Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 39.


__ADS_3


LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..


******


Tetangga tak henti-hentinya memberinya dukungan. Termasuk dengan juragan sapi yang selalu mengajaknya untuk menikah saat statusnya masih sebagai seorang istri.


" Neng Mutia? " Teriaknya.


" Eh mang Dadang. Kenapa mang? "


" Ini susu presh dari juragan saya. "


" Aduh mang terima kasih, tapi bilangin kepada juragan. Nggak usah terlalu sering memberikan saya ini dan itu. Saya takut menjadi gunjingan orang. "


" Neng Muti, kenapa nggak cerai aja dengan dia? Kan dia juga nggak anggap anak neng ini anaknya, mending nikah aja Ama juragan. " Istri dari pegawai di peternakan.


Mutia tersenyum simpul. " Salam Islam nggak di ijinkan untuk bercerai Bu. Kalau pun harus berpisah? Saya inginnya berpisah baik-baik, kalau-kalau mas Arman sadar bahwa anak yang saya kandung ini anaknya dia bisa menengoknya. "


" Haduh neng. Ibu mah cuma nyaranin, sayang lho juragan itu kasep, masih muda, mapan lagi. "


" Jika Allah mengijinkan, saya untuk menjalin hubungan setelah ada kata pisah nanti, saya juga tidak mau salah memilih Bu. Karena saya tidak sendiri lagi, sudah ada anak saya yang harus saya pikirkan. Dan soal nafkah ataupun harta. Saya rasa, warisan papa saya tidak akan habis jika harus menghidupi kami bertiga. "


Ibu-ibu itu sudah kehabisan kata.


Benar-benar wanita tangguh. Untung saja Allah kasih aku bang Tejo, kalau di kasih bah Jojo mungkin udah di tangkis. - Batinnya.


Sampai di rumah.


Ia mendapati ibunya tengah menyirami bunga yang yang berada di depan rumahnya.


" Assalamualaikum, Bu. "


" Wa'alaikumsalam. Eh udah pulang nak? Bagaimana sudah enakan kakinya? "


" Iya Bu, udah enakan. Dari pada berdiam diri di rumah. "


" Syukurlah. " A'yunina memperhatikan perut anaknya terlihat sangat jelas pergerakan mereka.


" Ututututu aktif banget. Segera lahir ya nak, ibu dan Oma dan Tuti kamu menunggu mu. "


Awalnya Mutia tersenyum, kemudian ia menyengit. " Tuti? Itu panggilan untuk siapa Bu? "


" Itu untuk Putri. Biar lebih di ingatkan Tuti.. Tantue Uti. "


" Oalah. Tumben ibu kepikiran sampai sana? Mutia malah nggak ada mikir apa-apa hehehe. "


" Jangan mikir yang nggak-nggak. Ibu yakin kok, kamu pasti bisa menghadapi ini. Kamu kan putri ibu yang paling kuat. "


Malam pun tiba.


" Bu.. " Dengan gelendotan manja di lengan ibunya.


Mutia hanya tersenyum.


" Kenapa? Uang jajan kamu kurang, Hem? " Membelai rambut anaknya.

__ADS_1


" Ish ibu ! Putri hanya ingin bercerita. "


" Bercerita? Tentang apa? "


" Tadi, di sekolahku. Ada guru keren banget Bu. "


" Yah pasti pak gurunya kena sial tuh. "


" Ih ih apaan kakak ini ! Gurunya ramah lho kak.. Hemp.. Idaman putri banget deh. "


" Umur kamu itu masih muda, dek. Jangan salah ambil dalam melangkah. Tujuan kita di dunia ini hanya persinggahan. Nggak usah macam-macam lah. Cukup nunggu jodoh aja di rumah. Nggak usah mencari-cari. Wanita akan lebih baik menunggu, dari pada mencari-cari yang ideal menurut kita tapi belum tentu untuk Allah. "


" Eh iya ya.. Semoga aja ada yang mau sama Putri. "


Mutia hanya menggeleng kepala.


Dan di kala obrolan mereka sedang asiknya.


Ada suara bel yang berbunyi.


" Put, kamu beli makanan? "


" Nggak kok kak. Kenapa emangnya? "


" Lha? Terus.. Itu. "


" Putri berani bersumpah kak. "


" Udah udah ! ! ! Kok malah jadi berantem sih ! Putri, buka pintunya sana. "


" Baik nyonya. "


^^^**^^^


" Maaf, cari siapa ya? "


" Maaf, apakah saya boleh masuk? "


Dari tampangnya? Dia ini orang berada. Jadi, aku bolehin aja dia masuk. - Batin Putri.


" Mbak? "


" Oh ya ya.. Silahkan masuk. Dan selamat datang di kediaman Daulay. "


" Mirna! ! Mirna ! "


Suara yang sangat keras saat memanggil anak pembantunya. Seseorang itu merasa tidak nyaman lalu melihat ke arah Putri.


" Ada apa? " Dengan santainya putri bertanya tanpa menyadari kesalahan apa yang telah ia perbuat.


" Oh tidak-tidak. Tidak ada apa-apa. "


^^^**^^^


" Silahkan duduk. "


" Maaf, bapak ini siapa ya? " Tanya Mutia.

__ADS_1


Dia mewaspadai setiap gerak-gerik seseorang yang baru ia kenal. " Maaf dengan ibu Lista Mutia Sari? "


" Iya betul, itu nama saya? "


" Sebenarnya ada apa ini? Kenapa anda mengetahui nama anak saya? Anda tidak memiliki niatan buruk bukan? Anda masih sayang kepada keluarga anda bukan? "


" Maaf Bu. Tolong berbicara dengan sopan. Perkenalkan, Hem Hem.. Nama saya Farhat, saya disini suatu pengacara yang di tunjuk langsung oleh pak Arman. "


Pengacara? Buat apa anak itu pakai menyewa pengacara? Apakah dia akan mewariskan harta hartanya? - Bingung A'yunina.


" Sudah Bu. Ibu diam dulu ya.. Iya, lalu? Anda memang seorang pengacara. Lalu, keperluan apa yang datang membawa anda kemari? Seseorang pengacara selalu menangani kasus yang berbau hukum. "


" Saya di mintai tolong oleh klien saya yang anda anda ketahui Ali Arman Daulay, putra angkat dari nyonya A'yunina dan juga papanya Aklesh. "


" Oke. Sudah selesai belum? Pertama-tama, dia bukanlah anak angkat saya lagi. Dia sudah membikin nama baik saya jelek. Kedua, cepat katakan apa maksud anda kemari ! ! " Mulai geram.


" Baik. D sini, saya hanya ingin memberikan ini kepada ibu Lista Mutia Sari, agar ia mendatangani nya. "


" Surat? "


" Ini surat apa? "


Ini pasti surat gugatan perceraian. - Terka-menerka Putri.


Ia sontak mengambil surat itu dari tangan pengacara saat Mutia baru mengulurkan tangannya. " Aduh pak pak.. Uang kami itu banyak. Jangan berlagak mau kasih kami uang deh. " Putri mengambil korek api.


" Maaf ya pak, saya nyalain dulu lilin aromaterapinya. "


Putri nelakukan tanpa ada yang curiga. Menyalakan lilin itu di atas meja, tak lupa sebelum itu ia mengambil sebuah surat yang ia sembunyikan di balik punggungnya.


" Ini pak, dari pada uang bapak di buang sia-sia. Mending buat makan istri bapak aja di rumah. "


Untung saja ada uang satu juta di dalam kantong saku celana gue. Jadi bisa deh aku gunakan sebagai senjata untuk melawannya. - Batin Putri.


Uang? Dikiranya aku pengemis apa! ! - Ingin saja ia meninju Wajah Putri.


" Nah uangnya kan sudah saya balikin nih.. Amplopnya sudah rusak.. Lebih baik dibakar aja, ketimbang timbun terus nanti jadi gunungan sampah. Hihihi. "


Saat Farhat mencegahnya.


" Jang.. "


" Iya non.. Saya disini. "


" Tolong buatkan ice teh ya.. "


" Baik non. "


Dengan santainya tangan Putri sudah berada tepat pada di atas api. Kertas itu mulai terkena sedikit demi sedikit.


Masalah pun selesai. Kamu hebat Putri.


Begitulah rencana putri. Hingga membuat Farhat geram. " Nyonya, saya akan kembali lagi besok. "


" Haduh pak... Nggak usah pak. Uang kami cukup banyak ketimbang baju yang bapak kenakan sekarang. "


Farhat menatap tajam sebelum ia pergi.

__ADS_1


" Dek, kamu ish ! Dia itu pengacara lho. Nanti kalau dia nuntut kita gimana? "


" Ya balik nuntut ! " Ujarnya sambil melangkah meninggalkan ruang tamu.


__ADS_2