
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
*****
Hari yang di nanti sudah tiba. Pernikahan yang digelar secara Islam. Walau A'yunina menikahi seorang yang berwarganegara kan India. Namun, untung saja pada saat itu Aklesh bersedia pindah, dan sebelum menikahi A'yunina. Aklesh mendalami Islam dan menjalankannya selama kurang lebih 5 tahun. A'yunina gak merasa keberatan, karena ia ingin Aklesh yakin dahulu. Sebelum Aklesh berpindah keyakinan kembali setelah mereka menikah.
" Arman, pesan ibu. Kau putuskan pacarmu Wina secepatnya. Jangan kau permainkan perasaan Mutia. Dia adalah anak gadis baik-baik. Jangan kau samakan dengan wanita mu itu! "
" Tapi, Bu. Alasan apa yang tepat? Arman merasa dia tidak memiliki salah apapun pada Arman. "
" Oh, jadi.. Jika demi ibu mu ini, kau tidak bisa juga? "
" Bukan begitu Buk-- "
" Sudah, segeralah turun ke bawah. Para tamu dan juga penghulu sudah tiba. Ingat pesan ibu!! Jangan sampai kau menyakiti Mutia! "
Aku akan berbuat sesukaku pada gadis itu, Bu. Dia sudah merusak semua rencana pernikahan yang sudah ku rancang bersama Wina. Tak akan ku biarkan ia hidup dengan enak nantinya. - Batin Arman.
^^^**^^^
" Apakah yang ingin dinikahkan itu anda, mas? "
" Oh, nggak nggak. Bukan saya? Tapi, bos saya. Saya disini hanya sebagai pelayannya saja. "
" Oh, saya kira anda. Tolong segera disuruh kesini, soalnya saya banyak jadwal yang lain. "
" Pak penghulu, jangan khawatir soal uang. Nanti dari pihak kami yang akan memberikan kompensasi atas keterlambatannya bapak di pernikahan orang lain. "
" Baik baik. "
^^^*^^^
" Ya Allah. Apa keputusanku sudah benar? Menikah, saat ini? Apa aku bisa? Apalagi dengan pria seperti dia. "
" Mutia, nak? Kamu sudah siap belum? " Krekkkk.
" Kenapa melamun nak? " Memegang kedua bahu sang putri.
" Bu, apakah ibu benar-benar menyentujui ini? "
" Nak, ibu bukannya tamat akan harta. Ibu cuma takut... Jika ibu sudah tidak ada di dunia ini, siapa yang akan menjagamu? "
" Bu, jangan berkata seperti itu.. Ibu akan selalu hidup bersama Mutia. "
" Nak, yang namanya jodoh, kelahiran, kematian. Itu sudah takdir Allah, jika memang sudah waktunya? Maka tiada seorang pun yang bisa mengelak lagi. "
" Bu, jangan nangis. Mutia nahan nahan nangis, tapi malah ibu yang nangis. "
" Hiks hiks nggak sayang jangan menangis. Nanti kasihan calon suami kamu menunggu terlalu lama karena air mata bahagia ini. " Mengelap air matanya.
Tok tok tok.
" Nona? Apakah anda sudah siap? "
Krekkkkk
" Sebentar lagi saya akan membawanya ke sana. "
" Baiklah, nyonya. Segeralah turun, saya takut tuan akan marah. "
__ADS_1
" Baik. "
^^^*^^^
Seseorang yang berjas abu-abu, berdiri tegap. Melihat sekeliling saksi yang sudah siap sedia menunggu kedatangannya. " Maaf lama menunggu. "
" Oh, iya pak. Nggak apa-apa. "
" Apakah ijabnya bisa kita mulai sekarang? "
" Tunggu sebentar lagi, calon pengantinku belum sedia kesini. "
" Nak, nggak usah nunggu Mutia datang. Nanti aja lihatnya, mendingan kamu ijab dahulu. Baru kalau istri kamu datang nggak dosa kalau mang-lingi, kecantikan menantu ibu. "
" Dih ibu, belum juga Mutia keluar udah main puji puji terus. Gimana kalau udah keluar? "
" Apa Arman? "
" Eh, nggak Bu. Nggak. Pak, turuti saja permintaan ibu saya. "
" Yakin? Tidak menunggu mempelai perempuannya keluar dahulu? "
" Soal itu gampang pak. Calon mantu saya pasti datang. "
...*...
Gaun yang menjuntai dan mahkota kecantikan seperti putri Elizabeth. Yang sedikit saja di poles, langsung bersinar.
Terpukau, pasti terpukau jika ada yang melihatnya.
" Hhmmm maafkan saya bos, saya telat datangnya. "
" Lho, boleh bos? " Bisikan Mutia.
" Hanya untuk menyenangkan hati ibuku saja. "
" Uh fotografer mana? Fotografer, hey sini kau! "
Aduh ibu mertuaku kenapa malah jadi alay begini? Masa cuma Salim aja harus di foto. - Batin Mutia.
Mutia hanya memandangi dengan rasa yang cukup aneh. " Ada apa? Kamu baru tahu sikap ibu ku? " Dengan gelak yang ingin terpingkal yang rasanya ia ingin lepas begitu saja.
Mutia mengangguk. " Itu belum yang lain. Jadi, sabar-sabar saja menghadapinya dan juga menghadapi ku nantinya. "
Glek!
Menghadapi ku? Jangan-jangan dia mau meminta haknya pada malam pengantin nanti. Tapi, aku belum siap!! - Batin Mutia.
" Hey!! Tuan muda, kenapa malah melamun saja? Apakah cincin ini hanya sebagai pajangan saja? Dan tidak ada pemiliknya? " Ujar A'yunina memecah keheningan diantara keduanya.
Arman nggak ingin menunda lagi, karena ia ingin semuanya segera berakhir. Baginya ini semua seperti drama yang ia mainkan. " Ambil cincin kamu sendiri, dan aku ambil punya ku! " Pelan namun pasti.
" Tapi, ibu mu... "
Arman mengambil cincinnya lalu mengenakannya di jari tengahnya. Tak lama ia bangkit, dan membenarkan posisi jasnya. " Lho lho kamu mau kemana Man!! "
" Arman ada meeting Bu. "
" Tapi, siapa yang memakaikan cincinnya Mutia? Arman!!! Arman!!! "
Arman sukses membuat A'yunina kelabakan dengan tingkah anaknya itu.
__ADS_1
" Astaga anak itu. "
" Bu, saya permisi dahulu. Soalnya yang hendak menikah sudah menelpon dari tadi. Assalamualaikum. "
" Oh, oke oke. Iya pak hati-hati, terima kasih. Wa'alaikumsalam. "
" Naufal, kamu mau kemana? "
" Saya di telpon sama tuan, nyonya. "
" Astaga kasihan sekali, baru juga merasakan jadi pengantin sudah di tinggal kerja aja. Yang sabar ya, Mutia? "
" Eh iya Bu, saya nggak keberatan kok. Pekerjaan adalah suatu ibadah juga kok Bu. "
" Duh kamu mengingatkan ibu akan anak ibu yang nakalnya minta ampun. "
^^^*^^^
Bandara Air Land.
" Kok yang nyambut aku,, kenapa nggak ada ya? Masa iya, aku pulang naik taksi. " Sementara di lain situasi.
**
" Fal! Cepat sedikit! "
" Aduh tuan, nggak baik ngebut dijalan raya begini. "
" Kamu melawan perintah dari saya? Kamu udah bosen kerja sama saya ya? "
" Eh, nggak tuan. Saya takut, kita kecelakaan. Kan kasihan nona muda, masa belum di sentuh udah berstatus janda aja. "
" Kau menyumpahi ku!!! Wah sepertinya Dewa lebih cocok bersama ku, ketimbang dirimu! "
" Yah jangan bos. Sebenarnya ini sudah rada cepat, tuan. Saya takut nanti benarkan nabrak. "
^^^*^^^
" Ya tuhan, setiap aku pulang kesini. Bisa nggak sih? Cuacanya di kondisikan, panasnya bisa membuat kulitku terbakar! "
" Hay cewek, sendirian aja nih? "
Cowok tengil, sok akrab. Idiihhh mau apa ini orang? Apa nggak lihat, barang branded menempel dari ujung hingga pangkal jempol. - Batin Putri.
Putri sedikit menjauh dan bergeser.
" Nona, boleh minta nomer handphone ku nggak? "
" Hah? Buat apa mas? "
" Bu..buat?? "
Wanita dengan perut buncit, tiba-tiba mendatanginya dan menjewer telinga.
" Aduh aduh sakit sakit! " Sambil memegangi tangan yang masih tetap dengan posisi yang sama.
" Kenapa? Apakah perbuatan mu saja tidak cukup membuatmu sadar hah!!! "
Wajah perempuan itu masih sangat muda.
Hahaha rasain! Mangkanya jangan ganjen kalau jadi cowok! Ih untung belum ada gebetan atau pacar. Kalau dia gebetanku, langsung habis. Babat babat dah!! - Batin Putri.
__ADS_1