
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
****
" Ngomong-ngomong mbaknya ingin ikan apa? "
" Sayang aku ingin ikan balon. "
Semua orang menatap Wina. Seolah tiada yang salah ia katakan tadi. " Kenapa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?
" Hahahaha. " Pelayan itu tertawa.
" Hey!! Siapa yang menyuruhmu tertawa! " Menatap pelayan itu dengan mata elangnya.
Walau Arman juga masih tak mengerti maksud istrinya.
Ikan buntal kah? Atau ikan mainan yang berisi angin itu atau bahkan ikan yang buat tepuk pantat itu? - Batin Arman terus berpikir.
Bukan karena ia belum punya anak lalu ia belum pernah melihat mainan anak yang bisa menepuk pantat bayi sampai tertidur. Ia kebetulan melihat karyawatinya yang baru saja di tinggal oleh suaminya. Jadi, mau tak mau dia harus membawa kemana pun bayi itu.
" Hey mbak! Jangan tertawa. Kalau nggak.. Mbaknya bisa di makan habis lho. " Bisik Mutia karena tinggi Mutia sejejerrr dengannya.
" Eh maaf mbak. Saya benar-benar nggak sengaja. "
Tanpa memperdulikan. Wina tetap kekeh ingin membeli ikan itu. " Sayang.. Ayo kita beli. "
" Tapi... Bu. Maaf sekali. Nggak ada ikan balon. "
" Tapi, mbak! Tadi saya menontonnya ikan balon. "
" Ikan balon nggak dijual disini mbak. Karena itu termasuk ikan hias saja. Ikan-ikan disini adalah ikan yang bisa di konsumsi. "
" Lha... Emangnya ikan balon nggak bisa di makan ya? " Berasa ingin mengolok.
Aduh kenapa semenjak hamil mbak Wina malah berubah menjadi sok lugu atau.. - Batin Naufal.
" Aduh Nona.. Anu begini. Bukannya tidak bisa dimakan. Setahu saya, orang yang bisa memasak ikan itu hanya orang-orang khusus saja. Bahkan kemarin saya sempat melihat berita di televisi. Jika ada sepasang suami istri di temukan tewas setelah beberapa menit memakan jenis ini. "
" Nggak nggak nggak. " Tangannya Wina malah mengacungkan jari jari.
" Nggak gimana sayang? " Tanya Arman bingung.
__ADS_1
" Aku nggak jadi deh pengen ikan itu. "
" Jadi, kita langsung pulang saja gitu? "
" Ish.. Ya nggak lah. Kita mutar-mutar dulu aja, siapa tahu nanti dapat baju bagus. "
" Baju? Bukannya nona kemarin baru saja memesan baju? " Ucap Mutia yang tak kalah di sahuti oleh Arman.
" Iya. Kemarin kamu baru membeli baju, apa yang kemarin,- "
" Kamu mulai perhitungan denganku! Aku ini sudah lelah membawa dia kemana-mana. Tapi, kamu malah marah kalau aku hanya meminta baju baru. "
" Hemp.. Nggak gitu. Nggak. Oke oke,.. Kamu ingin baju baru bukan? Mari kita beli. "
" Tuan, saya tunggu di mobil saja. " Ujar Naufal.
" Kamu berani masuk dan saya disini. Enak saja kamu! Lalu, siapa yang akan membantu Mutia membawakan barang belanjaan nanti. "
Naufal pasrah kali ini ia mengikuti kemauan sang bos. Istri layak kacung berjalan mengikuti langkah pasangan nikah siri ini.
" Sayang.. "
" Hemp.. Kenapa? Mau itu? " Tanya Arman sambil menunjuk sebuah tas H yang sangat bagus dan juga mahal.
Wina mengangguk. " Heeehh boleh kah sayang? "
" Baiklah.. Kita akan membeli itu. Kalian berdua, sudah mengerikan harus berbuat apa! "
" Siap, sudah tuan muda. " The best cople.
*
Pelayan cantik menghampiri mereka berempat.
" Mas, mbak. Selamat datang, ke toko kami. Ada yang bisa saya bantu? Mas, atau mbaknya? "
" Saya hanya ingin membeli tas itu. "
" Tas itu hanya pajangan saja nona, itu adalah tas berdesain request dan pemilik toko tidak mau menjualnya itu barang pribadi. " Begitulah amanat yang di titipkan.
Tangan Arman mulai mengeras. Rahangnya sudah mulai ingin memakan habis orang yang ada di depannya.
" Panggil kan manager toko mu. Atau biar saya sendiri yang memanggilnya. Ita! Kesini kamu. Ita!!! "
__ADS_1
" Tuan tuan maaf maaf jangan membuat keributan. Nanti orang-orang yang belanja mengalami ketidak nyamanan. "
" Kenapa? Bahkan baju-baju yang kamu jual disini pun aku bisa membuangnya kentong sampah. Dan kamu,- " Melihat dari ujung hingga kepala.
" Iya, maaf tuan. Kami hanya melaksanan tugas yang di berikan saja. "
Hentakkan yang disertai buru-buru dan sambil membenahi hijabnya. " Alamat itukan tuan muda. Kenapa beliau disini nggak bilang-bilang? Pasti itu karyawan sudah membuat rusuh lagi. Huh!Dasar menyusahkan saja. Atau jangan-jangan istri sirinya tuan itu? Bakalan lama ini kena omelnya. "
Dengan muka kusutnya ia mendatangi orang-orang yang mengenakan baju putih dan di kawal dengan 2 orang dibelakangnya.
" Permisi tuan. Ada apa ya memanggil saya? "
" Pecat dia. Saya tidak mau melihat pegawai di mall ku sangat jelek institut nya begini kalian terima! " Dengan nada tinggi sarkas Arman tidak terima.
Huh! Apa yang di lakukan istri buncitnya ini. Jangan-jangan dia menggoda karyawan ini lagi. Nggak nggak nggak. Aku harus bertanya dahulu. Dari pada aku lagi yang terkena. - Batin Sang manager.
" Emp.. Maaf tuan muda. Sebelumnya apakah ada yang bisa memberikan saya kronologis nya? "
Naufal menceritakan dan tak ada yang terlewat sedikitpun. Karena dia harus menjadi orang yang aktif dan sudah seperti itulah kerjaan dia sehari-hari. " Oh begitu. Maaf tuan muda. Ini tas yang saya beli khusus buat pajangan aja. Soalnya ini tas yang mod k.w nya. Bukan untuk dijual. Dan kamu Darto, kenapa ka.u tidak bilang kepada mereka? Tas yang saya beli itu k.w. "
" Maaf Bu. Saya tidak tahu kalau barang ini k.w. " Menunduk.
" Lalu, apakah kau mempunyai yang aslinya? "
" Sementara stok seperti ini habis. Adanya yang harga lebih tinggi tuan. "
" Sayang.. Aku ingin melihatnya. " Geger sendiri.
Setelah cukup lama berada di mall itu. Hingga tangan Mutia penuh dengan belanjaan. Hatinya miris sekali. Bahkan semenjak ia menikah dengan suaminya. Dia sendiri tak pernah diberikan baju sebanyak dan semahal ini pastinya.
Sabarlah Mutia. Perjuanganmu tidak akan dianggap percuma. Ini hanya perkara waktu saja. - Batinnya yang merasakan ingin menangis di pojok kamar.
" Ada lagi? " Tanya Arman.
" Aku ingin satu lagi. Itu itu baju kaftan. Aku baru mendapatkan informasi di grub WhatsApp. Kalau itu baju kaftan terbaik di mall ini. "
" Benar, Nona Wina. Di sana merupakan rancangan khusus dari desainer terbaik yang ada di kota ini. "
Ketika mereka berempat masuk dalam toko. Kebetulan atau apa? Ada yang mengenalinya.
" Selamat datang, Tuan dan noba muda. " Anehnya perempuan itu menunduk kepada Arman dan berbelok kepada Mutia. Sedangkan Wina dia lewati begitu saja.
" Sayang.. Kenapa dia tak menunduk kepadaku juga? "
__ADS_1
" Ati, kau. " Tunjuk nya.
" Ck ck ck kau masih tidak berubah ya? Tidak! Aku tidak mempan jika kau memaksaku. Aku tidak ingin menghormati pelakorrrrrrrr kelas kakap seperti dia. " Malah justru meninggalkan Wina dan Arman.