
LIKE dulu sebelum membaca... 😜 jangan pelit Like ya sayong..
****
" Telpon mereka sekarang. Katakan kalau pertemuannya di ganti hari esok. Saya masih ada urusan, dan kamu! Tolong antar aku pulang. "
Ini sebenarnya aku asisten atau supir ya? - Batin Naufal.
" Baik bos. "
Ckckckckck dasar bos arogan! Mentang-mentang istrinya hadehhhh .. - Ia hanya menggeleng saja melihat tingkah seseorang calon ayah di sampingnya.
^^^*^^^
Berpakaian sangat seksi, dengan perut buncit? Siapa takut. Itulah yang ingin ditunjukkan ke hal layak ramai.
" Kenapa kamu lihatin saya begitu? " Merasa tidak nyaman atau?
" Eh.. Nggak kok. Nona yakin? Ingin ke pasar, tapi pakai ini? " Kegundahan.
" Yakinlah. Emangnya kamu! Selalu saja pakai, pakaian yang aduh nggak banget deh. "
" Hmmmpp... Tapi, non. Ini itu baju khas Indonesia lho? "
" Bodoh amat!! Yang jelas, kamu terlihat kampungan. "
" Lho.. Kan saya memang lahir di kampung non. "
Mutia sengaja memancing amarah Wina. Menurutnya jika ia tak mengusili Wina itu bukanlah hal yang mengasyikkan lagi.
" Non non. "
" Non non non! Emangnya aku tempat nonstop apa! Panggil yang benar! "
Sikapnya berubah drastis. Ketik mobil bercat biru dengan logo Taksi berhenti di halaman rumahnya. " Nona, itu taksinya. "
Sang sopir keluar. Sopirnya masih sangat muda. Mungkin terlihat seperti anak yang baru saja lulus SMA, dan ia harus bekerja untuk uang kuliah atau untuk membantu ekonomi keluarga.
" Dengan nona Wina? " Bertanya kepada Mutia.
" Hah? Bu-bukann.. Pa....paakkkk!! Eh, mas. "
" Lho berarti saya yang salah alamat nih ya? Tapi, ah tidak mungkin. Jelas-jelas titik akhirnya disini? "
" Emmmpppppp maaf mas. Sebenarnya mas tidak sedang salah alamat. Cuma yang bernama Wina, itu orangnya ada disebelah saya ini. "
" Oh astaga.. Maaf Bu, saya benar-benar tidak tahu. "
" Pergi kau dari sini!! Aku tak ingin memaafkan mu. " Saat ia mengambil salah satu haihils yang ia kenakan untuk memukul pria yang tidak mau tepat waktu.
" Eh eh eh non. Jangan anarkis non, malu nanti dilihat tetangga. "
Wina pun berhenti.
Tetangga? Bahkan di kota ini jarang sekali tetangga yang saling menegur sapa di pagi hari. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. - Batin Wina seakan ia di permainkan.
Menurunkan tangannya lalu melemparkan haihils nya jeohmmmmm...
" Akwhhhhh mbak jangan anarkis mbak!! Saya bisa menuntut mbak kalau kayak gini jadinya. "
Mutia gelagapan. Seharusnya Wina tak melakukan itu kepada sopir taksi itu. Dia tidak salah yang amat fatal kenapa musti kena cium hils. Mutia mengambil sepatu itu lalu membantu Wina mengenakannya.
Melihat keributan yang ada, Arman menjadi penasaran sendiri dan meminta Naufal untuk menekan klakson mobil.
Pimmmmm pimmmmmmmmmm.
Mobil mewah menepi di pinggir jalan sontak saja membuat dua wanita itu menoleh. " Mobil baru? " Gumamnya secara pelan.
__ADS_1
Itukan mobil kesukaanku. Wah ternyata Arman benar-benar mencintaiku. Hingga dia benar-benar membelikan itu untukku. - Senyum mengembang di wajah bumil itu.
Sosok tampan yang sudah ketahui Wina namun tidak dengan Mutia. " Nona, nona baik-baik saja kan? "
" Gadis kampung! Sebaiknya kamu diam! Jangan ikut campur! " Ucapnya.
Cihhhh gadis kampung ini benar-benar!! Mengganggu khayalanku! Menyebalkan!! - Ujarnya dalam hati.
Aneh? Kenapa nona ketawa? - Kali ini Mutia.
" Lho lho.. Itukan asisten Naufal? Non, "
" Sssstttsssssss!! "
Mutia diam. " Sayang... Aku kira kamu nggak datang? "
" Aku pasti datang sayang. Muahhhhh. Hey Price.. Baik-baik ya, didalam perut mommy. " Memeluk mengecup dan mengelus perut buncit itu.
Seandainya aku juga di perlakukan seperti itu. Mutia kamu harus sabar. -Helaan demi helaan harus ia telan kembali.
Nyatanya hingga 4 bulan bersama, pernikahan juga tak berjalan baik seperti yang diharapkan.
" Sayang.. Kau..
Ia mengerti apa yang sedang Wina bicarakan.
" Iya, sayang.. Ayo naik. " Mengulurkan tangannya.
" So sweet.. Makasih, sayang.. "
Lalu Wina menyambutnya dengan senang.
Mereka sudah masuk. " Fal, ayo jalankan mobilnya. "
Saat mesin mobil sudah dihidupkan.
" Tunggu,, "
" Apa Mutia tidak akan ikut kita? "
" Gadis miskin itu? "
Arman sepertinya sedang mengejek. Wina mengangguk. " Untuk apa dia di ajak! Pakaian kumuh, dan aduh jangan deh. Untuk apa dia ikut? Nggak pantes. "
" Sayang.. Boleh ya.. " Hanya sedikit mengelus-elus lengan berbungkus jas.
" Baiklah. Dia boleh ikut. Naufal!! Panggil dia sekarang! "
" Baik, tuan muda. "
Setelah Naufal turun.
" Apa kau senang? " Tanyanya.
Wina mengangguk.
Sisi lain.
" Nona Mutia? "
" Eh, iya asisten Naufal? "
" Nona diminta tuan muda untuk ikut. "
" Heh aduhhhhh kamu siapa? Ganti rugi dulu ini!! Benjol tahu! Sebelum kau mau ganti rugi, nona ini tidak akan aku lepaskan! " Mencekal pergelangan tangan Mutia.
" Berapa? " Dengan muka datar dan dingin.
" Heh jangan sombong!! 10 juta. "
__ADS_1
Dasar penjilat! - Sebal Naufal.
" Ini. " Menulisnya dalam cek.
" Apa ini? Aku nggak mau mas. Aku maunya duit. Kertas beginian mah nggak bisa buat perut kenyang.. "
" Haduh mas. Itu namanya cek. Datang ke tempat bank yang tertera di kertas itu. Disitu sudah ada tanda tangan saya, jadi mas bisa mencairkan sendiri. "
" Wah beneran ini mas? "
Pimmmmmmmmmm Pimmmmmmmmmm.
" Saya sudah tidak ada waktu lagi nona. Mari ikut saya. "
" Eh eh mas. Ini beneran bisa. "
Sebuah mall terbesar Trusmartt.
" Sayang.. Kau ingin membeli apa? " Tanyanya.
" Aku ingin membeli banyak, jadi siap-siaplah duit mu akan aku kuras. "
" Tak apa. Aku bekerja demi istri dan juga anakku. Jadi, aku tidak mempersalahkannya. "
Bahkan jika aku meminta nyawamu, pasti juga kau akan memberikannya dengan mudah, iyakan Arman.. - Bicara dalam hatinya.
Melihat tingkah laku istrinya Arman mulai bertanya. " Ada apa sayang? Kenapa kau senyum-senyum? Jangan bilang kau lagi menggoda penjaga itu? "
" Eh nggak enggak. Aku hanya ingin segera membeli ikan. "
" Ikan... " Tangan di tarik hingga menghampiri pelayan wanita.
" Mbak.. Dimana ada ikan? "
" Iya.. Ikan ya? Ehmppp... Itu mbak ikan ada di sebelah sana. "
" Kau yakin? "
" Y...ya. "
" Sayang.. Mari kita ke sana. "
^^^*^^^
Sesampainya di sana. Bukannya ikan, melainkan toko penjual pernak-pernik alat tulis. " Sayang.. Kok malah ikan sih! " Mulai menghentak hentakkan kakinya.
" Eh sabar-sabar, nona. Biar saya yang tanya. "
" Permisi mbak, dimana ada penjual ikan? "
" Oh disini bukan tempat ikan mbak. Mbaknya tahu dari mana? "
" Itu, tahu dari orang yang berdiri di sana. "
" Oh Widi. Maaf mbak. Sepertinya dia belum mengenali tempat kerjanya yang baru. Jadi.. "
" Apa!! "
" Sayang.. Jangan marah dulu. Aku ingin ikan. "
" Tuan muda, sebaiknya kita penuhi dulu keinginan nona Wina. Jika tuan muda ingin marah, nanti saja. "
" Oke oke kita ke tempat ikan dulu. "
" Nah gitu dong.. "
" Mari bapak ibu, saya akan mengantarkan. "
" Ngomong-ngomong mbaknya ingin ikan apa? "
__ADS_1
" Sayang aku ingin ikan balon. "
Semua orang menatap Wina. Seolah tiada yang salah ia katakan tadi. " Kenapa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?