Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 23.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


******


" Dia akan menjadi kakak ipar keduamu dek. " Singkat padat dan jelas ungkap Arman.


" Apa!! Bagaimana mungkin? Kakak jangan bercanda, lalu.. Kenapa kak Mutia diam saja!! Jangan mau di poligami dengan wanita j***ng kak!! "


" Sudah tiada guna lagi untuk melarangnya adik ipar. Dia sedang mengandung calon keponakan mu saat ini. " Ujar Mutia dengan sendu.


" Apa!!! " Kali ini bukan lagi Putri yang berteriak. Melainkan sang ibunda.


" I...ibu.. " Arman kaget bukan kepalang.


" Arman! Ibu tanya sekali lagi. Apa benar yang dikatakan Mutia tadi? Jawab ibu, Arman!!! " Menghampiri sang anak dan menggoncang kedua bahu anaknya.


Arman tertunduk, seakan menjawab semuanya. " Arman!! Jawab ibu, Arman!!! Jangan kau diam saja! Kemana nyali mu, selama ini kau tak pernah takut pada siapa pun Arman. Arman!! "


" Bu.. Hiks hiks hiks hiks maafin Arman Bu, Arman benar-benar. " Bersujud meminta ampun dan memohon supaya kesalahan yang telah ia perbuat di maafkan begitu saja.


Tak tak. A'yunina mundur dua langkah, saat tangannya berhasil melepaskan pelukan erat dari sang anak pada kedua kakinya. " Sebegitu bencinya kah kau Arman? Ibu tak habis pikir. Aku kira kamu, huh!! " Menghembuskan nafas kasarnya.


" Bu, Arman khilaf Bu. "


Aku tak boleh diam nih, aku harus ikut memohon. Siapa tahu dengan begitu nenek tua ini mau merestui hubungan kami. - Batin Wina.


" Bu.. Maafin kami Bu. Kami menyesal Bu. "


" Iya, calon ibu mertua. Wina sangat menyesal, kalau saja Wina... "


" Heh j****g jangan kau berani-beraninya memanggil aku dengan sebutan tadi. Sampai kapanpun, aku A'yunina Aklesh Daulay tidak akan pernah merestui hubungan kalian!! Sampai anak itu lahir pun, ibu tak akan merestui!! Mutia, bereskan barang-barang kamu. Sebaiknya kamu tinggal bersama kami. "


" Tapi, Bu.. "


" Iya kakak, sebaiknya kakak ipar ikut tinggal bersama kita di mansion. " Bujuk Putri.


Saat Putri menarik Mutia ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya. " Tidak dek! "


Satu kata yang terucap sangat sulit dipahami semua orang yang ada disitu. " Apa maksudmu, Mutia? "


" Bu, Mutia tidak akan ikut bersama ibu ke mansion. "


" Apa maksudmu, kau ingin tinggal bersama j****g ini? "


Mutia merespon cepat dengan anggukan.


" Iya Bu, Mutia akan tetap disini. "


" Tapi, kak.. " Putri sangat khawatir, bagaimana kalau kakak iparnya tidak bisa menjaga dirinya dengan baik dari wanita penggoda ini.


" Tidak apa, dek. "


" Sudahlah, kita pulang saja.. Jika ada apa-apa, kamu jangan sungkan hubungi ibu. "


" Baik, Bu. "


^^^*^^^


Putri melupakan hal yang ia butuhkan dan lalu mengekor sang ibunda keluar dari apartemen itu. " Sayang.. Dimana mengkudu ku? "


" Mengkudu? " Gumam Mutia secara pelan.


" Sabar sayang.. Aku tengah mencarinya di penjual online. "


" Benarkah? Lalu, apakah sudah dapat? "


Arman menggeleng. Wina cemberut, dan melipat kedua tangannya. " Sayang.. Jangan marah.. Setidaknya aku sudah berusaha sayang. "

__ADS_1


" Aku pokoknya tidak mau tahu! Aku ingin buah itu sekarang juga. "


" Stop!! Mbaknya yakin? Mengkudu itu rasanya.. "


" Aku sangat ingin, wanita kismin. "


" Baiklah.. Aku tahu dimana ada buah mengkudu. "


" Dimana? " Sangat antusias.


" Katakan dimana Mutia!! " Ujar Arman tak kalah membuat riuh bangunan itu.


" Di rumah lamaku. "


Diam sesaat.


" Maksudmu? Di desa? "


Mutia mengangguk. " Tapi.. "


" Tapi, apa? "


" Pohonnya cukup tinggi. Dan dahannya.. Sangat tidak mungkin untuk dinaiki. "


" Lalu aku bagaimana harus mengambilnya? "


" Sayang.. Ayo kita ke desanya Mutia, sayang... " Rengekan tak kunjung usai.


" Iya iya sayang.. Kita akan ke sana. "


Sementara itu, Arman mencoba menghubungi asisten pribadinya. " Halo, Naufal? "


" ........ "


" Bisa kan, jangan sampai telat. "


" ........ "


...*...


Di desa, warga sangat heboh. Melihat mobil mewah melintasi daerahnya. " Ffffiiuuuuuwiitttt.. "


" Alamat mobil masa depan. "


" Mobil impian ku.. "


" Oh calon mobil untuk anak-anakku. "


.


" Ya ampun.. Kampungan sekali mereka? " Ujar Wina mengomentari warga yang menurutnya sangat udik.


" Sayang... Jangan seperti itu. Kamu mau? Jika nanti buah yang kau idam-idamkan tak kunjung kau dapat? "


" Apakah kau sedang barter denganku sayang? "


" Tidak sayang. Aku hanya pernah dengar, keinginan ibu hamil jangan sampai menolaknya. Jika menolaknya maka bayi itu akan ileran. "


" What what!! No no no no no... Bayiku tidak boleh ileran! "


Hub rasanya Mutia ingin tertawa, saat ia memandang tingkah pasangan itu dari balik kaca spion. Sebab ia duduk di jok depan bersama Naufal. " Nona, jika mau ketawa keluarkan saja. " Ujar Naufal sangat pelan.


" Ada apa Naufal? " Suara itu.


" Ah tidak ada apa-apa tuan muda. "


" Kau yakin? "


Naufal mengangguk.

__ADS_1


Mendapati rumah yang tak sangat besar dan dinding catnya sudah mulai memudar. "Sayang... Apa kau yakin tempat ini? "


" Benar sayang.. Dulu Mutia memang tinggal disini. "


Oh pantas saja.. Penampilan memang sudah kota, namun jiwa dia tetap ndeso!! Dasar udik!! - Batin Wina.


" Mari, tuan muda. Silahkan masuk. "


" Pelan-pelan sayang.. " Mutia sedang membuka gembok yang dia pasangkan.


Orang nggak sakit saja pakai di tuntun segala. Kayak orang kena amputasi kaki saja. - Batin Mutia.


Kedekatan membuat ide jahil Mutia menjadi muncul. " Pak, jangan memanjatnya.. "


" Lalu, aku harus mengambilnya dengan apa? "


" Jangan khawatir tuan. " Ujar Naufal saat membawa sebuah kayu yang berukuran sedang.


" Apa yang tengah kau bawa itu. " Tanya Arman kepada asistennya.


" Ini.. Ini namanya,,, "


Astaga ini apa namanya?? Dulu aku paling sering menggunakan ini untuk berjalan baik raksasa. - Batin Naufal.


" Tuan muda, sebaiknya tuan muda ambil saja dulu lalu sogok pakai itu. Buah mengkudu akan jatuh dengan sendiri. "


" Naufal!! Nama alat ini apa! "


" Ah iya iya Enggrang tuan. " Ujar asal Naufal, dari pada menghadapi kemurkaan Arman.


" Apa? Apa kau pikir aku bodoh Naufal! Enggrang mana ada bentuknya macam ini? "


Setelah beberapa menit mengambilnya dengan susah payah. " Huh akhirnya.. Naufal! Kau punguti ini semua. Jangan sampai ada yang tertinggal. "


Dan Arman mulai mendekati Wina yang tengah duduk di kursi tua. " Sayang.. Aku sudah memenuhi permintaanmu sekali lagi sayang. "


" Jangan mendekat! Kau sangat bau sayang, keringatmu sangat bau. "


" Tapi, sayang.. "


" Tuan muda, biarkan saja. Sebaiknya tuan menjauh dahulu, setiap wanita hamil memiliki hormon yang berbeda-beda. Jadi.. "


" Ouhh tuhan!! Baiklah, demi anakku. "


^^^*^^^


Setibanya di apartemen.


" Mutia, tolong kau kupas kan ya.. "


" Baik, nona. "


" Tuan muda, apakah saya boleh kembali ke kantor sekarang? "


" Iya, kau boleh ke kan,- "


" Tidak! Naufal akan tetap disini. " Ujar Wina menggema.


" Sayang.. Aku ada disini. Biarkan saja Naufal kembali bekerja. "


" Nona, ini mengkudu kipasnya sudah siap. "


" Huek! Bau sekali. Bisakah kau blend saja dulu? "


Mutia menuruti.


" Ini nona. Jus mengkudu nya sudah siap. "


" Huekkk kenapa tetap bau. Singkirkan lah itu! " Mendorong gelas itu dan disaat Mutia tak siap gelas itu terjatuh.

__ADS_1


Prang !!


__ADS_2