Hanya Istri Bayangan.

Hanya Istri Bayangan.
H I B 64.


__ADS_3

" Apakah ibu kalian ini tidak boleh mendapatkan sedikit saja kebahagiaan, sehingga dengan datangnya wanita itu ayah kalian langsung berpaling. Zhalina, walau kamu mirip ayah kamu dengan sangat ibu meminta agar kamu tidak berbuat seenak hati dan setepuk jidat saja, kamu harus memikirkan perasaan orang lainnya nak. "


___


" Sayang... Kenapa kamu tidak menjawabku? Kamu pasti memilih aku kan ketimbang wanita ****** itu? Ya kan sayang? "


Dengan pikiran yang sangat kacau, kali ini benar-benar Wina tidak beruntung.


Tar...


Karena, mulut yang selalu ceriwis membuat Arman tidak bisa berpikir dengan jernih.


" Kamu bisa diam tidak ! Jika kamu tidak bisa diam, jangan salahkan aku kalau aku akan mengirimkan Sani&Seno. Untuk menghabisi kamu dan menjadi makanan penutup yang lezat. "


" Hahaha... Mana mungkin bisa begitu.. hahaha... " Tawa itu menggelegar, Arman menoleh ke arah Wina.


Dan tanpa sengaja, Arman menyenggol Wina dan wanita itu tanpa sengaja terdorong hingga terjatuh ke kandang harimau putih peliharaan Arman. " Arman... Tolong.. "


" Oh tidak.. Apa yang aku lakukan. Aku tidak benar benar berniat mendorongnya. " Frustasi.. Namun, Arman bingung bagaimana ia harus menolong Wina. Sedangkan harimau putih itu tengah kelaparan bahkan jam-jam saat ini mereka di berikan makan siang.


Setelah sekian lama Arman melihat ke arah kebun itu... Suara yang tak lagi nampak membuat Arman bergedik.

__ADS_1


: Apakah ini jawaban yang di inginkan oleh sang maha cipta.


Sempat hati ia bertanya-tanya.


Dalam sekejap saja, darah segar itu tercecer di area kebun.


" Aku harus menyusul Mutia. Aku tak ingin bernasib seperti Wina. "


Sesampainya di mansion baru. Ibu A'yunina bergegas mencari anak kandungnya yang selama ini tidak mendapatkan kasih sayang darinya karena pasca penculikan itu.


" Mutia... Mutia.. Nak... "


" Ibu.. Kenapa dengan ibu? "


Mutia perlahan mengubah posisinya dan berjalan perlahan dan membuka pintu.


" Ibu.. Ada apa Bu? "


Dengan wajah yang tampak sekali berusaha menyembunyikan sesuatu. Seseorang ibu akan tahu walau kita menyembunyikan nya secara rapat-rapat. Mungkin benar dengan kata pepatah itu, jika bangkai di simpan lama-lama akan tercium juga.


Tak berbasa-basi lagi, ibunya langsung memeluk Mutia dan mengusap punggung anaknya. " I...Bu.. .."

__ADS_1


" Nak.. Maafin Arman ya nak.. Maafin dia.. "


" Bu.. Ibu ngomong apa sih? Mutia nggak mengerti deh. "


" Jangan berbohong lagi Mutia, kamu jangan memendam semuanya sendirian. Kamu masih mempunyai ibu, nak. Ceritakanlah nak, jangan menutupinya. " Menetap mata anaknya dengan lekat.


: Gawat ... Apa ibu tahu ...


Batin Mutia.


" Mutia nggak apa-apa Bu, lagian mas Arman pasti lebih memilih wanita itu ketimbang dengan Mutia. "


: Ketimbang wanita yang tak memiliki hatinya.


Ya... Hatinya Arman menurut sudut pandang Mutia sendiri, hanya milik Wina seorang.


" Bohong ! ! Cukup Mutia ! ! Aku ini orang ibumu, nak... Kenapa kamu masih tidak ingin bercerita kepada ibu? "


Dengan sangat frustasi, sangat susah membujuk Mutia agar ia bercerita tentang semua yang terjadi. Sampai harus membuat Mutia pulang sendiri, saat ia bertanya kepada satpam yang berjaga.


" Apakah kamu masih meragukan kasih sayang ibu nak? Sehingga kamu tidak dapat bercerita leluasa kepada ibu? atau ibu memang tak di anggap oleh mu? " Dengan bibir yang bergetar, ia hanya ingin anaknya jujur tanpa menutupi sekalipun hal sepele karena ia ingin menebus masa dimana ia tidak bisa merawat dirinya ketika kecil dan tempo waktu Mutia di culik.

__ADS_1


__ADS_2