Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
Hasil 54.


__ADS_3

" Bagaimana hasilnya? "


A'yunina harap-harap cemas. Pasalnya takut-takut ada yang merecoki urusan tes DNA yang mereka lakukan. Setelah kemarin harus menunggu satu jam lebih lama lagi demi ya menegakkan suatu kebenaran yang bisa saja terjadi jika itu berjalan dengan keinginan Allah.


Dokter itu belum sama sekali membuka hasilnya. Berpasang-pasangan mata memandang. " Nyonya, nyonya yakin? Ingin saya membuka hasil ini di luar? "


" Sudahlah dokter, jangan berbelit-belit. Langsung buka aja napa? Lagian ya, saya itu yakin kalau alm. anak saya itu tidak mungkin bisa hidup lagi. Jasadnya saja kami tidak bisa menemukan, dan kemungkinan,- "


" Mama ! ! "


Inilah sikap yang paling tidak di sukai Ali. Merriam ini begitu terus terang dan apa yang berada di kejadian itu selalu di ungkit. " Apa sih, pa? Mama kan, hanya berkata aslinya. Kan papa tahu sendiri? Polisi saja belum bisa menemukan, bisa saja orang ini hanya meng-aku-aku kan sebagai anak dari papa. "


" Harap tenang. Saya akan membuka ini kalau kalian sudah pada tenang. Saya mohon,- "


" Dokter tunggu,- "


Mencekal pergelangan tangan Fahmi." Ada apa pak? Kalian masih belum bisa mendamaikan satu sama lain. Saya tidak ingin, jika sampai nama saya jelek dan mengganggu kinerja saya terhadap pasien-pasien saya yang lainnya. "


" Mama, papa minta. Tolong, mama tenang dulu. Jika kamu, tidak bisa diam. Maka, rumah yang berada di kawasan elit itu tidak jadi papa belikan sebagai hadiah ulang tahunmu. "


Kenapa papa Ali mengatakan sedemikian? Karena....


^^^Flash Back -->^^^


Tepat di malam mereka baru saja menghabis kan malam bersama. Tetapi, mata tak kunjung mengantuk. " Pa.. " Menggoyangkan bahu suaminya.


" Hem.. " Yang masih konsentrasi dengan layar ponselnya.


" Pa, Mama kan bentar lagi akan ulang tahun. Bagaimana kalau kita mengadakan acara ulang tahun bagi mama, yang ke... "


Bug !


Satu lemparan bantal padahal sang suami yang baru saja memberikan ******* nikmat yang membuat Merriam tidak dapat membendung suara itu.

__ADS_1


" Papa, kalau bicara sama mama. Coba lihat ke arah Mama dulu. Jangan ke arah yang lainnya. "


" Ehem.. Maaf. Iya iya.. Ini papa sudah menghadap mama. Kenapa Hem? "


Pria yang sabar kadang ia bakalan marah. Pria yang diam, bukan berarti mereka gampang menyerah. " Mama.. Em.. "


Merriam ingin mengatakan sesuatu. Tapi, dia bersikap seperti malu-malu kucing di hadapan suaminya. " Mama mau apa Hem? "


" Papa, papa sudah melihat belum? Perumahan yang baru di bangun di kawasan elit? Di sana rumah-rumahnya bagus-bagus ya, Pa. Mana kolam renangnya hemp.. Kayaknya lebih luas deh, dari pada di rumah kita? "


" Terus terang lah. Jangan memberi petunjuk, papa mana paham dengan isyarat. Papa bukanlah pria yang puitis atau bahkan paranormal sampai tahu hal yang mama suka ataupun mama sedang pikirkan. "


" Aish .. Papa. Mama hanya ingin, papa membelikan satu atau 2 unit rumah yang berada di sana. "


" Ma, kitakan sudah mempunyai rumah. Buat apa kita membeli rumah baru? Lagian.. "


" Pa. Mama hanya ingin itu sebagai hadiah ulang tahun mama. Tolong ya pa.. "


" Nanti papa pikirkan kembali. "


" Hem.. Selamat tidur pa, love you. " Kecupan hangat mendarat di pipi suaminya dan langsung menarik selimut kembali.


^^^Flash Off.^^^


" Apa sekarang tidak ada yang ribut kembali? "


" Sudah dokter. Istri saya tidak akan membuat keributan lagi. Benar kan ma? " Merriam hanya bisa mengangguk. Kali ini ancaman itu berhasil membuat Merriam menutup mulutnya dengan rapih.


" Baiklah. Saya akan membukanya, kalian bisa melihat di sini. Kalau kertas ini masih terbungkus dengan lem. Jadi, apapun hasilnya. Saya meminta kepada semua pihak agar tidak ada suatu keributan yang kemungkinan terjadi. " Setelah berujar, dokter itu langsung membuka glue yang menempel di kertas.


" Bismillah. "


" Bismillah. "

__ADS_1


Seperti sedang makan saja membaca apa tadi? bismillala.. - Runtunya dalam hati.


Secarik kertas pun mulai nampak dan di sana sudah tergores kan tinta merah dan hitam.


" Di sini, saya sudah melihatnya. Saya harap setelah saya membacakan isi dari ini. Kalian tidak boleh marah, huffffttttt. "


Dokter Fahmi tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya terjadi? Arman, ya.. Arman yang ia kenal, teman sebangku saat ia masih menduduki bangku SMP untuk pertama kalinya. " Hasilnya, selamat.. Tuan Ali. Anda mendapatkan putra anda kembali. Saya tidak habis pikir, pernikahan pak Ali dan Bu Merriam perasaan tidak sampai pada umur Jihana saat ini, tapi.. Disini, saya mengenal siapa Arman. "


Haah.. Jadi anak tengil itu masih hidup? Astaga.. Seharusnya aku tak meninggalkannya begitu saja. Harusnya aku membunuhnya secara membabi buta.


" Nahkan, saya bilang apa juga kemarin. Pak Ali tidak mau langsung percaya kepada saya sih? Seharusnya pak Ali itu berucap terima kasih kepada saya. Berkat saya dan suami saya Aklesh, Arman dari kalian masih hidup sampai sekarang. "


" Hah? Ka-kauuu .. Mengenalku? Kapan? Ki-kiiitaaaa bertemu? " Arman memang tidak kaget. Ia ke sini hanya untuk membuktikan kepada ayahnya kalau dia bukanlah tipe pria penjilat atau lintah darah yang rakus dan tamak akan kekayaan dan ya.. Suatu kekayaan pasti akan bisa di raih oleh seseorang jika ia kiat dan giat dalam mengembangkan usahanya.


" Sepertinya kau sangat di sibukkan dengan ya.. Pekerjaan yang selalu menguras daya ingat mu saat ini bahkan kau masih berumur 34 tahun, dan kau sudah tak mengenaliku. "


Tring tring panggilan telepon berbunyi dari saku celana Fahmi.


" Ok oke.. Baiklah, saya akan pulang segera. "


" Permisi, semuanya... Saya ingin pamit undur diri lebih awal. Kerena tetangga saya sedang terjebak macet, dan saat ini dia sedang dalam keadaan yang parah jika saya tidak segera langsung ke sana. Permisi. " Sebelum ia pergi, Fahmi memberikan kertas dan amplop itu pada Arman.


" Baca dengan sangat dan teliti. "


" Ma, ini tidak mimpikan? " Seseorang yang sedang berada di hadapannya memang anak kandungnya yang selama ini ia cari cari.


" Pa.. Seharusnya mama yang bertanya kepada papa. Ini tidak mimpi bukan? Jika ini mimpi, tolong bangunkan mama dari mimpi ini. Tidak mungkin dong Arman, masih hidup. "


Deg !


Apa maksud dari omongan Merriam? Apakah dia benar-benar.. Astaga jangan-jangan dia yang sengaja membuang Arman, maka dari itu dia sama sekali tidak senang. Jika, Arman.. Arman ku telah kembali, terima kasih Tuhan. Kau telah mengembalikan kenangan yang tersisa Intan junior.. Sekarang aku tidak perlu merasa bersalah. Aku akan menebus semua dosa ku yang telah meninggalkannya. Aku akan memanjakannya.


" Mama ! Mama itu kenapa sih?? Sejak datang, dan saat ini apa lagi mama selalu saja bersikap ketus. "

__ADS_1


" Tapi, pa.. "


__ADS_2