapa-kenapa! "
" Tuan, tunggu dulu. Jangan bertindak gegabah! Kira lihat saja dari sini. Jika kelihatan ia sudah tak mampu meladeninya. Maka, kita akan maju. "
" Tapi, Nauf! Pria itu sungguh angkuh aku khawatir. Jika sesuatu yang buruk menimpa adikku... Bagaimana!!! "
" Tuan, sabar. Jangan emosi disini!! "
Dengan menggenggam tangan yang seakan semakin mengeras saat lelaki itu meminta berkenalan dengan sang adik. Tak berselang lama, ia langsung tertawa. Karena yang sedang menggoda adiknya adalah sang pecundang. Pecundang karena tidak bisa setia pada satu wanita saja. Bahkan ia akan menjadi seorang ayah, namun sikap yang di tunjukkan sangat menjijikkan.
" Tua...tuan kenapa anda malah tertawa? " Karena posisinya membelakangi supaya sang majikan tidak bertindak bodoh.
" Apa sih! Lepas! "
Tuan ini! Tadi senyum, sekarang malah.. Aduh stres kali ya? - Batin Nauval.
Perlahan Nauval memundurkan langkahnya. " Ayo ikut aku! "
__ADS_1
^^^*^^^
" Dik? "
Wajah yang amat di rindukan. Sebulan sekali merupakan hal yang sangat amat langka. " Kakak!! "
Arman merentangkan kedua tangannya, sudah siap sedia memeluk sang adik. " Kenapa? "
Putri Gyana Daulay sang putri tunggal semenjak bayi perempuan yang pertama dilahirkan di tukar dengan bayi laki-laki yang sudah tak bernyawa. " Aku, situ sedang nanya siapa?? Ayo, Kak Naufal. "
Putri malah menggenggam jari-jemari Naufal. Reflek, Naufal menjadi terseret.
Bos!! Tolong aku bos! Naufal nggak bisa move kalau lama-lama pegangan tangannya bos. - Batin Naufal, ia ingin menjerit. Tapi, mata indah itu mampu menahan Naufal.
" Dik, dik .. Nggak bisa gitu dong, dik. " Mengejar dan berbicara di samping putri sambil mengimbangi langkahnya.
" Ih ih kak Naufal, bantu aku. "
" Dik, ayolah. Kakak minta maaf, kakak nggak bermaksud untuk telat datang. " Menggenggam tangan sang adik.
" Nggak! Kakak pasti tahu kan, kalau putri nggak mau menerima keterlambatan. "
" Tapi, itu tadi ibu yang meminta kakak untuk menikahinya. Jika bukan, kakak pasti sudah berada disini. "
" Benarkah?? Oh jadi, kakak ku yang aduh nggak suka sama wanita biasa?? Akhirnya menikah,, alhamdulilah.. Ternyata kakak ku sudah sadar. "
" Apa maksudmu dik? Apa maksudmu, kakak mu ini hilang akal!! "
Melepas tangannya yang menggenggam Naufal. " Eh nggak kak. Ayo kita pulang, utututututu jangan ngambek dong kak. Putri hanya bercanda. Ayo, kita temui kakak ipar. "
^^^*^^^
Mutia bingung ia harus berbuat apa.
Tok tok tok.
Krekkkkk
" Ada apa, bi? "
" Nyonya besar, memanggil semua orang untuk makan malam nona. "
" Baik, sampaikan kepada ibu mertua. Bahwa saya akan segera ke sana. "
Blebbb pintu tertutup rapat kembali.
Bagaimana aku bisa makan? Sedangkan dia, belum tentu makan. Apakah pernikahan yang tidak saling cinta bisa bahagia? Tuhan, aku bingung. Parasnya yang tampan, tak akan mampu membuat jiwa ku terus menolak. - Batin Mutia.
" Sebaiknya aku membersihkan diri saja. "
Gemercik air tak bisa membohongi bahwa kesegaran setelah penat mengenakan gaun yang lumayan berat, hingga membuat badan itu menjadi lengket. " Huh segar. Baju baju baju, kita pakai yang mana ya? " Seperti sedang berbelanja baju di pasar.
" Ah ini warnanya sangat menawan, pakai ini saja deh. " Baru saja tangan itu menyentuh kawat menggantung.
__ADS_1
" Hey! Jangan mengenakan yang itu!! "
Kaget dong ya.. Tiba-tiba ada orang datang, anehnya masuk lewat mana itu.
" Kam....kamu!! Kap...kapan pul...pulang?? "
" Ck ck! Kamu kira ini hotel? Cepat berganti baju! Saya juga gerah, mau mandi. "
" Baa..baik tuan. "
Saat ini Mutia tak ingin salah mengambil langkah. Ia harus berhati-hati, bagaimana pun ia hanya orang asing bagi suaminya.
Satu sisi di sudut ruang makan keluarga, aku datang dengan wajah yang sedikit masam. " Kak, kamu kenapa? Nggak di kasih jatah ya Ama kakak ipar? Atau jangan-jangan... Kakak ipar sedang datang bulan ya? "
Tuk!
Satu buah sendok kayu mendarat di kening Putri. " Aduh sakit!! "
" Fal!! Lho apa-apaan sih!! "
" Ampun bos. Saya hanya tidak ingin otak adik anda terkontaminasi dengan pergaulan yang bebas. "
" Emangnya kenapa sih!!! Kak Naufal, Putri hanya berbicara kenyataan! Bukan hal aneh dan mengandung pergaulan bebas. Issh sebel deh!! "
" Eggh egghh egh Naufal, jangan keterlaluan dengan adikku. Dia adalah permata hati ibu, jika kau mengulangi sekali lagi perbuatan mu! Aku potong gaji mu 15%. " Sambil mengelus kening adiknya.
" Ih!!! Sebel juga deh Putri sama kakak! Kalau cuma 15% mah buat traktir anak satu kelas dah pada kenyang kak! Kurang! Tambahin. "
Alamat 15% itu sudah banyak nona, jangan menyuruh bos tengil ini menambah jumlahnya. Bisa-bisa, istana impianku tak terjangkau karena bahan yang di butuhkan dari marmer. - Batin Naufal.
" Oke, kamu mau berapa? Tinggal sebut saja. "
Dua lelaki itu sedang menunggu jawaban sang wanita. Bak seperti menunggu jawaban dan kejelasan dari seseorang yang sangat amat kita cinta dan kasihi.
" 25%. "
Deg!
Dua puluh lima persen?? Cicilan mobilku saja belum lunas nona. Bagaimana aku bisa menutupi kekurangannya.😵 - Naufal pusing.
" Tidak dik! Kasihan. Dia adalah orang yang selalu menemani almarhum papa kurang lebih 10 tahun. Kita tidak bisa mengurangi gajinya sebanyak itu. "
" Tadi kata kakak bisa! "
" Bisa, dik. Namun, tidak sebesar itu. "
Lha terus, kenapa harus memberi adik mu ini wewenang kalau yang terlontar tak di sepakati. - Batin Putri.
Seperti sedang membaca mantra.
" Ya udah deh, terserah Kakak aja. Putri mau lanjutin makan siangnya Putri. "
Baru saja Arman hendak mengucapkan *selamat makan.*
__ADS_1
" Stop! Putri sedang makan, dan tak ingin di ganggu. Okeh!! " Pria-pria cool itu mengangguk.