Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 49.


__ADS_3

Setelah mendapatkan clue dari Wilna, ia pun segera ke kamar nona majikannya.


" Nona muda, permisi. "


" Iya, ada apa bi? "


" Nona di bawah ada tamu. "


" Dimana mama? "


" Nyonya sedang dikamar nona. "


" Cih selalu saja Jihan yang selalu turun tangan. " Saat menuruni anak tangga.


" Maaf nona. "


Gaun yang di kenakan memang kekurangan kain. Secara dia menggeluti profesi sebagai model. Saat ia turun, dia mendapati sesosok yang pernah dia baca di majalah. Sekarang penerus perusahaan Daulay yang sedang berkembang namun tidak dengan urusan keluarganya. Ia baru saja bercerai, begitulah kabar yang di tuliskan oleh awak media.


" Dia? "


" Benar nona. "


Tap tap tap mata Arman ternodai lagi. Dan ibu Arman mendapati anaknya menunduk ia paham lalu ia mendongakkan pandangannya.


" Kalian? Untuk apa kalian kesini? "


" Kamu siapa? " Tanya A'yunina.


" Aku? Kalian yang siapa? Datang datang ke rumahku, tapi kalian sendiri tidak tahu siapa yang tuan rumah disini. " Bersikap arogan menjadi andalannya.


Apakah dia adik ku? Tidak, ayah pasti tidak akan menabur benihnya di dalam. Ayah sangat mencintai ibu. - Batinnya ragu.


" Umurmu berapa ! Bisa tidak kalau bicara dengan orang tua lebih sopan! "Rahangnya mulai mengeras gigi itu seakan ingin mengunyah.


" Apa? Sopan? Nggak ! ! Emangnya kalian siapa? Drajat kalian itu masih di bawah kami, paham ! "


Suara bising membuat Merriam tidak bisa berdiam di kamarnya. Padahal proses menghias kuku di tangannya belum tuntas.


" Ada apa ini ! " Menuruni tangga dengan berlenggak-lenggok.


Jihan melihat ibunya mamanya mendekat.


" Ini ma, ada tamu yang nggak di undang datang ke rumah kita. " Mencak-mencak.


Sekilas beliau langsung memalingkan dan melihat tamu yang di maksud putrinya.


Memandang lekat, dan lebih lekat lagi.


Tampan sekali.. Tapi, ada urusan apa dia kemari? Jika dia tamu Jihan, sudah tentu Jihan kenal dan nggak mencak-mencak kayak sapi diperah gitu. - Batinnya.


" Selamat datang... " Kedua ibu itu saling bertemu dan cipika-cipiki tetapi yang memulai ibunda Mutia.


" Iya. Bagaimana kabarnya? "


" Alhamdulillah baik. Kalian ada perlu apa ya? Maaf, soalnya saya nggak tahu sama sekali kalau kalian datang dengan masalah pekerjaan. Saya tahunya terima beres saja, nggak mau repot. "

__ADS_1


Bersikap baik mungkin akan lebih bisa mengetahui maksud kedatangan orang-orang ini.


" Em.. Begini. "


" Sebentar, biar pembantu saya buatkan minuman untuk kalian. "


Satu petikan jari membuat para pelayan mengerti. " Sebentar ya.. "


Sambil menunggu, Merriam malah merapikan kukunya. Di ambilnya handphone dan memotret serta meng-upload nya di media sosial Instagram.


Karena saling follow, Ali mengomentari postingan istrinya.


*Tumben ganti cat kuku? @wardhana4li.


Hihihi lagi suka aja pah. @mamikecheehhh*.


Dalam hati Merriam.


Katanya sebentar lagi nyampe? Tapi, kok belum pulang juga? Dan sempat-sempatnya juga dia pegang hp.


Menatap gerak-gerik Merriam. Membuat A'yunina tidak bisa diam begitu saja. " Jeng, kalau boleh tahu? Namanya siapa ya? Maaf biar enak manggilnya. "


" Oh oke oke.. Panggil saja saya Merriam. Anda sendiri? "


" Nama saya A'yunina Daulay. Dan disebelah saya ini anak saya. Namanya Ali Arman Daulay. "


Ali Arman? Itukan nama bocah tengik yang aku buang dulu? Apa jangan-jangan dia memang benar dia yang itu? Atau hanya kemiripan saja dengan namanya.


Wajahnya berubah. Di tekuk karena kaget dan hampir tak percaya. Kenapa jalan pikirnya tiba-tiba melenggang jauh dari yang dia kira.


Merriam terkejut. Ternyata dirinya tadi yang sedang berpikir sudah dibaca dan di awasi oleh A'yunina. " Eh.. Saya baik-baik saja kok. "


Cih sebegitu kagetnya kah kamu mendengar ini? Kamu memang ibu yang tak punya hati. Setidaknya rasa kemanusiaan itu ada. Tapi, kamu malah melenyapkan adikmu sendiri demi menjilat harta.


" Oh saya kira sedang melamun kan apa? Sampai-sampai seperti seseorang yang sedang menghitung uang untuk bayar hutang. "


" Hahaha jeng ayu, bisa saja. "


Pelayan rumah itu telah selesai membuatkan pesanan majikannya. " Ini Bu, silahkan diminum. "


" Hm. "


" Sudah sana kamu pergi ! Ngapain kamu disini? Mau, kalau mata kamu saya jadikan kuah pindang? " Sentak Merriam menunjukkan sikap aslinya.


" I-iiyyaa Bu. "


Saat telah tiba di pojokan dapur.


" Kamu sungguh tidak bisa menepati perjanjian yang sudah kamu tanda tangani! " Menyeringai.


" Maaf-maaf saya tidak akan mengulanginya lagi, Wilna tidak sengaja Mbak. " Memohon sambil bersujud.


" Saya tidak akan mentolerir siapapun ! Sekarang. bereskan barang-barang kamu ke gudang belakang paling ujung dari rumah !


" Haah ! Mbak serius? Kamar yang ada di gudang itu? "

__ADS_1


" Iya serius lah. Emangnya sejak kapan saya jadi pelawak ! "


" Mbak.. Apakah nggak ada alternatif lain? Kesalahan saya hanya hal kecil saja. "


" Kamu tadi sudah memohon, dan sekarang malah meminta diskon. Saya sudah mencoba memberimu kesempatan. Kalau kamu sia-siakan, kamu akan saya depak dari sini. "


" Tapi, Mbak.. "


Belum selesai ia memberi ajuan protes. Tari malah melenggang menjauhi dirinya. Saat Meriam sedang ingin meminum teh hangat yang ada di cangkir. " Nyonya besar, tunggu. "


Sudah menjadi kebiasaan segala yang ia minum dan makan di icipnya satu-satu. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.


Arman dan A'yunina yang melihat itu.


Astaga.. Kalau aku mana mau di kasih makan dan minuman bekas.


Tingkah mereka berdua malah bersamaan menggelinjang. Rasa geli yang mungkin langsung ada ketika melihat penampakan yang ada di hadapannya.


" Kalian kenapa? "


" Eh nggak. Kami tidak kenapa-kenapa kok. "


" Yakin? "


Mereka mengangguk.


" Sudah? "


" Siap Nya, sudah. "


" Mari. kalian minum juga tehnya. Mumpung masih hangat, jika sudah dingin nanti tidak enak lagi. "


" Ba..baik. "


A'yunina menyikut anaknya. " Diminum nak... Jangan di pandang. "


" Bu, Arman tidak suka teh. "


" Minum, atau kita pulang dengan hasil nihil. "


Aku nggak suka teh. Rasanya pasti sama dengan apa yang pernah aku coba. Tidak seenak yang di buat Mutia untukku.


" Kalian kenapa berbisik? Tenang, teh kalian tidak mengandung apapun. Kalau memang mengandung bahan tidak lazim pasti pembantu saya sudah terkapar terlebih dahulu. "


**


Perbincangan yang semakin seru saja. Hari-harinya seakan dengan indah, sedikit bisa menghilangkan rasa sakit yang ada. " Kamu senang, Mbak? "


" Senang banget. Andai saja baby Zhafran dan Zhalina sudah bisa berjalan, sudah pasti lari-larian. Benarkan Mel? "


" Iya, Bu. "


Senyuman itu nampak tulus, nampak tak berati apa-apa jika di lihat oleh orang lain. Tapi. jika sudah tepat di pandangan Bintang. Senyuman itu sangat berarti.


Bintang seperti menemukan kakak, dan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah ia rasakan sejak ia bayi. " Alhamdulillah, kalau kalian senang mah. Nanti Aa' Bintang ajak ke tempat yang lainnya. Gimana? "

__ADS_1


__ADS_2