
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
" Sudah dari satu jam lalu. Kenapa kamu tidak pulang saja? Tidak perlu berlagak sok perduli dengan Mutia. Dia tidak perlu kamu. "
" Tapi, Bu. Mutia masih menyandang istri sah ku. "
" Hahahaha. " Tiba-tiba tawa itu terhenti. " Istri ! "
Tersenyum dengan dingin dan meremehkan perkataan anaknya. " Bu, tenang Bu. "
" Selama beberapa hari ini ibu sudah cukup mendiamkannya Put ! Dia sudah keterlaluan. Setelah hasil DNA itu keluar, sikapnya seolah-olah tidak punya rasa bersalah sama sekali. "
Air mata itu tumpah ruah meluapkan kekesalannya selama ini yang sudah diam saja membiarkan putranya memilih wanita itu dari pada ibunya sendiri. Arman memilih keluar dari ruangan itu dari pada pertengkaran yang akan membuat hubungannya dengan sang ibu bertambah buruk.
" Kamu pasti kuat nak. "
" Tolong yang lainnya keluar dari sini. " Pinta putri.
" Saya juga non? " Tanya Dewa.
" Iya. Om juga. "
" Ti...tidak... " Pelan dan parau.
Semua orang menoleh dan ke ranjang kesakitan. " Mutia, nak.. Kamu sadar nak? "
" Bu.. Bagaimana keadaan bayi ku? "
" Kamu tenang saja. Mereka baik-baik saja. "
" Iya kak, kakak tenang saja. Kan ada aunty nya yang cantik banget eh sekarang udah nggak cantik lagi deh, karena keponakan aunty yang sekarang sangat-sangat cantik pakai banget deh. "
" Anak ku perempuan Bu? " Menyimpulkan dengan seperti yang Putri katakan.
A'yunina tersenyum.
" Dewa. "
" Selamat mbak Mutia. Bayi mbak sepasang. Mereka lahir dengan berat yang tak berbeda jauh. "
" Alhamdulillah, apakah mas Arman tetap kekeh mengambil Sempel dari mereka, Bu? "
Hembusan nafas itu semakin melemah. Ia tak bisa memungkiri apa yang tengah terjadi kemarin. A'yunina ingin sekali mencegahnya, tapi dia juga ingin Arman sadar. Karena kesalahan seharusnya di tuntun kembali ke jalan yang benar.
" Ibu bisa apa, nak... "
" Lalu? Apakah dia percaya? "
" Awalnya dia tidak percaya, untung saja dokter menjelaskan secara rinci kepada Arman. "
__ADS_1
" Ibu, Mutia ingin pergi dari kota ini. Lebih baik Mutia hidup di desa saja. Mutia tak akan sanggup jika harus mengalah dan mengalah lagi. Belum lagi, jika Wina kembali di pelukan mas Arman. Mutia pasti langsung di hempas, mungkin tak di pegang erat lagi seperti layangan layang yang putus. "
" Nak.. Bagaimana itu mungkin? Lalu, jika kau tidak disini. Siapa yang akan menjaga ibumu ini? Ibu baru saja bertemu denganmu, ibu tak sanggup jika harus berpisah denganmu nak. "
" Nyonya, perkataan mbak Mutia sudah cukup benar. Lebih baik sekarang dia tinggal di tempat terpisah lebih dahulu. Biarkan dia tinggal di kampung saya. Bibi saya seorang dukun bayi, mungkin saja beliau bisa membantu mbak Mutia jika berada di sana. "
" Saya nggak mau, Dewa. Bibi kamu pasti sudah tua, mana mungkin sanggup membantu jaga kedua keponakan ku. "
" Bibi saya umurnya sama seperti saya. Karena ibu saya menikah di usia muda dan kebetulan nenek saya kebobolan akhirnya bibi saya lahir setelah saya. "
" Lho lho lho jadi bibi mu adalah adikmu dong? "
" Betul. Tapi, jika menurut silsilah. Beliau adalah anak dari kakek dan nenek ku. Yang artinya beliau adalah bibiku. "
" Hah.. Terserah mu saja Dewa. "
" Bagaimana, nyonya? "
Menimang dari perkataan dewa.
" Bagaimana menurut mu Mutia? Apakah kamu sanggup hidup di sana tanpa ibumu? "
" Insyaallah, Mutia akan mencoba Bu. Jika tidak dengan mencoba? Bagaimana Mutia akan tau? "
"Bu, Putri ikut yah.. "
" Tidak ! " Membulatkan bola matanya kearah adiknya.
" Kamu disini saja bersama ibu. Kamu saya amanahkan untuk menjaga ibu selama saya pergi. "
" Maaf. "
Rencana yang di jalankan Dewa, seolah-olah Mutia tengah di culik bahkan anehnya berserta kedua anak-anaknya. " Akhhh ! ! Bagaimana ini bisa terjadi. "
" Maafkan kami pak. Kami telah berusaha mencegah mereka membawa pasien. Tapi, kami mempunyai rekaman cctv mobil pelaku yang membawa istri bapak. "
" Naufal ! Kau coba cek itu. "
" Baik tuan. "
Setelah beberapa jam, ibunya juga menangis. Membuat Arman menjadi tambah stres. " Bu, udah tenang ya Bu. Jangan nangis. "
Plak !
" Puas kamu ! Kamu sudah puas sekarang. Sudah bahagia tentunya. Hahaha... " Sandiwara mulai di jalani.
" Ya jelas puas dong Bu. Dia kan yang paling benci dengan kakak. Kalau nggak benci nggak bakalan dia masih bisa senyum. "
" Putri ! ! "
" Apa apa? ? ? Kakak sudah berani membentak ku? Oh oh oh ternyata sandiwara kasih sayang dan berjanji tidak memarahi Putri adalah palsu. "
" Tidak, dek. Kamu jangan membuat masalah ini semakin keruh. "
__ADS_1
" Aku benci kakak ! ! " Pergi dan berpaling, menuntun ibunya ke luar dari rumah sakit itu dan kembali ke mansion.
" Bagaimana? " Saat mengangkat telpon miliknya.
" Nihil bos. Ternyata itu adalah plat mobil palsu. Dan orang-orang itu juga memakai topeng, tidak dapat kita lacak. "
" Sial ! ! " Membanting telpon genggamnya.
Merogoh kunci mobilnya dan masuk kedalam.
" Kenapa semua ini terjadi? Apakah ini karma buatku? Apakah aku tidak pantas untuk di cintai oleh seseorang yang ada di dekatku saat ini? Tuhan.. "
Posisi Mutia kali ini mungkin saja tidak dapat di temukan. Tapi, dia tidak mungkin akan bersembunyi terus. Pasti ada saatnya ia harus kembali ke masa lalunya. Karena baginya, tiada masa lalu yang tidak berarti baginya. Semua itu sangat berarti. " Nona, disini tempatnya. "
" Wah bagus sekali. Apakah banyak yang berkunjung kesini? "
" Tidak nona. Karena warga sini sangat tidak menyetujui jika banyak orang yang keluar masuk kedalam desa. Mereka takut jika orang kota akan merusak lingkungan yang masih asri ini. "
" Baiklah. Lalu, dimana rumah bibi Dewa? "
Ada seseorang yang sedang memegang telpon genggamnya dan sambil berjalan ke arah Mutia. " Iya iya... Jangan bawel kau Dewa ! Ingat, aku ini bibi mu ! Bicaralah yang sopan kepada ku ! "
" Ayolah bi, cepat berjalannya. "
" Yah ya ya. " Tut Tut Tut.
Mobil orang kota banyak di krubungi oleh banyak orang di sana. " Permisi permisi. "
" Eh bidan Tasya. "
" Hemmmm. "
" Permisi ya? "
" Bu bidan sepetinya mengenali orang yang berada di dalam mobil ini deh? "
" Iya, aku juga merasa begitu. Kira-kira, siapa yang datang? Apakah seorang dokter yang sangat tampan atau mantri yang masih singel? Tuhan, ijinkan hamba berjodoh dengannya. "
" Astaga Mela Mela. Kamu ini, kalau nggak bahas cowok sehari saja bisa nggak? "
" Biarin, toh aku masih singel. "
Pintu itu terbuka.
" Itu mobil kan? "
" Ya iyalah itu mobil. Kamu kira apa? "
" Itu mobilnya canggih banget. Masa pintunya bisa bergeser kaya kita geser dikit langsung geser. "
Tasya hanya tersenyum-senyum dari tadi.
Orang ini kenapa senyum-senyum aneh begini? - Mutia merinding.
__ADS_1
Memeluk bayi-bayi by dengan erat.
" Jangan takut, saya nggak akan gigit kedua anak kamu kok. " Tersenyum dengan lebar.